Pengertian Agama Buddha
Agama Buddha berasal dari anak benua India yang meliputi bermacam-macam tradisi, kepercayaan, dan praktik spiritual. Dikaitkan dengan Siddhartha Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang Buddha (berarti “yang telah sadar”).
Menurut tradisi Buddhis, Sang Buddha hidup dan mengajar di kepingan timur anak benua India dalam beberapa waktu antara kala ke-6 hingga ke-4 SM (Sebelum Masehi). Dia dikenal oleh para umat Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri penderitaan mereka dengan melenyapkan ketidaktahuan/ ebodohan/kegelapan batin (moha), keserakahan (lobha), dan kebencian/kemarahan (dosa). Berakhirnya atau padamnya moha, lobha, dan dosa disebut dengan Nibbana. Untuk mencapai Nibbana seseorang melaksanakan perbuatan benar, tidak melaksanakan perbuatan salah, mempraktikkan meditasi untuk menjaga pikiran semoga selalu pada kondisi yang baik atau murni dan bisa memahami fenomena batin dan jasmani.
Dua aliran utama Buddhisme yang masih ada yang diakui secara umum oleh para ahli: Theravada (“Aliran Para Sesepuh”) dan Mahayana (“Kendaraan Agung”). Vajrayana, suatu bentuk pedoman yang dihubungkan dengan siddha India, sanggup dianggap sebagai aliran ketiga atau hanya kepingan dari Mahayana. Theravada mempunyai pengikut yang tersebar luas di Sri Lanka, dan Asia Tenggara. Mahayana, yang meliputi tradisi Tanah Murni, Zen, Nichiren, Shingon, dan Tiantai (Tiendai) sanggup ditemukan di seluruh Asia Timur. Buddhisme Tibet, yang melestarikan pedoman Vajrayana dari India kala ke-8, dipraktikkan di wilayah sekitar Himalaya, Mongolia, dan Kalmykia. Jumlah umat Buddha di seluruh dunia diperkirakan antara 488 juta dan 535 juta, menjadikannya sebagai salah satu agama utama dunia.
Dalam Buddhisme Theravada, tujuan utamanya ialah pencapaian kebahagiaan tertinggi Nibbana, yang dicapai dengan mempraktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan(juga dikenal sebagai Jalan Tengah), sehingga melepaskan diri dari apa yang dinamakan sebagai siklus penderitaan dan kelahiran kembali.
Buddhisme Mahayana, sebaliknya beraspirasi untuk mencapai kebuddhaan melalui jalan bodhisattva, suatu keadaan di mana seseorang tetap berada dalam siklus untuk membantu makhluk lainnya mencapai pencerahan.
Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tipitaka sebagai acuan utama lantaran dalamnya tercatat sabda dan pedoman Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam tiga buku yaitu Sutta Piṭaka (khotbah-khotbah Sang Buddha), Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran aturan metafisika dan psikologi).
Seluruh naskah aliran Theravada menggunakan bahasa Pali, yaitu bahasa yang digunakan di sebagian India (khususnya daerah Utara) pada zaman Sang Buddha. Cukup menarik untuk dicatat, bahwa tidak ada filsafat atau goresan pena lain dalam bahasa Pali selain kitab suci agama Buddha Theravada, yang disebut kitab suci Tipitaka, oleh karenanya, istilah “ajaran agama Buddha berbahasa Pali” sinonim dengan agama Buddha Theravada. Agama Buddha Theravada dan beberapa sumber lain berpendapat, bahwa Sang Buddha mengajarkan semua ajaran-Nya dalam bahasa Pali, di India, Nepal dan sekitarnya selama 45 tahun terakhir hidup-Nya, sebelum Dia mencapai Parinibbana.
Seluruh naskah aliran Mahayana pada awalnya berbahasa Sanskerta dan dikenal sebagai Tripitaka. Oleh lantaran itu istilah agama Buddha berbahasa Sanskerta sinonim dengan agama Buddha Mahayana. Bahasa Sanskerta ialah bahasa klasik dan bahasa tertua yang dipergunakan oleh kaum terpelajar di India. Selain naskah agama Buddha Mahayana, kita menjumpai banyak catatan bersejarah dan agama, atau naskah filsafat tradisi setempat lainnya ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Sejarah Agama Buddha
Akar filosofis
Secara historis, akar Buddhisme terletak pada pemikiran religius dari India kuno selama paruh kedua dari milenium pertama SM. Pada masa tersebut merupakan sebuah periode pergolakan sosial dan keagamaan, dikarenakan ketidakpuasaan yang signifikan terhadap pengorbanan dan rital-ritual dari Brahmanisme Weda Tantangan muncul dari banyak sekali kelompok keagamaan asketis dan filosofis gres yang memungkiri tradisi Brahamanis dan menolak otoritas Weda dan para Brahmana. Kelompok-kelompok ini, yang anggotanya dikenal sebagai sramana, merupakan kelanjutan dari sebuah untaian pemikiraan India yang bersifat non-Weda, yang terpisah dari Brahmanisme Indo-Arya
Para andal mempunyai alasan untuk percaya bahwa ide-ide seperti samsara, eksekusi alam (dalam hal efek moralitas terhadap kelahiran kembali), dan moksha, berasal dari sramana, dan kemudian diadopsi oleh agama ortodoks Brahmin.
Pandangan ini didukung oleh penelitian di wilayah di mana gagasan ini berasal. Buddhisme tumbuh di Magadha Raya, yang terletak di sebelah barat maritim dari Sravasti, ibu kota Kosala, ke Rajagaha di sebelah tenggara. Negeri ini, di sebelah timur aryavarta, negeri bangsa Arya, yang dikenal sebagai non-Weda.
Naskah Weda lainnya mengungkap ketidaksukaan penduduk Magadha, kemungkinannya lantaran Magadha pada masa tersebut belum mendapat efek Brahmanisme. Sebelum kala ke-2 atau ke-3 SM, penyebaran Brahmanisme ke arah timur memasuki Magadha Raya tidaklah signifikan. Pemikiran-pemikiran yang berkembang di Magadha Raya sebelum kala tersebut tidak tunduk pada efek Weda. Ini termasuk tumimbal lahir dan aturan eksekusi alam yang muncul dalam sejumlah gerakan di Magadha Raya, termasuk Buddhisme. Gerakan-gerakan ini mewarisi pemikiran tumimbal lahir dan aturan eksekusi alam dari kebudayaan yang lebih awal.
Pada ketika yang sama, gerakan-gerakan ini dipengaruhi dan dalam beberapa hal melanjutkan pemikiran filosofis dalam tradisi Weda, sebagaimana terefleksi contohnya di dalam Upanishad. Gerakan-gerakan ini termasuk, selain Buddhisme, berbagai skeptis (seperti Sanjaya Belatthiputta), atomis (seperti Pakudha Kaccayana), materialis (seperti Ajita Kesakambali), antinomian (seperti Purana Kassapa); aliran-aliran terpenting pada kala ke-5 SM adalah Ajivikas, yang menekankan aturan nasib, Lokayata (materialis), Ajnanas (agnostik) dan Jaina, yang menekankan bahwa jiwa harus dibebaskan dari materi.
Banyak gerakan-gerakan gres ini membuatkan kosakata konseptual yang sama seperti atman (“diri”), buddha (“yang sadar”), dhamma (“aturan” atau “hukum”), karma (“aksi/perbuatan”), nirvana (“padamnya nafsu”), samsara (“lingkaran penderitaan”), dan yoga (“praktik spiritual”). Para sramana menolak Weda, dan otoritas brahmana, yang mengklaim mereka mempunyai kebenaran terungkap yang tidak bisa diketahui dengan cara insan biasa mana pun. Selain itu, mereka menyatakan bahwa seluruh sistem Brahmanikal ialah penipuan: sebuah konspirasi para brahmana untuk memperkaya diri mereka sendiri dengan membebankan biaya terlalu tinggi untuk melaksanakan ritual palsu dan menawarkan pesan yang tersirat tak berguna.
Kritik terutama dari Buddha ialah pengorbanan binatang secara Weda. Dia juga menyindir “gita insan kosmis” dari Weda. Namun, Sang Buddha tidaklah anti-Weda, dan menyatakan bahwa Weda dalam bentuk sejatinya dinyatakan oleh “Kashyapa” kepada resi tertentu, yang melalui pertapaan berat telah memperoleh kekuatan untuk melihat dengan mata ilahi.
Dia menamakan para resi Weda, dan menyatakan bahwa Weda asli dari para resi telah diubah oleh beberapa Brahmin yang memperkenalkan pengorbanan hewan. Sang Buddha menyampaikan bahwa hal tersebut termasuk dalam pengubahan dari Weda sejati sehingga ia menolak untuk menghormati Weda pada masanya.
Namun, ia tidak meninggalkan ikatan dengan Brahman, atau gagasan diri menyatu dengan Tuhan. Pada ketika yang sama, Hindu tradisional sendiri secara sedikit demi sedikit mengalami perubahan mendalam, bertransformasi menjadi apa yang dikenal sebagai Hindu awal.

Buddha, dhyana mudra. Terbuat dari perunggu. Suber foto: Wikimedia Commons
Dasar Ajaran Agama Buddha
1. Empat Kebenaran Mulia
Ajaran dasar Buddhisme dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia atau Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani), yang merupakan aspek yang sangat penting dari pedoman Buddha. Sang Buddha telah berkata bahwa lantaran kita tidak memahami Empat Kebenaran Ariya, maka kita terus menerus mengitari siklus kelahiran dan kematian. Pada ceramah pertama Sang Buddha, Dhammacakka Sutta, yang Ia sampaikan kepada lima orang bhikkhu di Taman Rusa di Sarnath, ialah mengenai Empat Kebenaran Ariya dan Jalan Ariya Beruas Delapan.
Empat Kebenaran Ariya tersebut adalah :
Kebenaran Ariya ihwal Dukkha (Dukkha Ariya Sacca)
Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban. Dukkha menjelaskan bahwa ada lima kemelekatan kepada dunia yang merupakan penderitaan. Kelima hal itu ialah kelahiran, umur tua, sakit, mati, disatukan dengan yang tidak dikasihi, dan tidak mencapai yang diinginkan. Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya ihwal Dukkha, yaitu: kelahiran ialah dukkha, usia bau tanah ialah dukkha, penyakit ialah dukkha, janjkematian ialah dukkha, sedih, ratap tangis, derita (badan), dukacita, frustasi ialah dukkha; berkumpul dengan yang tidak disenangi ialah dukkha, berpisah dari yang dicintai ialah dukkha, tidak memperoleh apa yang diinginkan ialah dukkha. Singkatnya Lima Kelompok Kemelekatan merupakan dukkha.”
Kebenaran Ariya ihwal Asal Mula Dukkha (Dukkha Samudaya Ariya Sacca)
Samudaya ialah sebab. Setiap penderitaan niscaya mempunyai sebab, contohnya: yang menimbulkan orang dilahirkan kembali ialah adanya keinginan kepada hidup.
Pada kepingan ini Guru Buddha menjelaskan bahwa sumber dari dukkha atau penderitaan adalah taṇhā, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Tanha sanggup diibaratkan mirip candu atau opium yang mengakibatkan dampak ketagihan bagi yang memakainya terus-menerus, dan semakin usang akan merusak fisik maupun mental si pemakai. Tanha juga sanggup diibaratkan mirip air maritim yang asin yang kalau diminum untuk menghilangkan haus justru rasa haus tersebut semakin bertambah.
Kebenaran Ariya ihwal Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Ariya Sacca)
Nirodha ialah pemadaman. Pemadaman kesengsaraan sanggup dilakukan dengan menghapus keinginan secara tepat sehingga tidak ada lagi tempat untuk keinginan tersebut.
Pada kepingan ini Guru Buddha menjelaskan bahwa dukkha bisa tidak boleh yaitu dengan cara menyingkirkan tanhä sebagai penyebab dukkha. Ketika tanhä telah disingkirkan, maka kita akan terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.
Kebenaran Ariya ihwal Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Ariya Sacca)
Marga ialah jalan pelepasan. Jalan pelepasan merupakan cara-cara yang harus ditempuh kalau kita ingin lepas dari kesengsaraan.
Pada kepingan ini Guru Buddha menjelaskan bahwa ada jalan atau cara untuk menghentikan dukkha, yakni melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Menuju Terhentinya Dukkha sanggup dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
- Kebijaksanaan (Panna), terdiri dari Pengertian Benar (sammä-ditthi) dan Pikiran Benar (sammä-sankappa)
- Kemoralan (Sila), terdiri dari Ucapan Benar (sammä-väcä), Perbuatan Benar (sammä-kammanta), dan Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
- Konsentrasi (Samädhi), terdiri dari Daya-upaya Benar (sammä-väyäma), Perhatian Benar (sammä-sati), dan Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Empat Kebenaran Mulia tidak sanggup dipisahkan antara Kebenaran yang satu dengan Kebenaran yang lainnya. Empat Kebenaran Mulia bukanlah pedoman yang bersifat pesimis yang mengajarkan hal-hal yang serba suram dan serba menderita. Dan juga bukan bersifat optimis yang hanya mengajarkan hal-hal yang penuh harapan, tetapi merupakan pedoman yang realitis, pedoman yang berdasarkan analisa yang diambil dari kehidupan di sekitar kita.
2. Jalan Mulia Berunsur Delapan

Dharmacakra – Jalan Mulia Berunsur Delapan. Sumber foto: Wikimedia Commons
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420}, Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu), yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga). Di dalam Jalan ini mengandung unsur sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi), dan panna (kebijaksanaan).
Berikut pengelompokan unsur yang terkandung di dalamnya :
Divisi | Faktor Berunsur Delapan | Sanskerta, Pali |
---|---|---|
Kebijaksanaan (Sanskerta: prajñā, Pāli: paññā) | 1. Pengertian (Pandangan) Benar | samyag dṛṣṭi, sammā ditthi |
2. Pikiran Benar | samyag saṃkalpa, sammā sankappa | |
Perilaku Etis (Sanskerta: śīla, Pāli: sīla) | 3. Ucapan Benar | samyag vāc, sammā vāca |
4. Perbuatan Benar | samyag karman, sammā kammanta | |
5. Pencaharian (Penghidupan) Benar | samyag ājīvana, sammā ājīva | |
Konsentrasi (Sanskerta and Pāli: samādhi) | 6. Daya upaya Benar | samyag vyāyāma, sammā vāyāma |
7. Perhatian Benar | samyag smṛti, sammā sati | |
8. Konsentrasi Benar | samyag samādhi, sammā samādhi |
Jalan Mulia Berunsur Delapan dibabarkan sebagai berikut:
1. Pengertian Benar (Sammã Ditthi)
Pemahaman Benar ialah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap
- a. Empat Kebenaran Mulia
- b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
- c. Hukum Paticca-Samuppäda
- d. Hukum Kamma
2. Pikiran Benar (Sammã Sankappa)
Pikiran Benar ialah pikiran yang bebas dari:
- a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa)
- b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
- c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)
3. Ucapan Benar (Sammã Vãca)
Ucapan Benar ialah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã). Dapat dinamakan Ucapan Benar, kalau sanggup memenuhi empat syarat di bawah ini :
- a. Ucapan itu benar
- b. Ucapan itu beralasan
- c. Ucapan itu berfaedah
- d. Ucapan itu tepat pada waktunya
4. Perbuatan Benar (Sammã Kammantã)
Perbuatan Benar ialah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melaksanakan perbuatan secualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang mengakibatkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.
5. Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva)
Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menimbulkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. “Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:
- a. makhluk hidup
- b. senjata
- c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
- d. minum-minuman yang memabukkan atau yang sanggup mengakibatkan ketagihan,
- e. racun
Dan terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:
- a. Penipuan
- b. Ketidaksetiaan
- c. Penujuman
- d. Kecurangan
- e. Memungut bunga yang tinggi (praktik lintah darat)
6. Usaha Benar (Sammã Vãyama)
Usaha Benar sanggup diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.
7. Perhatian Benar (Sammã Sati)
Perhatian Benar sanggup diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
- – perhatian penuh terhadap tubuh jasmani (kãyãnupassanã)
- – perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
- – perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
- – perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)
Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.
8. Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi)
Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada objek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam.
3. Karma
Selain nilai-nilai moral di atas, agama Buddha juga amat menjunjung tinggi eksekusi alam sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip aturan alasannya akibat. Secara umum, kamma (bahasa Pali) atau eksekusi alam (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Kaprikornus ada agresi atau eksekusi alam baik dan ada pula agresi atau eksekusi alam buruk. Saat ini, istilah eksekusi alam sudah terasa umum digunakan, namun cenderung diartikan secara keliru sebagai eksekusi turunan/hukuman berat dan lain sebagainya.
Umat Buddha memandang aturan eksekusi alam sebagai aturan universal ihwal alasannya dan akhir yang juga merupakan aturan moral yang impersonal. Menurut aturan ini sesuatu (yang hidup, yang tidak hidup, maupun yang abnormal atau yang ada lantaran kita buat dalam pikiran sebagai ide) yang muncul niscaya ada sebabnya. Tidak ada sesuatu yang muncul dari ketidakadaan. Dengan kata lain, tidak ada sesuatu atau makhluk yang muncul tanpa ada alasannya lebih dahulu.
Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63 menjelaskan secara terperinci arti dari kamma:
“Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melaksanakan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.”
- Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).
- Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu aturan alam yang bekerja berdasarkan prinsip alasannya akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melaksanakan kamma (perbuatan) sebagai alasannya maka akan mengakibatkan akhir atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.
- Dalam Samuddaka Sutta; Samyutta Nikaya 11.10 {S 1.227}, Guru Buddha menjelaskan cara bekerjanya kamma: “Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan mencicipi buah daripadanya”.
4. Kelahiran Kembali
Kelahiran kembali (Pali: Punabbhava) merupakan ‘suatu proses menjadi ada/eksis kembali dari suatu makhluk hidup di kehidupan mendatang (setelah ia meninggal/mati) sehingga lahir (jati), di mana proses ini merupakan akhir atau hasil dari kamma (perbuatan)nya pada kehidupan lampau.
Proses menjadi ada/eksis atau kelahiran kembali atau punabbhava terjadi pada semua makhluk hidup yang belum pencapai Penerangan Sempurna, ketika mereka telah meninggal/mati.
Dalam Hukum Paticcasamuppada (Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan), proses menjadi ada/eksis atau punabbhava atau kelahiran kembali disebabkan oleh Kamma (perbuatan) yang kemudian menghasilkan kemelekatan kepada segala sesuatu termasuk kemelekatan pada hidup dan kehidupan.
Jadi makhluk hidup apa pun yang mengalami proses menjadi ada/eksis atau kelahiran kembali (punabbhava), merupakan makhluk yang masih mempunyai kemelekatan pada sesuatu dalam kehidupan sebelumnya. Dan mirip yang diuraikan dalam Hukum Paticcasamuppada kemelekatan timbul lantaran adanya Tanha (keinginan/kehausan) dan juga Avijja (ketidaktahuan/kebodohan).
Konsep ke-Tuhan dalam Agama Buddha
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi di mana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan simpulan dari hidup insan ialah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita sanggup bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari alasannya yang lalu. Tetapi para bhikkhu, lantaran ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari alasannya yang lalu.
— Sutta Pitaka, Udana VIII: 3
Ungkapan di atas ialah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII:3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa ialah suatu yang tanpa saya (anatta), yang tidak sanggup dipersonifikasikan dan yang tidak sanggup digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka insan yang berkondisi (samkhata) sanggup mencapai kebebasan dari bundar kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita sanggup melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha ialah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep ihwal Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, alasannya masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan berdasarkan agama Buddha dengan konsep Ketuhanan berdasarkan agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha ialah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari pedoman agama Buddha mirip yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain ialah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan insan di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan simpulan hidup insan adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati di mana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan pinjaman pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada tuhan – dewi yang sanggup membantu, hanya dengan perjuangan sendirilah kebuddhaan sanggup dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
Moralitas Dalam Ajaran Agama Buddha
Sebagaimana agama Kristen, Islam, dan Hindu, pedoman Buddha juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan.
Moralitas dalam pedoman Buddha bertujuan mudah menuntun orang menjuju tujuan simpulan kebahagiaan tertinggi. Dalam jalan umat Buddha menuju pembebasan, setiap individu dianggap bertanggung jawab untuk keberuntungan dan kemalangannya sendiri. Setiap individu dibutuhkan mengupayakan pembebasannya sendiri melalui pemahaman dan usaha. Keselamatan umat Buddha ialah hasil pemgembangan moral orang itu sendiri dan tidak sanggup diadakan atau diberikan kepada seseorang oleh suatu mediator eksternal.
Misi Sang Budda ialah untuk mencerahkan insan akan sifat keberadaan dan untuk menasihatkan bagaimana cara terbaik untuk kebahagiaan mereka dan laba orang lain. Secara konsekuen, etika umat Buddha bukan merupakan perintah apa pun yang memaksa insan untuk mengikutinya.
Moralitas bagi umat Buddha sanggup dirangkum dalam tiga prinsip sederhana: “Hindarkan kejahatan; lakukan kebaikan; sucikan pikiran. Inilah pesan yang tersirat yang diberikan oleh semua Buddha.” (Dhammapada:183)
Lima Sila (Pancasila) Buddha
Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Buddha biasanya dikenal dengan Pancasila. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:
Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan.Kamesu Micchacara Veramani Sikhapadam Samadiyami
Aku bertekad akan melatih diri menghindari melaksanakan perbuatan asusilaMusavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Aku bertekad akan melatih diri menghindari melaksanakan perkataan dustaSurameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Aku bertekad akan melatih diri menghindari masakan atau minuman yang sanggup menimbulkan lemahnya kesadaran
Aliran dan Tradisi Ajaran Agama Buddha
Umat Buddha secara umum mengklasifikasikan diri mereka sebagai Theravada atau Mahayana. Klasifikasi ini juga digunakan oleh beberapa andal dan merupakan salah satu penggunaan yang lazim dalam bahasa Inggris.
Buddha Mahayana
Sutra Teratai merupakan Referensi sampingan penganut Buddha aliran Mahayana. Tokoh Kwan Im yang bermaksud “maha mendengar” atau nama Sanskerta-nya “Avalokiteśvara” merupakan tokoh Mahayana dan dipercayai telah menitis beberapa kali dalam alam insan untuk memimpin umat insan ke jalan kebenaran. Dia diberikan sifat-sifat keibuan mirip penyayang dan lemah lembut. Menurut sejarahnya Avalokitesvara ialah seorang lelaki murid Buddha, akan tetapi setelah efek Buddha masuk ke Tiongkok, profil ini perlahan-lahan menjelma sosok feminin dan dihubungkan dengan legenda yang ada di Tiongkok sebagai seorang dewi.
Pemujaan kepada Buddha Amitabha (Amitayus) merupakan salah satu aliran utama Buddha Mahayana. Surga Barat merupakan tempat tujuan umat Buddha aliran Sukhavati selepas mereka meninggal dunia dengan berkat kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha di mana mereka tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir dan dari sana menolong semua makhluk hidup yang masih menderita di bumi.
Mereka mempercayai mereka akan lahir semula di Sorga Barat untuk menunggu ketika Buddha Amitabha menawarkan khotbah Dhamma dan Buddha Amitabha akan memimpin mereka ke tahap mencapai ‘Buddhi’ (tahap kesempurnaan di mana kejahilan, kebencian dan ketamakan tidak ada lagi). Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang Tionghoa.
Seorang Buddha bukannya tuhan atau makhluk suci yang menawarkan kesejahteraan. Semua Buddha ialah pemimpin segala kehidupan ke arah mencapai kebebasan daripada kesengsaraan. Hasil amalan pedoman Buddha inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada pengamalnya.
Menurut Buddha Gautama, kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di bawah pohon Bodhi, tersedia kepada semua makhluk apabila mereka dilahirkan sebagai manusia. Menekankan konsep ini, aliran Buddha Mahayana khususnya merujuk kepada banyak Buddha dan juga bodhisattva (makhluk yang tekad “committed” pada Kesadaran tetapi menangguhkan Nirvana mereka semoga sanggup membantu orang lain pada jalan itu). Dalam Tipitaka suci – intipati teks suci Buddha – tidak terbilang Buddha yang kemudian dan hidup mereka telah disebut “spoken of”, termasuk Buddha yang akan datang, Buddha Maitreya.
Buddha Theravada
Aliran Theravada ialah aliran yang mempunyai sekolah Buddha tertua yang bertahan hingga ketika ini, dan untuk berapa kala mendominasi Sri Lanka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu terkenal pula di Singapura dan Australia.
Gramatika
Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu, dan vada berarti perkataan atau ajaran. Kaprikornus Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh.
Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka pada kala ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari kala ke-5. Diyakini Theravada merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh), sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajj4vada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).
Sejarah
Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha. Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya).
Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan dipimpin oleh Y.A. Mahakassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang diadakan di Gua Saptaparnidi kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu. Tujuan Sidang ialah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.
Sidang Agung Sangha ke-2, pada tahun 443 SM, di mana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, di sisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada.
Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya, dan Moggaliputta-Tissa sebagai pimpinan sidang menuntaskan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang hingga kini dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana pedoman ini dikenal sebagai Theravada.
Kitab suci pedoman Buddha
Kitab suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravada adalah kitab suci Tripitaka yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon).
Kitab suci Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali/Magadhi Kuno, yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai “pitaka” atau “keranjang”) yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Piṭaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).
Hari Raya dan Hari Besar Agama Buddha
Terdapat empat hari raya utama dalam agama Buddha. Namun satu-satunya yang dikenal luas masyarakat ialah Hari Raya Trisuci Waisak, sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha yang dijadikan hari libur nasional Indonesia setiap tahunnya.
Waisak
Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali “Wesakha”, yang pada gilirannya juga terkait dengan “Waishakha” dari bahasa Sanskerta
Kathina
Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Kaprikornus setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain menawarkan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha.
Asadha
Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Hari raya Asadha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati peristiwa di mana Buddha membabarkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum Masehi. Kelima pertapa tersebut ialah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan setelah mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat.
5 orang pertapa, bekas sobat berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang paling berbahagia, lantaran mereka mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun 588 Sebelum Masehi). Dengan terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, gres ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).
Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sangha. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana ( Trisarana ). Umat Buddha berlindung kepada Buddha berarti umat Buddha menentukan Buddha sebagai guru dan teladannya. Umat Buddha berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma mengandung kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai simpulan dari dukkha. Umat Buddha berlindung kepada Sangha berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha merupakan pewaris dan pengamal Dhamma yang patut dihormati.
Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Dalam Khotbah tersebut, Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia ( Cattari Ariya Saccani ) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.
Magha Puja (Sangha)
Hari Besar Magha Puja memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama Buddha dan Etika Pokok para Bhikkhu.
Sabda Sang Buddha di hadapan 1.250 Arahat yang kesemuanya arahat tersebut ditabiskan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu:Bhikkhu yang ditasbihkan sendiri oleh sang Buddha); yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha bertempat di Vihara Veluvana, Rajagaha. Tempat ibadah agama Buddha disebut Vihara.
Parinirvana
Ini ialah hari besar Buddha Mahayana yang menandai janjkematian Buddha. Ia juga dikenal sebagai Hari Nirvana.
Umat Buddha merayakan janjkematian Sang Buddha, lantaran mereka percaya bahwa setelah mencapai Pencerahan ia memperoleh kebebasan dari keberadaan fisik dan penderitaannya.
Kematian Buddha tiba ketika ia berusia delapan puluh tahun, dan telah menghabiskan empat puluh tahun mengajar setelah Pencerahannya. Ia meninggal dalam keadaan meditasi, dan mencapai nirwana, terbebas dari siklus janjkematian dan kelahiran kembali.
Parinirvana Sutta menggambarkan hari-hari terakhir Buddha, dan bacaan-bacaan darinya sering dibaca pada Hari Parinirvana.
Umat Buddha merayakan Hari Parinirvana dengan bermeditasi atau dengan pergi ke kuil atau biara Buddha. Seperti pameran Buddhis lainnya, perayaan bervariasi di seluruh dunia.
Di biara, Hari Parinirvana diperlakukan sebagai program sosial. Makanan disiapkan dan beberapa orang membawa hadiah mirip uang, barang-barang rumah tangga atau pakaian.
Hari itu digunakan sebagai kesempatan untuk merenungkan fakta janjkematian seseorang di masa depan, dan pada sobat atau kekerabatan yang gres saja meninggal. Gagasan bahwa semua hal bersifat sementara ialah inti dari pedoman Buddha. Kehilangan dan ketidakkekalan ialah hal-hal yang harus diterima daripada penyebab kesedihan.
Meditasi dilakukan untuk orang yang gres meninggal untuk memberi mereka pinjaman dan dukungan di mana pun mereka berada sekarang. Sumber: BBC
Penyebaran Agama Buddha di Asia dan Indonesia
Agama Buddha mulai berkembang di India, yaitu tempat di mana Buddha Gautama mengajarkan ajarannya. Setelah wafatnya Buddha Gautama, pedoman tersebut tidak lenyap begitu saja, melainkan disebarkan oleh para pemuka agama sehingga bertahan hingga kini di banyak sekali belahan dunia, khususnya di Asia.
Penyebaran di India dan Asia Tengah
Dimulai dari India, tempat di mana Buddha Gautama lahir dan wafat. 100 tahun setelah Buddha mencapai Nirwana, pedoman Buddha Gautama mulai memudar sehingga para biksu disana memutuskan untuk mulai melestarikannya semoga tetap hidup. Hal pertama yang dilakukan ialah dengan membuat Dharma atau pengajaran. Di India jugalah tempat di mana mulai terbentuknya aliran Mahayana dan Theravada akibat perselisihan antara kelompok biarawan dan para kaum tua.Theravada umumnya mengajarkan bahwa tujuan tertinggi ialah menjadi arahat, sedangkan Mahayana mengajarkan bahwa tujuan yang paling berharga ialah dengan mencapai Kebuddhaan.
Selain melalui kaum biarawan,agama Buddha juga disebarkan oleh raja-raja besar di India seperti Raja Ashoka. Ia mengajarkan kepada rakyatnya untuk tidak berpikiran jahat mirip serakah dan gampang marah. Ia menanamkan nilai-nilai moral, mirip menghargai kebenaran, cinta kasih dan amal. Ashoka juga mengirim misionaris Buddha keberbagai negara tetangga, termasuk ke Sri Lanka di mana mereka diterima baik sehingga Sri Lanka menjadi basis agama Buddha.
Penyebaran di Asia Timur
Selama abad 3 SM, Raja Asoka mengirimkan misionaris ke barat maritim India yaitu Pakistan dan Afganistan. Misi ini mencapai sukses besar lantaran daerah ini segera menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang mempunyai banyak biksu terkemuka dan sarjana. Ketika para pedagang Asia Tengah tiba ke wilayah ini untuk berdagang, mereka berguru ihwal Buddhisme dan menerimanya sebagai agama mereka. Dengan dukungan dari pedagang, biara gua banyak didirikan di sepanjang rute perdagangan di seluruh Asia Tengah. Pada abad 2 SM, beberapa kota Asia Tengah seperti Khotan, telah menjadi pusat penting bagi Buddhisme. Melalui Jalan Sutera inilah, pertama kalinya orang Tiongkok mengenal agama Buddha dari orang-orang di Asia Tengah yang sudah beragama Buddha.
Bentuk awal penyebaran agama Buddha di Tiongkok ialah dengan adanya penerjemah yang bertugas menerjemahkan teks penting mengenai pedoman Buddha dari bahasa India ke bahasa Tionghoa kala itu. Selain itu, juga lahirnya banyak sekali karya seni dan pahat di mana patung-patung Buddha dibuat. Bentuk perkembangan lainnya ialah dengan dibangunnya sekolah pedoman Buddha di Tiongkok yang mencakup seni, patung, arsitektur dan filsafat waktu itu.
Ada pula biarawan Tiongkok yang pergi ke Semenanjung Korea untuk memperkenalkan agama Buddha kepada kerajaan-kerajaan yang ada di Korea pada waktu itu. Sehingga pada abad ke-6 dan abad ke-7, agama Buddha telah berkembang di bawah kerajaan tersebut. Selain di Korea, Buddhisme juga berkembang di kepulauan Jepang.
Penyebaran di Asia Tenggara
Pada awal era masehi, orang-orang di banyak sekali belahan Asia Tenggara datang untuk mengetahui pedoman Buddha sebagai hasil dari meningkatnya korelasi dengan para pedagang India yang tiba ke wilayah tersebut untuk berdagang. Pedagang ini tidak hanya berdagang di Asia Tenggara, tetapi juga membawa agama mereka dan budaya dengan mereka.
Di bawah efek mereka, orang-orang setempat mulai mengenal agama Buddha, tetapi tetap mempertahankan keyakinan usang dan tabiat istiadat mereka. Sejak masuk di semenanjung Indocina (sekarang kepingan Asia Tenggara), Buddhisme mulai masuk di Birma, Siam (sekarang Thailand), Vietnam, semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) dan kepulauan nusantara (sekarang Indonesia).
Penyebaran di Nusantara

Candi Borobudur, monumen Dinasti Syailendra yang dibangun di Magelang, Jawa Tengah. Candi Buddha Mahayana kala ke-9. Sumber foto: Prayudi Hartono / Flickr
Pada akhir abad ke-5, seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah kerajaan di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah sekarang. Pada akhir abad ke-7, I Tsing, seorang peziarah Buddha dari Tiongkok, berkunjung ke Pulau Sumatera (kala itu disebut Swarnabhumi), yang kala itu merupakan kepingan dari kerajaan Sriwijaya. Ia menemukan bahwa Buddhisme diterima secara luas oleh rakyat, dan ibu kota Sriwijaya (sekarang Palembang), merupakan pusat penting untuk pembelajaran Buddhisme (kala itu Buddha Vajrayana). I Tsing berguru di Sriwijaya selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.
Pada pertengahan abad ke-8, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan raja-raja Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddhisme. Mereka membangun banyak sekali monumen Buddha di Jawa, yang paling terkenal yaitu Candi Borobudur. Monumen ini selesai di kepingan awal abad ke-9.
Di pertengahan kala ke-9, Sriwijaya berada di puncak kejayaan dalam kekayaan dan kekuasaan. Pada ketika itu, kerajaan Sriwijaya telah menguasai Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Semenanjung Malaya.
Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha
Pada akhir abad ke-13 seiring berkembang pesatnya efek Islam dari Timur Tengah, kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri di Sumatera, dan agama Islam segera menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya lewat penaklukan dan penyebaran sistematis oleh sekelompok ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Akibatnya Buddhisme mengalami penurunan popularitas dan pada akhir abad ke-15 Islam ialah agama yang mayoritas di Nusantara dan Semenanjung Malaya. Buddhisme diperkenalkan kembali ke Nusantara hanya pada abad ke-19, dengan kedatangan pedagang dan orang-orang Tionghoa, Srilanka dan imigran Buddhis lainnya.
Candi-Candi Peninggalan Kerajaan Buddha di Nusantara
Candi-candi peninggalan agama Buddha di Nusantara kebanyakan terdapat di Jawa dan Sumatera, antara lain:
Candi Batujaya, stupa bata di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Diduga mulai dibangun pada kala ke-4 M, salah satu bangunan Buddha tertua di Nusantara.
Candi Kalasan atau Tarabhavanam, candi ini didirikan oleh Rakai Panangkaran pada tahun 778 M untuk memuja Dewi Tara. Candi ini terletak di Yogyakarta.
Candi Sari, biara bertingkat dua yang terkait dengan candi Kalasan.
Candi Sewu atau Prasada Vajrasana Manjusrigrha, candi ini terletak di utara dari Candi Prambanan dan menurut Prasasti Manjusrigrha dibangun sekitar tahun 792 M, dan dipersembahkan untuk memuliakan bodhisatwa Manjusri.
Candi Mendut, terletak pada satu garis lurus ke arah timur dari Candi Borobudur. Di dalamnya terdapat tiga arca watu berukuran 3 meter yaitu Buddha Wairocana diapit bodhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.
Candi Pawon, candi ini juga terletak pada garis lurus arah timur antara Candi Borobudur dan Candi Mendut.
Candi Borobudur, candi ini merupakan candi Buddha terbesar di dunia. Candi Borobudur dibangun oleh raja-raja Wangsa Sailendra pada kala ke-9 M dan bangunan candi terdiri atas sepuluh tingkat. Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Candi Plaosan, candi ini terdiri atas dua candi induk kembar, terletak di arah timur Candi Sewu.
Candi Sojiwan, candi Buddha ini dikaitkan dengan tokoh Rakryan Sanjiwana atau Sri Kahulunnan Pramodhawardhani. Pada kepingan kakinya terukir dongeng fabel Jataka.
Candi Banyunibo, candi Buddha terletak erat kompleks purbakala Ratu Boko.
Candi Muaro Jambi, kelompok candi Buddha dari bata merah ini terletak di tepi utara sungai Batanghari dekat muara, Kabupaten Muaro Jambi, terkait dengan Kerajaan Malayu di Jambi.
Candi Muara Takus, candi ini terletak di Kabupaten Kampar, Riau.
Candi Bahal di erat Padangsidempuan, Sumatera Utara merupakan bangunan bercorak Buddha.
Candi Sumberawan, stupa ini terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, terkait kerajaan Singhasari.
Candi Brahu, candi dari materi bata merah di Situs Trowulan, Jawa Timur. Terkait kerajaan Majapahit
Candi Jabung, candi Buddha berbahan bata merah ini juga terkait kerajaan Majapahit. Terletak erat Probolinggo, Jawa Timur.
Bacaan Lainnya
- Sejarah Candi Borobudur Abad ke-9 – Memiliki 6 Teras dan 504 Patung Buddha
- Candi Buddha di Indonesia – Sejarah, Budaya dan Tempat Wisata
- Agama Buddha – Pengertian, Sejarah, Tradisi, Hari Raya dan Besar
- Wisata Tibet Dan Everest – Top Obyek Wisata Yang Harus Anda Kunjungi
- Daftar Hari Penting Di Indonesia – Hari Libur – Hari Besar / Hari Raya Keagamaan
- Minuman Buah Jus Mangga, Resep, Manfaat Kesehatan, Vitamin dan Mineral
- Sel darah merah, terbentuk baik oleh donasi vitamin B, C, dan E
- Destinasi Wisata Bali Yang Harus Dikunjungi
- Jakarta – Top 10 Obyek Wisata Yang Harus Anda Kunjungi
- Tempat Wisata Yang Harus Dikunjungi Di Tokyo – Top 10 Obyek Wisata Yang Harus Anda Kunjungi
- 10 Obyek Wisata Paris Yang Harus Anda Kunjungi
- Cara Membeli Tiket Pesawat Murah Secara Online Untuk Liburan Atau Bisnis
- Tibet Adalah Provinsi Cina – Sejarah Dan Budaya
- Puncak Gunung Tertinggi Di Dunia dimana?
- TOP 10 Gempa Bumi Terdahsyat Di Dunia
- Apakah Matahari Berputar Mengelilingi Pada Dirinya Sendiri?
- Test IPA: Planet Apa Yang Terdekat Dengan Matahari?
- 10 Cara Belajar Pintar, Efektif, Cepat Dan Praktis Di Ingat – Untuk Ulangan & Ujian Pasti Sukses!
- TOP 10 Virus Paling Mematikan Manusia

Apakah Anda mempunyai sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan atau jasa Anda kini juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

3 Langkah super mudah: tulis iklan Anda, beri foto & terbitkan! semuanya di Toko Pinter
Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai
Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar kalau Anda mengunduh aplikasi kita!
Siapa bilang mau pandai harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang menciptakan Anda menjadi lebih smart!
Sumber bacaan: Wikipedia, Britannica, BBC (Inggris)
Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya
Sumber aciknadzirah.blogspot.com
EmoticonEmoticon