Karbon-14
3 Macam isotop karbon
Terdapat 3 macam isotop karbon yang terjadi secara alami di Bumi:
- 99% merupakan karbon-12
- 1% merupakan karbon-13
- sedangkan karbon-14 terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, contohnya sejumlah 1 bagian-per triliun (0,0000000001%) dari karbon yang ada di atmosfer. Waktu paruh karbon-14 ialah 5.730 ± 40 tahun. Ia meluruh menjadi nitrogen-14 melalui peluruhan beta. Aktivitas standar radiokarbon modern adalah sekitar 14 disintegrasi per menit (dpm) per gram karbon.
Massa atom karbon 14
Massa atom karbon-14 ialah sekitar 14,003241 sma. Isotop-isotop karbon yang berbeda tidak mempunyai perbedaan yang besar dalam sifat-sifat kimianya.
Ini dipakai dalam riset kimia, yaitu dalam teknik yang disebut pelabelan karbon: beberapa atom karbon-12 dari senyawa tertentu digantikan dengan atom-atom dari karbon-14 (atau beberapa atom dari karbon-13) dengan tujuan semoga sanggup memantaunya di sepanjang terjadinya reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada senyawa tersebut.
Penanggalan Radiokarbon
Penanggalan radiokarbon (disebut pula penanggalan karbon atau penanggalan karbon-14) ialah suatu metode penentuan usia suatu objek yang mengandung materi organik dengan memanfaatkan sifat radiokarbon, suatu isotop radioaktif dari karbon.
Metode ini dikembangkan pada tamat tahun 1940-an oleh Willard Libby
yang menerima Hadiah Nobel dalam Kimia pada tahun 1960 berkat karyanya ini. Metode ini didasarkan pada fakta bahwa radiokarbon (14C) dihasilkan terus-menerus di atmosfer sebagai hasil interaksi sinar kosmik dengan nitrogen di atmosfer.
14C yang dihasilkan bergabung dengan oksigen di atmosfer untuk membentuk karbon dioksida radioaktif, yang dipakai tumbuhan untuk proses fotosintesis; binatang memakan tumbuhan tersebut dan menerima 14C.
Ketika binatang dan tumbuhan tersebut mati, pertukaran karbon antara mereka dengan lingkungan berakhir, dan semenjak dikala itu, jumlah 14C yang dikandungnya mulai berkurang bertahap ketika 14C mengalami peluruhan radioaktif.
Pengukuran jumlah 14C
Pengukuran jumlah 14C dalam sampel tumbuhan atau binatang mati menyerupai pada suatu potongan kayu atau potongan tulang menyediakan informasi yang sanggup dipakai untuk memperkirakan kapan tumbuhan atau binatang tersebut mati.
Semakin bau tanah sampel tersebut, maka semakin sedikit 14C yang sanggup dideteksi dari sampel tersebut, dan karena waktu paruh 14C (masa ketika setengah dari sampel yang diberikan telah meluruh) ialah sekitar 5.730 tahun, penanggalan tertua yang sanggup terukur melalui metode ini ialah sekitar 50.000 tahun lalu, meskipun metode penyiapan khusus terkadang sanggup memperlihatkan analisis akurat bagi sampel yang sudah sangat tua.
Sejumlah penelitian telah dilakukan semenjak tahun 1960-an untuk memilih proporsi 14C di atmosfer
Hasilnya, dalam bentuk kurva kalibrasi, dikala ini dipakai untuk mengkonversi pengukuran radiokarbon dalam suatu sampel ke dalam asumsi usia sampel tersebut. Koreksi lainnya harus dibentuk dengan mempertimbangkan proporsi 14C dalam jenis organisme yang berbeda (fraksionasi), serta kadar 14C yang bervariasi di biosfer (efek reservoir).
Pembakaran bahan bakar fosil seperti arang dan minyak, serta uji nuklir yang dilakukan pada 1950-an dan 1960-an mempersulit perhitungan penanggalan karbon.
Karena waktu yang dibutuhkan untuk mengubah materi biologis menjadi materi bakar fosil lebih usang dibanding waktu yang dibutuhkan bagi 14C untuk meluruh pada batas deteksi, materi bakar fosil hampir sama sekali tidak mengandung 14C, dan karenanya sempat terjadi penurunan proporsi 14C di atmosfer yang berawal pada tamat kala ke-19.
Kebalikannya, uji nuklir meningkatkan jumlah 14C di atmosfer, yang mencapai maksimumnya pada sekitar tahun 1965 dengan hampir dua kali dari jumlah 14C yang ada sebelum uji tersebut dimulai.
Pengukuran radiokarbon
pada mulanya dilakukan dengan alat pencacah-beta, yang menghitung jumlah radiasi beta yang dipancarkan melalui peluruhan atom 14C dalam sampel. Baru-baru ini, spektrometri massa pemercepat menjadi metode pilihan dalam pengukuran radiokarbon; metode ini menghitung seluruh atom 14C dalam sampel dan tidak hanya karbon yang akan meluruh selama pengukuran; karenanya metode ini sanggup dipakai dengan sampel yang lebih sedikit (seperti biji tumbuhan), dan lebih cepat memperlihatkan hasil. Pengembangan penanggalan radiokarbon berdampak besar pada bidang arkeologi.
Selain memberi penanggalan yang lebih akurat dibandingkan metode sebelumnya, metode ini bisa membandingkan penanggalan dengan jarak yang amat besar. Sejarah arkeologi terkadang merujuk imbas ini sebagai “revolusi radiokarbon”.
Penanggalan radiokarbon memperlihatkan penanggalan bagi sejumlah masa transisi prasejarah penting, menyerupai akhir zaman es terakhir, dan awal Neolitikum dan Zaman Perunggu di wilayah yang berbeda.
Sejak diperkenalkan metode ini telah banyak dipakai hingga dikala ini untuk menganalisis banyak objek terkenal, antara lain sampel dari Gulungan Laut Mati, Kain Kafan dari Torino, sejumlah besar artefak dari zaman Mesir kuno untuk memasok informasi bagi kronologi Dinasti Mesir, dan Ötzi, insan purba yang jasadnya ditemukan terawetkan dalam es.

Fisika peluruhan dan karbon 14 untuk penanggalan radiokarbon.
1: Formasi Karbon-14
2: Peluruhan Karbon-14
3: Persamaan “sama” ialah untuk organisme hidup, dan yang tidak sama ialah untuk yang tidak hidup, di mana C-14 kemudian meluruh (karenanya 2).
Sumber foto: Wikimedia Commons
Detail Kimia dan Fisika Radiokarbon
Di alam, karbon hadir sebagai dua isotop stabil, nonradioaktif: karbon-12 (12C), dan karbon-13 (13C), serta sebuah isotop radioaktif, karbon-14 (14C), yang dikenal pula sebagai “radiokarbon”.
Waktu paruh bagi 14C (masa yang dibutuhkan untuk meluruhnya setengah jumlah 14C)
Waktu paruh 14C adalah sekitar 5.730 tahun, sehingga konsentrasinya di atmosfer mungkin diperkirakan berkurang selama ribuan tahun, namun 14C diproduksi secara terus-menerus di stratosfer bawah dan troposfer atas, terutama oleh sinar kosmik galaktik, dan pada tingkatan yang lebih rendah oleh sinar kosmik matahari.
Sinar ini menghasilkan neutron yang kemudian menghantam atom nitrogen-14 (14N) dan membentuk 14C.
Reaksi nuklir tersebut merupakan jalur reaksi utama dalam pembentukan 14C:
- n + 14
7N → 14
6C + p
Dalam persamaan di atas, n mewakili neutron dan p mewakili proton.
Setelah diproduksi, 14C bergabung secara cepat dengan oksigen di atmosfer untuk membentuk karbon monoksida (CO) pertama dan kemudian menjadi karbon dioksida (CO2).
- 14C + O2 → 14CO + O
- 14CO + OH → 14CO2 + H
Karbon dioksida yang dihasilkan dari reaksi ini berdifusi di atmosfer, terlarut di lautan, serta dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk fotosintesis. Hewan memakan tumbuhan ini, dan karenanya radiokarbon terdistribusi ke seluruh biosfer.
Perbandingan 14C dan 12C kira-kira 1,25 bagian 14C terhadap 1012 bagian 12C. Selain itu, sekitar 1% atom karbon merupakan isotop 13C yang stabil.
Persamaan reaksi peluruhan radioaktif 14C adalah:
- 14
6C → 14
7N + e− + νe
Dengan memancarkan partikel beta (suatu elektron, e−) dan suatu antineutrino elektron (νe), neutron dalam inti 14C berubah menjadi proton dan inti 14C kembali ke bentuk isotop stabil (non-radioaktif) 14N.
Prinsip Radiokarbon
Selama masa hidupnya, tumbuhan atau binatang berada dalam kesetimbangan dengan lingkungannya melalui pertukaran karbon baik dengan atmosfer, atau melalui masakan yang dikonsumsinya.
Mereka karenanya mempunyai proporsi 14C yang sama dengan atmosfer, atau dalam kasus binatang atau tumbuhan laut, sama dengan laut.
Ketika mereka mati, mereka berhenti menerima 14C, namun 14C dalam materi biologisnya dikala itu akan terus meluruh, dan karenanya perbandingan 14C terhadap 12C dalam sisa-sisa mereka akan berkurang secara bertahap.
Karena 14C meluruh pada laju yang diketahui, proporsi radiokarbon sanggup dipakai untuk memilih seberapa usang semenjak sampel yang diberikan berhenti mengalami pertukaran karbon – semakin bau tanah sampel tersebut, semakin sedikit 14C yang tersisa.
Peluruhan isotop radioaktif dinyatakan melalui persamaan:
yang dalam rumus di atas, N0 merupakan jumlah atom isotop dalam sampel awal (pada saat t = 0, dikala ketika sampel organisme tersebut mati), dan N adalah jumlah atom yang tersisa pada saat t. λ adalah suatu konstanta yang bergantung pada isotop tertentu; untuk isotop yang diberikan akan berbanding terbalik dengan waktu purata – yaitu waktu rerata atau yang diperkirakan dari atom yang diberikan untuk sanggup bertahan sebelum mengalami peluruhan radioaktif.
Waktu purata, dinyatakan dengan τ, dari 14C adalah 8.267 tahun, sehingga persamaan di atas sanggup ditulis kembali sehingga:
Sejarah Penanggalan Radiokarbon
Pada tahun 1939, Martin Kamen dan Samuel Ruben dari Laboratorium Radiasi di Berkeley memulai percobaan untuk memilih apakah unsur-unsur yang umum dalam materi organik mempunyai isotop dengan waktu paruh yang cukup usang untuk dipakai dalam penelitian biomedis.
Mereka mensintesis 14C menggunakan pemercepat siklotron laboratorium tersebut dan kemudian mereka menemukan bahwa atom-atom tersebut memiliki waktu paruh yang jauh lebih usang dari yang mereka anggap sebelumnya.
Penemuan ini kemudian diikuti oleh prediksi oleh Serge A. Korff, yang dikala itu bekerja di Franklin Institute di Philadelphia, bahwa interaksi neutron termal dengan 14N di atmosfer atas sanggup menghasilkan 14C.
14C sebelumnya telah terpikir untuk dibentuk dari interaksi deuteron dengan 13C. Pada dikala di masa Perang Dunia II, Willard Libby, yang dikala itu menjalani studi di Berkeley, mempelajari penelitian Korff dan terpikir akan kemungkinan penggunaan radiokarbon untuk penanggalan.
Pada tahun 1945, Libby memulai penelitiannya mengenai penanggalan radiokarbon di Universitas Chicago
Ia menerbitkan sebuah makalah pada tahun 1946 yang berisi anjuran mengenai kemungkinan adanya 14C serta karbon non-radioaktif dalam materi hayati.
Libby dan beberapa kolaborator melaksanakan percobaan dengan metana yang ia kumpulkan dari selokan di Baltimore, dan setelah memperkaya sampel mereka secara isotopik mereka bisa memperlihatkan bahwa sampel tersebut mengandung 14C.
Di sisi lain, metana yang dihasilkan dari minyak bumi tidak menujukkan acara radiokarbon alasannya ialah usia sampel tersebut. Hasil tersebut dirangkum dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam Science pada tahun 1947, yang dalam komentarnya para penulis menyatakan bahwa hasil tersebut memperlihatkan adanya kemungkinan untuk melaksanakan penanggalan pada materi yang mengandung karbon organik.
Libby dan James Arnold melanjutkan penelitiannya untuk menguji teori penanggalan radiokarbon dengan menganalisis sampel yang telah diketahui usianya
Sebagai contoh, dua sampel yang diambil dari makam dua raja Mesir, Djoser dan Sneferu, masing-masing tertanggal 2625 SM lebih kurang 75 tahun, diukur dengan metode penanggalan radiokarbon dan menghasilkan usia kira-kira 2800 SM lebih kurang 250 tahun. Hasil ini diterbitkan dalam Science pada tahun 1949.
Dalam kurun waktu 11 tahun sesudah pengumuman tersebut, lebih dari 20 laboratorium penanggalan radiokarbon telah dibangun di seluruh dunia. Pada tahun 1960, Libby dianugerahi Hadiah Nobel dalam Kimia berkat karyanya tersebut.
Cara Ilmuwan Mengetahui Umur Fosil yang Ditemukan
Untuk bencana yang masih ‘baru’ terjadi puluhan hingga ratusan tahun yang lalu, para sejarawan masih bisa berpatokan pada tulisan/jurnal yang ditulis oleh peradaban masa lalu, entah itu terukir di prasasti atau candi, tertulis di daun lontar, pelepah pohon, serat kayu, dinding gua, dan sebagainya.
Tapi gimana dengan pengetahuan kita perihal kehidupan prasejarah ketika manusia belum bisa “menyuarakan” keberadaannya berupa gambar atau tulisan? Dari mana para ilmuwan arkeologis, palentologis, dan hebat geologi bisa tau perihal kondisi dunia pada masa lampau sehingga kita tau bahwa jutaan tahun yang kemudian itu ada dinosaurus, ada insan purba, ada ikan hiu raksasa (megalodon), dan lain sebagainya?
Sumber informasi utama bagi para ilmuwan untuk meraba kehidupan pada zaman pra-sejarah berasal dari fosil yang ditemukan.
Fosil dalam arti ialah sisa-sisa atau jejak mahluk hidup dari masa kemudian yang terawetkan secara alami memang bisa memperlihatkan banyak informasi kepada kita yang hidup di jaman modern perihal kondisi kehidupan di masa lampau.
Dari mulai kapan makhluk hidup yang terfosilisasi itu hidup, bagaimana bentuknya, cara kerja sistem tubuhnya, hingga kondisi lingkungan pada jaman makhluk itu hidup.

Dari mana para ilmuwan tahu umur dari fosil yang ditemukan?
2 metode pendekatan yang dipakai para ilmuwan untuk mengetahui umur dari fosil, yaitu Radiocarbon Dating & Stratigrafi.
1. Metode Radiometric Dating
Metode radiometric dating ini sangat umum dilakukan oleh hebat arkeolog, yang pada intinya adalah menghitung perbandingan unsur tertentu pada specimen fosil untuk kemudian dibandingkan dengan kandungan unsur yang sama pada atmosfir dengan prinsip waktu paruh peluruhan atom. Dari semua jenis radiometric dating ini, yang akan dibahas ialah pendekatan unsur karbon atau lebih ngetren dengan istilah carbon dating atau C-14 dating.
Metode ini dikembangkan oleh profesor kimia di Amrik bernama Willard Libby di tamat 1940an yang akhirnya menjadi metode standard bagi para arkeolog di seluruh dunia. Apa wangsit di balik metode ini?
Ketika seorang ilmuwan menemukan fosil yang belum teridentifikasi, entah itu fosil binatang atau tumbuhan. Pertanyaan utama yang bikin ingin tau adalah “Ini fosil umurnya udah berapa tahun? ratusan tahun, ribuan tahun, atau jutaan tahun?”.
Untuk menjawab pertanyaan ini, gua mau bahas sedikit perihal pelajaran dasar Kimia perihal konsep isotop.
Jenis dan sifat dasar unsur itu ditentukan sama jumlah proton di dalam inti atom. Kalau proton di atom ada satu, namanya Hidrogen. Kalau ada dua, namanya Helium. Dan seterusnya bisa kita liat di tabel periodik menyerupai ini:
Tabel Periodik Kimia – Lengkap Dengan Daftar Unsur Kimia Berdasarkan Nama, Warna Dan Jenis
Tabel periodik ialah tampilan unsur-unsur kimia dalam bentuk tabel. Unsur-unsur tersebut disusun menurut nomor atom (jumlah proton dalam inti atom), konfigurasi elektron dan keberulangan sifat kimia. Klik disini untuk membaca tabel periodik yang komplit.
Mari kita liat salah satu unsur, yang paling simpel aja, Hidrogen. Hidrogen itu kan atom apapun yang punya satu proton. Tapi kan komponen atom kan ngga cuma proton. Ada neutron dan elektron.
Elektron dalam keadaan dasar jumlahnya niscaya sama dengan proton, dan kalau berubah bakal menciptakan atom tersebut jadi ion.
Tapi masalahnya jumlah neutron itu berbeda-beda. Contohnya, H-1 (Hidrogen-1) punya satu proton dan nol neutron. H-2 punya satu proton satu neutron, dan H-3 punya satu proton dan dua neutron. H-1, H-2 dan H-3 ialah isotop dari Hidrogen. Nama kerennya H-2 disebut Deuterium dan H-3 disebut Tritium. Mereka sama-sama punya satu proton, tapi jumlah neutronnya berbeda.
Angka sesudah nama unsur itu nunjukin jumlah proton dan neutron, yang bakal mensugesti beberapa sifat unsur itu. Sifat pertama yang berubah, adalah massa-nya, yang kedua ialah sifat radioaktivitas.
Radioaktivitas atau peluruhan ialah reaksi yang terjadi pada inti atom itu sendiri alasannya ialah sifat inti atom yang ngga stabil. Kita bisa liat di grafik di bawah, reaksi ini terjadi kalau perbandingan jumlah proton dan neutron ngga begitu seimbang.
Pada atom-atom radioaktif ini, terjadi peluruhan alias emisi partikel yang jenisnya tergantung sama jumlah proton dan neutronnya. Kalau protonnya lebih tinggi, biasanya yang dikeluarkan ialah partikel bermuatan positif menyerupai partikel alfa (α), positron (b+) atau proton (p).
Sebaliknya, kalau neutronnya lebih tinggi, yang dikeluarkan ialah yang negatif (b–) atau netral (n). Jenis-jenis peluruhan ini ngga gue bahas menyeluruh di sini, tapi yang penting ialah konsep “waktu paruh” (half-life).
Konsep “waktu paruh” inilah yang menjadi kunci para ilmuwan untuk mengungkap pertanyaan “berapa tahun umur fosil ini?”. Wah, apaan tuh konsep waktu paruh?
Half-life atau waktu paruh ialah waktu yang dibutuhkan untuk sejumlah atom radioaktif meluruh setengahnya.
Misalnya, Terbium-148 ialah atom radioaktif yang mengeluarkan partikel b+ dan menjadi Gadolinium-148, reaksi lengkapnya:
Waktu paruh dari Tb-148 adalah exactly satu jam. Apa artinya? Kalau kita punya 100 atom Tb-148 sekarang, satu jam lagi kita akan hanya punya setengahnya, alias 50 atom. Satu jam kemudian alias dua jam dari sekarang, sisanya tinggal 25 atom. Intinya, jumlah dari atom radioaktif akan berkurang setengah setiap satu satuan waktu paruh. Di bawah ini pola animasi dari detik 0 hingga 4 kali waktu paruh, di mana jumlah partikel udah berkurang jadi (0.5)4 alias seperenambelasnya.
Konsep waktu paruh itulah yang kita aplikasikan pada karbon untuk mengetahui umur fosil. Kenapa karbon yang jadi tolak ukur? Karena, karbon sendiri punya 15 isotop, mulai dari C-8 sampe C-22. Kebanyakan dari isotop karbon ini sangat nggak stabil, alias waktu paruhnya sangat cepat.
Tapi, ada satu isotop yang tidak mengecewakan panjang waktu paruhnya, yaitu C-14 dengan waktu paruh 5.730 tahun.
C-14 ini terbentuk di atmosfer, dari N-14 yang bereaksi dengan cosmic ray atau radiasi dari luar tata surya.
Sementara itu, fosil yang jadi sampel kita biasanya berupa makhluk organik pada masa lampau, entah itu tumbuhan atau hewan. Tanaman memakai CO2 ini untuk proses fotosintesis, sehingga C-14 tadi masuk ke tanaman, dan juga ke binatang yang memakan tanaman, kemudian binatang karnivora yang makan binatang herbivora.
Karena semua makhluk hidup bekerjasama pribadi dengan atmosfer dalam siklus karbon, kadar C-14 di badan makhluk hidup akan hampir sama dengan yang di atmosfer, yaitu 10-12. Tapi, waktu makhluk itu mati, beliau pribadi terputus dari siklus karbon dengan atmosfer. Dari momen inilah kita bisa menghitung waktu yang dilewati fosil tersebut sesudah mati menurut perbandingan waktu paruh dari kadar karbon C-14 dengan kadar C-14 yang ada di atmosfer dikala ini.
Ketika makhluk hidup mati, tumbuhan ngga berfotosintesis lagi, yang herbivor ngga makan tumbuhan berisi C-14 lagi, yang karnivor ngga makan binatang berisi C-14 lagi. Nah, C-14 yang tersisa di sisa tumbuhan atau binatang tersebut bakal mulai menghilang alasannya ialah peluruhan tadi, dan kadar C-14 di sisa tersebut mulai berkurang.
Berarti umur fosil bisa kita hitung dengan persamaan berikut ini:
- t = waktu yang udah lewat sesudah organisme ini mati
- T = waktu paruh C-14, alias 5.730 tahun
- N0 = kadar C-14 atmosfer sekarang
- N(t) = kadar C-14 pada sampel
Jika contohnya kadar C-14 atmosfer kini itu 10-12, dan ada sampel fosil pohon yang kadar C-14 nya tinggal 10-14, umurnya berarti:
Dari perhitungan di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sampel fosil pohon tersebut berumur 38.070 tahun sebelum kini atau tahun 36.055 sebelum Masehi!
2. Metode Stratigrafi
Stratigrafi ini cabang dalam geologi yang meneliti lapisan bumi, tepatnya lapisan batuan di lapisan terluar bumi alias kerak, dan terbentuknya lapisan-lapisan itu. Bidang ini pertama diteliti mendalam sama Nicolas Steno tahun 1669, yang bikin teori dasar agar para ilmuwan bisa menganalisa umur fosil berdasarkan letaknya di lapisan tanah yang berbeda.
Masing-masing lapisan itu disebut stratum, kalo banyak disebut strata. Contoh strata tanah di bawah ini:
Setiap lapisan atau stratum ini terbentuk secara natural dan tebelnya bisa beberapa mili doang sampe setebel satu kilometer. Setiap lapisan ini represents satu pembentukan endapan tertentu yang kita bisa cari tau dari isi lapisan itu.
Lapisan bisa terbentuk dari endapan sungai, lava letusan gunung berapi, rawa, pasir pantai, dan lain-lain.
Pada prinsipnya ilmu stratigrafi ini memungkinkan para ilmuwan untuk memperkirakan waktu umur fosil dari lokasi lapisan tanah tempat fosil tersebut ditemukan.
5 Prinsip Dasar Stratigrafi
5 Prinsip dasar dalam stratigrafi yang membantu arkeolog, paleontolog, dan sejarawan untuk tau dari era kapan suatu fosil itu berasal.
1. Law of Superposition
Prinsip pertama dari metode stratigrafi adalah: makin rendah lapisan tanah tempat lokasi fosil ditemukan, berarti makin bau tanah umurnya. Mungkin ini kedengerannya simpel banget, tapi emang pada dasarnya kalau keadaannya ngga diusik sesuatu, lapisan tanah yang di bawah niscaya tertimbun oleh lapisan di atasnya.
Terus menerus begitu hingga ribuan tahun dan membentuk strata atau lapisan tanah yang berlapis. Prinsip ini simpel banget untuk dipake kalo kita mau membandingkan apakah fosil A lebih bau tanah apa lebih muda dari fosil B.
Asumsinya, jikalau bangkai binatang atau sisa tumbuhan mati kan kemungkinan besar diem aja di permukaan tanah, dan seiring dengan waktu lapisan tanah makin tertutupi oleh debu, tanah, air hujan, lapisan tanah yang terbawa aingin alasannya ialah letusan gunung berapi, dlsb.
Pengecualian juga terjadi kalo ada acara insan atau insan purba yang menciptakan struktur atau bangunan tertentu yang perlu menggali tanah. Kalo ada, bisa dianalisis pake yang namanya Harris Matrix. Sedikit banyak Matrix ini pake prinsip nomor 4 di bawah ini.
2. Principle of Original Horizontality
Intinya, semua endapan yang bikin lapisan itu semua akan buat lapisan yang secara umum horizontal alias rata. Walaupun awalnya tanah itu ngga rata, alasannya ialah ada gravitasi, abrasi akan selalu nyebarin tanah supaya jadi rata.
Mengapa ada tanah yang naik turun menyerupai bukit dan jurang tanpa buatan manusia? Sebabnya ialah gaya yang lebih besar yang ada di lapisan yang lebih rendah, serta pergerakan di kerak bumi, alias teori plate tectonics.
Pergerakan inilah yang bikin adanya lapisan yang ngga horizontal alasannya ialah adanya force yang bikin tanah di kawasan tertentu naik atau turun. Pengecualian ada di lapisan tertentu menyerupai pasir, yang bisa membentuk lapisan yang miring-miring.
3. Principle of Lateral Continuity
Intinya, semua endapan itu nyebar ke semua arah. Jika ada lapisan tanah yang menyerupai tapi terpisah sama sesuatu, bisa diasumsi bahwa dulunya mereka nyambung. Contoh gambarnya menyerupai gini:
4. Principle of Cross-cutting Relationships
Prinsip ini menyampaikan kalo ada sesuatu yang bikin potongan di satu lapisan atau lebih, potongan itu lebih muda atau terjadi belakangan ketimbang lapisan yang terpotong. Misalnya ya, suatu hari kau nemuin LEGO yang retak menyerupai ini:
Dapat disimpulkan bahwa bencana retaknya itu (karena kebentur atau sesuatu yang lain) terjadi sesudah LEGO itu disambung, alasannya ialah hampir ngga mungkin bikin dua retakan di biji LEGO yang terpisah yang waktu ditempel jadi menyambung.
Prinsip yang sama berlaku di lapisan tanah, kalau ada potongan yang nembus lapisan tertentu, potongan itu terjadi sesudah lapisan itu ada.
5. Principle of Faunal Succession
Prinsip ini bekerjasama sama makhluk hidup yang berkeliaran waktu lapisan tanah lagi terbentuk nih. Karena naturalnya bangkai tumbuhan atau binatang itu cuma tergeletak begitu aja di tanah, beliau ikut masuk ke lapisan tanah yang lagi terbentuk dikala beliau mati.
Dan alasannya ialah umur fosil dari makhluk hidup A dan B yang hidup di jaman yang berbeda niscaya bakal ditemukan di lapisan yang beda juga. Seperti prinsip nomer 1 tadi, makhluk hidup yang hidup di masa lebih deket ke kini fosilnya bakal ditemukan lebih deket ke atas (lebih muda).
Konteks dan penjelasannya sangat berkaitan dengan ilmu biologi dan teori evolusi, sebagai contoh: para ilmuwan kini bisa mengambil kesimpulan bahwa burung (aves) yang kini mempunyai sayap dan bisa terbang ialah hasil evolusi dari makhluk hidup sebelumnya yang belum bisa terbang, which is dinosaurus.
Seiring waktu berlalu, fungsi sayap itu terbentuk secara sederhana, hingga menjadi semakin kompleks dan akibatnya bisa dipakai untuk terbang.
Para ilmuwan mengambil kesimpulan ini dari serangkaian fosil memperlihatkan proses evolusi burung dari dinosaurus. Di fosil yang ada di lapisan lebih bawah, ditemuin yang ada bulu kecil dan simpel. Lalu, yang lapisannya makin ke atas (makin muda) bulu yang ditemukan makin muda makin besar dan memungkinkan organisme berbulu itu terbang.
Selain dua metode radiometri dan stratigrafi yang udah gue bahas, ada beberapa metode lain misalnya dendrokronologi (penghitungan lingkar pohon), dan epigrafi (penelitian arti peninggalan tertulis dari segi bahasa), yang dipake selain untuk mengetahui umur suatu sampel, juga untuk crosscheck metode-metode lain.
Biasanya untuk mencari tau umur suatu sample, dipake beberapa metode yang relevan kemudian dibandingin hasilnya, dan harus konsisten supaya para ilmuwan mendapatkan kesimpulan yang akurat dan tidak bias oleh kesalahan perhitungan yang cuma fokus pada 1-2 metode.
Bacaan Lainnya
- Rumus Gerak Fisika – Gerak Lurus Beraturan, Gerak Lurus Berubah Beraturan, Melingkar, Parabola – Beserta Soal dan Jawaban
- Jenis, Kelas, Klasifikasi – Panjang Gelombang Sinar Laser
- Cara Buat Jeans Belel – 10 Cara Praktis Pasti Berhasil
- Kutipan Quote Terkenal – Kata Bijak, Kata Mutiara
- Cara Menganalisa Saham Seperti Ahli Pasar Saham Profesional
- Pasar Keuangan – Definisi, Pengertian, Jenis dan Contoh
- Uang Rupiah Negara Indonesia – Sejarah Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD
- Tempat Wisata Yang Harus Dikunjungi Di Tokyo – Top 10 Obyek Wisata Yang Harus Anda Kunjungi
- Cara Membeli Tiket Pesawat Murah Secara Online Untuk Liburan Atau Bisnis
- Tibet Adalah Provinsi Cina – Sejarah Dan Budaya
- Puncak Gunung Tertinggi Di Dunia dimana?
- TOP 10 Gempa Bumi Terdahsyat Di Dunia
- Apakah Matahari Berputar Mengelilingi Pada Dirinya Sendiri?
- Test IPA: Planet Apa Yang Terdekat Dengan Matahari?
- 10 Cara Belajar Pintar, Efektif, Cepat Dan Praktis Di Ingat – Untuk Ulangan & Ujian Pasti Sukses!
- TOP 10 Virus Paling Mematikan Manusia

Apakah Anda mempunyai sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan atau jasa Anda kini juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com

3 Langkah super mudah: tulis iklan Anda, beri foto & terbitkan! semuanya di Toko Pinter
Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai
Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jikalau Anda mengunduh aplikasi kita!
Siapa bilang mau pandai harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang menciptakan Anda menjadi lebih smart!
Sumber bacaan: Study
Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya
Sumber aciknadzirah.blogspot.com







EmoticonEmoticon