Sunday, June 11, 2017

√ 10 Jam Perjalanan Motor Majalengka-Dieng Via Pantura-Kalibening-Batur

Halo sahabat touring geotrek sekalian,
kali ini aku akan bercerita sedikit ihwal catatan perjalanan dari Majalengka menuju Dieng Banjarnegara naik motor. Pagi itu aku berdua dengan istri aku merencanakan untuk tracking berdua menuju Dieng Plateu Banjarnegara.

Setelah searching lokasi beberapa hari sebelumnya maka di hari senin pagi jam 8 kami berangkat dari Kota Majalengka menuju arah Cirebon dengan memakai motor beat. Kami isi bensin full dulu di pom bensin Cigasong.

Perjalanan kemudian dilanjut menyusuri jalan ke arah Rajagaluh hingga Sumber dan Cirebon. Suhu udara di perjalanan dari Majalengka menuju Sumber adem ayem alasannya yakni rimbun pepohonan di kiri-kanan jalan.

Setelah 1 jam kami mulai masuk Cirebon hingga menuju jalur pantura. Karena masih arus balik jadi macet di persimpangan Jl. Kanggraksan dan untuk menuju arah Jawa Tengah harus putar balik jauh dulu. Selepas putar balik di lampu merah jalanan mulai lurus, lebar dan panas tentunya.

Moto sanggup dipacu kencang dengan mobil-mobil berat yang mulai banyak berseliweran. Baru kali ini aku merasakan aspal pantura dari Cirebon menuju Pekalongan. Di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah kami mampir dulu ke salah satu minimart untuk minum dan istirahat.

Cuaca hari itu panas sekali dan tidak ada awan sehingga sangat menyengat dan menguras energi. Selepas perbatasan jawa barat dan jawa tengah motor kami karenanya menginjakan kaki di Brebes. Masuk Brebes jalanan cukup padat alasannya yakni melewati kota. Di sepanjang jalan aneka macam pedangan telor asin yang merupakan makan khas Brebes, selain itu bawang merah juga banyak tersedia.

Selepas keluar kota Brebes jalanan mulai lengang lagi dan motor dipacu agak cepat lagi dan tak terasa sudah hingga Tegal. Ternyata kota Tegal sangat panas maklum pinggir pantai. Namun perkembangan kota ini tidak mengecewakan manis dengan beberapa pusat-pusat perdagangan dan sosial modern banyak dibangun. 

Keluar kota Tegal kemudian masuk jalur pantura lagi dan jam 1 siang sampailah di Pemalang. Di Pemalang kami tidak masuk kota alasannya yakni ikuti utama pantura. Karena bensin sudah habis maka kami ngisi bensin kedua kali di Pemalang. Dari Pemalang perjalanan dilanjutkan menuju Pekalongan. Sampai Pekalongan kami mampir dulu di mesjid untuk sholat dan istirahat alasannya yakni pantat sudah panas.
 

Istirahat di mesjid Pekalongan

Sholat zuhur dan ashar kami qosor alasannya yakni dalam perjalanan jauh. Ingat meski dalam keadaan apapun sholat yakni sebuah kebutuhan. Setelah 20 menitan meluruskan pinggang dan sholat, kami meneruskan perjalanan hingga sampailah di Pekalongan. Di wilayah Pekalongan kami kemudian belok kanan menuju arah Kajen.

Dari jalan pantura menuju Kajen cuaca masih panas namun sudah mulai ada pepohonan. Di wilayah Kajen kami mampir juga untuk makan siang di warung Soto. Harganya sangat murah banget dan porsinya pas dengan perut. Isi soto ada daging sapi ditambang kecambah dan paru sapi. Total makan siang berdua ditambah minum teh manis sekitar 30 ribuan aj.

Setelah setengah jam mampir makan siang, perjalanan dilanjutkan alasannya yakni masih jauh. Dari kecamatan Kajen selepas pasar kami mulai masuk area perkebunan dan jalanan mulai naik...woo. Di jalan sudah ada papan nama Kawasan Wisata Linggoasri. Disini jalanan mulai berkelok, menanjak dengan rimbun perkebunan karet. Suhu udara mulai hambar jadi sanggup irit energi.

Kami menyusuri jalan berliku dan menanjak hingga masuk Kalibening. Di Kalibening ekosistem sudah mulai berubah ke hutan pinus yang menjulang tinggi ditambah sungai-sungai berbatu lembap jernih, emejing pokonya. Nah selepas itu masuk Paninggaran ini ada dua pom bensin pertamina jadi kalau anda mau lewat sini ke Dieng usahakan isi full bensin disini alasannya yakni selepas itu gak akan ada pom bensin besar, yang ada pom mini dan harganya tentu lebih mahal kan.
Pom bensin di Paninggaran
Motor kami kemudian diisi full bensin biar di Dieng sanggup bebas jalan-jalanan, kemudian perjalanan dilanjutkan menyusuri jalanan Kalibening-Wanayasa yang sudah sudah beraspal oke. Dari ekosistem hutan pinus, di final wilahay Kalibening kami menemukan ekosistem kebun teh dan karenanya masuk Wanayasa sudah berubah ke pertanian sayuran.

Di pertigaan cabang pasar Wanayasa kami kemudian ambil kiri menuju Wanaraja dan Dieng. Jam sudah menawarkan pukul setengah lima dan suhu sudah semakin hambar dengan kabut yang turun. Saya turun sebentar untuk pakai double jaket dan masker alasannya yakni suhu cukup menusuk badan aku yang kurus.

Masuk wilayah Wanaraja iring-iringan para bikers mulai terlihat menuju Dieng, jadi serasa banyak teman. Akhirnya pukul 17.30 kami datang juga di Dieng Plateu, cuaca cukup erat dengan suhu sekitar 14 derajat aku cek di android. Kami kemudian tanya-tanya penginapan yang harganya pas di kantong. Ternyata hari senin masih ekspresi dominan liburan sehingga Dieng cukup padat. Total perjalanan dari Majalengka ke Dieng pakai motor 10 jam, woow..pakai motor matic ya masuk akal lah, banyak istirahat juga.

Setelah mencari-cari karenanya ketemu penginapan cukup murah dekat Gapura Welcome to Dieng. Untuk tips mencari penginapan murah di Dieng, akan aku ulas di artikel selanjutnya. Makara singkat dongeng penginapan udah didapat, yang penting kamar mandi di dalam dan ada air panas. Motor diparkir dan barang disimpan kemudian kami mandi air hangat dulu untuk melemaskan otot yang tegang ketika perjalanan, 10 jam booo...Untungnya pas kami hingga Dieng, hujan deras turun jadi gak kehujanan di jalan.
Hujan di Dieng sore menjelang magrib
Itulah dongeng singkat perjalanan kami dari Majalengka menuju Dieng pakai motor via Kalibening. Mau tahu dongeng seru selanjutnya dari kami selama 2 hari di Dieng?. Pantau terus blog ini dan jangan lupa like yo!.
Sumber http://www.gurugeografi.id


EmoticonEmoticon