Tuesday, June 13, 2017

√ Galungan – Rangkaian Hari Raya Galungan Dan Sejarah

Perayaan Hari Raya Galungan


Hari raya Galungan dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).


Dirayakan oleh umat Hindu setiap 210 hari, dengan memakai perhitungan kalender Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).


 


Sejarah Hari Suci Galungan




  • Dalam sebuah kisah mitologi Hindu Bali dikisahkan bahwa di Pulau Bali terdapat seseorang raksasa yang sangat sakti dan ditakuti oleh semua masyarakat. Raksasa itu berjulukan Mayadenawa. Mayadenawa melarang semua masyarakat hindu bali untuk melaksanakan persembahyangan ke pura untuk memuja Dewa-dewa, lantaran Mayadenawa ingin semua masyarakat menyembahnya. Karena merasa sangat geram terhadap tingkah laris Mayadenawa tersebut, maka diutuslah Bhatara Indra untuk turun ke mercepade (Dunia) untuk menemui dan menghabisi raksasa Mayadenawa tersebut.




  • Diceritakan bahwa Ide Bhatara Indra sudah berada di sebuah tempat yang mempunyai tingkat kemiringan yang cukup terjal, disanalah dia berhasil menjumpai Mayadenawa. Ide Bhatara Indra menyampaikan kepada Mayadenawa bahwa tindakannya salah dan tidak patut untuk dilakukan. Namun Mayadenawa sangat besar kepala dan sombong, bahkan dia mulai melawan. Karena melawan maka Ide Bhatara Indra pun bergegas menyerang Mayadenawa, lantaran kehebatan dan kesaktian yang dimiliki oleh Ide Bhatara Indra maka Mayadenawa kewalaham dibuatnya. Lalu ia berlari berusaha menjauhi Ide Bhatara Indra.




  • Berbagai penjuru kawasan sudah dikepung oleh pasukan Ide Bhatara Indra, Mayadenawa sangat merasa terancam dan ia menentukan berubah bentuk menjadi seekor ayam manuk (Jantan) untuk mengelabui Ide Bhatara Indra beserta pasukannya. Namun sayangnya perjuangan Mayadenawa tersebut tidak berhasil lantaran Ide Bhatara Indra sudah mengetahuinya dan disanalah kesudahannya raksasa Mayadenawa tewas ditangan Ide Bhatara Indra. Untuk memperingati kemenangan Ide Bhatara Indra (Dharma) melawan raksasa Mayadenawa (Adharma) maka diperingati sebagai Hari Raya Galungan.




 


dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma  √ Galungan – Rangkaian Hari Raya Galungan dan Sejarah

Dekorasi jalanan di Ubud – Bali untuk perayaan Galungan dan Kuningan. Sumber foto: Flickr / Isabel Sommerfeld


 


Rangkaian Hari Raya Galungan


Tumpek Wariga


Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Wariga disebut Tumpek Wariga, atau Tumpek Bubuh, atau Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah jatuh 25 hari sebelum Galungan. Pada hari Tumpek Wariga Ista Dewata yang dipuja ialah Sang Hyang Sangkara sebagai Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan. Adapun tradisi masyarakat untuk merayakannya adalahh dengan menghaturkan banten (sesaji) yang berupa Bubuh (bubur) Sumsum yang berwarna seperti:




  1. Bubuh putih untuk umbi-umbian




  2. Bubuh bang untuk padang-padangan




  3. Bubuh gadang untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara generatif




  4. Bubuh kuning untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara vegetatif




Pada hari Tumpek Wariga ini semua pepohonan akan disirati tirta wangsuhpada/air suci yang dimohonkan di sebuah Pura/Merajan dan diberi banten berupa bubuh tadi disertai canang pesucian, sesayut tanem tuwuh dan diisi sasat. Setelah selesai lalu pemilik pohon akan menggetok atau mengelus batang pohon sambil berucap sendiri (bermonolog):


“Dadong- Dadong I Pekak anak kija I Pekak ye gelem I Pekak gelem apa dong? I Pekak gelem nged Nged, nged, nged”


Dialog di atas bermakna keinginan si pemilik pohon semoga nantinya pohon yang diupacarai sanggup segera berbuah/menghasilkan, sehingga sanggup digunakan untuk upacara hari raya Galungan. Peringatan hari ini merupakan wujud Cinta Kasih insan terhadap tumbuh-tumbuhan.


Sugihan Jawa


Sugihan Jawa berasal dari 2 kata: Sugi dan Jawa. Sugi mempunyai arti bersih, suci. Sedangkan Jawa berasal dari kata jaba yang artinya luar. Secara singkat pengertian Sugihan Jawa ialah hari sebagai pembersihan/penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri insan (Bhuana Agung). Pada hari ini umat melaksanakan upacara yang disebut Mererebu atau Mererebon.


Upacara Ngerebon ini dilaksanakan dengan tujuan untuk nyomia/menetralisir segala sesuatu yang negatif yang berada pada Bhuana Agung disimbolkan dengan pencucian Merajan, dan Rumah. Pada upacara Ngerebon ini, dilingkungan Sanggah Gede, Panti, Dadya, hingga Pura Kahyangan Tiga/Kahyangan Desa akan menghaturkan banten semampunya. Biasanya untuk wilayah pura akan menciptakan Guling Babi untuk haturan yang nantinya sehabis selesai upacara dagingnya akan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Sugihan Jawa dirayakan setiap hari Kamis Wage wuku Sungsang


Sugihan Bali


Sugihan Bali mempunyai makna yaitu penyucian/pembersihan diri sendiri/Bhuana Alit (kata Bali=Wali=dalam). Tata cara pelaksanaannya ialah dengan cara mandi, melaksanakan pencucian secara fisik, dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih sebagai simbolis penyucian jiwa raga untuk menyongsong hari Galungan yang sudah semakin dekat. Sugihan Bali dirayakan setiap hari Jumat Kliwon wuku Sungsang


Hari Penyekeban


Hari Penyekeban ini mempunyai makna filosofis untuk “nyekeb indriya” yang berarti mengekang diri semoga tidak melaksanakan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.Hari Penyekeban ini dirayakan setiap Minggu Pahing wuku Dungulan.


Hari Penyajan


Penyajan berasal dari kata Saja yang dalam bahasa Bali artinya benar, serius. Hari penyajan ini mempunyai filosofis untuk memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan. Menurut kepercayaan, pada hari ini umat akan digoda oleh Sang Bhuta Dungulan untuk menguji sejauh mana tingkat pengendalian diri umat Hindu untuk melangkah lebih bersahabat lagi menuju Galungan. Hari ini dirayakan setiap Senin Pon wuku Dungulan.


Hari Penampahan


Hari Penampahan jatuh sehari sebelum Galungan, tepatnya pada hari Selasa Wage wuku Dungulan. Penampahan atau Penampan mempunyai arti Nampa yang berarti ‘Menyambut’. Pada hari ini umat akan disibukkan dengan pembuatan [penjor] sebagai ungkapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugrah yang diterima selama ini, penjor ini dibentuk dari batang bambu melengkung yang diisi hiasan sedemikian rupa. Selain menciptakan penjor umat juga menyembelih babi yang dagingnya akan digunakan sebagai suplemen upacara, penyembelihan babi ini juga mengandung makna simbolis membunuh semua nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Kepercayaan masyarakat Bali pada umumnya, pada hari Penampahan ini para leluhur akan mendatangi sanak keturunannya yang ada di dunia, lantaran itulah masyarakat juga menciptakan suguhan khusus yang terdiri atas nasi, lauk-pauk, jajanan, buah, kopi, air, lekesan (daun sirih dan pinang) atau rokok yang ditujukkan kepada leluhur yang “menyinggahi” mereka di rumahnya masing-masing.




dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma  √ Galungan – Rangkaian Hari Raya Galungan dan Sejarah




Punjung atau Suguhan untuk para Leluhur





Hari Raya Galungan


Pagi hari umat telah memulai upacara untuk Galungan ini. Dimulai dari persembahyangan di rumah masing-masing hingga ke Pura sekitar lingkungan. Tradisi yang kerap kita jumpai pada Galungan ialah Tradisi “Pulang Kampung” , umat yang berasal dari kawasan lain, mirip perantauan akan menyempatkan diri untuk sembahyang ke kawasan kelahirannya masing-masing.


Bagi umat yang mempunyai anggota keluarga yang masih berstatus [Makingsan di Pertiwi] (mapendem/dikubur), maka umat tersebut wajib untuk membawakan banten ke kuburan dengan istilah Mamunjung ka Setra, banten tersebut terdiri atas punjung mirip telah disebutkan di atas, disertai tigasan/kain saperadeg (seadanya) dan air kumkuman (air bunga).





dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma  √ Galungan – Rangkaian Hari Raya Galungan dan Sejarah




Kuburan ketika hari Raya Galungan





dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma  √ Galungan – Rangkaian Hari Raya Galungan dan Sejarah






Persembahan pada ketika Hari Raya Galungan





Hari Umanis Galungan


Pada umanis Galungan, umat akan melaksanakan persembahyangan dan dilanjutkan dengan Dharma Santi dan saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi.


Anak-anak akan melaksanakan tradisi ngelawang pada hari ini. Ngelawang ialah sebuah tradisi, di mana belum dewasa akan menarikan barong disertai gambelan dari pintu rumah penduduk satu ke yang lainnya (lawang ke lawang), penduduk yang mempunyai rumah tersebut lalu akan keluar dari rumah sambil membawa canang dan sesari/uang, penduduk percaya bahwa dengan tarian barong ini sanggup mengusir segala aura negatif dan mendatangkan aura positif. Umanis Galungan jatuh pada hari Kamis Umanis wuku Dungulan


Hari Pemaridan Guru


Kata Pemaridan Guru berasal dari kata Marid dan Guru. Memarid sama artinya dengan ngelungsur/nyurud (memohon) , dan Guru tiada lain ialah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dapat diartikan bahwa hari ini ialah hari untuk nyurud/ngelungsur waranugraha dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Guru. Dirayakan pada Sabtu Pon wuku Galungan.


Ulihan


Ulihan artinya pulang/kembali. Dalam konteks ini yang dimaksud ialah hari kembalinya para dewata-dewati/leluhur ke kahyangan dengan meninggalkan berkat dan anugrah panjang umur. Dirayakan pada Minggu Wage wuku Kuningan


Hari Pemacekan Agung


Kata pemacekan berasal dari kata pacek yang artinya tekek (Bhs Bali.) atau tegar. Makna pemacekan agung ini ialah sebagai simbol keteguhan kepercayaan umat insan atas segala godaan selama perayaan hari Galungan. Dirayakan pada Senin Kliwon wuku Kuningan.


Hari Kuningan


Hari Suci Kuningan dirayakan umat dengan cara memasang tamiang,kolem, dan endong.Tamiang ialah simbol senjata Dewa Wisnu lantaran ibarat Cakra, Kolem ialah simbol senjata Dewa Mahadewa, sedangkan Endong tersebut ialah simbol kantong perbekalan yang digunakan oleh Para Dewata dan Leluhur kita ketika berperang melawan adharma. Tamiang kolem dipasang pada semua palinggih, bale, dan pelangkiran, sedangkan endong dipasang hanya pada palinggih dan pelangkiran.


Tumpeng pada banten yang biasanya berwarna putih diganti dengan tumpeng berwarna kuning yang dibentuk dari nasi yang dicampur dengan kunyit yang telah dicacah dan direbus bersama minyak kelapa dan daun pandan harum.


Keunikan hari raya Kuningan selain penggunaan warna kuning ialah yaitu persembahyangan harus sudah selesai sebelum jam 12 siang (tengai tepet), lantaran persembahan dan persembahyangan sehabis jam 12 siang hanya akan diterima Bhuta dan Kala lantaran para Dewata semuanya telah kembali ke Kahyangan. Hal ini bahwasanya mengandung nilai disiplin waktu dan kemampuan untuk memanajemen waktu. Warna kuning yang identik dengan hari raya Kuningan mempunyai makna kebahagiaan,keberhasilan, dan kesejahtraan.


Hari Pegat Wakan


Hari ini ialah runtutan terakhir dari perayaan Galungan dan Kuningan. Dilaksanakan dengan cara melaksanakan persembahyangan, dan mencabut penjor yang telah dibentuk pada hari Penampahan. Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah. Pegat Wakan jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Pahang, sebulan sehabis galungan.


 


Bacaan Lainnya



 



dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma  √ Galungan – Rangkaian Hari Raya Galungan dan Sejarah

Apakah Anda mempunyai sesuatu untuk dijual, disewakan, layanan apa saja yang ditawarkan atau lowongan pekerjaan? Pasang iklan & promosikan jualan atau jasa Anda kini juga! 100% GRATIS di: www.TokoPinter.com


 


dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma  √ Galungan – Rangkaian Hari Raya Galungan dan Sejarah

3 Langkah super mudah: tulis iklan Anda, beri foto & terbitkan! semuanya di Toko Pinter


 


Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai


Respons “Ooo begitu ya…” akan lebih sering terdengar jikalau Anda mengunduh aplikasi kita!


Siapa bilang mau pandai harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan isu yang menciptakan Anda menjadi lebih smart!



Sumber bacaan: Wikipedia


                             


Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”

Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya








Sumber aciknadzirah.blogspot.com


EmoticonEmoticon