Thursday, September 7, 2017

√ 6+ Prinsip-Prinsip Berguru Dan Pembelajaran

6+ Prinsip-prinsip Belajar dan Pembelajaran- Belajar ialah suatu proses perubahan sikap yang muncul sebab pengalaman.Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami, hasil berguru bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan kelakuan, kegiatan berguru sanggup dihayati (dialami ) oleh orang yang sedang berguru dan juga sanggup diamati oleh orang lain.

source: alfathabdurrahmanpayakumbuh.sch.id
Pembelajaran ialah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses berguru siswa, yang berisi serangkaian insiden yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses berguru siswa.

Untuk membuat dan menghasilkan kegiatan berguru dan pembelajaran yang berprestatif dan menyenangkan, perlu diketahui banyak sekali landasan yakni prinsip-prinsip maupun teori belajar. Proses berguru mengajar memang merupakan cuilan terpenting dalam mengimplementasikan kurikulum, termasuk memahami prinsip-prinsip pembelajaran itu sendiri.

Adapun untuk bisa mengetahui efektivitas dan juga efisiensi suatu pembelajaran bisa kita lihat melalui kegiatan pembelajaran ini. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan pembelajaran sudah sepatutnya seorang pengejar mengetahui bagaimana cara untuk membuat kegiatan berguru bisa berjalan dengan baik serta bisa mencapai tujuan sesuai dengan yang diinginkan.

Prinsip-prinsip berguru yang dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961) ialah :
1) Prinsip Kesiapan (Readinees)
2) Prinsip Motivasi (Motivation)
3) Prinsip Persepsi
4) Prinsip Tujuan
5) Prinsip Perbedaan Individual
6) Prinsip Transfer dan Retensi
7) Prinsip Belajar Kognitif
8) rinsip Belajar Afektif
9) Prinsip Belajar Evaluasi
10) Prinsip Belajar Psikomotor
Secara Umum, Prinsip-prinsip berguru berkaitan dengan

6+ Prinsip-prinsip Belajar dan Pembelajaran

1. Perhatian Dan Motivasi 
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori berguru pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi berguru (Gage n Berliner, 1984: 335 ). Apabila materi pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diharapkan untuk berguru lebih Ianjut atau diharapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.

Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Motivasi ialah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan acara seseorang. Motivasi sanggup dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada kendaraan beroda empat (gage dan Berliner, 1984 : 372).

Motivasi mempunyai kaitan yang dekat dengan minat. Siswa yang mempunyai minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang 8 dianggap penting dalan, kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laris insan dan motivasinya. Motivasi sanggup bersifat internal, artinya tiba dari dirinya sendiri, sanggup juga bersifat eksternal yakni tiba dari orang lain, dari guru, orang tua, teman dan sebagainya.

2. Keaktifan Belajar
Kecendrungan psikologi cukup umur ini menganggap bahwa anak ialah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendri.

Oleh sebab itu guru jangan sekali-kali membiarkan ada siswa yang tidak ikut aktif belajar. Lebih jauh dari sekedar mengaktifkan siswa belajar, guru harus berusaha meningkatkan kadar aktifitas berguru tersebut. Kegiatan mendengarkan klarifikasi guru, sudah mengatakan adanya acara belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu ditingkinkan dengan metode mengajar lain.

3. Keterlibatan Langsung
Dalam Belajar Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman berguru yang dituangkan dalam kerueut pengalamannya mengemukakan bahwa berguru yang paling baik ialah berguru melalui pengalaman langsung. Dalam berguru melalui pengalaman pribadi siswa tidak sekadar mengamati secara pribadi tetapi ia harus menghayati, terlibat pribadi dalam perbuatan, dan bertanggung jawab tehadap hasilnya.

Pentingnya ketelibatan pribadi dalam berguru dikemukakan oleh John Dewey dengan “leaming by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan duduk perkara (prolem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.

4. Pengulangan Belajar
Prinsip berguru yang menekankan perlunya pengulangan yang dikemukakan oleh teori Psikologi Dengan mengadakan pengulangan maka dasya-daya tersebut akan berkembang. Seperti hainya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma.

Banyak tingkah laris insan yang terjadi sebab kondisi, contohnya siswa berbaris masuk ke kelas sebab mendengar suara lonceng, kendaraan berhenti dikala lampu Ialu lintas berwarna merah. Menurut teori ini sikap individu sanggup dikondisikan, dan berguru merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu sikap atau respons terhadap sesuatu.

Mengajar ialah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan adaptasi tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi sanggup juga oleh timulus penyerta.

5. Sifat Merangsang Dan Menantang Dari Materi Yang Dipelaiari
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa dalam, situasi berguru berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi berguru siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat kendala yang mempelajari materi belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi kendala itu yaitu dengan mempelajari bahasa berguru tersebut.

Apabila kendala itu telah diatasi, artinya tujuan berguru telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan gres dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang berpengaruh untuk mengatasi kendala dengan baik maka materi berguru haruslah menantang.tantangan yang dihadapi dalam materi berguru membuat siswa agresif untuk mengatasinya.

Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menerimakan konsep-konsep, prinsip- prinsip, dan generalisasi akan mengakibatkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut.

6. Pemberian Balikan Atau Umpan Balik Dan Penguatan Belajar
Siswa berguru sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yamg baik itu mendorong anak untuk berguru lebih ulet lagi. Nilai yang baik sanggup merupakan operant conditioning atau penguatan positif.

Sebaliknya anak yang mendapatkan nilai yang buruk pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, sebab takut tidak naik kelas ia terdorong tuk berguru lebih giat. Di sini nilai buruk dan dan rasa takut lidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk berguru lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif.

Di sini siswa mencoba menghindar dari insiden yang tidak menyenangkan, maka penguatanatan negatif juga disebut escape conditioning, Format menu berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa sehabis berguru melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk berguru lebih ulet dan bersemangat.

Demikianlah artikel tentang 6+ Prinsip-prinsip Belajar dan Pembelajaran, semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk anda.
Sumber http://www.rijal09.com


EmoticonEmoticon