![]() |
| Keluarga Harun Rasyid menyambangi Komnas HAM. (Jefrie/detikcom) |
Didin Wahyudin, ayah Almarhum Harun Rasyid, berakal balig cukup akal usia 15 tahun yang tewas dengan luka tembak, mengadu ke Komnas HAM terkait simpulan hidup anaknya ketika kerusuhan 22 Mei 2019. Didin juga meminta dukungan Komnas HAM terkait tekanan yang diterima keluarganya.
"Satu lagi, Pak, saya minta perlindungan. Karena sudah banyak tekanannya," kata Didin ketika audiensi terbuka dengan komisioner Komnas HAM di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/5/2019).
Salah satu bentuk tekanan yang dialami oleh Didin yaitu seruan semoga kembali ke rumah dan tidak pergi ke Komnas HAM.
"Seperti tadi. Saya sudah di sini, disuruh pulang," jawab Didin.
Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Anak Komnas HAM Beka Ulung Hapsara pun bertanya mengenai pihak yang menawarkan tekanan itu. Didin menyebut nama Kapolsek Kebon Jeruk.
"Kapolsek Kebon Jeruk apa ya," ujar Didin.
Selain itu, Didin menyebut rumahnya sering dikunjungi oleh sejumlah personel Polsek Kebon Jeruk. Namun kedatangan abdnegara itu tak pernah diterima alasannya keluarga masih trauma.
"Dari Polsek Kebon Jeruk. Dari Polsek Kebon Jeruk sudah beberapa kali datang," ujar Didin.
"Ya bila mereka tiba saya ngggak pernah temuin. Karena apa, alasannya saya trauma. Istri saya aja. Saya bilang, saya mau tidur. Sampe pulang pun dia masih nanya, bapak udah bangun, tetep," sambung dia.
Lebih jauh Didin menyebut anaknya dibunuh memakai peluru tajam. Dia juga mengaku belum mendapatkan hasil autopsi mayat Harun.
"Saya minta aturan ini ditegakkan, Pak. Karena negara ini negara hukum. Kalau dibilang secara politik memang dia di bawah umur. Tidak ada politik. Makara anak saya ini memang dibunuh. Tidak ada yang namanya demonstrasi itu dengan peluru tajam, itu niscaya peluru tajam. Sampai ketika ini saya belum sanggup hasil autopsi," kata Didin.
Setelah itu, Didin bercerita mengenai sulitnya mengambil mayat sang anak di RS Polri. Proses manajemen untuk pengambilan mayat Harun disebut Didin tidak gampang.
"Jadi dongeng dari yang mengambil mayat itu, orang bau tanah saya. Karena saya waktu itu sudah nggak sanggup jalan. Makara orang bau tanah saya yang mengambil. Memang agak sulit, Pak, agak sulit untuk mengambil mayat anak saya itu. Makara malamnya saya harus ke Kramat Jati. Dari Kramat Jati katanya harus ada surat dari Polres Jakarta Barat. Dari Polres Jakarta Barat katanya nanti harus pagi alasannya sudah malam, harus pagi jam 8. Setelah besoknya jam 8 hari Jumat itu, menunggu hingga 1 jam, gres jam 9 gres tiba Kapolresnya. Ada tanda tangan, gres diantar oleh pihak polisi. Tapi dari sana harus dianjurkan untuk autopsi. Karena orang bau tanah saya sudah bingung, alasannya sudah dua hari dua malam cucunya di sana sudah dua hari dua malam, apa pun yang terjadi harus dibawa saja mayat alasannya harus segera dimakamkan. Makara apa pun yang ada di situ ditandatangani," ujar Didin.
Terkait pengakuan-pengakuan Didin, Ulung meminta tim advokasi menciptakan kronologi lengkap. Selain itu, Didin diminta menciptakan surat pernyataan terkait tekanan yang dialaminya.
"Saya minta tolong, contohnya yang untuk kasus yang Harun ini, sampean bikin kronologinya. Per kasus ini. Wawancaranya apa saja. Termasuk siapa saja yang mendatangi. Kronologinya kaya apa. Bentuk-bentuk tekanannya menyerupai apa. Minta tanda tangan beliaunya. Pernyataan begitu. Makara ditambahkan itu. Nanti dilampirin KTP-nya," ujar Ulung.
Kapolsek Kebon Jeruk Bantah Tekan Ayah Harun Rasyid
Kapolsek Kebon Jeruk AKP Erick Sitepu membantah telah menekan ayah Harun Rasyid, Didin Wahyudin. Justru, berdasarkan Erick, polisi turut berbelasungkawa atas meninggalnya Harun.
"Nggak ada (tekanan), kan kita mulai dari awal penguburan hingga pengajian, kita hadir terus. Kalau yang menyerupai itu nggak ada. Kita malah dari mulai penguburan korban," kata Erick ketika dimintai konfirmasi.
Erick menyampaikan pihaknya ikut membantu proses pemakaman Harun Rasyid hingga hadir dalam aktivitas pengajian di rumah korban. Itu semua dilakukan atas dasar persaudaraan sesama umat Islam juga sesama warga Kebon Jeruk.
"Karena memang kita sebagai sesama umat Islam, lebih lagi warga Kebon Jeruk, tanpa diundang pun kita datang, untuk pengajian, takziah," imbuhnya.
(detik) Sumber http://egoswot.blogspot.com

EmoticonEmoticon