Tuesday, May 15, 2018

√ 10 Cara Mengatasi Kecemasan Berguru Siswa

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa_ kecemasan berguru siswa ialah dorongan pikiran dan perasaan dalam diri individu/siswa yang berisikan ketakutan akan ancaman atau ancaman di masa yang akan tiba tanpa lantaran khusus, sehingga menimbulkan terganggunya contoh pemikiran dan respon fisik serta sikap sebagai hasil tekanan dalam pelaksanaan kiprah dan acara yang bermacam-macam dalam situasi akademis, dimana ditandai adanya rasa takut, gelisah dan tidak sanggup berkonsentrasi dalam berguru sehingga pencapaian prestasi tidak sanggup dicapai dengan optimal.

 kecemasan berguru siswa ialah dorongan pikiran dan perasaan dalam diri individu √ 10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

faktor penyebab dari kecemasan sanggup dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. , faktor internal mencakup gangguan atau ketidakmampuan psiko-fisik siswa yang sanggup bersifat kognitif (rendahnya intelektual/ inteligensi siswa), afektif (labilnya emosi dan sikap), dan psikomotor (terganggunya alat indera siswa). Faktor Eksternal, faktor eksternal mencakup semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar siswa (lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah).

Baca juga:
Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi berguru dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu ada upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah, berdasarkan Sudrajat (2011) di antaranya sanggup dilakukan melalui:

10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa

1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. 
Pembelajaran sanggup menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa. Oleh lantaran itu, taktik pembelajaran yang dipakai hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk sanggup mengkspresikan diri dan sanggup mengambil kiprah aktif dalam proses pembelajarannya.

2. Mengembangkan “sense of humor”
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya sanggup membuatkan “sense of humor” dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, dagelan atau “joke” yang dilontarkan tetap harus berdasar pada watak dan tidak memojokkan siswa.

3. Melakukan kegiatan selingan 
Melakukan kegiatan selingan melalui banyak sekali atraksi “game” atau “ice break” tertentu, terutama dilakukan pada ketika suasana kelas sedang tidak kondusif. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam membuatkan dinamika kelompok sepertinya sangat diperlukan.

4.  Pembelajaran diluar kelas
Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.

5. Memberikan kiprah akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat
Memberikan bahan dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu gampang lantaran akan menimbulkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang sanggup menimbulkan siswa frustrasi.

6. Menggunakan pendekatan humanistik

Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas, dimana siswa sanggup membuatkan contoh hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jikalau terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.

7. Mengembangkan sistem evaluasi yang menyenangkan

Mengembangkan sistem evaluasi yang menyenangkan, dengan menunjukkan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan evaluasi diri (self assessment) atas kiprah dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada ketika berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang faktual selama dan setelah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.

8. Menanamkan kesan faktual dalam diri siswa
Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang sanggup menunjukkan hukuman. Oleh lantaran itu, guru seyogyanya berupaya untuk menanamkan kesan faktual dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh tenggang rasa dan sanggup diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.

9. Pengembangan menajemen sekolah

Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana dan sarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa, ibarat ketersediaan alat tulis, daerah duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas dari banyak sekali gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.

10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. 
Pelayanan bimbingan dan konseling sanggup dijadikan sebagai kekuatan inti di sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah sepertinya menjadi mutlak adanya.

Langkah-langkah menunjukkan bimbingan dan derma yang efektif bagi siswa yang mengalami kecemasan belajar 

Untuk menunjukkan bimbingan dan derma yang efektif bagi siswa yang mengalami kecemasan belajar, maka seorang guru terlebih dahulu melaksanakan diagnosis kesulitan berguru . Syah (2012) mengemukakan langkah-langkah yang sanggup ditempuh antara lain :
1. Mengenal penerima didik yang mengalami kecemasan belajar.
2. Memahami sifat dan jenis kecemasan berguru yang dialami oleh siswa
3. Menetapkan latar belakang siswa yang mengalami kecemasan belajar
4. Menetapkan usaha-usaha bantuan
5. Pelaksanaan bantuan
6. Tindak lanjut

Uraian selengkapnya sanggup dijelaskan sebagai berikut :

1. Mengenal penerima didik yang mengalami kecemasan belajar.
Identifikasi siswa yang mengalami kecemasan berguru dilakukan dengan :
a. Menganalisis prestasi belajar
b. Menganalisis periaku yang bekerjasama dengan proses belajar.
c. Menganalisis hubungan sosial

2. Memahami sifat dan jenis kecemasan berguru yang dialami oleh siswa Setelah siswa-siswa yang mengalami kecemasan berguru diidentifikasi, langkah berikutnya ialah menelaah :
a. Pada mata pelajara apa yang bersangkutan mengalami kecemasan;
b. Pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kecemasan terjadi;
c. pada cuilan (ruang lingkup) bahan yang mana kecemasan terjadi;
d. pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kecemasan terjadi.

3. Menetapkan latar belakang kecemasan belajar
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kecemasan berguru diusahakan untuk sanggup diungkap. Teknik pengungkapan faktor penyebab kecemasam berguru sanggup dilakukan dengan : 1) observasi;  2) wawancara;   3) kuesioner; 4) skala sikap, 5) tes; dan 6) investigasi secara medis.

4. Menetapkan usaha-usaha bantuan
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang mencakup : pertama, teknik teknik yang dipilih untuk mengatasi kecemasan berguru dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah semoga kecemasan berguru tidak terjadi lagi.

5. Pelaksanaan bantuan
Tahap ini, apa saja yang telah ditetapkan pada tahap keeempat dilaksanakan.

6. Tindak Lanjut

Demikianlah 10 Cara Mengatasi Kecemasan Belajar Siswa serta langkah-langkahnya yang bisa anda coba aplikasikan dalam menangani kesulitan berguru yang dialami siswa. semoga artikel ini bermanfaat bagi anda
Sumber http://www.rijal09.com


EmoticonEmoticon