SUARAPGRI - Masih maraknya agresi mogok mengajar yang dilakukan oleh guru-guru honorer di tempat menciptakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy prihatin.
Dia kembali menyerukan kepada seluruh guru honorer untuk merespon nyata langkah pemerintah dalam menuntaskan duduk perkara kekurangan tenaga pendidik.
"Jangan hingga apa yang dilakukan guru honorer ini menciptakan tanggung jawab sebagai pendidik tidak terpenuhi. Harus dipastikan proses berguru mengajar siswa berjalan dengan baik," kata Mendikbud Muhadjir Effendy di kantornya, Kamis (27/9).
Imbauan tersebut juga ditujukan kepada pemerintah daerah. Jangan hingga pemda atau siapapun terpaksa melaksanakan langkah-langkah yang tidak seharusnya dilakukan.
Seperti di Blitar, polisi menggantikan posisi guru honorer yang mogok mengajar. Karena semua niscaya tidak ingin siswa diajari oleh tenaga bukan guru.
"Bagaimanapun tingkat profesionalisme harus diutamakan. Guru dianggap profesionalisme alasannya ialah pekerjaan mengajar dan mendidik siswa. Dan itu tidak dapat ditangani atau digantikan orang lain kecuali oleh yang profesional," tuturnya.
"Jadi kalau hingga ini terjadi saya menyayangkan jikalau ini akhir tindakan guru. Kalau sudah terpaksa apa boleh buat apapun akan dilakukan untuk menjamin proses didik siswa," imbuhnya.
(sumber: jpnn.com)
Sumber http://egoswot.blogspot.comDia kembali menyerukan kepada seluruh guru honorer untuk merespon nyata langkah pemerintah dalam menuntaskan duduk perkara kekurangan tenaga pendidik.
"Jangan hingga apa yang dilakukan guru honorer ini menciptakan tanggung jawab sebagai pendidik tidak terpenuhi. Harus dipastikan proses berguru mengajar siswa berjalan dengan baik," kata Mendikbud Muhadjir Effendy di kantornya, Kamis (27/9).
Imbauan tersebut juga ditujukan kepada pemerintah daerah. Jangan hingga pemda atau siapapun terpaksa melaksanakan langkah-langkah yang tidak seharusnya dilakukan.
Seperti di Blitar, polisi menggantikan posisi guru honorer yang mogok mengajar. Karena semua niscaya tidak ingin siswa diajari oleh tenaga bukan guru.
"Bagaimanapun tingkat profesionalisme harus diutamakan. Guru dianggap profesionalisme alasannya ialah pekerjaan mengajar dan mendidik siswa. Dan itu tidak dapat ditangani atau digantikan orang lain kecuali oleh yang profesional," tuturnya.
"Jadi kalau hingga ini terjadi saya menyayangkan jikalau ini akhir tindakan guru. Kalau sudah terpaksa apa boleh buat apapun akan dilakukan untuk menjamin proses didik siswa," imbuhnya.
(sumber: jpnn.com)

EmoticonEmoticon