Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatra dan banyak memberi efek di Nusantara dengan daerah kekuasaan menurut peta membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa Barat dan kemungkinan Jawa Tengah.
Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti “bercahaya” atau “gemilang”, dan wijaya berarti “kemenangan” atau “kejayaan”, maka nama Sriwijaya bermakna “kemenangan yang gilang-gemilang”.
Agama Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya juga merupakan sentra keagamaan di wilayah tersebut. Itu menempel pada Buddhisme Mahayana dan segera menjadi titik perhentian bagi para peziarah Buddhis Cina dalam perjalanan mereka ke India. Raja-raja Sriwijaya bahkan mendirikan biara atau kuil di Negapattam (sekarang Nagappattinam) di India tenggara.
Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan ini menjadi sentra perdagangan dan merupakan negara bahari, namun kerajaan ini tidak memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Beberapa hebat masih memperdebatkan daerah yang menjadi sentra pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa memindahkan sentra pemerintahannya, namun daerah yang menjadi ibukota tetap diperintah secara pribadi oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat
Kerajaan Sriwijaya, maritim dan kerajaan komersial yang berkembang antara kurun ke-7 dan ke-13, sebagian besar di tempat yang kini Indonesia. Kerajaan itu berasal dari Palembang di pulau Sumatra dan segera memperluas pengaruhnya dan mengendalikan Selat Malaka. Kekuatan Sriwijaya didasarkan pada kontrolnya atas perdagangan laut internasional. Ini membangun hubungan perdagangan tidak hanya dengan negara-negara di Kepulauan Melayu tetapi juga dengan Cina dan India.
Jatunya Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya terus tumbuh; pada tahun 1000 itu menguasai sebagian besar Jawa, tetapi segera kalah dengan Kerajaan Chola, sebuah kerajaan maritim dan komersial India yang menemukan Sriwijaya menjadi penghalang di jalur laut antara Asia Selatan dan Timur. Pada 1025 Chola merebut Palembang, menangkap raja dan membawa harta karunnya, dan juga menyerang bab lain dari kerajaan.
Pada simpulan kurun ke-12 Sriwijaya telah direduksi menjadi sebuah kerajaan kecil dan tugas dominannya di Sumatra telah diambil oleh Melayu (yang berbasis di Jambi), seorang bawahan dari Kerajaan di pulau Jawa. Sebuah kerajaan di Jawa yang berjulukan Kerajaan Majapahit dan yang segera mendominasi panggung politik Indonesia.

Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya terletak di sebelah barat daya sentra kota Palembang (warna hijau). Situs ini membentuk poros yang menghubungkan Bukit Seguntang dan tepian Sungai Musi. Sumber foto: Gunawan Kartapranata / Wikimedia
Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya
Para Maharaja Sriwijaya, sebagai berikut:
Nama Raja | Tahun | Ibukota | Prasasti, catatan pengiriman utusan ke Tiongkok serta peristiwa |
|---|---|---|---|
Dapunta Hyang atauSri Jayanasa | 671 | SrivijayaShih-li-fo-shih | Catatan perjalanan I Tsing pada tahun 671-685, Penaklukan Malayu, penaklukan JawaPrasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo (684), Kota Kapur (686), Karang Brahi dan Palas Pasemah |
Rudra VikramanLieou-t’eng-wei-kong | 728 | SriwijayaShih-li-fo-shih | Utusan ke Tiongkok 728-742 |
743-774 | Belum ada isu pada periode ini | ||
Sri IndrawarmanShih-li-t-‘o-pa-mo | 702 | SriwijayaShih-li-fo-shih | Utusan ke Tiongkok 702-716, 724 |
Sri Maharaja | 775 | Sriwijaya | Prasasti Ligor B tahun 775 di Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand dan menaklukkan Kamboja |
Pindah ke Jawa (Jawa Tengahatau Yogyakarta) | Wangsa Sailendra mengantikan Wangsa Sanjaya | ||
Dharanindra atauRakai Panangkaran | 778 | Jawa | Prasasti Kelurak 782 di sebelah utara kompleks Candi PrambananPrasasti Kalasan tahun 778 di Candi Kalasan |
Samaragrawira atauRakai Warak | 782 | Jawa | Prasasti Nalanda dan prasasti Mantyasih tahun 907 |
Samaratungga atauRakai Garung | 792 | Jawa | Prasasti Karang Tengah tahun 824,825 menuntaskan pembangunan candi Borobudur |
840 | Kebangkitan Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan | ||
Balaputradewa | 856 | Suwarnadwipa | Kehilangan kekuasaan di Jawa, dan kembali ke Suwarnadwipa Prasasti Nalanda tahun 860, India |
| 861-959 | Belum ada isu pada periode ini | ||
Sri Udayaditya WarmadewaSe-li-hou-ta-hia-li-tan | 960 | SriwijayaSan-fo-ts’i | Utusan ke Tiongkok 960, & 962 |
| 980 | Utusan ke Tiongkok 980 & 983: dengan raja, Hie-tche (Haji) | ||
Sri Cudamani WarmadewaSe-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa | 988 | SriwijayaMalayagiri (Suwarnadwipa) San-fo-ts’i | 990 Jawa menyerang Sriwijaya, Catatan Atiśa, Utusan ke Tiongkok 988-992-1003, pembangunan candi untuk kaisar Cina yang diberi nama cheng tien wan shou |
Sri Mara-VijayottunggawarmanSe-li-ma-la-pi | 1008 | San-fo-ts’iKataha | Prasasti Leiden & utusan ke Tiongkok 1008 |
| 1017 | Utusan San-fo-ts’i ke Tiongkok 1017: dengan raja, Ha-ch’i-su-wa-ch’a-p’u (Haji Sumatrabhumi (?)); gelar haji biasanya untuk raja bawahan | ||
Sangrama-Vijayottunggawarman | 1025 | SriwijayaKadaram | Diserang oleh Rajendra Chola I dan menjadi tawananPrasasti Tanjore bertarikh 1030 pada candi Rajaraja, Tanjore, India |
| 1030 | Dibawah Dinasti Chola dari Koromandel | ||
| 1079 | Utusan San-fo-ts’i dengan raja Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) ke Tiongkok 1079 membantu memperbaiki candi Tien Ching di Kuang Cho (dekat Kanton) | ||
| 1082 | Utusan San-fo-ts’i dari Kien-pi (Jambi) ke Tiongkok 1082 dan 1088 | ||
| 1089-1177 | Belum ada berita | ||
| 1178 | Laporan Chou-Ju-Kua dalam buku Chu-fan-chi berisi daftar koloni San-fo-ts’i | ||
Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa | 1183 | Dharmasraya | Dibawah Dinasti Mauli, Kerajaan Melayu, Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand |

Sejarah Kerajaan Sriwijaya (Abad 7-13). Model kapal Sriwijaya tahun 800-an Masehi yang terdapat pada candi Borobudur. Sumber foto: Michael J Lowe / Wikimedia Commons
Struktur pemerintahan zaman Sriwijaya
Masyarakat Sriwjaya sangat majemuk, dan mengenal stratatifikasi sosial. Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya, sanggup dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang kadātuan, vanua, samaryyāda, mandala dan bhūmi.
Kadātuan dapat bermakna kawasan dātu, (tnah rumah) tempat tinggal bini hāji, tempat disimpan mas dan hasil cukai (drawy) sebagai daerah yang mesti dijaga. Kadātuan ini dikelilingi oleh vanua, yang sanggup dianggap sebagai daerah kota dari Sriwijaya yang di dalamnya terdapat vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya.
Kadātuan dan vanua ini merupakan satu daerah inti bagi Sriwijaya itu sendiri. Menurut Casparis, samaryyāda merupakan daerah yang berbatasan dengan vanua, yang terhubung dengan jalan khusus (samaryyāda-patha) yang sanggup bermaksud daerah pedalaman. Sedangkan mandala merupakan suatu daerah otonom dari bhūmi yang berada dalam efek kekuasaan kadātuan Sriwijaya.
Penguasa Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Maharaja, dan dalam bulat raja terdapat secara berurutan yuvarāja (putra mahkota), pratiyuvarāja (putra mahkota kedua) dan rājakumāra (pewaris berikutnya).
Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan banyak sekali jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya. Menurut Prasasti Telaga Batu, selain diceritakan kutukan raja Sriwijaya kepada siapa saja yang menentang raja, diceritakan pula beragam jabatan dan pekerjaan yang ada pada zaman Sriwijaya.
Jabatan dan pekerjaan yang diceritakan tersebut adalah raja putra (putra raja yang keempat), bhupati (bupati), senopati (komandan pasukan), dan dandanayaka (hakim). Kemudian terdapat juga Tuha an tabiat wuruh (pengawas kelompok pekerja), Adyaksi nijawarna/wasikarana (pandai besi/ pembuat senjata pisau), kayastha (juru tulis), sthapaka (pemahat), puwaham (nakhoda kapal), waniyaga (peniaga), pratisra (pemimpin kelompok kerja), marsi haji (tukang cuci), dan hulun haji (budak raja).
Menurut kronik Cina Hsin Tang-shu, Sriwijaya yang begitu luas dibagi menjadi dua. Seperti yang diterangkan diatas, Dapunta Hyang punya dua orang anak yang diberi gelar putra mahkota, yakni yuvarāja (putra mahkota), pratiyuvarāja (putra mahkota kedua).
Maka dari itu, Ahmad Jelani Halimi (profesor di Universiti Sains Malaysia) menyampaikan bahwa untuk mencegah perpecahan di antara anak-anaknya itulah, maka kemungkinan Kerajaan Sriwijaya dibagi menjadi dua.
Perdagangan Sriwijaya
Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas Selat Malaka dan Selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya mempunyai aneka komoditas menyerupai kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah, yang menciptakan raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.
Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassal-nya di seluruh Asia Tenggara. Dengan berperan sebagai entreport atau pelabuhan utama di Asia Tenggara, dengan mendapat restu, persetujuan dan pemberian dari Kaisar China untuk sanggup berdagang dengan Tiongkok, Sriwijaya senantiasa mengelola jejaring perdagangan laut dan menguasi urat nadi pelayaran antara Tiongkok dan India.
Karena alasan itulah Sriwijaya harus terus menjaga dominasi perdagangannya dengan selalu mengawasi — dan jikalau perlu — memerangi pelabuhan pesaing di negara jirannya. Keperluan untuk menjaga monopoli perdagangan inilah yang mendorong Sriwijaya menggelar ekspedisi militer untuk menaklukkan bandar pelabuhan pesaing di daerah sekitarnya dan menyerap mereka ke dalam mandala Sriwijaya.
Bandar Malayu di Jambi, Kota Kapur di pulau Bangka, Tarumanagara dan pelabuhan Sunda di Jawa Barat, Kalingga di Jawa Tengah, dan bandar Kedah dan Chaiya di semenanjung Melaya yaitu beberapa bandar pelabuhan yang ditaklukan dan diserap kedalam lingkup efek Sriwijaya. Disebutkan dalam catatan sejarah Champa adanya serangkaian serbuan angkatan laut yang berasal dari Jawa terhadap beberapa pelabuhan di Champa dan Kamboja.
Mungkin angkatan laut penyerbu yang dimaksud yaitu armada Sriwijaya, alasannya yaitu ketika itu wangsa Sailendra di Jawa yaitu bab dari mandala Sriwijaya. Hal ini merupakan upaya Sriwijaya untuk menjamin monopoli perdagangan laut di Asia Tenggara dengan menggempur bandar pelabuhan pesaingnya. Sriwijaya juga pernah berjaya dalam hal perdagangan sedari tahun 670 hingga 1025 M.
Kejayaan laut Sriwijaya terekam di relief Borobudur yaitu menggambarkan Kapal Borobudur, kapal kayu bercadik ganda dan bertiang layar yang melayari lautan Nusantara sekitar kurun ke-8 Masehi. Fungsi cadik ini yaitu untuk menyeimbangkan dan menstabilkan perahu.
Cadik tunggal atau cadik ganda yaitu ciri khas bahtera bangsa Austronesia dan bahtera bercadik inilah yang membawa bangsa Austronesia berlayar di seantero Asia Tenggara, Oseania, dan Samudra Hindia.
Kapal layar bercadik yang diabadikan dalam relief Borobudur mungkin yaitu jenis kapal yang dipakai armada Sailendra dan Sriwijaya dalam pelayaran antarpulaunya, kemaharajaan laut yang menguasai daerah pada kurun kurun ke-7 hingga ke-13 masehi.
Selain menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, Sriwijaya juga menjalin perdagangan dengan tanah Arab. Kemungkinan utusan Maharaja Sri Indrawarman yang mengantarkan surat kepada khalifahUmar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718, kembali ke Sriwijaya dengan membawa hadiah Zanji (budak perempuan berkulit hitam) dan kemudian dari kronik Tiongkok disebutkan Shih-li-fo-shih dengan rajanya Shih-li-t-‘o-pa-mo (Sri Indrawarman) pada tahun 724 mengirimkan hadiah untuk kaisar Cina, berupa ts’engchi (bermaksud sama dengan Zanji dalam bahasa Arab).
Pada paruh pertama kurun ke-10, di antara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan kerajaan Nan Han dengan negeri kayanya Guangdong. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapat laba dari perdagangan ini.
Pada masa inilah diperkirakan rakyat Sriwijaya mulai mengenal buah semangka (Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai), yang masuk melalui perdagangan mereka.
Penyebaran penduduk Kemaharajaan Bahari
Upaya Sriwijaya untuk menjamin dominasi perdagangan laut di Asia Tenggara berjalan seiring dengan ekspansi Sriwijaya sebagai sebuah kemaharajaan laut atau thalasokrasi. Dengan menaklukkan bandar pelabuhan negara jiran yang berpotensi sebagai pesaingnya, Sriwijaya secara otomatis juga melebarkan efek dan wilayah kekuasaannya di kawasan.
Sebagai kemaharajaan bahari, efek Sriwijaya jarang masuk hingga jauh di wilayah pedalaman. Sriwijaya kebanyakan menerapkan kedaulatannya di daerah pesisir pantai dan daerah sungai besar yang sanggup dijangkau armada bahtera angkatan lautnya di wilayah Nusantara, dengan pengecualian pulau Madagaskar.
Diduga penduduk yang berasal dari Sriwijaya telah mengkoloni dan membangun populasi di pulau Madagaskar yang terletak 3.300 mil atau 8.000 kilometer di sebelah barat di seberang Samudra Hindia.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal Proceedings of The Royal Society, bahwa sebagian nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang Indonesia. Para peneliti meyakini mereka yaitu pemukim asal Kerajaan Sriwijaya.
Migrasi ke Madagaskar diperkirakan terjadi sekitar kurun tahun 830 M. Berdasarkan data DNA mitokondria, suku pribumi Malagasy dapat merunut silsilah mereka kepada 30 nenek moyang perempuan perintis datang dari Indonesia 1200 tahun yang lalu.
Bahasa Malagasy mengandung kata serapan dari bahasa Sanskerta dengan modifikasi linguistik melalui bahasa Jawa dan bahasa Melayu, hal ini merupakan sebuah petunjuk bahwa penduduk Madagaskar dikoloni oleh penduduk yang berasal dari Sriwijaya.
Periode kolonisasi Madagaskar bersamaan dengan kurun ketika Sriwijaya berbagi jaringan perdagangan laut di seantero Nusantara dan Samudra Hindia.
Sejarah Nusantara – Kronologi Dari Zaman Prasejarah Sampai Sekarang
Nusantara pada periode prasejarah meliputi suatu periode yang sangat panjang, kira-kira semenjak 1,7 juta tahun yang lalu, menurut temuan-temuan yang ada. Pengetahuan orang terhadap hal ini didukung oleh temuan-temuan fosil binatang dan insan (hominid), sisa-sisa peralatan dari batu, bab badan hewan, logam (besi dan perunggu), serta gerabah. Klik disini untuk membaca kronologi sejarah nusantara dari zaman prasejarah hingga kini di Indonesia.
Bacaan Lainnya
- Peradaban Maya – Sejarah, Situs, Daerah Peradaban dan Bangsa Maya
- Tempat Wisata Palembang
- Fosil Tengkorak Manusia Jawa Pada Zaman Purbakala
- Letusan Gunung Krakatau: Antara Jawa & Sumatra Pada Tanggal 26-27 Agustus 1883
- Di New York City, Anda sanggup mengagumi “Manhattanhenge”
- Gunung Agung Di Bali
- Letusan Gunung Tambora Yang Sedikit Diketahui Padahal Sangat Berdampak Pada Iklim Planet Bumi
- Bagaimana Cara Menjalankan Mobil Dengan Bahan Bakar Jagung?
- Awalnya, reaktor nuklir pertama dipakai untuk produksi plutonium sebagai materi senjata nuklir
- Sebagian Cabang Dari Biologi: Bioteknologi
- TOP 10 Virus Paling Mematikan Manusia
- Apakah Produk Pembalut Wanita Aman?
- Bagaimana Menentukan Umur Batang Kayu? Anda Bisa Melihat Irisan Batang Kayu – Kambium
Unduh / Download Aplikasi HP Pinter Pandai
Respons “oooh begitu ya…” akan lebih sering terdengar jikalau Anda mengunduh aplikasi kita!
Siapa bilang mau pandai harus bayar? Aplikasi Ilmu pengetahuan dan informasi yang menciptakan Anda menjadi lebih smart!
Sumber bacaan: Britannica
Pinter Pandai “Bersama-Sama Berbagi Ilmu”
Quiz | Matematika | IPA | Geografi & Sejarah | Info Unik | Lainnya
Sumber aciknadzirah.blogspot.com
EmoticonEmoticon