Full Day School Mendidik atau Membebani ? Suara Anak Bangsa_ Kajian akan adanya kebijakan Bapak Muhadjir Effendy perihal kegiatan Full Day School atau Sekolah Sehari Penuh menuai aneka macam reaksi dari kalangan masyarakat, ada yang pro dan tak sedikit pula yang kontra. Alasan Bapak Muhadjir mewacanakan kebijakan full day school supaya siswa SD dan Sekolah Menengah Pertama akan sanggup lebih terkontrol ketika di luar rumah, mungkin hal tersebut ada benarnya, namun apakah alasan ini sesuai dengan keadaan siswa yang ada di seluruh Indonesia ? Pelajar Indonesia dengan bobot pelajaran yang bermacam-macam di aneka macam tempat juga dengan bermacam-macam kemudahan dan jarak serta cara tempuh yang bermacam belum tentu sanggup begitu saja beradaptasi kebijakan ini. Saya selaku Pelajar yang bersekolah di tempat kota besar mengaku kebijakan ini bukan suatu duduk kasus besar. Transportasi untuk mencapai sekolah pun tak begitu sulit saya temukan. Namun bagaimana dengan teman-teman saya di tempat yang maaf masih sangat terpencil ? Mereka membutuhkan perjuangan lebih keras untuk mencapai sekolahnya. Berjalan puluhan kilo meter, menyeberangi derasnya arus sungai dan sebagainya.
Bagi mereka yang terhitung home alone mungkin kebijakan ini membantu mereka melewatkan hari yang sepi ketika orangtua mereka mengais rezeki. Tapi bagaimana dengan mereka yang juga harus membantu perekonomian keluarga sepulang sekolah ? Pernahkah terpikir dengan nasib mereka, dengan rasa lelah mereka yang justru akan menghambat proses berguru mereka ?
Saya tidak bermaksud pro ataupun kontra dengan kebijakan ini. Saya sedikit paham dengan tujuan dari kegiatan yang Bapak Menteri canangkan ini. Tapi saya juga ingin supaya kegiatan ini dikaji lebih lanjut. Bagaimana baik jelek kedepannya nanti.

Saya pernah membaca sebuah jurnal milik mahasiswa tanah air yang menerima kesempatan magang sebagai pengajar di Negara Jepang. Di negeri sakura itu kegiatan full day school sudah diterapkan bahkan di jenjang taman kanak-kanak. Tetapi kegiatan siswa Jepang di sekolah tidak melulu berguru perihal pendidikan formal. Berbagai kegiatan yang sanggup membangun aksara disiplin dan berdikari diterapkan di sana.
Fasilitas yang di berikan oleh sekolah di Jepang pun mendukung untuk kegiatan ini. Sedikit teladan kecil, mereka bersedia menyediakan kemudahan dan kegiatan untuk makan siang dan kegiatan minum teh di sore hari bahkan menyediakan kegiatan khusus untuk bermain, benrnyanyi, olahraga, berdoa, dan kegiatan lain diluar pendidikan wajib mereka. Waktu berguru mereka mungkin lebih padat dibanding di tanah air,namun dengan selingan kegiatan lain mereka takkan merasa jenuh.
Langkah ini mungkin sanggup diterapkan di sekolah di tanah air yang tercinta kita. Selain berguru ilmu dunia di sekolah, siswa juga diberikan pendidikan rohani sesuai keyakinan masing-masing siswa. Beberapa ekskul yang tidak terlalu berat sanggup juga diberikan di sela waktu berguru supaya siswa tidak jenuh. Pendidikan moral yang tak boleh ditinggalkan pun sanggup diberikan dengan derma teladan nyata. Jumlah guru pun semestinya ditambah supaya dalam proses mengajar pun guru tidak kualahan. Penyediaan makan siang dengan gizi seimbang pun seharusnya dilakukan oleh pihak sekolah.
Pertanyaannya, siapkah Indonesia melakukan segala konsekuensi tersebut ?
Lagi lagi jangan hanya memandang kami yang hidup di kota, tapi sempatkanlah melirik mereka yang tinggal di pedesaan bahkan bumi pedalaman sana.
Khusnul Hidayah, pelajar dari kota Lumpia
Sumber http://www.rijal09.com
EmoticonEmoticon