Sumber http://www.rijal09.com
Sebagaimana dijelaskan, ujian memiliki tiga fungsi, yaitu mengukur menilai, dan mengevaluasi lantaran macam ujian tergantung pada objek pengajaran apa yang akan dievaluasi. Dengan perkataan lain, desain ujian tergantung pada fungsi ujian apa yang diinginkan dosen. Sebagai contoh, merancang soal-soal untuk ujian dengan tujuan untuk mengevaluasi hasil berguru masing-masing mahasiswa, maka akan berbeda dengan merancang soal-soal untuk ujian yang bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan seluruh kelas. Para dosen harus benar-benar memilih lebih dahalu apa ia menguji mahasiswanya. Dengan pertimbangan tersebut, rancangan ujian yang akan diselenggarakan sangat tergantung pada fungsi ujian mana yang ingin diterapkannya. Suatu ujian dikatakan bermutu baik apabila ujian tersebut:a. Menguji apa yang hendak diuji. Dengan perkataan lain, rancangan ujian harus relevan dengan fungsi penilaian mana yang yang diinginkanb. Terdiri atas serangkaian soal ujian yang baik.Soal yang baik ialah soal yang berkualitas baik, yaitu soal yang valid, relevan, spesifik, respresentatif, dan seimbang. Tentang validitas soal, Aderson (dalam Hartono, dkk., 1993) menyatakan: A tes is valid if it measures what it purpose to measure. Kemudian Briggs menyatakan : A valid tes must be congruens with the objective.Dengan demikian soal dikatakan valid apabila ingin mengukur apa yang hendak diukur dan soal tersebut harus sebangun dengan target berguru yang ingin dicapai. Untuk menjelaskan pengertian valid ini, ada baiknya dikemukakan salah satu referensi soal yang diadaptasi dengan kemampuan yang ingin diukur dari target berguru sebagai berikut:ContohSiswa bisa menjelaskan secara sistematis wacana aturan Newton I dengan memakai kata-katanya sendiri.1. Describe by stematically the first Newton law using own word.2. Jelaskan perbedaan antara humum newton I dan IISoal nomor 1 (satu) tidak sanggup dikatakan soal yagn valid sebab soal ini mengandung dua hal yang bantu-membantu akan diukur. Pertama, soal ini mengukur kemampuang berbahasa Inggris mahasiswa. Apabila ia tidak sanggup menerjamahkan kata-kata dalam bahasa Inggris itu, jangankan menjelaskan Hukum Newton, bahkan menangkap isi soal pun mahasiswa tidak akan tahu. Pada hal akan diukur dalam soal ini berdasarkan target berguru yang telah ditetapkan ialah kemampuan menjelaskan Hukum Newton 1 bukan kemampuan berbahasa inggris. Kedua, soal in sanggup menjadi valid hanya apabila mahasiswa bisa menerjamahkan soal itu kedalam bahasa Indonesia. Akan tetapi harus diingat bahwa target berguru yang diukur bukanlah itu.Soal nomor 2 (dua) terang bukan soal yang valid , alasannya hal yang akan diukur berdasarkan target berguru ialah kemampuan menjelaskan Hukum Newton 1 sedangkan soal itu akan mengukur kemampuan menjelaskan perbedaan Humum Newton 1 dan IISuatu soal dikatakan relevan apabila soal tersebut diukur sesuai dengan tingkat kemampuan yang ditentukan dalam target belajar. Seperti diketahui, Bloom (1963) mengintrodusir enam tingkat kemampuan kognitif, dan tingkat kemampuan kognitif terendah hingga tertinggi, berturut-turut sebagai berikut: C1. Mengetahui; C2 Menjelaskan; C3 Menerapkan C4; Menganalisis; C5 Mensistensis; C6 Mengevaluasi.Apabila dalam target berguru ditetapkan, contohnya kemampuan menerapkan, maka pada soal yang dibentuk kemampuan menerapkan inilah yang ditanyakan.ContohSasaran berguru bisa menyebutkan nama ibukota Republik IndonesiaSoala. Sebutkan nama ibukota Repubplik Indonesiab. Jelaskan asal nama ibukota Republik IndonesiaPertama-tama perhatikan apakah soal ini valid atau tidak, lalu perhatikan apakah soal ini relevan atau tidak. Pada soal pertama sanggup dikatakan bahwa soal ini valid karena bahan sola ini ialah nama ibu kota Republik Indonesia dan bahan target berguru ialah juga nama ibukota Republik Indonesia. Selanjutnya, soal ini sanggup pula dikatakan relevan lantaran sesuai dengan tingkat kemampuan yang ditetapkan dalam target belajar, dalam hal ini kemampuan “Menyebabkan”. Sebaliknya pada sola kedua, soal ini bukanlah soal yang valid karena tidak mengukur apa yang seharusnya di ukur. Materi target berguru ialah nama ibukota Republik Indonesia , sedangkan bahan yang ditanyakan dalam soal kedua ialah asal nama ibu kota Republik Indonesia. Disamping itu, soal ini pun tidak relevan, lantaran kemampuan yang diminta dalam target berguru ialah kemampuan “menyebutkan” sedangkan kemampuan yang diminta dalam soal ialah kemampuan “menjelaskan” soal ujian harus dibentuk sedemikian rupa biar tidak mengakibatkan ambivalensi maupun spekulasi untuk menjawabnya. Sebagai referensi perhatikan soal multiple choice (pilihan ganda) berikut:Pili satu balasan yang benar dari pertanyaan wacana Ibukota Provinsi Jawa Timur berikut ini:a. Ibukota Privinsi Jawa Timur ialah Surabayab. Ibukota Privinsi Jawa Timur ialah Malangc. Ibukota Privinsi Jawa Timur terletak di Pulau Jawad. Ibukota Privinsi Jawa Timur terletak di SumatraKarena hanya satu pilihan yang benar yang diminta, soal ini akan mengakibatkan ambivalensi antarjawaban A dan C. soal ini mengakibatkan pula spekulasi jikalau kebetulan mahasis tidak tahu ibukota Jawa Timur, tetapi ia memperkirakan bahwa Jawa Timur ialah Jawa cuilan Timur dna lantaran itu Jawa Timur pastilah terletak di Pulau Jawa. Soal ini merupakan referensi soal yang tidak spesifik.
Wednesday, August 29, 2018
√ Fungsi Ujian Sebagai Instrument Penilaian
Diterbitkan August 29, 2018
Artikel Terkait
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
EmoticonEmoticon