Sunday, September 30, 2018

√ Pengertian Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills)

PENGERTIAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILLS) 

A.  Konsep Life Skills atau kecakapan hidup dalam Pendidikan 
Mengenai pengertian pendidikan life skills atau pendidikan kecakapan hidup terdapat perbedaan pendapat, namun esensinya tetap sama. Life skills atau kecakapan hidup adalah sebagai pengetahuan dan kemampuan yang diharapkan oleh seseorang agar menjadi independen dalam kehidupan. Pendapat lain menyampaikan bahwa life skills  merupakan kecakapan yang harus dimiliki oleh seseorang biar sanggup senang dalam kehidupan (Brollin, 1980). Malik Fajar (2002) mengatakan, life skills yaitu kecakapan yang dibutuhkan untuk bekerja selain dalam bidang akademik. Sementara itu team Broad base education Depdiknas mendefenisikan life skills sebagai kecakapan yang dimiliki oleh seseorang biar berani dan mau menghadapi segala permasalahan kehidupan dengan aktif dan proaktif sehingga dapat menyelesaikannya.  Konsep Life Skills di sekolah merupakan wacana pengembangan kurikulum yang telah sejak lama menjadi perhatian para pakar kurikulum (Tyler, (1947); Taba, (1962), dalam Satori, 2003:1). 

Life skills merupakan salah satu fokus analisis dalam pengembangan kurikulum pendidikan sekolah yang menekankan pada kecakapan atau keterampilan hidup untuk bekerja atau dalam kajian pengembangan kurikulum gosip tersebut dibahas dalam pendekataan studies of contemporary life outside the school atau curriculum design focused on social functions activities. Life skills adalah pengetahuan dan perilaku yang diharapkan seseorang untuk bisa hidup bermasyarakat. Life skills memiliki makna yang lebih luas dari employability skills dan vocational skills. Keduanya merupakan bab dari kegiatan life skills. menjelaskan bahwa “life skills constitute a continum of knowledge and aptitudes that are necessary for a person to function effectively and to avoid interruption of employment experience”. Dengan demikian life skills dapat dijelaskan sebagai kecakapan untuk hidup ( Brollin, 1980). 

Pengertian hidup di sini, tidak semata-mata mempunyai kemampuan tertentu saja (vocational job), namun ia harus mempunyai kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional ibarat membaca, menulis, menghitung, merumuskan dan memecahkan masalah, mengelola sumber-sumber daya, bekerja dalam tim atau kelompok, terus belajar di kawasan bekerja, mempergunakan teknologi, dan sebagainya (Djatmiko, 2004).

Employability skills mengacu kepada serangkaian keterampilan yang  mendukung seseorang untuk menunaikan pekerjaannya secara berhasil. Employability skills terdiri dari 3 (tiga) gugus keterampilan, yaitu:
1. Keterampilan dasar
2. Keterampilan berfikir tingkat tinggi
3. Karakter dan keterampilan afektif.

Keterampilan dasar terdiri dari, kecakapan berkomunikasi mulut (berbicara dan mendengar/menyimak), membaca (khususnya mengerti dan sanggup mengikuti alur berfikir),  penguasaan dasar-dasar berhitung, dan  terampil menulis. Keterampilan berfikir tingkat tinggi meliputi :  pemecahan masalah,  startegi dan keterampilan belajar, berfikir inovatif dan kreatif, serta menciptakan keputusan. Karakter dan keterampilan apektif meliputi : (1) tanggung jawab; (2) perilaku positif terhadap pekerjaan; (3) jujur, hati-hati, teliti, dan efisisen; (4) relasi antar pribadi, kerjasama, dan bekerja dalam tim; (5) percaya diri dan mempunyai perilaku positif terhadap diri sendiri; (6) pembiasaan diri dan fleksibel; (7) penuh antusias dan motivasi; (8) disiplin dan penguasaan diri; (9) berdandan dan berpenampilan menarik; (10) jujur dan mempunyai integritas, serta; (11) bisa bekerja sanggup bangun diatas kaki sendiri tanpa pengawasan (Anonim, 2008).

Vocational skills atau keterampilan kejuruan mengacu kepada satu keutuhan keterampilan yang diharapkan seseorang untuk bekerja. Inti dari vocational skills adalah specific occupational skills, yaitu keterampilan khusus untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Keterkaitan di antara life skills, employability skills, vocational skills dan specific occupational skills dapat digambarkan dalam model berikut: Model relasi fungsional antara life skills, employability skills, vocational skills, specific occupational skills (Satori, 2003).

Dari model di atas sanggup dipahami bahwa pengembangan kegiatan pendidikan di SLTA difokuskan pada penguasaan specific occupational skills (keterampilan pekerjaan tertentu/spesipik). Sedangkan di SLTP difokuskan pada penguasaan employability skills or general skills. Jadi, kegiatan tersebut merupakan klarifikasi terperinci yang dengan sendirinya dijiwai oleh pemaknaan life skills, employability skills, dan vocational skills. Apabila dipahami dengan baik, sanggup dikatakan bahwa life skills dalam konteks kepemilikan specific occupational skills ataupun general skills sesungguhnya diharapkan oleh setiap orang. Ini berarti bahwa pengembangan kegiatan life skills dalam pemaknaan tersebut di atas sepatutnya menyatu dengan kegiatan pendidikan di sekolah (Anonim, 2008). 

Dengan demikian, dalam konsep pendidikan di sekolah, semua anak yang dinyatakan telah menuntaskan jenjang pendidikan tertentu sepatutnya telah mempunyai life skills (Satori,2003:3). Dalam pendidikan sekolah di Indonesia, masalah tersebut menjadi sangat relevan kalau dikaitkan dengan banyaknya kelompok lulusan baik SLTP maupun SLTA yang tidak melanjutkan sekolah.

Pengembangan kegiatan life skills pada jenjang tersebut diharapkan sanggup menolong mereka untuk mempunyai harga diri dan kepercayaan diri dalam mencari nafkah dalam konteks peluang yang ada di lingkungan masyarakatnya.

B. Pengembangan kegiatan pendidikan di sekolah dalam konteks penerapan life skills.
Penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah yang mengarah kepada penguasaan keterampilan tertentu specific occupational skills atau kiprah sebagai warga negara yang bertanggung jawab, mempunyai kesiapan serta kecakapan untuk bekerja, dan mempunyai huruf dan watak untuk terjun ke dunia kerja. Oleh karenanya, cakupan life skills amat luas ibarat communication skills, decision making skills, resources and time management skills, and planning skills. Pengembangan kegiatan life skills pada umumnya bersumber pada kajian bidang-bidang berikut: (1) The world of Work, (2) Practical Living Skills, (3) Personal Growth and Management, and (4) Social Skills (Anonim, 2008).

Pelaksanaan kegiatan life skills ini menuntut pemahaman profesional, sehingga sanggup bermanfaat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan sekolah. Secara spesifik, para kepala sekolah /guru sebagai tenaga kependidikan perlu mengkaji dan memahami kegiatan ini secara benar, biar dalam penyelenggaraan kegiatan belajarnya tercermin adanya pemahaman yang benar dalam konteks bakat, minat, kebutuhan para siswa, potensi kelembagaan sekolah, aspirasi orang tua, masyarakat, dan lingkungan sekolah. Nuansa pengembangan prakarsa dan inisiatif dengan tidak meminta ”petunjuk dari atas” sangat diharapkan dalam penyelenggaraan kegiatan life skills (Anonim, 2008).

Life Skills merupakan kemampuan yang diharapkan sepanjang hayat, kemampuan berkomunikasi yang efektif, kemampuan bekerja sama, menjadi warga negara yang bertanggung jawab, mempunyai kecakapan untuk bekerja, mempunyai karakter, dan cara-cara berfikir analitis dan logis (Komariah, 2003).

Selain itu cakupan life skills amat luas, meliputi keterampilan, berkomunikasi, keterampilan mengambil keputusan, keterampilan mengelola waktu dan sumber, serta keterampilan merencanakan. Pengembangan kegiatan life skills pada umumnya bersumber pada kajian bidang: dunia kerja (the world of work), keterampilan hidup mudah (practical living skills), pengelolaan dan pertumbuhan SDM (personal growth and management), dan keterampilan sosial (social skills) (Anonim, 2008).

Kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan untuk bekerja, apalagi sekedar keterampilan manual. Artinya kecakapan hidup ini meliputi kemampuan individu untuk menuntaskan aneka macam problem kehidupannya yang bersifat praktek sosial maupun individual. Outcome pendidikan sanggup digolongkan menjadi dua, yaitu: konsumtif dan investatif (Schultz, 1963). Aspek konsumtif bekerjasama dengan kesenangan manfaat-manfaat yang diterima oleh siswa, keluarga, dan masyarakat keseluruhan. Siswa bisa saja mengalami konsumtif yang kurang baik, namun kegiatan-kegiatan ibarat musik, olah raga, seni, dan kerajinan bisa membantu kesenangan siswa di sekolah. Keluarga merasa diringankan tugasnya ketika anaknya berada di sekolah, manfaat yang besar pun dirasakan oleh guru dan orang lain (Wisbrod, 1962:116- 118). Masyarakat pun memperoleh manfaat konsumtif dengan berkurangnya tingkat kejahatan. Orang-orang merasa senang melihat para ramaja belajar, bermain, dan berprilaku dan bisa saja mereka itu bersaing dalam lapangan kerja dalam tempo 3 hingga 4 tahun. Outcome pendidikan sanggup membentuk: 

1. Kemampuan dasar. Keberhasilan siswa dalam mencapai kemampuan  berhitung dan membaca;
2. Kemampuan kejuruan. Dapat segera digunakan untuk bekal hidup di masyarakat;
3. Kreativitas. Merupakan ukuran untuk menilai keberhasilan sekolah dengan bertambahnya krativitas anak (manfaat investatif);
4. Sikap. Salah satu fungsi sekolah yaitu membentuk perilaku yang “baik” perilaku in meliputi untuk diri sendiri, teman, keluarga;
5. Output lain. 

Ada beberapa prinsip yang harus digunakan dalam melaksanakan pendidikan kecakapan hidup, antara lain : (1) pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup tidak mengubah sistem pendidikan yang berlaku dikala ini, (2) tidak mereduksi pendidikan menjadi hanya suatu pelatihan, (3) watak sosial-relegiusbangsa Indonesia yang menurut Pancasila sanggup diintegrasikan, (4) pembelajaran menggunakan prinsip learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, dan learning to cooperate, (5) pengembangan potensi wilayah sanggup direflesikan dalam penyelenggaraan pendidikan, (6) menerapkan administrasi berbasis sekolah dan masyarakat, kerja sama semua unsure terkait yang ada dalam masyarakat, (7) paradigm learning for life da school to work sanggup menjadi dasar semua kegiatan pendidikan sehingga forum pendidikan secara terang memilikipertautan dengan dunia kerja dan pihak lain yang relevan, (8) penyelenggaraan pendidikan harus selalu diarahkan biar penerima didik menuju hidup yang sehat, dan berkualitas, mendapat pengetahuan dan wawasan yang luas serta mempunyai susukan untuk bisa memenuhi hidupnya secara layak (Pardjono, 2002). 

Harapan mulai tertuju pada bidang pendidikan. Bidang ini diharapkan bisa menciptakan terobosan (breaktrough) untuk sanggup memproduksi sumber daya insan (SDM) yang berkualitas dan mandiri. Sumber daya insan yang diharapkan sanggup dihasilkan dari pendidikan menengah atas, yaitu sumber daya insan yang berkualitas yang bisa bertahan, walaupun dalam keadaan bagaimanapun sulitnya harus bisa sanggup bangun diatas kaki sendiri untuk menolong dirinya sendiri dan orang lain untuk bisa keluar dari permasalahan yang dialami. Dunia pendidikan mulai banyak membicarakan wacana relevansi pendidikan dan dunia kerja, link and match dan dual system program (Anonim, 2008).
 BACA JUGA : PENDIDIKAN KARAKTER
PENGERTIAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILLS)

Sumber http://www.rijal09.com


EmoticonEmoticon