PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
1. PengertianPemimpin dan Kepemimpinan
Secara etimologi pemimpin dan kepemimpinan berasal dari kata pimpin (to lead) kemudian dengan penambahan imbuhan (konjungsi) bermetamorfosis pemimpin (leader) dan kepemimpinan (leadership). Dalam kepemimpinan terdapat kekerabatan antara insan yaitu kekerabatan mempengaruhi (dari pemimpin) dan kekerabatan kepatuhan/ketaatan para bawahan alasannya ialah dipengaruhi olen kewibawaan pemimpin.
Pemimpin dan kepemimpinan tersebut bersifat universal, artinya selalu ada dan senantiasa diharapkan pada setiap perjuangan bersama insan dalam segenap organisasi mulai dari tingkat yang paling kecil atau intim, yaitu keluarga, hingga pada tingkat desa, kota, negara, dari tingkat lokal, regional hingga nasional dan internasional, di manapun dan kapanpun juga.
Secara etimologi telah banyak konsep yang telah dikemukakan oleh para jago perihal pengertian pemimpin dan kepemimpinan. Diantaranya Alan C. Filley dalam kutipan Moeftie W (1987) merumuskan pengertian pemimpin dan kepemimpinan sebagai berikut: kepemimpinan adalan proses seseorang memakai efek kemasyarakatannya, terhadap para anggota suatu kelompok lainnya (leadership is a process where by one person exert social ifluence over the member of the group). Sedangkan pemimpin ialah seorang dengan daya kekuatannya terhadap orang lain melaksanakan wewenang untuk tujuan mempengaruhi tatalaku mereka (a leader is a person with power over other who exercise this power for the purpose of influencing their behaviour).
Sedangkan Kartini Kartono (1992) menawarkan pengertian pemimpin dan kepemimpinan sebagai berikut : pemimpin ialah seorang pribadi yang mempunyai kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan kelebihan di suatu bidang sehingga bisa mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melaksanakan kegiatan tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan, sedangkan kepemimpinan itu sifat spesifik, khas diharapkan bagi satu situasi khusus yang harus sesuai dan bisa diterima oleh kelompoknya, juga bersangkutan serta pas dengan situasi zamannya.
Dari beberapa pendapat para jago tersebut di atas, disimpulkan bahwa yang disebut dengan pemimpin ialah jikalau seseorang bisa mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan kepemimpinan ialah suatu proses yang mengarahkan dan mempengaruhi serta melibatkan/menggerakkan orang lain atau kelompok orang untuk mencapai tujuan seseorang atau kelompok dalam situasi tertentu. Kepemimpinan tersebut terjadi jikalau di dalamnya terpenuhi unsur-unsur sebagai berikut :
a. Ada orang-orang atau pihak yang mempengaruhi atau menggerakkan (yang memimpin/pimpinan).
b. Ada orang-orang atau pihak yang dipengaruhi atau digerakkan untuk mencapai tujuan tertentu (yang dipimpin/bawahan).
Pengertian kepemimpinan demikian mempunyai ruang lingkup yang luas. Artinya bisa saja terjadi di luar organisasi/perusahaan yang tanpa dibatasi oleh aturan dan birokrasi serta tatakrama organisasi, yaitu manakala seorang bisa mempengaruhi orang lain ke arah pencapaian suatu tujuan.
Apabila dihubungkan dengan administrasi maka kepemimpinan tersebut dibatasi oleh aturan-aturan birokrasi dan tatakrama organisasi. Dengan kata lain bahwa manajemen/manajer merupakan jenis ajaran yang khusus dari kepemimpinan. Munir (1988) menyebut dengan kepemimpinan dalam organisasi kerja atau kepemimpinan administrasi yaitu suatu kepemimpinan yang bersifat sebagai proses pengarahan terhadap pencapaian tujuan dan pembinaan atas tenaga atau orang yang terlibat dalam proses pencapaian tujuan itu dengan cara mempengaruhi, memotivasi dan mengendalikannya.
Sejalan dengan pendapat di atas, berdasarkan Siagian (1988) menyatakan bahwa: ditinjau dari segi manajemen, kepemimpinan harus diartikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain biar rela, bisa dan sanggup mengikuti keinginan administrasi demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan efisien, efektif dan ekonomis.
Dalam proses kepemimpinan administrasi dijalankan oleh para manajer pada seluruh tingkatan administrasi melalui pelaksanaan keseluruhan fungsi-fungsi manajemen. Sehingga seorang manajer bisa sebagai seorang pemimpin yaitu pada ketika manajer tersebut bisa mempengaruhi sikap bawahannya untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi seorang pemimpin belum tentu seorang manajer.
2. Pendekatan Studi Kepemimpinan
Berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahi perihal kepemimpinan telah menghasilkan banyak sekali teori atau pendekatan mengenai kepemimpinan. Teori-teori kepemimpinan tersebut sanggup diklasifikasikan menjadi tiga pendekatan dalam menjelaskan apa yang gotong royong menciptakan seorang pimpinan dalam kepemimpinannya itu efektif.
Marwah Asri dan Suprihantio (1986) mengemukakan tiga pendekatan dalam kepemimpinan, ialah :
1.Traits, cara pendekatan terhadap sifat-sifat pemimpin (sifat kepemimpinan telah ada semenjak lahir), tidak bisa dipelajari.
2. Behavior, cara pendekatan dengan melihat sikap (mempelajari apa yang dilakukan oleh sikap yang aktif), bisa dipelajari.
3. Contengency, cara pendekatan dengan melihat situasi.
Adapun klarifikasi ketiga bentuk pendekatan di atas diuraikan secara singkat sebagai berikut:
a. Kepemimpinan Menurut Teori Sifat/Ciri-Ciri (Threats)
Teori ini memandang bahwa kepemimpinan merupakan suatu kombinasi sifat-sifat bawaan yang tampak, berlaku universal yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif dalam keadaan apapun. Sifat-sifat bawaan yang ideal diinginkan dalam diri seorang pemimpin meliputi perihal pandangan, pengetahuan, kecerdasan, imajinasi, kepercayaan diri, integritas, kepandaian berbicara, pengendalian dan keseimbangan mental maupun emosiona1, bentuk fisik, pergaulan sosia1 dan persahabatan, dorongan antusiasme dan lain·lain.
Keberhasilan kepemimpinan tertentu, yang merupakan kepribadian pemimpin yang menonjol dibandingkan sifat-sifat yang ada pada bawahannya. Namun dalam kenyataannya. tidak satupun pemimpin yang mempunyai keseluruhan sifat-sifat ideal secara semprna. Sehingga berdasarkan kebanyakan jago menyatakan bahwa pendekatan sifat boleh jadi menarik, tetapi sama sekali tidak efisien untuk mengidentifikasikan dan memprediksikan potensi kepemimpinan .
b. Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku (Behavior)
Pendekatan dengan teori sikap mencoba untuk melihat dan menemukan bagaimana sikap para pimpinan yang efektif, bagaimana mereka melaksanakan pendelegasian tugas, berkomunikasi, memotivasi, pemberian hukuman atau aturan dan lain sebagainya.
Melalui pendekatan ini diharapkan menawarkan balasan yang lcbih definitif mengenai kepemimpinan, yaitu dengan mengidentifikasikan peri1aku-perilaku tertentu yang diperagakan oleh pemimpin, sehingga dengan demikian sanggup mempersiapkan orang·orang untuk menjadi pemimpin melalui training kepemimpinan. Telah banyak penelitian yang dilakukan dengan memakai pendekatan sikap dan menghasilkan banyak sekali gaya kepemimpinan. Penelitian tcrsebut antara lain:
1). Studi Kepemimpinan Universitas Ohio
Studi ini didasarkan pada ajaran dasar bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya terlihat pada dua jenis perilaku. Pertama; sejauhmana seorang pemimpin menawarkan pengutamaan pada peranannya selaku pemrakarsa struktur kiprah yang akan dilaksanakan bawahannya. Kedua; hingga sejauh mana dan dalam bentuk apa seorang pemimpin menawarkan perhatian kepada bawahannya. Hasil dari penelitian ini ditemukan dua dimensi utama yang selalu muncul yaitu perhatian (consideration) dan struktur pengambilan inisiatif (initiating structure).
2). Studi Kepemimpinan Universitas Michigan
Studi ini dilakukan oleh Pusat Survei Universitas Michigan pada tahun 1947. Studi ini bertujuan untuk memilih prinsip-prinsip yang mempengaruhi produktivitas kelompok kerja dan kepuasan anggota kelompok atas dasar partisipasi yang mereka berikan. Hasil dari studi ini menemukan adanya sikap kelompok pemimpin yang berorientasi pada bawahannya (employee oriented) dan sikap kelompok pemimpin yang berotientasi kepada pekerjaan ( job oriented).
3). Sikap Kepemimpinan “Managerial Grid”
Pendekatan sikap kepemimpinan manajerial grid ini dikembangkan oleh Robert R. Blake dan James S. Mouton. Dalam pendekatan int dikenal ada dua macam sikap pimpinan yaitu sikap pimpinan yang berorientasi pada produksi (concern for production) dan sikap yang berorientasi pada orang (concern for people).
c. Kepemimpinan Berdasarkan Teori Situasional
Pendekatan dengan teori situasional ini menyatakan bahwa menjadi pemimpin yang efektif itu sangat dipengaruhi oleh beraneka ragamnya faktor situasi organisasional yang dihadapi. Sutarto (1995) mengangkat beberapa faktor situasional yang ditemukan besar lengan berkuasa pada gaya kepemimpinan yaitu : banyak sekali faktor yang sanggup mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan antara lain: sifat pribadi sesama pemimpin; struktur organisasi; tujuan organisasi; kegiatan yang dilakukan; motivasi kerja; keinginan pemimpin maupun bawahan; adat, tradisi, kebiasaan, budaya, lingkungan kerja; tingkat pendidikan pemimpin maupun bawahan; lokasi perusahaan/organisasi; kebijaksanaan atasan; tekno1ogi; peraturan perundang-undangan yang berlaku; ekonomi, politik, keamanan yang sedang berlangsung di sekitarnya.
Dengan pendekatan situasional ini, efektivitas kepemimpinan seseorang sangat mayoritas ditentukan oleh kemampuannya untuk “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya sedemikian rupa biar cocok/sesuai dan bisa memenuhi tuntutan situasi yang dihadapi.
Kepemimpinan situasional berdasarkan Blanchard ibarat dalam kutipan Toha (1994) ialah didasarkan pada saling berhubungannya diantara hal-hal berikut ini:
1. Jumlah penduduk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan (perilaku tugas/pengarahan ).
2. Jumlah sumbangan sosio emosional yang diberikan oleh pimpinan (perilaku hubungan/dukungan).
3. Tingkat kesiapan atau kematangan pengikut/bawahan yang ditunjukkan dalam melaksanakan kiprah khusus, fungsi atau tujuan tertentu.
Dengan demikian walaupun terdapat banyak variabel-variabel situasional yang penting lainnya ibarat yang dikemukakan di atas, akan tetapi dalam kepemimpinan situasional ini hanyalah pada sikap pemimpin dan bawahan saja. Dalam hubungannya dengan sikap pemimpin terhadap bawahan terdapat dua hal yakni : sikap mengarahkan dan sikap mendukung.
Perilaku mengarahkan; sejauh mana pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi satu arah, memberitahukan dan menetapkan apa dan bagaimana serta peranan yang seharusnya dikerjakan atau dilaksanakan oleh pengikut, melaksanakan pengawasan secara ketat kepada bawahannya.
Perilaku mendukung ialah sejauh mana seorang pimpinan melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya: mendengarkan, menyediakan sumbangan dan dorongan interaksi dan melibatkan bawahan dalam keputusan.
Perpaduan atau kombinasi dari kedua sikap utama dari pimpinan ini menghasilkan 4 (empat) gaya dasar kepemimpinan, keempat gaya kepemimpinan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
Gaya 1/(G1) = Instruksi seorang pemimpin memperlihatkan sikap yang banyak menawarkan pengarahan (dalam sikap tugas) dan sedikit sumbangan (dalam sikap hubungan). Pimpinan menawarkan instruksi yang spesifik perihal peranan dan tujuan para pengikutnya, dan secara ketat mengawasi pelaksanaan kiprah mereka. Dan dicirikan dengan komunikasi satu arah. Inisiatif pemecahan duduk kasus dan pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin. Pemimpin menawarkan batasan peranan pengikut dan memberitahukan mereka perihal apa, bagaimana, bilamana dan dimana melaksanakan tugas.
Gaya 2/(G2) = Konsultasi; pemimpin memperlihatkan sikap yang banyak mengarahkan dan banyak menawarkan dukungan. Pemimpin dengan gaya ini mau menjelaskan keputusan dan kebijaksanaan yang diambil dan mendapatkan pendapat dari pengikutnya, tetapi pemimpin masih hams tetap terns menawarkan pengawasan dalam penyelesaian tugas-tugas pengikutnya atau bawahannya serta pengambilan keputusan tetap pada pemimpin. Telah melaksanakan komunikasi dua arah antara pimpinan dan bawahan.
Gaya 3/(G3) = Partisipasi; pemimpin menekankan pada banyaknya menawarkan sumbangan dan sedikit dalam pengarahan. Pemimpin menyusun keputusan bersama-sama dengan para bawahan saling tukar menukar ide/ gagasan dan mendukung usaha-usaha mereka dalam menuntaskan tugas. Posisi kontrol ams pemecahan duduk kasus dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Komunikasi lebih ditingkatkan dan peranan pemimpin secara aktif mendengar. Hal ini masuk akal alasannya ialah bawahan/pengikut telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas.
Gaya 4/(G4) = Delegasi; sikap pemimpin yang menawarkan sedikit sumbangan dan sedikit pengarahan. Pemimpin dengan gaya ini mendelegasikan secara kese1uruhan keputusan-keputusan dan tanggung jawab pelaksanaan kiprah kepada bawahannya. Sehingga bawahanlah yang memihki kontrol untuk menetapkan perihal bagaimana cara pelaksanaan tugas. Pemimpin membe--rikan kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan pertunjukan mereka sendiri alasannya ialah mereka mempunyai kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab dalam pengarahan sikap mereka sendiri.
Salah satu dasar dari kepemimpinan situasional memperhatikan tingkat kematangan bawahan. Kematangan (maturity) bawahan dalam hal ini ialah kemampuan dan kemauan dari orang-orang untuk bertanggung jawab dalam mengarahkan perilakunya. Sesuai yang ditulis oleh Sutarto (1995) bahwa “mengenai tingkat kematangan terdiri dari dua dimensi yaitu job maturity (kematangan kerja) dan psichological maturity (kematangan jiwa). Kematangan kerja berafiliasi dengan ability (kemampuan) sedangkan kematangan jiwa berafiliasi dengan willlingnes (kemauan).
Selanjutnya Sutarto (1995) menyatakan bahwa tingkat kematangan bawahan sanggup diperinci menjadi empat tingkat serta hubungannya dengan gaya kepemimpinan yang digunakan, yaitu
1. Tingkat kematangan rendah (M1), dengan ciri : tidak bisa dan tidak mau atau tidak mantap. Gaya kepemimpinan yang dipakai untuk mempengaruhi sikap pada bawahan pada tingkat ini ialah G 1 atau gaya kepemimpinan instruksi.
2. Tingkat kematangan rendah ke tingkat kematangan madya (M2), dengan ciri; tidak bisa tetapi tidak mau atau yakin. Gaya kepemimpinan yang sesuai dipakai ialah konsultasi atau G2.
3. Tingkat kematangan madya ke tingkat kematangan tinggi (M3), dengan dicirikan; bisa tetapi tidak mau atau tidak mantap. Gaya kepemimpinan yang sempurna dipakai ialah partisipasi atau 03.
4.Tingkat kematangan tinggi (M) dengan ciri; mampu/cakap dan mau/yakin. Delegasi atau 04 menjadi gaya kepemimpinan yang cocok untuk mempe-ngaruhi tingkat sikap yang tingkat kematangannya tinggi.
Keempat gaya kepemimpinanan diatas tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Hal iui sangat tergantung dari macam kelompok yang dipimpin. Variabel-variabel dari faktor situasi lainnya juga turut berpengaruh, antara lain waktu, tuntutan tugas, organisasi, harapan-harapan dan kemampuan atasan/pimpinan, sobat sejawat, dan bawahan. Namun variabel-variabel ini tidak menawarkan kemungkinan bagi pemimpin untuk menguji ketepatan semua variabel diatas, sebelum menetapkan gaya mana yang diterapkan. Artinya kepemimpinan yang berhasil ialah pemimpin yang bisa mengadaptasikan gaya biar sesuai dengan situasi tersebut.
3. Fungsi Pemimpin dan Kepemimpinan
Kepemimpinan seorang pemimpin pada umumnya ingin merefleksikan sifat-sifat dan tujuan dari kelompoknya. Selanjutnya dipaparkan beberapa pendapat dari beberapa penulis perihal kiprah dan fungsi kepemimpinan antara lain Kartini Kartono (1992) menyatakan : fungsi kepemimpinan ialah : Memadu, menuntun, memimpin, membangun, memberi, atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik, dan membawa para pengikutnya ke sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.
Dalam tugas-tugas kepemimpinan tercakup pula pemberian insentif sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat. Insentif materi1 sanggup berupa : uang, sekuritas fisik, jaminan sosial, premi, bonus, kondisi kerja yang baik, jaminan pensiun akomodasi daerah tinggal yang menyenangkan dan lain-lain. Juga sanggup berbentuk insentif sosial seperti: promosi jabatan, status sosial yang tinggi, martabat diri, prestise sosial, respek dan lain-lain.
Selanjutnya pendapat Siagian (1988) menyatakan fungsi-fungsi kepemim-pinan yang hakiki yaitu:
1. Pemimpin selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam perjuangan pencapaian tujuan
2. Wakil dan juru bicara organisasi dalam kekerabatan dengan pihak-pihak luar organisasi
3. Pimpinan selaku komunikator yang efektif
4. Mediator yang handal, khusus dalam kekerabatan kedalam, terutama mengenai situasi konflik
5. Pimpinan selaku integrator yang efektif, rasional, objektif, dan netral.
Dengan menelaah pendapat di atas perihal fungsi dan kiprah pemimpin dapatlah dinyatakan bahwa keberhasilan organisasi atau perusahaan juga sangat ditentukan oleh keberhasilan pemimpin dengan kepemimpinannya dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Salah satu kiprah dan fungsi pemimpin yang sangat strategis ialah “memberikan motivasi kerja kepada karyawan/bawahan dalam melaksanakan pekerjaan dengan baik dan produktif dalam perjuangan mencapai tujuan organisasi."
Demikianlah artikel perihal pemimpin dan kepemimpinan semoga bermanfaat
artikel: PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Sumber http://www.rijal09.com
EmoticonEmoticon