Sunday, November 4, 2018

√ Pengertian Pedagogik

PENGERTIAN PEDAGOGIK 
A. Pengertian Pedagogik 
Seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik di sekolah, perlu mempunyai seperangkat ilmu ihwal bagaimana ia harus mendidik anak. Guru bukan hanya sekadar terampil dalam memberikan materi ajar, namun disamping itu ia juga harus bisa membuatkan pribadi anak, membuatkan tabiat anak, dan membuatkan serta mempertajam hati nurani anak. Pedagogik yakni ilmu yang mengkaji bagaimana membimbing anak, bagaimana sebaiknya pendidik berhadapan dengan anak didik, apa kiprah pendidik dalam mendidik anak, apa yang menjadi tujuan mendidik anak. Pada cuilan ini akan dibahas pengertian pedagogik, pendidikan dalam arti khusus dan dalam arti luas. Pendidikan mengandung tiga aspek yaitu mendidik, mengajar dan melatih. 

1.     Pendidikan Dalam Arti Khusus
Pedagogik, berasal dari kata Yunani “ paedos “, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos“ artinya mengantar, membimbing. Makara pedagogik secara harfiah berarti pembantu anak pria pada jaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Kemudian secara kiasan yakni seorang ahli, yang membimbing anak kearah tujuan hidup tertentu. Menurut Prof. Dr. J. Hoogveled (Belanda) pedagogik yakni ilmu yang mempelajari problem membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu secara berdikari menuntaskan kiprah hidupnya.Jadi pedagogik yakni ilmu mendidik anak.

Langeveld (1980) membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan ihwal pendidikan, suatu pemikiran bagaimana kita membimbing dan mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktek, menyangkut acara mendidik, acara membimbing anak.

Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif membuatkan konsep-konsepnya ihwal hakikat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan. Tetapi keduanya antara pedagogi dan pedagogik tidak sanggup dipisahkan secara jelas, keduanya harus dilaksanakan secara berdampingan, saling memperkuat peningkatan mutu dan tujuan pendidikan.

Dalam bahasa Inggris kata yang bekerjasama dengan pedagogik, yaitu pendidikan dengan memakai perkataan “education”.Sekarang digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks pembelajaran, belajar, dan banyak sekali acara yang bekerjasama dengan hal tersebut. Kata education bekerjasama dengan kata Latin “educere” yang berarti mengeluarkan suatu kemampuan” (e = keluar, ducere = memimpin), jadi berarti membimbing untuk mengeluarkan suatu kemampuan yang tersimpan di dalam diri anak.

Kemudian pendidikan sanggup diartikan secara khusus dan secara luas. Dalam pengertian secara khusus pendidikan yakni bimbingan yang diberikan oleh orang cukup umur kepada anak yang belum cukup umur untuk mencapai kedewasaannya (Langeveld). Dalam bukunya Ahmadi dan Uhbiyati (2001) mengemukan beberapa definisi pendidikan berdasarkan para tokoh diantaranya : 
a)     Menurut John Dewey pendidikan yakni proses pembentukan kecakapan-kecakapan mendasar secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. 
b)     Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik yakni menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada belum dewasa supaya mereka sebagai insan dan sebagai anggota masyarakat sanggup mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. 
c)      Langeveld : Mendidik yakni membimbing anak dalam mencapai kedewasaan. 
d)     Bojonegoro : Mendidik yakni memberi tuntunan kepada insan yang belum cukup umur dalam pertumbuhan dan perkembangannya hingga tercapai kedewasaan.

Jadi pendidikan dalam arti khusus hanya dibatasi sebagai perjuangan orang cukup umur dalam membimbing anak yang belum cukup umur untuk mencapai kedewasaannya. Pendidikan dalam arti khusus ini menggambarkan upaya pendidikan yang terpusat dalam lingkungan keluarga, dalam arti tanggung jawab keluarga. Hal tersebut lebih terperinci dikemukakan oleh Drijarkara (Ahmadi, Uhbiyati: 1991), bahwa : 
a)     Pendidikan yakni hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, yang mana terjadi pemanusiaan anak. Dia berproses untuk memanusiakan sendiri sebagai insan purnawan. 
b)     Pendidikan yakni hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, yang mana terjadi pembudayaan anak. Dia berproses untuk balasannya bisa membudaya sendiri sebagai insan purnawan. 
c)      Pendidikan yakni hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, yang mana terjadi pelaksanaan nilai-nilai, dengan mana beliau berproses untuk balasannya bisa melaksanakan sendiri sebagai insan purnawan.

Menurut Drijarkara, pendidikan secara prinsip yakni berlangsung dalam lingkungan keluarga. Pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu yang merupakan figur sentral dalam pendidikan. Ayah dan ibu bertanggung jawab membantu memanusiakan, membudayakan dan menanamkan nilai-nilai terhadap anak-anaknya. Bimbingan dan derma ayah dan ibu tersebut akan berakhir apabila anak menjadi dewasa, menjadi insan sempurna.

Dari uraian diatas pedagogik pembahasannya terbatas kepada anak, jadi yang menjadi objek kajian pedagogik yakni pergaulan pendidikan antara orang cukup umur dengan anak yang belum dewasa, berdasarkan Langeveld disebut “situasi pendidikan”. Makara proses pendidikan berdasarkan pedagogik berlangsung semenjak anak lahir hingga anak mencapai dewasa. Pendidik dalam hal ini bisa orang renta dan/atau guru yang fungsinya sebagai pengganti orang tua, membimbing anak yang belum cukup umur mengantarkannya untuk sanggup hidup mandiri, supaya anak sanggup menjadi dirinya sendiri. 

2.     Pendidikan Dalam Arti Luas 
Pendidikan dalam arti luas merupakan perjuangan insan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Henderson (1959) mengemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat semenjak insan lahir.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan mengenai adat dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laris seseorang atau kelompok orang dalam perjuangan mendewasakan insan melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan akal pekerti, pikiran serta jasmani anak, supaya sanggup memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 ihwal Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa : Pendidikan yakni perjuangan sadar dan terpola untuk mewujudkan suasana berguru dan proses pembelajaran supaya penerima didik secara aktif membuatkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, adat mulia, serta keterampilan yang diharapkan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari pengertian-pengertian pendidikan diatas ada beberapa prinsip dasar ihwal pendidikan yang akan dilaksanakan : 
1)     Pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah dimulai semenjak insan lahir dari kandungan ibunya, hingga tutup usia, sepanjang ia bisa untuk mendapatkan efek dan sanggup membuatkan dirinya. Suatu konsekuensi dari pendidikan sepanjang hayat yakni bahwa pendidikan tidak identik dengan persekolahan. Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. 

2)     Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua insan : tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan tanggung jawab pemerintah. 

3)     Bagi insan pendidikan merupakan suatu keharusan, lantaran dengan pendidikan insan akan mempunyai kemampuan dan kepribadian yang berkembang, yang disebut insan seluruhnya.

Bagi orang cukup umur ilmu pendidikan yang mengkajinya disebut “andragogi” yang berasal dari bahasa Yunani “andr” dan “agogos”. Dalam bahasa Yunani “andr” berarti orang cukup umur dan “agogos’ berarti memimpin atau mendidik.Knowles (1980) mendefinisikan andragogi sebagai ilmu atau seni dalam membantu warga belajar.Berbeda dengan pedagogik yang sanggup diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak.

Orang dewasa, tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, melainkan dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang dikatakan telah cukup umur apabila ia telah bisa melaksanakan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut cukup umur apabila ia melaksanakan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan cukup umur bila ia telah mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.

Andragogik yakni suatu model proses pembelajaran penerima didik dewasa. Untuk itu sumber berguru hendaknya bisa membantu warga berguru untuk : 
a)     Mengidentifikasi kebutuhan. 
b)     Merumuskan tujuan belajar. 
c)      Ikut serta memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajar. 
d)     Ikut serta dalam mengevaluasi acara belajar. 

3.   Mendidik, Mengajar, Melatih 
Pada hakekatnya pendidikan mengandung tiga unsur yaitu mendidik, mengajar dan melatih.Ketiga istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Tetapi secara sepintas mungkin berdasarkan orang awam dianggap sama pengertiannya. Dalam praktek sehari-hari dilapangan kita sering mendengar kata-kata seperti: pendidikan olahraga, pengajaran olahraga, latihan olahraga, pendidikan kemiliteran, pengajaran kemiliteran dan training kemiliteran.

Dalam bahasa sehari-hari kita juga sering mendengar kata-kata lain yang sering digunakan memelihara anak dan mengurus anak.Memelihara anak sanggup diartikan memberi proteksi kepada anak supaya lestari hidupnya. Perkataan demikian kadang kala dihubungkan dengan perkataan memelihara ayam, memelihara anjing, memelihara ternak. Oleh lantaran itu sebaiknya jangan digunakan kepada anak. Mendidik berdasarkan Darji Darmodiharjo memperlihatkan perjuangan yang lebih ditujukan kepada pengembangan akal pekerti, hati nurani, kecintaan, rasa kesusilaan, ketaqwaan dan sebagainya.

Mengajar berarti memberi pelajaran ihwal ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan berpikirnya, atau disebut juga pendidikan intelektual. Intelek anak yakni kemampuan anak berpikir dalam banyak sekali bidang kehidupan. Pengajaran atau pendidikan intelektual marupakan cuilan dari seluruh proses pendidikan, atau pengajaran mempunyai arti lebih sempit dari pendidikan.

Lebih sempit lagi perkataan latihan, menyerupai latihan menggambar, latihan membaca dan menulis, latihan naik sepeda, latihan menembak dan sebagainya. Latihan ialah perjuangan untuk memperoleh keterampilan dengan melatihkan sesuatu secara berulang-ulang, sehingga terjadi mekanisasi atau pembiasaan.

Tujuan dari ketiga jenis acara itu juga berbeda. Mendidik ingin mencapai kepribadian yang terpadu, terintegrasi, yang sering dirumuskan untuk mencapai kepribadian yang dewasa.

Tujuan pengajaran yang bersifat intelek anak ialah supaya anak kelak sebagai orang cukup umur mempunyai kemampuan berpikir menyerupai yang diharapkan dari orang cukup umur secara ideal, yaitu bisa berpikir logis, kritis, objektif, sistematis, analitis, integratif dan inovatif.

Tujuan latihan ialah untuk memperoleh keterampilan ihwal sesuatu. Keterampilan yakni sesuatu perbuatan yang berlangsung secara mekanis, yang mempermudah kehidupan sehari-hari dan sanggup pula membantu proses belajar.

Jika kita perhatikan, kita temukan tanda-tanda mendidik dalam pergaulan antara orang cukup umur dengan anak (yang belum dewasa), tetapi tidak setiap pergaulan dengan orang cukup umur dan anak mengandung arti mendidik, menyerupai bila seorang yang sedang berusaha supaya dagangannya laris dibeli oleh anak sekolah.Bahkan pergaulan antara anak dengan orang cukup umur kadang kala tidak membawa anak ke tingkat yang lebih tinggi, contohnya ada orang cukup umur yang menjual gambar-gambar p0rn* kepada anak-anak.Pendidikan hanya ditujukan terhadap anak yang belum cukup umur oleh orang yang telah mencapai kedewasaan dengan tujuan yang positif dan konstruktif, supaya anak mencapai kedewasaan.Jika tujuannya negatif dan tidak konstruktif bahkan destruktif hal itu tidak dikatakan pendidikan, tetapi disebut “demagogi”.

Tujuan pendidikan yakni untuk mencapai kedewasaan, oleh Hoogveld diartikan "agar sanggup melaksanakan kiprah hidupnya secara mandiri". Kedewasaan berdasarkan Langeveld diartikan sebagai "kemampuan memilih dirinya sendiri secara berdikari atas tanggungjawab sendiri".

Anak hidup dalam banyak sekali situasi yang mengandung segala kemungkinan; lantaran itu ia selalu memperoleh efek oleh banyak sekali faktor, dari rumah, sekolah, masyarakat secara luas dan efek alam sekelilingnya. Majalah, koran, atau buku-buku yang dibaca anak, film yang dilihatnya, kawan-kawan sepermainan, sawah, ladang atau bahari yang mengelilinginya, semuanya besar lengan berkuasa terhadap perkembangannya. Tetapi segala efek tersebut walaupun bersifat positif dan konstruktif, tidak sanggup disebut pendidikan.Bila ada pendapat bahwa segala efek positif disebut pendidikan, pendapat itu sanggup disebut "Panpedagogisme". Pendidikan dalam ilmu mendidik, hanya kita batasi pada efek yang dengan sengaja diusahakan oleh orang cukup umur terhadap anak yang belum dewasa; dan efek tersebut harus bersifat positif dan konstruktif. 

B. Pentingnya Pendidikan Bagi Manusia 
Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi insan lantaran pada hakikatnya  manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya dan tidak eksklusif sanggup bangkit sendiri, sanggup memelihara dirinya sendiri. Manusia pada ketika lahir sepenuhnya memerlukan derma orang tuanya, lantaran itu pendidikan merupakan bimbingan orang cukup umur mutlak diharapkan manusia.Pada hakekatnya anak merupakan titipan Tuhan Yang Maha Esa kepada orang tuanya untuk mendidiknya, membesarkannya menjadi insan cukup umur yang penuh tanggung jawab, terutama tanggung jawab moral.

Pendidikan tidak saja berusaha melimpahkan segala milik kebudayaan dari generasi sepanjang masa kepada generasi muda, melainkan juga berusaha supaya generasi yang akan tiba sanggup membuatkan dan meningkatkan kebudayaan ketaraf yang lebih tinggi. Dengan insting yang ada pada insan hanya merupakan modal pokok kemampuan yang permulaan, yang memungkinkan insan mempertahankan dan membuatkan hidupnya.

Lebih tinggi lagi keinginan insan sebagai individu menginginkan kehidupan ukhrawi yang baik, lantaran ia percaya, bahwa sesudah kehidupan duniawi, masih ada kehidupan lanjut alam rokhani. Dalam rangka seluruh acara pendidikan, pendidikan perlu memperhatikan segi-segi kehidupan moral, religi dan kesehatan jiwa. Kadang-kadang perjuangan pendidikan spiritual itu sanggup kendala atau gangguan dari munculnya nafsu dari instingnya primitif. Oleh lantaran itu pendidikan membantu seorang individu sanggup mengatasi segala permasalahan hidup, mengatasi jenis konflik kejiwaan, meningkatkan kemampuan individu mengikuti keadaan dengan lingkungan serta dengan segala jenis problem kesulitan dan perubahan nilai-nilai.

Manusia tidak saja hidup sebagai individu yang mempunyai kebebasan dan hak-haknya sebagai individu, namun insan hidup pula dalam ikatan kolaborasi dengan sesama insan yang disebut kehidupan bermasyarakat. Pendidikan dalam prakteknya berbentuk pergaulan antara pendidik dan anak didik, namun tentu suatu pergaulan yang tertuju kepada tujuan pendidikan yaitu insan mandiri, memahami nilai, norma-norma susila dan sekaligus bisa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma tersebut. Proses mensugesti yakni proses psiko social yang berlangsung antara individu yang satu dengan individu yang lain lantaran insan yakni makhluk sosial.

Menurut Jan Ligthart pendidikan itu didasari oleh kasih sayang yang merupakan sumber  bagi dua syarat yang lain yaitu kesabaran dan kebijaksanaan. Sikap kesabaran sangat diharapkan untuk menghadapi anak lantaran sikap tidak sabar atau lekas murka tidak akan menggairahkan kejiwaan anak. Lagi pula hasil pendidikan kita tidak sanggup dengan segera kita saksikan dalam satu dua tahun.Hasil pendidikan, gres sanggup kita nilai bila anak telah mencapai kedewasaannya.

Mendidik sebagai proses terdapat dalam pergaulan antara pendidik dan anak didik. Kedua individu terlibat dalam suatu kekerabatan sosial yang dinamis dan sifatnya dipengaruhi dan mensugesti secara timbal baik dan saling  mengikat. Hasil pendidikan bukan saja bergantung kepada pendidik, melainkan juga bergantung kepada kondisi dan situasi anak didik sendiri. Bila anak didik tidak mengadakan respons atau reaksi yang positif, aktif dan komunikatif serta kooperatif, perjuangan pendidik tidak akan banyak hasilnya. Jika sebaliknya maka pendidik juga sanggup bereaksi negatif. Tetapi bila anak mengadakan reaksi, sangat bergantung kepada sikap pendidiknya.

Dari pemaparan diatas, dikatakan bahwa proses pendidikan terjadi dalam pergaulan antara pendidik dan anak didik, yang melibatkan kedua pihak dalam suatu proses dinamika social-psikologi secara timbal balik. Dalam acara keterlibatan antara pendidik dan anak didik sebagai proses pendidikan, terdapat suatu sistem saling mengikat, untuk mencapai suatu tujuan, yang sering dirumuskan sebagai pencapaian kedewasaan pada anak didik. 

C. Ilmu Pendidikan Sebagai Teori 
Teori pendidikan pada hakikatnya sangat penting lantaran pendidikan merupakan suatu acara yang hanya sanggup dilakukan oleh manusia, mempunyai lapangan yang sangat luas. Pendidikan sebagai suatu acara manusia, sanggup kita amati sebagai suatu praktek dalam kehidupannya, menyerupai halnya dengan acara insan yang lain contohnya acara dalam ekonomi, acara dalam hukum, beragama dan sebagainya. Disamping itupula kita sanggup mengkaji pendidikan secara akademik, baik secara empirik (pengalaman), yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikannya, maupun dengan renungan-renungan, yang mencoba melihat makna pendidikan dalam suatu lingkup yang lebih luas. Hal yang pertama sanggup disebut praktek pendidikan, sedangkan yang kedua disebut teori pendidikan.

Antara teori dan praktek pendidikan merupakan dua hal yang tidak sanggup dipisahkan lantaran mempunyai kekerabatan komplementer (saling melengkapi), saling mengisi satu sama lainnya. Seperti contohnya pelaksanaan pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, sehingga sanggup dijadikan sumber dalam menyusun teori pendidikan.Begitu sebaliknya suatu teori pendidikan sangat bermanfaat sebagai suatu pedoman dalam melaksanakan praktek pendidikan.

Dalam prakteknya, memang ada orang yang tidak mengetahui atau mempelajari suatu teori pendidikan, namun ia berhasil membimbing anak-anaknya. Sebaliknya juga sanggup terjadi, spesialis teori pendidikan belum sanggup dijamin bahwa ia akan menjadi pendidik yang baik, belum sanggup dijamin ia akan berhasil mendidik anaknya sendiri. Namun dari kasus diatas, jangan dijadikan alasan bahwa tidak perlu atau tidak ada keuntungannya apabila kita mempelajari teori pendidikan.Dalam hal ini J.H Gunning (Belanda) pernah mengemukakan bahwa “teori tanpa praktek merupakan perbuatan yang amat istimewa (genius), sebaliknya praktek tanpa teori bagi orang absurd dan penjahat. Namun berdasarkan Gunning bagi kebanyakan pendidik perlu paduan mesra dari keduanya (teori dan praktek).

Teori pendidikan (dalam hal ini pedagogik), perlu dipelajari secara akademik (secara ilmiah di Perguruan Tinggi), khususnya di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pendidik baik di sekolah maupun di luar sekolah. Sebab kalau tidak dibekali  teori pendidikan, jangan hingga terjerumus menyerupai yang dikemukakan oleh Gunning.

Ilmu pendidikan sebagai teori perlu dipelajari, lantaran akan memperlihatkan beberapa manfaat : 
a. Dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui arah serta tujuan mana yang akan dicapai. 
b. Untuk menghindari atau sekurang-kurangnya mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktek, lantaran dengan memahami teori pendidikan, seseorang akan mengetahui mana yang boleh dan yang dihentikan dilakukan, walaupun teori tersebut bukan suatu resep yang jitu. 
c. Dapat dijadikan sebagai tolak ukur, sampai  dimana seseorang telah berhasil melaksanakan kiprah dalam pendidikan.

Melaksanakan pendidikan merupakan kiprah moril yang tidak ringan. Ini berarti bahwa menciptakan kesalahan dalam mendidik anak, walaupun tidak disengaja, dan walaupun kecil, tidak sanggup kita anggap sepeleh. Itikad baik pendidik dalam menunaikan tugasnya selalu berusaha untuk mengurangi kesalahan-kesalahan atau membatasi kesalahan-kesalahan seminimal mungkin.

Pada umumnya kesalahan-kesalahan teknis dalam mendidik dengan akibat-akibat yang merugikan, tidak sukar dibetulkan atau dikoreksi. Bentuk kesalahan mendidik yang kedua, ialah kesalahan yang bersumber pada kepribadian pendidik sendiri, kesalahan ini tidak gampang dibetulkan, lantaran mengoreksi struktur kepribadian seseorang tidaklah gampang dan untuk memperbaiki kepribadian dan prilakunya memerlukan kesediaan dan kerelaan yang bersangkutan serta memakan waktu yang lama.

Kesalahan mendidik yang ketiga ialah kesalahan konseptual, yaitu dalam menjalankan proses pendidikan, pendidik kurang menyadari bahwa kesalahannya sanggup mempunyai akhir yang mendalam pada anak didik. Sebagai contohnya pada umumnya orang renta kurang menyadari, bahwa lima tahun yang pertama dalam kehidupan anak, merupakan dasar bagi perkembangan kejiwaan dan nasib kehidupan selanjutnya, banyak orang renta mengira bahwa proses mendidik itu harus dilakukan dengan banyak memberi nasihat dan sebagainya.

Dalam mempelajari teori pendidikan yaitu teori ihwal membimbing dan memperbaiki anak didik yakni cara yang paling praktis. 

D. Pendidikan Dalam Ruang Lingkup Mikro dan Makro 
Pendidikan dalam ruang lingkup mikro artinya mengkaji pendidikan yang dilaksanakan dalam skala kecil, dan pendidikan dalam ruang lingkup makro, mengkaji pendidikan yang dilaksanakan dalam skala besar. Pendidikan yang dilakukan secara nasional dengan segala perangkat aturannya menyerupai Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan meliputi pendidikan sekolah dan luar sekolah, berlangsung seumur hidup, hal tersebut melaksanakan tinjauan pendidikan secara makro (besar).

Disamping kita mengkaji pendidikan dalam skala luas, kita bias mempelajari pendidikan dalam skala kecil, contohnya pendidikan dalam keluarga saja, pendidikan di sekolah saja, hal tersebut merupakan suatu kajian pendidikan dalam skala mikro (kecil).

Pengelompokkan kajian pendidikan secara mikro dan makro tersebut sanggup dilihat dari dua segi, yaitu : 1) Manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat  dan 2) Tanggung jawab pendidikan. 
1. Manusia Sebagai Individu dan Sebagai Anggota Masyarakat
Manusia sebagai individu pada hakikatnya hidup gotong royong di masyarakat, hidup bersama dengan orang banyak diluar dirinya. Antara individu dan masyarakat bagi seorang insan tidak sanggup dipisahkan satu sama lain, Havigurst menyampaikan bahwa insan tidak akan menjadi insan kalau ia tidak hidup bersama dengan dan dalam masyarakat. Pendidikan individual termsuk ke dalam ruang lingkup mikro. Hal ini terutama terjadi dalam lingkungan keluarga

Pendidikan kelompok yakni pendidikan yang dilaksanakan dalam kelompok contohnya pendidikan di sekolah, pendidikan pramuka, dan sebagainya.Dalam bentuk makro, menyerupai telah dikemukan di atas dapt dijumpai di lingkungan sekolah.

Alasan mengapa hingga menyelenggarakan pendidikan sekolah atau yang disebut pendidikan formal, baik pemerintah maupun swasta ini disebabkan lantaran : 
1)     Orang renta yang kurang bisa memperlihatkan pendidikan lanjutan sesudah pendidikan di keluarga. 
2)     Pendidikan sekolah relative lebih mahal dibandingkan dengan pendidikan keluarga, lantaran dalam pelaksanaannya memakai tenaga hebat beserta alat-alat pendidikannya. 
3)     Sudah waktunya belum dewasa yang tergolong dalam kelompok umur sekolah yang diberikan pendidikan dalam kelompok, lantaran anak tersebut sudah mulai berguru hidup bermasyarakat. 
4)     Belajar dalam kelompok banyak sekali ilmu dan menuntaskan kiprah lebih jauh efisien dari pada berguru individual.

Pendidikan sekolah sebagai suatu sistem merupakan suatu investasi jangka panjang untuk membuatkan sumber daya insan serta menyiapkan barisan bekerja yang dibutuhkan untuk menempati banyak sekali jabatan dan fungsi dalam masyarakat yang akan dating. Hal itu sangat dekat hubungannya dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja bangsa Indonesia sehingga Indonesia akan sanggup menaikan pendapatan pertahun kapita. 
DAFTAR PUSTAKA
 Priyatno, 2009.Dasar teori dan simpel pendidikan. Padang. Grasindo
Sadulloh, Uyoh. 2004. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta
Tim Pengembang Ilmu pendidikan. 2007. Ilmu dan aplikasi pendidikan. Bandung. IMTIMA
#pengertian pedagogik
Sumber http://www.rijal09.com


EmoticonEmoticon