Thursday, June 15, 2017

√ Bahan Ppg Daljab: 10 Karakteristik Guru Periode 21

Guru kala 21 alias jaman now harus mempunyai kemampuan khusus dan berbeda dengan guru jaman old. Di era globalisasi ini guru wajib menyesuaikan diri dengan perubahan digital di semua sendi kehidupan. Siswa jaman now ialah siswa yang aktif, fleksibel, kreatif dan pokonya sangat berbeda dengan jaman dulu. 

Perubahan abjad masyarakat secara mendasar sebagaimana terjadi dalam kala 21 tentu berimplikasi terhadap karakteristik guru. Dalam pandangan progresif, perubahan karakteristik masyarakat perlu diikuti oleh transformasi kultur guru dalam proses pembelajaran. Kaprikornus jikalau kini masyarakat telah berubah ke masyarakat digital, maka guru juga segera perlu mentransformasikan diri, baik secara teknik maupun sosio-kultural. 

Oleh alasannya itu perlu mengidentifikasi, karakteristik guru ibarat apa yang bisa mentransformasikan diri pada era digital pada kala 21 kini ini. Terdapat ungkapan bahwa, buku bisa digantikan dengan teknologi, tetapi tugas guru tidak bisa digantikan, bahkan harus diperkuat. Pada era sekarang, kala 21, guru harus bisa memanfaatkan teknologi digital untuk mendesain pembelajaran yang kreatif. 

Kemampuan para guru untuk mendidik pada era pembelajaran digital perlu dipersiapkan dengan memperkuat pedagogi siber pada diri guru. Guru yang lebih banyak berperan sebagai fasilitator harus bisa memanfaatkan teknologi digital yang ada untuk mendesain pembelajaran kreatif yang memampukan siswa aktif dan berpikir kritis (Kompas, 9 April 2018, hal. 12). 

Menurut Ketua Divisi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Smart Learning Center, Richardus Eko Indrajit mengatakan, guru harus mulai dibiasakan untuk mencicipi pembelajaran digital yang terus berkembang. Sebab, penggunaan teknologi dalam pembelajaran berkhasiat untuk memfasilitasi pembelajaran yang berkualitas. 

Buku bisa digantikan dengan teknologi. Konten pembelajaran sudah tersedia di internet. Namun, tetap ada tugas guru yang tidak bisa digantikan. Di sinilah kita harus memperkuat guru sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk sanggup memanfaatkan sumber mencar ilmu yang beragam. Oleh alasannya itu karakteristik guru dalam kala 21 antara lain: Pertama, guru disamping sebagai fasilitator, jugaharus menjadi motivator dan inspirator.

Lebih lanjut Eko Indrajit mengatakan, pada era sekarang, siswa sudah banyak mengetahui pembelajaran lewat internet terlebih dahulu, gres sekolah. Jangan hingga guru gagap menghadapi kondisi siswa yang lebih banyak tahu konten pembelajaran yang didapat dari internet. Oleh alasannya itu kemampuan guru sebagai fasilitator harus diperkuat. Guru sanggup mengarahkan pembelajaran lebih banyak pada diskusi, memecahkan masalah, hingga melaksanakan proyek yang merangsang siswa berpikir kritis (Kompas, 9 April, 2018, hal. 12).
10 Karakter Guru Abad 21
Kemampuan guru dalam posisi sebagai fasilitator, ini berarti harus mengubah cara berpikir bahwa guru ialah sentra (teacher center) menjadi siswa ialah sentra (student center) sebagaimana dituntut dalam kurikulum 13. Ini berarti guru perlu memposisikan diri sebagai kawan mencar ilmu bagi siswa, sehingga guru bukan serba tahu alasannya sumber mencar ilmu dalam era digital sudah banyak dan tersebar, serta gampang diakses oleh siswa melalui jaringan internet yang terkoneksi pada gawai. Ini memang tidak mudah, alasannya berkait dengan transformasi kultural baik yang masih berkembang dalam guru maupun siswa itu sendiri, dan bahkan masyarakat.

Kedua, salah satu prasyarat paling penting semoga guru bisa mentrasformasikan diri dalam era pedagogi siber atau era digital, ialah tingginya minat baca. Selama ini banyak sekali hasil penelitian memperlihatkan bahwa minat baca di kalangan guru di Indonesia masih rendah, dan bahkan kurang mempunyai motivasi membeli atau mengoleksi buku. 

Tingkat kepemilikan buku di kalangan guru di Indonesia masih rendah. Bahkan sering terdengar pemeo bahwa penambahan penghasilan melalui acara sertifikasi guru, tidak untuk meningkatkan profesionalisme guru, tetapi hanya untuk gaya hidup konsumtif. Sudah sering terdengar bahwa, perhiasan penghasilan honor guru melalui acara sertifikasi bukan untuk membeli buku, tetapi untuk kredit mobil.

Karakteristik ibarat itu, ialah tidak cocok bagi pengembangan profesionalisme guru pada kala 21. Oleh alasannya itu, guru harus terus meningkatkan minat baca dengan menambah koleksi buku. Setiap kali terdapat persoalan pembelajaran, maka guru perlu menambah pengetahuan melalui bacaan buku, baik cetak maupun digital yang bisa diakses melalui internet. 

Tanpa minat baca tinggi, maka guru pada era pedagogi siber kini ini akan ketinggalan dengan pengetahuan siswanya, sehingga akan menurunkan dapat dipercaya atau kewibawaan guru. Hilangnya kewibawaan guru akan berdampak serius bukan saja pada menurunya kualitas pembelajaran, tetapi juga bagi kemajuan sebuah bangsa.

Ketiga, guru pada kala 21 harus mempunyai kemampuan untuk menulis. Mempunyai minat baca tinggi saja belum cukup bagi guru, tetapi harus mempunyai keterampilan untuk menulis. Guru juga dituntut untuk bisa menuangkan gagasan- gagasan inovatifnya dalam bentuk buku atau karya ilmiah. Tanpa kemampuan menulis guru akan kesulitan dalam upaya meningkatkan kredibilitasnya di hadapan murid. Guru yang mempunyai kompetensi dalam menulis gagasan, atau menulis buku dan karya almiah, maka akan semakin disegani oleh siswanya. Sebaliknya, jikalau guru tidak pernah menulis, maka akan semakin dilecehkan oleh siswa.

Oleh alasannya itu, jikalau sudah mempunyai kemampuan untuk menulis gagasan, maka dikala terlibat dalam era digital bukan saja sebagai konsumen pengetahuan, tetapi juga produsen pengetahuan. Dengan kata lain, guru dalam era isu kini ini, dikala terlibat dalam internet, bukan sekadar mengunduh, tetapi juga mengunggah karya-karya tulisnya yang bisa menawarkan pinjaman pemikiran bagi upaya peningkatan kualitas pembelajaran.

Keempat, guru kala 21 harus kreatif dan inovatif dalam membuatkan metode mencar ilmu atau mencari pemecahan masalah-masalah belajar, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis TIK. Penguasaan terhadap e-learning bagi seorang guru kala 21 ialah sebuah keniscayaan atau keharusan, jikalau ingin tetap dianggap berwibawa di hadapan murid. Guru yang kehilangan kewibawaan di mata siswa ialah sebuah bencana, bukan saja bagi guru itu sendiri tetapi bagi sebuah bangsa alasannya kunci kemajuan bangsa ialah guru. Oleh alasannya itu kompetensi mengajar berbasis TIK ialah mutlak bagi guru pada kala 21. 

Jadi seorang guru harus bisa menerapkan model pembelajaran contohnya yang memakai contoh bibit unggul (hybrid learning), alasannya proses pembelajaran dalam kala 21 tidak hanya secara konvensional dengan tatap muka di kelas, tetapi juga secara online melalui situs pembelajarannya. Kaprikornus pembelajaran bibit unggul ialah sebuah contoh pembelajaran yang mengombinasikan pertemuan tatap muka dengan pembelajaran berbasis online, teknologi hadir dalam proses belajar. 

Tujuan utamanya untuk keperluan memperluas kesempatan belajar, meningkatkan kualitas proses belajar, menumbuhkan kesempatan yang sama antarpeserta didik, dan banyak sekali kemungkinan lainnya. Melalui contoh pembelajaran bibit unggul yang memanfaatkan perangkat komputer atau pun smartphone yang terkoneksi pada jaringan internet menawarkan peluang seluas-luasnya bagi guru dan siswa untuk melaksanakan acara mencar ilmu sambil melaksanakan acara lain, termasuk rekreatif secara bersama-sama. Atau inilah yang disebut pembelajaran multitasking.

Kehadiran e-learning guru kala 21 juga dituntut untuk kreatif dan inonvatif dalam memanfaatkan media gres (new media) untuk pembelajaran berbasis web. Oleh alasannya itu guru perlu mempunyai kompetensi untuk menerapkan mutltimedia. Kalau toh tidak membuat aplikasi sendiri, tetapi setidaknya bisa memanfaatkan dan menerapkan multimedia bagi pembelajaran. Demikian pula dengan gamifiication atau pembelajaran berbasis pada permainan yang kini semakin diminati oleh siswa, ialah peluang yang perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 

Berbagai bidang studi yang selama ini dirasa sulit oleh siswa, ibarat matematika, fisika, dan kimia misalnya, terbukti sanggup menjadi pembelajaran yang menyenangkan melalui kreasi pembelajaran berbasis permainan. Dengan demikian, guru kala 21 juga perlu mempunyai kemampuan perancangan pembelajaran berbasis permainan, sehingga proses mencar ilmu menjadi gampang dan menyenangkan, sekalipun itu pada bidang studi yang selama ini dianggap rumit dan membosankan.

Kelima, karakteristik guru kala 21 di tengah pesatnya perkembangan era teknologi digital, bagaimanapun harus bisa melaksanakan transformasi kultural. Karena itu transformasi mengandaikan terjadi proses pergantian dan perubahan dari sesuai yang dianggap usang menjadi sesuatu yang baru. Atau paling tidak mengalami pembiasaan terhadap kehadiran yang baru. Jika dipandang dari perspektif kritis, konsep transformasi ibarat itu segera akan mengundang kecurigaan bahwa konsep transformasi mau tidak mau akan berbau positivistik. Ketika perkiraan linearistik yang menjadi abjad utama positivistik, pastilah mengandaikan bahwa yang usang akan dipandang sebagai sesuatu yang tertinggal, atau paling tidak sedikit muatan kemajuannya (Wahyono, 2011).

Selanjutnya Wahyono menjelaskan bahwa dikala transformasi dipakai untuk menjelaskan konsep transformasi budaya, maka mengandaikan terjadinya proses alih ubah nilai, sikap, dan praksis dalam acara kebudayaan. Setidaknya terdapat proses pembiasaan dari nilai, sikap, dan praksis budaya usang menuju budaya baru. 

Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi yang memakai konstruksi budaya berbasis pada nilai budaya Barat, maka mau tidak mau nilai budaya usang masyarakat pengadopsinya harus melaksanakan penyesuaian-penyesuaian. Salah satu nilai yang imperatif dituntut oleh ilmu pengetahuan dan teknologi ialah apresiasi tinggi terhadap budi kausalitas, akurasi, presisi, detail, dan terukur. Di samping itu tentu saja penghargaan terhadap prinsip kejujuran, disiplin, dan kerja keras yang merupakan etos masyarakat Barat dan negara maju lainnya di daerah Asia. Oleh alasannya itu tesis yang ditawarkan adalah, jikalau masyarakat, taruhlah yang masih mengikuti prinsip tradisionalisme, ingin menjadi masyarakat modern berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perlu melaksanakan transformasi kultural. 

Transformasi di sini mengandaikan terjadinya proses alih ubah nilai, sikap, dan praksis usang menuju yang baru. Transformasi kultural, bila diterapkan dalam kaitannya dengan perkembangan model pembelajaran hibrida, maka konsep transformasi kultural tentu mengandaikan proses alih ubah dari nilai tradisional ke nilai pembelajaran modern. Secara umum sudah berkembang persepsi bahwa model pembelajaran yang lebih lazim dipakai ialah berat pada abjad berorientasi pada guru (teacher center) daripada berorientasi pada penerima didik (student center). 

Oleh alasannya pembelajaran online masuk kategori mencar ilmu berbasis media gres (new media) maka mengedepankan egalitarianism, kesetaraan, emansipatif, dan partisipatif dalam proses komunikasinya, maka student-center lebih sesuai dengan prinsip pembelajaran online. Dengan demikian dibutuhkan adanya transformasi kultural dari model pembelajaran yang berprinsip searah, top-down, dan memposisikan penerima didik sebagai pihak pasif, ke arah model pembelajaran konstruktivistik yang berorientasi pada penerima didik.

Pandangan bahwa guru ialah sumber pengetahuan dan referensi utama pengetahuan, perlu diubah ke arah pandangan bahwa sumber pengetahuan bersifat menyebar. Semua pada prinsipnya sanggup menjadi sumber rujukan, tidak terkecuali penerima didik. Atau setidaknya murid ialah pihak yang aktif mengkonstruksi dan memaknai pesan. Begitulah, guru dalam pembelajaran kala 21 dituntut mengenali dan menguasai pembelajaran berbasis TIK.

Jenjang kompetensi TIK yang sebaiknya dimiliki oleh seorang pengajar atau guru untuk menerapkan model e-learning mencakup lima tahapan. Upaya dini yang harus dilakukan oleh pegelola sekolah ialah menyiapkan SDM guru yang melek TIK (ICT literate). Ciri-ciri utama seorang guru yang melek TIK ialah guru yang memakai TIK secara tepat, menurut kebutuhan belajar, kompetensi, karakteristik isi atau mata ajar, ketersediaan sarana. Selanjutnya ia bisa mensinergikan kompetensi ini dalam penyajian di kelas konvensional, yaitu bersama dengan penerima didik memakai TIK untuk proses mencar ilmu dan mengajar. 

Adapun guru yang mahir meggunakan TIK sanggup menjadi guru TIK, yaitu menularkan sikap konkret dan mengintegrasikannya dalam materi didik TIK serta menumbuhkan kesadaran dalam berinternet sehat, contohnya ia sanggup menjelaskan bagaimana mengakses jejaring sosial sekaligus memanfaatkannya untuk diskusi suatu mata didik tertentu (Salma, 2016: 4). Oleh alasannya itu, sesudah guru mempunyai karakteristik yang sesuai dengan tuntutan kala 21 yang serba digital, maka seorang guru juga perlu mempunyai kompetensi di bidang perancangan atau desainer pembelajaran.

Disainer pembelajaran menjadi sosok yang harus lebih banyak berperan dalam menyelenggarakan e-learning. Disainer pembelajaran ialah jago yang terbuka dan dinamis, bisa memecahkan persoalan di tingkat trouble shooting, di depan monitor, atau hingga menjadi problem solver dalam tatanan membuat proses mencar ilmu maya yang “hidup”, interaktif, dan manusiawi (Salma, 2016: 5). Sumber: Modul PPG Daljab

Sumber http://www.gurugeografi.id


EmoticonEmoticon