
Artikel kali ini masih dalam ruang lingkup Evaluasi. Ini goresan pena ke 2 saya mengenai Evaluasi, yang pertama bisa anda baca disini. Di dalam dunia pendidikan, penilaian mempunyai dua makna, yang pertama penilaian dalam arti asesmen dan yang kedua penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen berarti juga tes. Pada artikel kali ini kita akan membahas jenis-jenis penilaian dan fungsinya.
Tes seleksi dan fungsinya
Sesuai dengan namanya tes seleksi dipakai untuk menyeleksi calon peserta yang memenuhi syarat untuk mengikuti suatu program. Misalnya di sebuah akademi tinggi diadakan penerimaan mahasiswa gres dari kuota sebanyak 200 mahasiswa ternyata yang daftar ada 300 mahasiswa, maka dilakukanlah tes seleksi untuk menentukan calon mahasiswa yang diterima.
Contoh yang lainnya, sebuah perusahaan membutuhkan seorang manajer. Dari lamaran yang masuk ada 10 orang yang memenuhi kualifikasi secara administratif. Maka Untuk menentukan siapa yang layak menjadi manajer dilakukanlah tes seleksi.
style="display:block; text-align:center;"
data-ad-layout="in-article"
data-ad-format="fluid"
data-ad-client="ca-pub-6307354426047998"
data-ad-slot="8535325794">
Pada dasarnya interpretasi hasil tes yang dipakai dalam tes seleksi ialah penilaian pola kriteria (PAK). Makara keberhasilan calon sanggup dinyatakan diterima atau tidak didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan. Tinggi rendahnya batas kriteria kelulusan ditentukan oleh instansi masing-masing. Jika dari hasil tes tertulis ternyata jumlah calon yang lulus lebih banyak dari gugusan yang tersedia maka seleksi berikutnya dilakukan dengan memakai pendekatan pola norma (PAN) atau dengan kata lain dilakukan perangkingan.
Dengan cara Inilah kita akan menentukan calon terbaik sesuai dengan jumlah gugusan yang tersedia. Seleksi berjenjang inilah yang memungkinkan kita sanggup menghasilkan calon terbaik. Tetapi kadang kala kita dihadapkan pada situasi dan kondisi dimana gugusan atau lowongan tersebut harus terisi sementara dari hasil tes seleksi tidak ada calon yang berhasil memenuhi kriteria kelulusan yang telah ditetapkan.
Dalam kondisi ibarat ini maka interpretasi hasil tes harus dilakukan dengan memakai pendekatan penilaian pola norma (PAN). Artinya kita harus menentukan calon terbaik dari pelamar yang ada supaya gugusan tersebut terisi. Tentu bila masalah ini yang terjadi maka kita tidak sanggup memperoleh calon terbaik yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Langkah selanjutnya untuk memperbaiki kualitas calon yang kurang baik maka dilakukanlah banyak sekali pengayaan. Misalnya sang calon kurang baik bahasa Inggrisnya maka pimpinan perusahaan bisa meminta calon manajer tersebut untuk mengikuti kursus bahasa Inggris.
Namun sebaliknya bila yang didapat ialah calon terbaik maka kita akan mendapat input yang terbaik. Maka secara teori kegiatan atau pekerjaan akan berjalan dengan baik.
Tes penempatan dan fungsinya
Tes penempatan ialah suatu Jenis tes yang bertujuan menempatkan calon siswa sesuai dengan kemampuannya. Hal ini didasari pemikiran bahwa setiap siswa tidak mempunyai kecepatan berguru yang sama. Jika mereka disatukan dalam satu kelas maka akan terjadi kesulitan dalam mengajar mereka.
Saat ini tes penempatan banyak dilakukan oleh kursus-kursus dan bimbingan berguru atau bimbel. Misalnya dalam kursus bahasa Inggris, siswa yang sangat kurang kemampuan bahasa Inggrisnya akan ditempatkan di level paling dasar atau basic level. Yang kemampuan bahasa Inggrisnya tingkat menengah akan ditempatkan di kelas intermediate level. Dan yang kemampuan bahasa Inggrisnya sudah elok akan ditempatkan di kelas Advance level.
Lalu bagaimana di sekolah formal? Saat ini di sekolah formal contohnya di sekolah dasar (SD), satu kelas diisi oleh siswa dengan bermacam-macam kemampuan dan kecepatan berguru yang berbeda. Sehingga guru harus pandai-pandai mengatur taktik pembelajaran yang sempurna untuk melayani para siswa dengan bermacam-macam kemampuan awal yang berbeda.
Beberapa tahun yang kemudian marak sekolah yang mengadakan kegiatan kelas unggulan. Program ini dilatarbelakangi pemikiran ibarat yang dijelaskan diatas, bahwa setiap siswa mempunyai kecepatan berguru yang berbeda. Ada pula sekolah yang menerapkan kelas akselerasi.
Perbedaannya adalah, kelas unggulan tidak mengurangi waktu penyelesaian studi tetapi hanya mengelompokkan siswa yang pandai dengan yang pintar. Sedangkan kelas akselerasi bisa memotong waktu penyelesaian studi.
Pretest-posttest dan fungsinya
Pre test dilaksanakan sebelum proses pembelajaran dimulai. Dari mana materi pre test diambil? Tentu diambil dari seluruh materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Butir soal untuk pre test dikembangkan untuk mengukur semua tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rencana pembelajaran. Mungkin kesimpulan sementara yang muncul ialah hasil tes niscaya buruk alasannya ialah siswa diberi pertanyaan perihal materi yang belum pernah diajarkan.
Secara logika hasil pretest akan rendah tetapi anda harus ingat, pada ketika ini gosip perihal apapun sanggup diterima anak melalui banyak sekali jenis media baik cetak maupun elektronik. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan sebagian materi yang akan anda ajarkan di sekolah telah dikuasai dengan baik oleh siswa. Jika itu yang terjadi maka anda tidak perlu mengulang lagi mengajarkan materi yang sudah dikuasai oleh siswa Tetapi lebih baik anda memulai proses pembelajaran dengan materi yang memang belum dipahami oleh siswa.
Apa yang akan terjadi bila hasil tes yang anda lakukan karenanya ialah lebih banyak didominasi siswa sudah memahami sebagian dari materi yang akan anda ajarkan. Jika anda tetap mengajarkan konsep yang telah dikuasai dengan baik oleh siswa maka besar kemungkinan siswa tidak akan memperhatikan lagi apa yang anda jelaskan dan Mereka cenderung menciptakan kegaduhan yang tentu saja akan sangat mengganggu proses pembelajaran. Disamping itu akan terjadi pemborosan dalam memanfaatkan waktu pembelajaran.
Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran yang telah anda lakukan maka pada tamat proses pembelajaran Anda sanggup melaksanakan postest. Agar anda sanggup mengetahui apakah pembelajaran yang anda lakukan berhasil atau tidak maka tes yang Anda gunakan pada ketika pretest dan posttest harus mengukur tujuan yang sama. Tes yang dipakai pada ketika pre-test dan post-test sebaiknya bukan tes yang sama tetapi tes yang mengukur tujuan pembelajaran yang sama. Artinya, soalnya berbeda tetapi tujuan yang diukur sama.
Tes diagnostik dan fungsinya
Tes diagnostik merupakan tes yang dilaksanakan untuk mengetahui penyebab kesulitan berguru yang dialami siswa. Materi tes diagnostik dikembangkan dari konsep-konsep yang sulit dipahami siswa. Dari hasil tes diagnostik maka guru akan sanggup menemukan kesulitan berguru yang dialami siswa. Selanjutnya guru harus berupaya untuk mencari penyebab kesulitan berguru tersebut dan sekaligus berupaya untuk mencari cara menghilangkan penyebab kesulitan berguru itu sehingga siswa sanggup berhasil menuntaskan semua kegiatan pembelajaran yang telah anda rancang.
Kesulitan berguru yang dialami oleh siswa dalam mempelajari suatu konsep atau suatu mata pelajaran akan berbeda antara siswa satu dengan siswa yang lain. Makara walaupun tes diagnostik dilakukan secara klasikal (di dalam kelas) tetapi terapi atau tindak lanjut dari setiap kesulitan tersebut harus tetap dilakukan secara Individual.
Jika dari hasil tes diagnostik ditemukan ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari suatu mata pelajaran atau suatu konsep maka guru harus melacak apa yang menjadi penyebab kesulitan berguru tersebut, apakah kesulitan tersebut bersumber dari dalam diri siswa atau bersumber dari luar diri siswa.
Langkah-langkah dalam mencari penyebab kesulitan berguru siswa:
- Mencari gosip apakah selama ini siswa tersebut mempunyai kendala fisik dan psikis selama mengikuti proses pembelajaran. Jika tidak ada kendala yang berarti dari sisi fisik dan psikis mata pencaharian penyebab mulai diarahkan kepada proses pembelajaran yang telah dilakukan.
- Ketidaktepatan guru dalam menentukan metode. Untuk menjelaskan suatu konsep maka guru harus memakai metode yang sempurna dengan konsep tersebut.
Tes formatif dan fungsinya
Tes formatif merupakan salah satu jenis tes yang diberikan kepada siswa sehabis siswa menuntaskan satu potongan atau satu unit pembelajaran. Tes formatif tidak dimaksudkan untuk memberi nilai kepada siswa tetapi hasil tes formatif akan dimanfaatkan untuk memonitor apakah proses pembelajaran yang gres saja dilaksanakan telah sanggup mencapai tujuan pembelajaran atau belum.
Jika dari hasil tes formatif ternyata terdapat sejumlah tujuan pembelajaran yang belum sanggup dikuasai siswa maka guru harus mencari penyebab. Apakah penyebab tersebut lantaran adanya duduk masalah pada diri siswa atau lantaran proses pembelajaran yang membosankan.
Setelah sanggup menentukan penyebabnya maka guru harus mengulang kembali proses pembelajaran tersebut baik itu secara individual atau secara klasikal hingga siswa sanggup mencapai tujuan pembelajaran. Yang menjadi fokus dalam pelaksanaan tes formatif ialah ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Tes formatif tidak dimaksudkan untuk mencari penyebab kesulitan berguru siswa. Karena tes untuk mencari penyebab kesulitan berguru siswa ialah tes diagnostik.
Tes sumatif dan fungsinya
Tes sumatif ialah jenis Tes yang dilakukan pada tamat pembelajaran dan dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menguasai keseluruhan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Butir soal yang dikembangkan pada tes sumatif harus sanggup mengukur ketercapaian seluruh tujuan pembelajaran yang ditetapkan.
Tujuan pembelajaran pada setiap mata pembelajaran niscaya berbeda. Misalnya tujuan pembelajaran matematika tentunya akan berbeda dengan tujuan pembelajaran PKN. Demikian juga tujuan pembelajaran IPA akan berbeda dengan tujuan pembelajaran.
Berikut ini saya paparkan manfaat dari tes sumatif:
- Bagi siswa: Tes sumatif bagi siswa akan sanggup mendorong siswa tersebut untuk meningkatkan prestasi nya. Dengan demikian ia akan berusaha untuk berguru lebih keras supaya pada semester berikutnya prestasinya akan lebih baik dari sekarang.
- Bagi guru: Hasil tes sumatif akan menjadi dasar bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran yang akan datang.
- Bagi orang tua: Orang bau tanah akan memperoleh citra perihal prestasi anaknya di sekolah lewat tes sumatif. Untuk itu maka para guru hendaknya selalu membagikan hasil tes sumatif kepada siswa supaya hasil tersebut sanggup disampaikan kepada orang tuanya.
- Kepala sekolah: Hasil tes sumatif akan sanggup dimanfaatkan oleh kepala sekolah untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran yang ditetapkan dalam kurikulum
Lebih jauh lagi hasil tes sumatif sanggup dipakai sebagai pembanding dengan hasil serupa yang dicapai oleh sekolah lain.
Demikian paparan singkat mengenai jenis-jenis penilaian dan fungsinya. Mari kita berdiskusi dengan cara mengisi komentar di kolom komentar. Terima kasih.
Referensi: dari bebrbagai sumber, diantaranya modul “Evaluasi Pembelajaran di SD” Universitas Terbuka
Sumber aciknadzirah.blogspot.com
EmoticonEmoticon