Showing posts with label Evaluasi. Show all posts
Showing posts with label Evaluasi. Show all posts

Friday, March 2, 2018

√ Perbedaan Antara Tes, Pengukuran, Asesmen, Dan Evaluasi

 


Sesuai janji saya memiliki blog gres semoga saya bisa menulis tiap hari √ Perbedaan antara Tes, Pengukuran, Asesmen, dan Evaluasi
Ilustrasi Pembelajaran (dok. pribadi)

Sesuai janji saya memiliki blog gres semoga saya bisa menulis tiap hari, maka hal itu berusaha saya wujudkan. Kemarin ialah pertama kalinya saya menciptakan artikel di blog ini, dan dan ini hari kedua saya menciptakan artikel. Dengan kata lain ini ialah artikel kedua saya. Pada artikel kedua ini saya ingin membahas tema perihal perbedaan tes, pengukuran, asesmen,dan evaluasi. Masih banyak yang gundah mengenai perbedaan 4 istilah tersebut.


Pengertian tes ialah : seperangkat soal atau kiprah yang direncanakan untuk memperoleh info mengenai kemampuan kognitif siswa. Dengan kata lain tes ialah seperangkat pertanyaan yang memerlukan tanggapan benar atau salah. Yang termasuk ke dalam kelompok tes ialah tes objektif atau biasa kita kenal tes pilihan ganda, dan tes uraian. Sedangkan yang termasuk kelompok bukan tes (non tes) antara lain ialah pedoman pengamatan, skala rating, skala sikap, dan pedoman wawancara.







Sekarang kita bahas lebih lanjut mengenai pengertian dan perbedaan pengukuran, asesmen dan evaluasi.


Pengukuran ialah kegiatan penentuan angka dari suatu objek yang diukur. Sebagai ilustrasi, seorang guru yang memperlihatkan tes kepada siswanya, maka langkah selanjutnya ialah melaksanakan pengukuran dengan cara memberi skor pada hasil tes para siswanya. Namun angka yang merupakan hasil dari pengukuran itu belum memiliki makna, asesmen lah nanti yang akan memperlihatkan makna pada angka-angka tersebut.


Pemberian skor atau penentuan angka ini merupakan suatu upaya untuk menggambarkan karakteristik suatu objek. Untuk sanggup menghasilkan angka (yang merupakan hasil pengukuran) maka diharapkan alat ukur.


Dalam melaksanakan pengukuran kita harus berupaya semoga kesalahan pengukurannya sekecil mungkin. Untuk itu diharapkan alat ukur yang sanggup menghasilkan hasil pengukuran yang valid dan reliabel. Jika dalam melaksanakan pengukuran kita banyak melaksanakan kesalahan maka hasil pengukurannya tidak sanggup menggambarkan skor yang sesungguhnya dari objek yang kita ukur.


Asesmen ialah kegiatan untuk mengumpulkan info hasil berguru siswa yang diperoleh dari aneka macam jenis tagihan dan mengolah info tersebut untuk menilai hasil berguru siswa dan perkembangan berguru siswa. Dengan kata lain asesmen ialah kegiatan lanjutan dari pengukuran. Agar memudahkan pemahaman kita, mari kita cermati gambaran berikut ini. Pak Tono ialah seorang guru SD, pada suatu hari pak Tono memperlihatkan tes kepada para siswanya. Setelah selesai tes, Pak Tono pun mengusut hasil tes nya. Skornya bervariasi, ada yang mendapat 100, 90, 75, bahkan ada yang mendapat 30. Nah angka-angka tersebut ialah skor hasil tes siswa Pak Tono, tapi gres berupa angka belum memperlihatkan makna apapun. Untuk sanggup makna dari hasil tes tersebut Pak Tono harus melaksanakan asesmen. Setelah melaksanakan asesmen Pak Tono mengetahui bahwa siswa yang berada di atas KKM gres separuh dari jumlah seluruh siswanya.


Sedangkan pengertian evaluasi ialah penilaian keseluruhan kegiatan pendidikan mulai dari perencanaan suatu kegiatan substansi pendidikan termasuk kurikulum dan penilaian (asesmen) serta pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru administrasi pendidikan, dan sebagainya. Evaluasi juga bisa dilakukan untuk menilai keberhasilan sebuah metode atau proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada suatu waktu.


Jika kita bicara asesmen dan penilaian dalam pembelajaran maka lingkup asesmen hanya pada individu siswa dalam kelas sedangkan lingkup penilaian ialah seluruh komponen dalam kegiatan pembelajaran tersebut.


Kedudukan Tes, Pengukuran, Asesmen, dan Evaluasi


Lalu dimana kedudukan penilaian terhadap 4 istilah di atas (tes, pengukuran, asesmen dan evaluasi) ? Dalam dunia pendidikan memang terdapat dua pengertian perihal penilaian yaitu penilaian dalam arti asesmen dan penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh info pencapaian hasil berguru dan kemajuan berguru siswa serta mengefektifkan Penggunaan info tersebut untuk mencapai tujuan pendidikan. Dedangkan penilaian dalam arti penilaian merupakan suatu kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan suatu sistem pendidikan secara keseluruhan. Jadi, istilah penilaian bisa bermakna “asesmen” dan juga bisa bermakna “evaluasi”.


Sekarang mari kita bahas perbedaan antara tes, pengukuran, asesmen dan evaluasi. Mari cermati gambaran berikut ini. Pak Rudi ialah seorang guru matematika. Setiap selesai pembelajaran matematika Pak Rudi selalu memperlihatkan tes kepada siswa-siswi nya. Tes ialah alat ukur untuk mengetahui hasil berguru siswa terhadap pembelajaran matematika yang diajarkan oleh Pak Rudi. Setelah selesai tes Pak Rudi mengusut hasil tes tersebut dan memperlihatkan skor terhadap hasil tes. Skor-skor Inilah yang disebut sebagai hasil pengukuran. Setelah beberapa kali tes maka akan terkumpul data data hasil pengukuran. Kumpulan data tersebut bisa dianalisis untuk menarik kesimpulan perihal perkembangan berguru matematika siswa. Kegiatan Inilah yang disebut dengan asesmen.


Jadi untuk melaksanakan asesmen Pak Rudi memerlukan alat ukur yaitu tes, hasil pengukuran, dan penyimpulan dari data-data hasil pengukuran. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh Pak Rudi ialah melaksanakan penilaian terhadap proses pembelajaran, untuk mengetahui apakah proses pembelajaran yang dilakukan oleh Pak Rudi sudah manis atau masih perlu banyak perbaikan. Untuk bisa melaksanakan penilaian tersebut tentu pak Rudi butuh tiga komponen sebelumnya yaitu tes, pengukuran, dan asesmen.


Sampai disini sudah paham mengenai perbedaan tes, pengukuran, asesmen, dan evaluasi? Untuk lebih memahami lagi, mari cermati gambar dibawah ini:


Sesuai janji saya memiliki blog gres semoga saya bisa menulis tiap hari √ Perbedaan antara Tes, Pengukuran, Asesmen, dan Evaluasi
Perbedaan Tes, Pengukuran, Asesmen, dan Evaluasi (dok. pribadi, difoto dari modul Evaluasi UT)

Demikianlah goresan pena saya kali ini mengenai perbedaan tes, pengukuran, asesmen,dan evaluasi. Semoga bermanfaat. Dimohon masukan dan kritikannya terhadap goresan pena saya ini pada kolom komentar di bawah. Terima kasih.


Catatan: rujukan dari modul Evaluasi Pembelajaran UT dengan beberapa perubahan.


Update: Artikel ini ada lanjutannya. Silakan menyimak lanjutan dari artikel ini dengan cara klik disini.



Sumber aciknadzirah.blogspot.com

√ Jenis-Jenis Evaluasi Dan Fungsinya

Artikel kali ini masih dalam ruang lingkup Evaluasi √ Jenis-jenis Penilaian dan Fungsinya
Ilustrasi Siswa sedang mengerjakan Tes (Dok. Pribadi)

Artikel kali ini masih dalam ruang lingkup Evaluasi. Ini goresan pena ke 2 saya mengenai Evaluasi, yang pertama bisa anda baca disini. Di dalam dunia pendidikan, penilaian mempunyai dua makna, yang pertama penilaian dalam arti asesmen dan yang kedua penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen berarti juga tes. Pada artikel kali ini kita akan membahas jenis-jenis penilaian dan fungsinya.


Tes seleksi dan fungsinya


Sesuai dengan namanya tes seleksi dipakai untuk menyeleksi calon peserta yang memenuhi syarat untuk mengikuti suatu program. Misalnya di sebuah akademi tinggi diadakan penerimaan mahasiswa gres dari kuota sebanyak 200 mahasiswa ternyata yang daftar ada 300 mahasiswa, maka dilakukanlah tes seleksi untuk menentukan calon mahasiswa yang diterima.


Contoh yang lainnya, sebuah perusahaan membutuhkan seorang manajer. Dari lamaran yang masuk ada 10 orang yang memenuhi kualifikasi secara administratif. Maka Untuk menentukan siapa yang layak menjadi manajer dilakukanlah tes seleksi.



style="display:block; text-align:center;"
data-ad-layout="in-article"
data-ad-format="fluid"
data-ad-client="ca-pub-6307354426047998"
data-ad-slot="8535325794">




Pada dasarnya interpretasi hasil tes yang dipakai dalam tes seleksi ialah penilaian pola kriteria (PAK). Makara keberhasilan calon sanggup dinyatakan diterima atau tidak didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan. Tinggi rendahnya batas kriteria kelulusan ditentukan oleh instansi masing-masing. Jika dari hasil tes tertulis ternyata jumlah calon yang lulus lebih banyak dari gugusan yang tersedia maka seleksi berikutnya dilakukan dengan memakai pendekatan pola norma (PAN) atau dengan kata lain dilakukan perangkingan.


Dengan cara Inilah kita akan menentukan calon terbaik sesuai dengan jumlah gugusan yang tersedia. Seleksi berjenjang inilah yang memungkinkan kita sanggup menghasilkan calon terbaik. Tetapi kadang kala kita dihadapkan pada situasi dan kondisi dimana gugusan atau lowongan tersebut harus terisi sementara dari hasil tes seleksi tidak ada calon yang berhasil memenuhi kriteria kelulusan yang telah ditetapkan.


Dalam kondisi ibarat ini maka interpretasi hasil tes harus dilakukan dengan memakai pendekatan penilaian pola norma (PAN). Artinya kita harus menentukan calon terbaik dari pelamar yang ada supaya gugusan tersebut terisi. Tentu bila masalah ini yang terjadi maka kita tidak sanggup memperoleh calon terbaik yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Langkah selanjutnya untuk memperbaiki kualitas calon yang kurang baik maka dilakukanlah banyak sekali pengayaan. Misalnya sang calon kurang baik bahasa Inggrisnya maka pimpinan perusahaan bisa meminta calon manajer tersebut untuk mengikuti kursus bahasa Inggris.


Namun sebaliknya bila yang didapat ialah calon terbaik maka kita akan mendapat input yang terbaik. Maka secara teori kegiatan atau pekerjaan akan berjalan dengan baik.


Tes penempatan dan fungsinya


Tes penempatan ialah suatu Jenis tes yang bertujuan menempatkan calon siswa sesuai dengan kemampuannya. Hal ini didasari pemikiran bahwa setiap siswa tidak mempunyai kecepatan berguru yang sama. Jika mereka disatukan dalam satu kelas maka akan terjadi kesulitan dalam mengajar mereka.


Saat ini tes penempatan banyak dilakukan oleh kursus-kursus dan bimbingan berguru atau bimbel. Misalnya dalam kursus bahasa Inggris, siswa yang sangat kurang kemampuan bahasa Inggrisnya akan ditempatkan di level paling dasar atau basic level. Yang kemampuan bahasa Inggrisnya tingkat menengah akan ditempatkan di kelas intermediate level. Dan yang kemampuan bahasa Inggrisnya sudah elok akan ditempatkan di kelas Advance level.


Lalu bagaimana di sekolah formal? Saat ini di sekolah formal contohnya di sekolah dasar (SD), satu kelas diisi oleh siswa dengan bermacam-macam kemampuan dan kecepatan berguru yang berbeda. Sehingga guru harus pandai-pandai mengatur taktik pembelajaran yang sempurna untuk melayani para siswa dengan bermacam-macam kemampuan awal yang berbeda.


Beberapa tahun yang kemudian marak sekolah yang mengadakan kegiatan kelas unggulan. Program ini dilatarbelakangi pemikiran ibarat yang dijelaskan diatas, bahwa setiap siswa mempunyai kecepatan berguru yang berbeda. Ada pula sekolah yang menerapkan kelas akselerasi.


Perbedaannya adalah, kelas unggulan tidak mengurangi waktu penyelesaian studi tetapi hanya mengelompokkan siswa yang pandai dengan yang pintar. Sedangkan kelas akselerasi bisa memotong waktu penyelesaian studi.


Pretest-posttest dan fungsinya


Pre test dilaksanakan sebelum proses pembelajaran dimulai. Dari mana materi pre test diambil? Tentu diambil dari seluruh materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Butir soal untuk pre test dikembangkan untuk mengukur semua tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rencana pembelajaran. Mungkin kesimpulan sementara yang muncul ialah hasil tes niscaya buruk alasannya ialah siswa diberi pertanyaan perihal materi yang belum pernah diajarkan.


Secara logika hasil pretest akan rendah tetapi anda harus ingat, pada ketika ini gosip perihal apapun sanggup diterima anak melalui banyak sekali jenis media baik cetak maupun elektronik. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan sebagian materi yang akan anda ajarkan di sekolah telah dikuasai dengan baik oleh siswa. Jika itu yang terjadi maka anda tidak perlu mengulang lagi mengajarkan materi yang sudah dikuasai oleh siswa Tetapi lebih baik anda memulai proses pembelajaran dengan materi yang memang belum dipahami oleh siswa.


Apa yang akan terjadi bila hasil tes yang anda lakukan karenanya ialah lebih banyak didominasi siswa sudah memahami sebagian dari materi yang akan anda ajarkan. Jika anda tetap mengajarkan konsep yang telah dikuasai dengan baik oleh siswa maka besar kemungkinan siswa tidak akan memperhatikan lagi apa yang anda jelaskan dan Mereka cenderung menciptakan kegaduhan yang tentu saja akan sangat mengganggu proses pembelajaran. Disamping itu akan terjadi pemborosan dalam memanfaatkan waktu pembelajaran.


Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran yang telah anda lakukan maka pada tamat proses pembelajaran Anda sanggup melaksanakan postest. Agar anda sanggup mengetahui apakah pembelajaran yang anda lakukan berhasil atau tidak maka tes yang Anda gunakan pada ketika pretest dan posttest harus mengukur tujuan yang sama. Tes yang dipakai pada ketika pre-test dan post-test sebaiknya bukan tes yang sama tetapi tes yang mengukur tujuan pembelajaran yang sama. Artinya, soalnya berbeda tetapi tujuan yang diukur sama.


Tes diagnostik dan fungsinya


Tes diagnostik merupakan tes yang dilaksanakan untuk mengetahui penyebab kesulitan berguru yang dialami siswa. Materi tes diagnostik dikembangkan dari konsep-konsep yang sulit dipahami siswa. Dari hasil tes diagnostik maka guru akan sanggup menemukan kesulitan berguru yang dialami siswa. Selanjutnya guru harus berupaya untuk mencari penyebab kesulitan berguru tersebut dan sekaligus berupaya untuk mencari cara menghilangkan penyebab kesulitan berguru itu sehingga siswa sanggup berhasil menuntaskan semua kegiatan pembelajaran yang telah anda rancang.


Kesulitan berguru yang dialami oleh siswa dalam mempelajari suatu konsep atau suatu mata pelajaran akan berbeda antara siswa satu dengan siswa yang lain. Makara walaupun tes diagnostik dilakukan secara klasikal (di dalam kelas) tetapi terapi atau tindak lanjut dari setiap kesulitan tersebut harus tetap dilakukan secara Individual.


Jika dari hasil tes diagnostik ditemukan ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari suatu mata pelajaran atau suatu konsep maka guru harus melacak apa yang menjadi penyebab kesulitan berguru tersebut, apakah kesulitan tersebut bersumber dari dalam diri siswa atau bersumber dari luar diri siswa.


Langkah-langkah dalam mencari penyebab kesulitan berguru siswa:



  1. Mencari gosip apakah selama ini siswa tersebut mempunyai kendala fisik dan psikis selama mengikuti proses pembelajaran. Jika tidak ada kendala yang berarti dari sisi fisik dan psikis mata pencaharian penyebab mulai diarahkan kepada proses pembelajaran yang telah dilakukan.

  2. Ketidaktepatan guru dalam menentukan metode. Untuk menjelaskan suatu konsep maka guru harus memakai metode yang sempurna dengan konsep tersebut.


Tes formatif dan fungsinya


Tes formatif merupakan salah satu jenis tes yang diberikan kepada siswa sehabis siswa menuntaskan satu potongan atau satu unit pembelajaran. Tes formatif tidak dimaksudkan untuk memberi nilai kepada siswa tetapi hasil tes formatif akan dimanfaatkan untuk memonitor apakah proses pembelajaran yang gres saja dilaksanakan telah sanggup mencapai tujuan pembelajaran atau belum.


Jika dari hasil tes formatif ternyata terdapat sejumlah tujuan pembelajaran yang belum sanggup dikuasai siswa maka guru harus mencari penyebab. Apakah penyebab tersebut lantaran adanya duduk masalah pada diri siswa atau lantaran proses pembelajaran yang membosankan.


Setelah sanggup menentukan penyebabnya maka guru harus mengulang kembali proses pembelajaran tersebut baik itu secara individual atau secara klasikal hingga siswa sanggup mencapai tujuan pembelajaran. Yang menjadi fokus dalam pelaksanaan tes formatif ialah ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan.


Tes formatif tidak dimaksudkan untuk mencari penyebab kesulitan berguru siswa. Karena tes untuk mencari penyebab kesulitan berguru siswa ialah tes diagnostik.


Tes sumatif dan fungsinya


Tes sumatif ialah jenis Tes yang dilakukan pada tamat pembelajaran dan dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menguasai keseluruhan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Butir soal yang dikembangkan pada tes sumatif harus sanggup mengukur ketercapaian seluruh tujuan pembelajaran yang ditetapkan.


Tujuan pembelajaran pada setiap mata pembelajaran niscaya berbeda. Misalnya tujuan pembelajaran matematika tentunya akan berbeda dengan tujuan pembelajaran PKN. Demikian juga tujuan pembelajaran IPA akan berbeda dengan tujuan pembelajaran.


Berikut ini saya paparkan manfaat dari tes sumatif:



  1. Bagi siswa: Tes sumatif bagi siswa akan sanggup mendorong siswa tersebut untuk meningkatkan prestasi nya. Dengan demikian ia akan berusaha untuk berguru lebih keras supaya pada semester berikutnya prestasinya akan lebih baik dari sekarang.

  2. Bagi guru: Hasil tes sumatif akan menjadi dasar bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran yang akan datang.

  3. Bagi orang tua: Orang bau tanah akan memperoleh citra perihal prestasi anaknya di sekolah lewat tes sumatif. Untuk itu maka para guru hendaknya selalu membagikan hasil tes sumatif kepada siswa supaya hasil tersebut sanggup disampaikan kepada orang tuanya.

  4. Kepala sekolah: Hasil tes sumatif akan sanggup dimanfaatkan oleh kepala sekolah untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran yang ditetapkan dalam kurikulum


Lebih jauh lagi hasil tes sumatif sanggup dipakai sebagai pembanding dengan hasil serupa yang dicapai oleh sekolah lain.


Demikian paparan singkat mengenai jenis-jenis penilaian dan fungsinya. Mari kita berdiskusi dengan cara mengisi komentar di kolom komentar. Terima kasih.


 


Referensi: dari bebrbagai sumber, diantaranya modul “Evaluasi Pembelajaran di SD” Universitas Terbuka



Sumber aciknadzirah.blogspot.com

Saturday, February 24, 2018

√ Keunggulan Dan Kelemahan Tes Objektif Dan Tes Uraian

 Sebelum kita ke pembahasan mengenai keunggulan dan kelemahan tes objektif dan tes uraian √ Keunggulan dan kelemahan tes objektif dan tes uraian
Ilustrasi tes

Ini yakni goresan pena ke-3 saya mengenai evaluasi pembelajaran. Sebelum kita ke pembahasan mengenai keunggulan dan kelemahan tes objektif dan tes uraian, Mari kita bahas mengenai perbandingan antara tes objektif dan tes uraian berikut ini.





    style="display:block; text-align:center;"
    data-ad-layout="in-article"
    data-ad-format="fluid"
    data-ad-client="ca-pub-6307354426047998"
    data-ad-slot="8535325794">



  1. Proses berpikir yang ingin diukur oleh tes objektif yakni semua jenjang proses berpikir Tetapi lebih sempurna dipakai untuk mengukur proses berpikir Ingatan, pemahaman, dan penerapan. Sedangkan proses berpikir yang ingin diukur oleh tes uraian yakni untuk mengukur proses berpikir analisis, sintesis, dan evaluasi.

  2. Cakupan bahan yang ditanyakan pada tes objektif sanggup menanyakan banyak bahan dalam satu waktu ujian (sampel bahan lebih banyak). Sedangkan cakupan bahan yang ditanyakan pada tes uraian hanya sanggup menanyakan sedikit bahan (sampel bahan lebih sedikit).

  3. Waktu penyusunan tes objektif memerlukan waktu cukup lama. Sedangkan waktu penyusunan tes uraian relatif singkat.

  4. Penyusunan Pertanyaan pada tes objektif relatif sukar. Sedangkan penyusunan Pertanyaan pada tes uraian relatif lebih gampang bila dibandingkan dengan tes objektif.

  5. Pengolahan hasil tes objektif sanggup diolah dengan cepat. Sedangkan pengolahan hasil tes uraian adanya unsur subjektivitas dalam pemeriksaan.


Keunggulan tes objektif


Sekarang mari kita bahas mengenai keunggulan tes objektif.



  1. Tes objektif sempurna dipakai untuk mengukur proses berpikir rendah hingga dengan sedang. Bukannya tes objektif tidak sanggup dipakai untuk mengukur proses berpikir tingkat tinggi menyerupai analisis, evaluasi, dan kreasi tetapi untuk menulis future soal yang menyerupai itu memerlukan keterampilan tersendiri.

  2. Dengan memakai tes objektif mata semua atau sebagian besar bahan yang telah diajarkan sanggup ditanyakan ketika ujian.

  3. Dengan dengan memakai tes objektif maka derma skor pada setiap siswa sanggup dilakukan dengan cepat sempurna dan konsisten lantaran tanggapan yang benar untuk setiap butir soal sudah terang dan pasti. Kita juga sanggup memakai kemudahan komputer untuk memproses hasil ujian sehingga kecepatan, ketepatan, dan kekonsistenan nya sanggup lebih terjamin.

  4. Dengan tes objektif khususnya pilihan ganda, akan memungkinkan untuk dilakukan analisis butir soal. Dari hasil analisis butir soal maka akan sanggup diperoleh gosip perihal karakteristik setiap butir soal menyerupai tingkat kesukaran, daya beda, efektivitas pengecoh, serta reliabilitasnya.

  5. Tingkat kesukaran butir soal sanggup dikendalikan. Dengan memakai tes objektif khususnya pilihan ganda maka kita sanggup mengendalikan tingkat kesukaran butir soal hanya dengan mengubah homogenitas alternatif jawaban.

  6. Informasi yang diperoleh dari tes objektif lebih kaya. Jika tes objektif di konstruksi dengan baik maka kita akan memperoleh gosip yang banyak dari Respon yang diberikan oleh siswa. Setiap respon siswa terhadap setiap alternatif tanggapan akan memperlihatkan gosip kepada kita perihal penguasaan kognitif siswa terhadap bahan yang diujikan. Dengan demikian kita sanggup mengetahui kemampuan dan kelemahan siswa.


Kelemahan tes objektif


Disamping memiliki keunggulan, tes objektif juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan antara lain:



  1. Kebanyakan tes objektif hanya bisa mengukur proses berpikir rendah. Walaupun tujuan pembelajaran yang akan diukur sesungguhnya lebih tinggi dari sekedar ingatan atau pemahaman. Hal ini semata-mata bukan lantaran tes objektif tidak sanggup dipakai untuk mengukur proses berpikir yang lebih tinggi dari sekedar ingatan atau pemahaman Tetapi lebih disebabkan oleh penulis soal yang belum sanggup menulis tes objektif yang mengukur proses berpikir tinggi.

  2. Membuat pertanyaan tes objektif yang baik lebih sukar daripada menciptakan pertanyaan tes uraian. Kesulitan dalam menciptakan tes objektif biasanya muncul di ketika menulis soal harus menciptakan alternatif tanggapan yang memenuhi syarat sebagai tes objektif yang baik, contohnya semua alternatif tanggapan harus homogen dan pengecoh menarik untuk dipilih. Oleh lantaran itu menciptakan tes obyektif yang baik memerlukan waktu yang lama.

  3. Kemampuan anak sanggup terganggu oleh kemampuannya dalam membaca dan menerka. Jika tes objektif dibentuk dengan kurang baik Misalnya susunan Bahasanya kurang gampang dimengerti oleh anak, maka maksud butir soal tersebut akan sulit dipahami oleh siswa. Jika hal ini terjadi maka kesalahan siswa dalam menjawab butir soal sanggup terjadi bukan lantaran siswa tidak memahami bahan yang ditanyakan tetapi lantaran siswa mengalami kesukaran dalam memahami kalimat dalam butir soal. Disamping itu kemampuan siswa juga sanggup dipengaruhi lantaran adanya unsur tebakan. Hal ini akan terjadi apabila siswa merasa ragu atau kehabisan waktu untuk mengerjakan soal.

  4. Siswa tidak sanggup mengorganisasikan idenya sendiri lantaran semua alternatif tanggapan untuk setiap pertanyaan sudah diberikan oleh penulis soal. Dalam hal ini siswa hanya sanggup mengingat hidup orang lain yaitu itu penulis soal.


Menyadari akan adanya kelemahan yang ada pada tes objektif Maka sebagai seorang guru kita harus berupaya untuk meminimalkan kelemahan tersebut. Berbagai upaya yang sanggup ditempuh untuk meminimalkan kelemahan tes objektif antara lain sebagai berikut.



  1. Upaya untuk mengatasi supaya butir soal yang ditulis tidak cenderung mengukur proses berpikir rendah caranya yakni menciptakan soal harus selalu berorientasi pada kisi-kisi soal. Tulislah butir soal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan diukur.

  2. Upaya untuk mengatasi lamanya waktu penulisan butir soal yakni dengan cara menguasai bahan yang baik dan latihan menciptakan soal yang terus-menerus maka Masalah ini tidak akan menjadi kendala lagi. Semua butir soal yang telah ditulis dan diujikan sebaiknya tidak dibuang tetapi terus dikumpulkan dalam suatu kumpulan butir soal.

  3. Upaya untuk mengatasi supaya kemampuan siswa tidak terganggu oleh kemampuan membaca dan menerka, caranya yakni dengan menulis butir soal yang baik sesuai dengan kaidah penulisan butir soal objektif yang telah ditentukan. Sedangkan untuk mengatasi duduk perkara tebakan sanggup diatasi dengan memperbanyak jumlah alternatif tanggapan menjadi 4 atau 5. Dengan bertambahnya jumlah alternatif tanggapan maka kemungkinan menebak akan semakin kecil.

  4. Dengan tes objektif siswa tidak sanggup mengemukakan wangsit yang sendiri tetapi harus mengikuti wangsit orang lain dalam hal ini wangsit penulisan. Caranya yakni dengan memakai tes uraian dan objektif secara bergantian selama proses penilaian hasil belajar.


Keunggulan tes uraian



  1. Tepat dipakai untuk mengukur proses berpikir tinggi. Ini artinya kalau tujuan pembelajaran yakni mengajarkan proses berpikir tinggi maka untuk mengukurnya akan lebih sempurna bila memakai tes uraian. Tentu saja dengan aksesori pertimbangan bahwa jumlah siswa kita tidak terlalu banyak. Jika jumlah siswa kita terlalu banyak maka kita akan menghadapi kesulitan pada ketika menyidik hasil ujian.

  2. Tepat dipakai untuk mengukur hasil mencar ilmu yang kompleks yang tidak sanggup diukur dengan tes objektif. Dapatkah keterampilan menulis, kemampuan dalam menghasilkan, mengorganisasi dan mengekspresikan wangsit atau gagasan, serta kemampuan dalam menciptakan rancangan penelitian diukur dengan tes objektif? Inilah Salah satu keunggulan tes uraian yang tidak dimiliki oleh tes objektif. Jika kita memiliki tujuan pembelajaran yang menyerupai ini maka kita tidak sanggup mengukurnya dengan memakai tes objektif tetapi kita harus mengukurnya dengan memakai tes uraian walaupun jumlah siswanya banyak.

  3. Waktu yang dipakai untuk menulis satu set tes uraian untuk satu waktu ujian lebih cepat daripada waktu yang dipakai untuk menulis satu set tes objektif.



Sumber gambar: ssbcrack.com



Sumber aciknadzirah.blogspot.com