Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ada empat keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis (Depdiknas, 2006: 22). Keempat keterampilan tersebut satu dengan yang lainnya saling berkaitan melalui hukum yang teratur. Umumnya keterampilan menyimak mendahului keterampilan berbicara kemudian keterampilan membaca dan terakhir keterampilan menulis. Hal ini sejalan pendapat (Tarigan: 1985) yang menyampaikan bahwa, secara umum keterampilan menyimak dan berbicara dimulai usia pra sekolah sedangkan keterampilan membaca dan menulis setelah memasuki dingklik sekolah.
Memiliki kemampuan menulis tentu saja memungkinkan insan mengkomunikasikan ide, penghayatan dan pengalaman kepada orang lain. Kemampuan menulis ini dimiliki melalui latihan dan bimbingan yang intensif yang sudah mesti dilatihkan di sekolah dasar.
Menulis yakni menurunkan, menirukan atau melukiskan lambing-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain tersebut sanggup membaca lambing-lambang grafik tersebut, sehingga mereka sanggup memahami bahasa dan citra grafik itu (Tarigan, 1985: 2). hal ini sejalan dengan Aburrahman dan Waluyo (2000: 23) bahwa, menulis yakni penggambaran visual perihal pikiran, perasaan, dan wangsit dengan memakai bahasa tulis untuk keperluan komunikasi atau memberikan pesan tertentu.
Pengertian menulis juga dikemukakan oleh Suparno dan Yunus (2007: 4) dinyatakan bahwa, menulis yakni acara memberikan pesan dengan memakai sebagai goresan pena sebagai medianya.
Dari beberapa pendapat diatas memperlihatkan bahwa dengan goresan pena sanggup terjadi komunikasi antara penulis dan pembaca, hal ini sanggup terjadi apabila penulis dan pembaca memahami lambing-lambang grafik yang dipergunakan untuk menulis tersebut. Misalnya seseorang sanggup dikatakan sedang menulis abjad latin kalau seseorang tersebut memahami lambang, grafik dari abjad latin tersebut, demikian pula seseorang sanggup dikatakn sedang menulis abjad arab kalau orang tersebut memahami lambang dan grafik dari abjad arab. Dalam hal ini seseorang tidak sanggup dikatakan sedang menulis abjad latin atau abjad arab kalau orang tersebut tidak memahami lambang, gafik dari kedua abjad tersebut.
Dengan demikian jelaslah antara menulis dan melukis lambing-lambang grafik sangat berbeda. Menurut Tarigan (198: 24) bahwa:
“Seseorang menulis bukan hanya melukiskan lambang-lambang gafik bahasa tertentu tetapi orang tersebut harus mamahami makna dari lambang-lambang grafik tersebut. Sedangkan orang yang melukiskan lambang-lambang grafik tidak dituntut harus memahami arti dari lambing-lambang grafik yang dilukiskannya, lantaran lukisan bukan untuk dibaca orang lain melainkan untuk dinikmati keindahannya”.
1. Tujuan Menulis
Abdurrahman dan Waluyo (2000: 223) menyatakan bahwa, tujuan menulis siswa di sekolah dasar untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagaian besar tugas-tugas yang dibeikan di sekolah dengan impian melatih keterampilan berbahasa dengan baik. Graves (dalam Akhadia, 1991 : 14-15) menyatakan bahwa, dengan menguasai keterampilan menulis siswa dapat: (a) meningkatakn kecerdasannya, (b) membuatkan daya inisiatif dan keatif, (c) menumbuhkan keberanian dan (d) sanggup mendorong motivasi anak untuk mencari dan menemukan infomasi.
Dari beberapa tujuan menulis di atas, terlihat bahwa menulis yakni salah satu keterampilan yang mutlak harus dimiliki oleh anak sekolah dasar, sehabis keterampilan menyimak dan berbicara. Syafe’Ie (1989: 256) menyatakan bahwa, kemampuan dan keterampilan baca tulis harus segera dikuasai oleh siswa lantaran kemampuan dan keterampilan ini secara pribadi berkaitan dengan seluruh kegiatan proses belajar mengajar di sekolah dasar.
Menulis sanggup dipandang sebagai rangkaain acara yang fleksibel. Rangkaian acara yang fleksibel maksudnya mencakup pra menulis, menulis draf, revisi penyuntingan, dan publikasi atau pembahasan. Perkembangan anak dalam menulis permulaan juga terjadi secara perlahan-lahan, dalam tahap ini anak perlu menerima bimbingan dalam memahami dan menguasai cara mentransfer pikiran kedalam tulisan.
2. Tahap Perkembangan Tulisan.
Rofiudin, dkk (1988) mengidentifikasi adanya beberapa tahap perkembangan goresan pena yang dialami anak yaitu : prafonemik, fonemik, tahap awal, nama huruf, transisi dan menguasai.
1. Prafonemik.
Dalam tahap prafonemik anak sudah mengenali bentuk dan ukuran tetapi beliau belum sanggup menggabungkan abjad untuk menulis kata, beliau belum menguasai prinsip-prinsip fenotik yakni abjad mewakili bunyi-bunyi yang membentuk kata. Bimbingan yang perlu diberikan kepada anak yang berada pada tahap ini sanggup berupa dibacakan dengan keras-keras kata-kata yang bersahabat dengan dunia anak, membacakan judul atau label yang bersahabat dengan dunia anak, memperlihatkan rujukan penulisan abjad dan jelaskan bentuk serta ukurannya.
2. Fonemik.
Dalam tahap fonemik awal ini anak sudah mulai mengenal pinsip-prinsip fonetik, mengetahui cara kerja goresan pena tetapi keterampilan mengoperasikan prinsip fonetik masih sangat terbatas. Akibat terbatasnya keterampilan ini, anak seringkali menuliskan kata dengan satu atau dua abjad saja. Bimbingan yang sanggup diberikan pada tahap ini yakni mengajak anak memasuki dunia tulis (misalnya dengan memperkenalkan barang-barang cetak yang diminati anak), kegiatan bimbingan difokuskan pada memantapkan konsep kata dalam diri anak, tehnik yang ditempuh membacakan buku yang sangat bersahabat dengan dunia anak, fokuskan kepada kata-kata tertentu, beri kesempatan kepada anak untuk menuliskan apa saja yang ditulis, yakinkan bahwa anak sanggup menulis, hindarkan anak dari rasa takut menciptakan kesalahan dalam menulis.
3. Tahap Nama Huruf.
Dalam tahap nama abjad (menguasai huruf) anak mulai sanggup menerapkan prinsip fonetik, beliau sudah sanggup memakai huruf-huruf untuk mewakili bunyi-bunyi yang membentuk suatu kata. Tulisan yang dihasilkan sering kali belum sanggup dibaca, termaksud oleh anak itu sendiri. Bimbingan yanag sanggup diberikan kepada anak yang berada pada tahap ini yakni : latihan penulisan kata/kelompok, kata serta cara mengucapkannya, memperlihatkan contoh-contoh penulisan yang tidak sempurna dengan memanfaatkan kamus, mencatat kata-kata yang sering dijumpai dalam kegiatan membaca.
4. Tahap Transisi.
Dalam tahap transisi ini penguasaan anak terhadap sistem tata tulis semakin lengkap. Meskipun belum konsisten beliau sudah sanggup memakai ejaan dan tanda baca dalam menulis, khusunya pertolongan spasi antar kata. Bimbingan yang sanggup diberikan kepada anak dalam tahap ini difokuskan pada penguasaan pola dan sistem tata tulis, kegiatan bimbingan sanggup berupa memperkenalkan hukum tata tulis, cara mengucapkan kata, cara menulis, dan maknanya dalam konteks, menelaah kesalahan-kesalahan penulisan yang dilakaukan pada temannya.
5. Tahap Menguasai.
Dalam tahap ini anak sudah sanggup menerapkan dengan baik semua sistem tata tulis. Dari tahap perkembangan goresan pena ini Hastuti (1992 : 60) menyatakan bahwa: Persyaratan seseorang untuk mempunyai kemampuan menulis yakni (1) kesatuan gagasan yang harus dimiliki oleh calon penulis, (2) kemampuan menulis kalimat atau lebih cepatnya menulis kalimat dengan terperinci dan efektif (berdaya guna), (3) keterampilan menyusun paragraph atau alinea, (4) menguasai tehnik penulisan menyerupai tanda baca, (5) mempunyai sejumlah kata yang diperlukan.
3. Manfaat dan Peranan Menulis.
Kemampuan menulis permulaan mempunyai manfaat terutama pada kemampuan menulis lanjutan yang bekerjasama dengan proses berguru mengajar, manfaat tersebut antara lain :
a. Memperluas dan meningkatkan pertumbuhan kosa kata.
b. Meningkatakan kelancaran tulis menulis dan menyusun kalimat
c. Sebuah karangan pada hakikatnya bekerjasama bahasa dan kehidupan.
d. Kegiatan tulis menulis meningkatkan kemampuan untuk pengaturan dan pengorganisasian.
e. Mendorong calon penulis terbiasa membuatkan suatu gaya penulisan pribadi dan terbiasa mencari pengorganisasian yang sesuai dengan gagasannya sendiri.
Jadi menulis mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting dalam pengajaran berbahasa di sekolah dasar lantaran hanya dengan keterampilan menulislah para siswa akan bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, hal ini disebabkan lantaran keempat keterampilan berbahasa yaitu : menyimak, berbicara, membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang tidak sanggup dipisahkan satu sama lain, tetapi hanya sanggup dibedakan. Keterampilan yang satu, bergabung kepada keterampilan yang lainnya, contohnya seseorang sanggup berbicara lantaran ia bisa menyimak atau terampil membaca dan menulis demikian pula seseorang terampil menulis kalau terampil menyimak, berbicara dan membaca.
Apabila kita kaitkan keempat komponen keterampilan bebahasa dan tujuan kokurikuler pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar ternyata mempunyai kaitan yang sangat erat, oleh lantaran itu siswa sekolah dasar diharapkan menguasai keterampilan berbahasa secara lengkap. Tidak dikatakan siswa bisa berbahasa yang baik dan benar bila mereka hanya terampil menyimak, berbicara dan membaca, tetapi tidak terampil menulis. Jelaslah keterampilan menulis harus benar-benar diperhatikan di sekolah dasar lantaran hanya dengan cara itu kita sanggup mencetak para siswa sekolah dasar biar mempunyai kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dari kemampuan-kemampuan yang diharapkan itu selalu melalui proses yang panjang sebelum hingga pada tingkat bisa menulis. Siswa harus memulai dari tingkat awal, tingkat permulaan, mulai dari pengenalan lambang-lambang bunyi. Pengetahuan dan ketarampilan yang diperoleh pada tingkat permulaan pada pembelajaran menulis permulaan. Apabila dasar itu baik, maka diharapkan hasil pengembangan akan baik pula, dan apabila dasar itu kurang baik atau lamban akan sanggup diperkirakan hasil pengembangannya akan kurang baik pula. Mengingat hal itu, maka selayaknya pembelajaran menulis permulaan menerima perhatian yang mendalam dari guru. Dengan demikian bahwa pengajaran menulis di sekolah dasar merupakan salah satu komponen yang turut memilih dalam mencapai tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar terutama dalam perjuangan mengakibatkan siswa sekolah dasar mempunyai kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
EmoticonEmoticon