Sumber http://www.rijal09.com
Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL)Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu suatu pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk sanggup menemukan bahan yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan konkret sehingga mendorong siswa untuk sanggup menerapkannya dalam kehidupan mereka.Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses mencar ilmu diorientasikan pada proses pengalaman secara eksklusif dan siswa diharapkan dapat mencari dan menemukan sendiri bahan pelajaran. Kedua, CTL mendorong semoga siswa sanggup menemukan kekerabatan antara bahan yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Hal ini sangat penting bagi siswa lantaran bahan akan menjadi bermakna dan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan gampang dilupakan. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk sanggup menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa sanggup memahami bahan yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana bahan pelajaran itu sanggup mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari (Sanjaya, 2008).Kontekstualitas merupakan fenomena yang bersifat alamiah, tumbuh dan terus berkembang, serta bermacam-macam lantaran berkaitan dengan fenomena kehidupan sosial masyarakat. Dalam kaitannya dengan ini, maka pembelajaran intinya merupakan acara mengaktifkan, menyentuhkan, mempertautkan; menumbuhkan, mengembangkan, dan membentuk pemahaman melalui penciptaan kegiatan, pembangkitan penghayatan, internalisasi, proses inovasi balasan pertanyaan, dan rekonstruksi pemahaman melalui refleksi yang berlangsung secara dinamis. Sementara itu, belajar intinya merupakan proses menyadari sesuatu, memahami permasalahan, proses penyesuaian dan organisasi, proses asimilasi dan akomodasi, proses menghayati dan memikirkan, proses mengalami dan merefleksikan,dan proses menciptakan komposisi dan membuka ulang secara terbuka dan dinamis. Itulah sebabnya landasan pembelajaran kontekstual yaitu konsep konstruktivisme (Aryans, 2007).Program pembelajaran kontekstual memiliki prinsip dasar sebagai berikut:1. Belajar berbasis masalah (Problem Based Learning). Belajar bukanlah sekedar drill isu tetapi bagaimana memakai isu dan berpikir kritis dalam memecahkan kasus yang ada di dunia nyata.2. Pengajaran autentik (Authentic Instruction). Pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna, sesuai dengan kehidupan nyata.3. Belajar berbasis inquiri (Inquiry-Based Learning). Belajar bukanlah kegiatan mengkonsumsi melainkan kegiatan memproduksi dengan mengetahui apa yang menjadi kebutuhan, impian dan mencari tahu sendiri jawabannya.4. Belajar berbasis proyek / tugas terstruktur (Proyect-Based Learning). Belajar bukan sekedar menyerap hal kecil bertahap dalam waktu yang panjang, tetapi secara komprehensif/terpadu untuk mendapatkan banyak hal.5. Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning). Belajar harus didasarkan pada pengalaman dan bukan kata-kata semata. Belajar yaitu bekerja dan dikala orang bekerja, maka ia mencar ilmu banyak hal.6. Belajar jasa layanan (Service Learning). Belajar dengan menumbuhkan rasa percaya diri, merasa dibutuhkan, bekerja sama/menolong orang lain, dan dekat pada kegiatan di luar maupun di dalam kelas.7. Belajar kooperatif (Cooperatif Learning). Belajar melalui interaksi dengan teman-teman, mencar ilmu bersama akan menghasilkan prestasi lebih baik daripada setiap individu mencar ilmu sendiri-sendiri.Menurut Muslich (2009), setiap komponen utama Pembelajaran Kontekstual mempunyai karakteristik yang harus diperhatikan, yakni :1. KonstruktivismeKonstruktivisme yaitu proses membangun atau menyusun pengetahuan gres dalam struktur kognitif siswa menurut pengalaman. Pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta, konsep, dan kaidah yang siap dipraktikkan. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan tersebut terlebih dahulu dan memperlihatkan makna melalui pengalaman nyata. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang mempunyai kegunaan bagi dirinya, dan membuatkan ide-ide yang ada pada dirinya.2. Bertanya (Questioning)Belajar dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Bertanya sanggup dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Pada sisi lain, kenyataan memperlihatkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.3. Menemukan (Inquiry)Inkuiri yaitu proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan inovasi melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Proses inkuiri diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Melalui proses inkuiri yang sistematis, diharapkan siswa mempunyai sikap ilmiah, rasional, dan logis, yang kesemuanya itu dibutuhkan sebagai dasar pembentukan kreativitas.4. Masyarakat Belajar (Learning Community)Pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan mustahil sanggup dipecahkan sendirian, akan tetapi membutuhkan tunjangan orang lain. Kerja sama saling memberi dan mendapatkan sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Kerja sama itu sanggup dilakukan dalam aneka macam bentuk, baik dalam kelompok mencar ilmu secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil mencar ilmu sanggup diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, baik antarteman, antarkelompok, yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu, yang pernah mempunyai pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Sehingga dalam masyarakat mencar ilmu setiap orang bisa saling terlibat, bisa saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman.5. Pemodelan (Modelling)Pemodelan yaitu proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai pola yang sanggup ditiru oleh setiap siswa. Proses pemodelan, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi guru juga sanggup memanfaatkan siswa yang dianggap mempunyai kemampuan. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada hanya bercerita atau memperlihatkan klarifikasi kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya. Modelling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual, alasannya melalui modelling siswa sanggup terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang sanggup memungkinkan terjadinya verbalisme.6. Refleksi (Reflection)Refleksi yaitu proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau tragedi pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman mencar ilmu itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada hasilnya akan menjadi cuilan dari pengetahuan yang dimilikinya. Dengan memikirkan apa yang gres saja dipelajari, menelaah dan merespon semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memperlihatkan masukan atau saran jikalau diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang gres diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.7. Penilaian nyata (Authentic Assessment)Penilaian konkret (Authentic Assessment) yaitu proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan isu perihal perkembangan mencar ilmu yang dilakukan siswa. Penilaian ini dibutuhkan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar mencar ilmu atau tidak, apakah pengalaman mencar ilmu siswa mempunyai imbas positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul dikala atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. Oleh lantaran itu, tekanannya diarahkan kepada proses mencar ilmu bukan kepada hasilbelajar siswa, (Muslich, 2009).Pembelajaran kontekstual menekankan pada kemampuan menyajikan bahan dengan mengambil pendekatan dunia konkret siswa. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa. Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan siswa lainnya sesuai dengan skemata siswa (on going process of development), dengan demikian bagaimanapun sulitnya sebuah pembelajaran sanggup diatasi dengan mengkontekstualkan permasalahan dan mentransfernya ke dalam dunia konkret siswa. Oleh lantaran itu kemampuan mengkontekstualkan pelajaran harus dimiliki oleh seorang guru atau orang bau tanah dalam upaya merangsang daya ingat siswa.Dalam pembelajaran kontekstual, acara pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap perihal apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam acara tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, bahan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya. Dalam konteks itu, mekanisme atau acara yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi perihal apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan fundamental format antara acara pembelajaran konvensional dengan acara pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan acara untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.Menurut (Sudrajat, 2008), Pembelajaran Kontekstual sanggup diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan mencar ilmu lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini :1. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik2. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.3. Menciptakan masyarakat belajar.4. Menghadirkan model sebagai pola pembelajaran5. Melakukan refleksi di simpulan pertemuan6. Melakukan evaluasi yang bekerjsama dengan aneka macam cara
Thursday, November 1, 2018
√ Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Ctl)
Diterbitkan November 01, 2018
Artikel Terkait
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

EmoticonEmoticon