PERKEMBANGAN SOSIOEMOSIONAL ANAK
Ada sejumlah teori wacana perkembangan sosioemosional anak.
1. Teori ekologi Bronfenbrenner
Teori ekologi dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917) yang fokus utamanya yaitu pada konteks sosial di mana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak. .
Teori ekologi Bronfenbrenner terdiri dari lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal hingga ke dampak kultur yang lebih luas. Bronfenbrenner menyebut sistem tersebut sebagai berikut :
a. Mikrosistem yaitu setting. Dimana individu menghabiskan banyak waktu. beberapa konteks dalam sistem ini antara lain keluarga, sahabat sebaya, sekolah dan tetangga. Dalam mikrosistem ini, individu berinteraksi pribadi dengan orang tua, guru, sahabat seusia dan orang lain. Menurut Bronfenbrenner murid bukan akseptor pengalaman secara pasif didalam setting ini, tetapi murid yaitu orang yang berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain, dan membantu menkonstruksi setting tersebut.
b. Mesosistem yaitu kaitan antar mikrosistem. Contohnya, korelasi antara pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman disekolah, dan antara keluarga dan sahabat sebaya.Misalnya, salah satu mesosistem penting yaitu korelasi antara sekolah dan keluarga. Dalam sebuah studi terhadap seribu anak kelas delapan (atau setingkat kelas 3 Sekolah Menengah Pertama ke awal Sekolah Menengan Atas (Epstein, 1983). murid yang diberi kesempatan lebih banyak untuk berkomunikasi dan mengambil keputusan, entah itu di rumah atau di kelas, memperlihatkan inisiatif dan nilai akademik yang lebih baik.
Dalam studi mesosistem lainnya, murid Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengan Atas berpartisipasi dalam sebuah jadwal yang didesain untuk menghubungkan keluarga, teman, sekolah, dan orang renta (Cooper, 1995). target jadwal ini (yang dilakukan oleh sebuah unversitas) yaitu murid dari kalangan Latino dan Afrika-Amerika di keluarga kelas menengah kebawah. Para murid menyampaikan bahwa jadwal tersebut membantu mereka menjembatani kesenjangan antardunia sosial yang berbeda. Banyak murid dalam jadwal ini memandang sekolah dan lingkungan mereka sebagai konteks di mana mereka diperkirakan akan gagal dalam studi, menjadi hamil dan keluar dari sekolah, atau berperilaku nakal. Program ini memberi murid keinginan dan tujuan moral untuk melaksanakan “sesuatu yang baik bagi masyarakat anda”, ibarat bekerja di komunitas dan mengajak saudara untuk bersekolah. Kita akan membahasa lebih banyak wacana korelasi keluarga sekolah nanti.
c. Eksosistem terjadi ketika pengalaman di setting lain (dimana murid berperan aktif) memperngaruhi pengalaman murid dan guru dalam konteks mereka sendiri. Misalnya dewan sekolah dan dewan pengawas taman di dalam satu komunitas. Mereka memegang kiprah kuat dalam memilih kualitas sekolah, taman, kemudahan rekreasi, dan perpustakaan. Keputusan mereja bisa membantu atau menghambat perkembangan anak.
d. Makrosistem yaitu kultur yang lebih luas. Kultur yaitu istilah luas yang meliputi kiprah etnis dan faktor sosioekonomi dalam perkembangan anak. Kultur yaitu konteks terluas dimana murid dan guru tinggal, termasuk nilai dan moral istiadat masyarakat. Misalnya beberapa kultur di beberapa negara Islam menekankan pada kiprah gender tradisional dan pendidikannyaa mempromosikan dominasi pria. Kultur lain (seperti di AS) mendapatkan kiprah gender yang lebih bervariasi dan pendidikannya semakin mendukung nilai kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Salah satu aspek dari status sosiekonomi murid yaitu faktor perkembangan dalam kemiskinan. Kemiskinan sanggup memengaruhi perkembangan anak dan merusak kemampuan mereka untuk belajar, meskipun beberapa anak di lingkungan yang miskin sangat ulet.
e. Kronosistem yaitu kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak. Misalnya, murid-murid kini ini tumbuh sebagai generasi yang tergolong pertama (Louv, 1990). bawah umur kini yaitu generasi pertama yang mendapatkan perhatian setiap hari, generasi pertama yang tumbuh di lingkungan elektronik yang dipenuhi oleh komputer dan bentuk media baru, generasi pertama yang tumbuh dalam revolusi secual, dan generasi pertama yang tumbuh di dalam kota yang semrawut dan tak terpusat, yang tidak lagi terperinci batas antara kota, pedesaan atau subkota. Bronferbrenner makin banyak memberi perhatian kepada kronosistem sebagai sistem lingkungan yang penting. Dia memerhatikan dua problem penting: (1) banyaknya anak di Amerika yang hidup dalam kemiskinan, terutama dalam keluarga single-parent; dan (2) penurunan nilai-nilai (Bronferbrenner dkk., 1996)
Teori Bronfenbenner telah mendapat banyak popularitas. Teori ini memperlihatkan kerangka teoritis untuk mengkaji konteks sosial secara sistematis, baik di tingkat mikro maupun makro. Teori ini juga menjembatani kesenjangan antara teori behavioral yang berfokus pada setting kecil dan teori antropologi yang menganalisis setting yang lebih luas. Teorinya memicu perhatian orang pada arti penting kehidupan anak dari aneka macam setting. Misalkan guru seharusnya tidak hanya mempertimbangkan hal yang terjadi di dalam kelas, tetapi juga mempertimbangkan apa yang terjadi dalam keluarga, lingkungan, dan sahabat sebaya siswanya. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
Para pengkritik teori Bronfenbenner menyampaikan bahwa teorinya tidak banyak memberi perhatian kepada faktor biologis dan kognitif dalam perkembangan anak. Mereka juga memperlihatkan bahwa teori tersebut tidak membahas perubahan perkembangan bertahap yang menjadi fokus pada teori-teori ibarat teori Piaget dan Erikson. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
Teaching Strategies dalam Mendidik Anak Berdasarkan Teori Bronfenbrenner
1. Pandanglah anak sebagai sosok yang terlibat dalam aneka macam sistem lingkungan dan dipengaruhi oleh sistem-sistem itu. Lingkungan itu antara lain sekolah dan guru, orangtua dan saudara kandung, komunitas dan tentangga, sahabat sebaya, media, agama, dan budaya. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
2. Perhatikan korelasi antara sekolah dan keluarga. Jalin korelasi ini melalui susukan formal dan informal. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008)
3. Sadari arti penting dari komunitas, status sosioekonomi, dan budaya dalam perkembangan anak. Konteks sosial yang luas ini bisa sangat mempengaruhi perkembangan anak. (Valsiner, 2000 dalam Santrock, 2008)
2. Teori Perkembangan Rentang Hidup Erikson
Teori Erikson melengkapi analisis Bronfenbrenner terhadap konteks social dimana anak tumbuh dan orang-orang yang penting bagi kehidupan anak. Erikson (1902-1994) mengemukakan teori perkembangan seseorang melalui delapan tahapan yang kemudian dikenal dengan teori psikososial.. Kedelapan tahap perkembangan akan dilalui oleh orang di sepanjang hidupnya, masing-masing tahap terdiri dari kiprah perkembangan yang dihadapi oleh individu yang mengalami krisis. Hasil dari tiap tahap tergantung dari hasil tahapan sebelumnya, dan resolusi yang sukses dari tiap krisis yaitu penting bagi individu untuk sanggup tumbuh secara optimal.Semakin sukses seseorang mengatasi krisisnya semakin sehat psikologi individu tersebut. Masing-masing tahap punya sisi positif dan negative.
Tahap I: Oral Sensory (bayi). Tahap psikososial pertama oleh Erikson disebut sebagai rasa percaya versus rasa tidak percaya (trust versus mistrust). Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan pengasuhan, kehangatan, dan persahabatan yang menyenangkan, sehingga timbul kepercayaan, sebaliknya ketidakpercayaan akan tumbuh bila bayi diperlakukan terlalu negative atau diabaikan.
Tahap II: Anal Musculature (masa kanak-kanak awal). yang kedua disebut sebagai otonomi versus rasa aib dan ragu (autonomy versus shame and doubt). Tahap ini terjadi pada masa final (late infancy) dan masa mencar ilmu berjalan (toddler). Setelah mempercayai pengasuhnya sang bayi mulai menemukan bahwa tindakannya yaitu tindakannya sendiri. Mereka menyadari kehendaknya sendiri pada tahap ini anak akan melaksanakan apa yang diinginkan dan menolak apa yang diinginkan. Jika bayi dibatasi atau terlalu keras dieksekusi akan mengembangkan rasa aib dan ragu.
Tahap III: Genital Locomotor (masa kanak-kanak awal hingga madya). Erikson menyebut tahap ketiga ini sebagai inisiatif versus rasa bersalah (initiative versus guilt). Saat anak mencicipi dunia social yang lebih luas, mereka lebih banyak mendapat tantangan ketimbang dikala bayi. Untuk mengatasi tantangan ini mereka harus aktif dan tindakannya mempunyai tujuan. Dalam tahap ini orang cukup umur berharap anak menjadi lebih tanggungjawab.
Tahap IV: Latency (masa kanak-kanak madya hingga akhir). Tahap ke empat oleh Erikson disebut sebagai Usaya versus inferioritas.Tahap ini terjadi kira-kira pada masa sekolah dasar, dari usia enam tahun hingga usia puber atau awal remaja. Inisiatif anak membuat mereka berafiliasi dengan banyak pengalaman baru.Saat mereka masuk sekolah dasar mereka memakai energinya untuk menguasai pengetahuan dan ketrampilan intelektual. Masa kanak-kanak final yaitu masa dimana anak paling bersemangat untuk belajar, dikala imajinasi mereka berkembang. Bahaya masa ini muncul perasaan rendah diri, ketidakproduktivan dan inkompetensi.
Tahap V: Puberty and Adolescence (masa remaja). Tahap kelima yaitu tahapan Erikson yang paling penting dan paling berpengaruh, yaitu identitas versus kebingungan kiprah (identity versus role confusion). Pada tahap ini remaja berusaha untuk mencari jatidirinya, apa makna dirinya, dan kemana mereka akan menuju. Mereka akan banyak kiprah gres dan status cukup umur (seperti pekerjaan dan pacaran) Remaja ini perlu diberi kesempatan mengeksplorasi aneka macam cara untuk memahami identitas dirinya. Apabila remaja tidak cukup mengeksplorasi kiprah yang berbeda dan tidak merancang jalan masa depan yang positif, mereka bisa tetap resah akan identitas diri mereka.
Tahap VI: Young Adulthood (masa cukup umur muda). Tahap ke enam disebut sebagai keintiman versus kesendirian (intimacy versus isolation). Tugas perkembangannya yaitu membentuk korelasi yang positif dengan orang lain. Erikson mendeskripsikan intimasi sebagai inovasi diri sendiri tetapi kehilangan diri sendiri dalam diri orang lain. Bahaya pada tahap ini yaitu orang bisa gagal membangun korelasi dekat dengan pacar atau kawannya dan terisolasi secara social. Bagi individu ibarat ini kesepian bisa membayangi seluruh hidup mereka.
Tahap VII: Adulthood (masa cukup umur menengah). Tahap ini pada masa cukup umur pertengahan, sekitar usia 40-an dan 50-an. Generativity berarti mentransmisikan sesuatu yang positif pada generasi selanjutnya. Ini bisa berkaitan dengan kiprah ibarat parenting dan pengajaran. Melalui kiprah itu orang cukup umur membantu generasi selanjutnya untuk mengembangkan hidup yang berguna. Stagnasi sebagai perasaan tidak bisa melaksanakan apa-apa untuk membantu generasi selanjutnya.
Tahap VIII: Maturity (masa cukup umur akhir). Tahapan ke delapan dan terakhir oleh Erikson disebut sebagai integrasi ego versus keputusasaan (ego integrity versus despair). Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga sanggup mengingat kembali masa kemudian dan melihat makna, memikirkan apa-apa yang telah mereka lakukan. Jika penilaian retrospektif ini positif, mereka akan mengembangkan rasa integritas. Yakni mereka memandang hidup mereka sebagai hidup yang utuh dan positif untuk dijalani. Sebaliknya orang renta akan frustasi bila renungan mereka kebanyakan negative.
Tahap Rentang Hidup Erikson
Tahap Erikson | Periode Perkembangan |
Integritas vs putus asa | Dewasa final (usia 60 tahun keatas) |
Generative vs stagnasi | Dewasa pertengahan (usia 40-an, 50-an) |
Intimasi vs isolasi | Dewasa awal usia (20-an, 30-an) |
Identitas vs kebingungan identitas | Remaja (10 hingga 20) |
Usaha vs inferioritas | Kanak-kanak pertengahan dan final (SD, 6 hingga puber) |
Inisiatif vs rasa bersalah | Kanak-kanak awal (prasekolah, 3,5 tahun) |
Otonomi vs aib dan ragu | Masa bayi (tahun kedua) |
Percaya vs tidak percaya | Bayi (tahun pertama) |
Teaching Strategies dalam Mendidik Anak Berdasarkan Teori Erikson
1. Dorong anak untuk berinisiatif. Anak-anak di usia prasekolah dan di jadwal pendidikan untuk kanak-kanak awal harus diberi banyak kebebasan untuk mengeksplorasi dunia mereka. Mereka seharusnya diizinkan untuk memilikih beberapa kegiatan sendiri. Jika mereka meminta melaksanakan kegiatan tertentu yang masuk akal, seruan itu harus dituruti. Beri materi menarik yang akan memicu imajinasi mereka. Anak-anak pada tahap ini suka bermain. Bermain bukan hanya bermanfaat bagi perkembangan sosioemosionalnya, tetapi juga merupakan medium penting untuk pertumbuhan kognitif mereka. Secara khusus ajak mereka bermain dengan rekan seusianya dan lakukan permainan berfantasi. Bantu anak untuk bertanggung jawab dalam merapikan kembali mainan dan materi yang mereka pakai. Anak-anak bisa diberi tumbuhan atau bunga untuk dirawat dan dibantu untuk merawatnya. Kritik harus minimum sehingga si anak tidak akan mengembangkan rasa bersalah dan kecemasan yang selalu tinggi. Anak kecil selalu banyak membuat kesalahan dan suka mengobrak – abrik barang. Mereka perlu diberi contoh yang baik, bukan kritik keras. Tata kegiatan dan lingkungan mereka untuk membantu kesuksesannya, bukan untuk menghambat. Beri mereka tugas-tugas yang sempurna untuk perkembangan mereka. Misalnya, jangan bikin kesal anak dengan menyeluruh mereka duduk dalam waktu yang usang untuk mengerjakan kiprah menulis.
2. Mempromosikan perjuangan belajar untuk bawah umur sekolah dasar. Guru bertanggung jawab atas perkembangan perjuangan mencar ilmu anak. Erikson berharap semoga guru bisa menyediakan suasana dimana anak bisa bersemangat untuk belajar. Meminjam kalimat Erikson guru harus memaksa dengan lembut si anak semoga berusaha menyadari bahwa mereka bisa mencar ilmu menuntaskan sesuatu sendiri. Dimana sekolah dasar, anak sangat haus akan pengetahuan. Kebanyakan anak SD punya rasa ingin tahu yang tinggi dan punya motivasi untuk mengerjakan tugas. Menurut Erikson, yaitu penting bagi guru untuk memupuk motivasi untuk menguasai pengetahuan dan rasa ingin tahu ini. Beri murid tantangan, namun jangan terlalu memberatkan mereka. Berusahalah sekuat tenaga semoga murid jadi produktif, tetapi jangan terlalu kritis kepada mereka. Bersikaplah toleran pada kesalahan yang masuk akal dan pastikan bahwa setiap murid punya peluang untuk meraih keberhasilan.
3. Ajak remaja mengeksplorasi identitas dirinya. Sadarilah bahwa identitas murid bersifat multidimensional. Aspek identitas meliputi tujuan mencari kerja, prestasi intelektual, minat pada hobi, olahraga, musik dan area lainnya. Suruh remaja menulis essai wacana dimensi-dimensi ini, mengeksplorasi diri mereka dan apa yang ingin mereka lakukan dalam hidup mereka. Ini akan menstimulasi upaya eksplorasi diri. Juga dorong murid remaja untuk mendengar debat wacana agama, politik, dan gosip ideologi. Ini akan memicu mereka untuk meneliti perspektif yang berbeda-beda. Ketahuilah bahwa beberapa kiprah yang dilakukan remaja yaitu tidak permanen. Mereka mencoba banyak hal dikala mereka mencari jati dirinya. Juga sadarilah bahwa inovasi jati diri tercapai bertahap selama beberapa tahun. Banyak remaja di sekolah menengah, gres saja mengeksplorasi jati dirinya, disaat dikala ini sangat bermanfaat bila mereka dikenalkan dengan aneka macam pilihan karir dan kehidupan. Ajak remaja untuk bicara dengan penasehat sekolah (guru BP). Tentang opsi karir dan bermacam-macam aspek dari identitas mereka. Undang orang dari bermacam-macam karir yang berbeda dan mintalah mereka berbicara dengan murid-murid anda wacana pekerjaaan mereka terlepas dari kelas yang anda ajar.
4. Kaji diri anda sebagai seorang guru dengan lensa delapan tahap Erikson. Misalnya, anda mungkin berada di usia dimana Erikson menyampaikan bahwa gosip yang paling penting dalam usia anda dikala ini yaitu identitas vs kebingungan identitas atau intimasi vs isolasi. Erikson percaya bahwa satu dimensi identitas paling penting yaitu pekerjaan. Kesuksesan karir anda sebagai guru sanggup merupakan aspek terpenting dalam identitas diri anda. Aspek penting lain dalam perkembangan masa cukup umur awal yaitu korelasi dekat yang positif dengan orang lain. Identitas anda akan mendapat manfaat dari korelasi yang positif dengan partner dan dengan satu atau lebih kawan. Banyak guru mengembangkan persahabatan erat dengan guru lain atau mentornya, dan korelasi ini bisa sangat berguna.
5. Ambil karakteristik yang bermanfaat dari tahap Erikson lainnya. Guru yang kompeten harus sanggup dipercaya, memperlihatkan inisiatif, mau berusaha dan menjadi model untuk menguasai suatu pelajaran, serta punya motivasi untuk memberi bantuan sesuatu yang bermakna bagi generasi selanjutnya. Dalam kiprah anda sebagai guru, anda akan secara aktif memenuhi kriteria konsep generativitas Erikson.
B. Konteks Sosial dalam Perkembanga
Menurut teori Bronfenbrenner, konteks sosial dimana anak hidup akan banyak memperngaruhi perkembangan anak. Tiga konsep dimana anak menghabiskan sebagian besar waktunya ialah keluarga sahabat sebaya - sepermainan dan sekolah.
1. Keluarga
Orang renta merupakan pendidik utama dan pertama bagi bawah umur mereka, lantaran dari merekalah anak mula-mula mendapatkan pelajaran (pendidikan). Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan secara kodrati. Suasana dan strukturnya memperlihatkan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan korelasi dampak mempengaruhi secara timbal balik antara orang renta dan anak
Anak-anak tumbuh dalam keluarga yang berbeda-beda. Beberapa orang renta mengasuh dan mendidik anak mereka dengan benar. Orang renta lainnya bersikap bernafsu atau mengabaikan anaknya. Beberapa anak orang tuanya bercerai, anak lainya tinggal bersama orang renta yang lengkap tanpa perceraian. Anak lainnya ikut keluarga angkat. Beberapa keluarga hidup dalam kondisi ekonomi yang berkecukupan, beberapa keluarga lainnya hidup dalam kondisi ekonomi sederhana. Situasi yang bervariasi ini akan mempengaruhi perkembangan anak dan mempengaruhi murid didalam dan diluar lingkungan sekolah .
Baumrin yaitu seorang pakar parenting, beropini ada 4 bentuk gaya pengasuhan yaitu :a. Authoritarian Perenting
Merupakan gaya asuh yang bersifat menghukum dan membatasi. Dimana hanya ada sedikit percakapan antara orang renta dan murid, menghasilkan anak yang tidak kompeten secara sosial.
b. Authoritative Parenting
Merupakan gaya asuh yang positif yang mendorong anak untuk independen tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka. Perbincangan saling tukar pendapat diperbolehkan dan orang renta bersikap membimbing dan mendukung. Menghasilkan anak yang kompeten secara sosial. Anak cenderung mandiri, tidak cepat puas, gaul, dan memperlihatkan harga diri yang tinggi.
c. Neglectful Parenting
Gaya asuh dimana orang renta tidak terlibat aktif dan tidak perduli dengan kehidupan anaknya, orang renta hanya meluangkan sedikit waktu. Hasilnya anak anak sering bertindak tidak kompeten secara sosial. Mereka cendrung kurang bisa mengontrol diri, tidak cukup termotifasi untuk berprestasi
d. Indulgend Parenting
Gaya asuh dimana orang renta sangat terlibat dalam kehidupan anaknya tapi tidak banyak memperlihatkan batasan atau kekeangan pada sikap mereka. Orang renta ini sering membiarkan anak mencari cara sendiri untuk mencapai tujuannya, bahwa orang renta model ini percaya bahwa kombinasi dukungan pengasuhan dan sedikit pembatasan akan menbentuk anak kreatif dan percaya diri.
a. Keluarga yang berubah dalam masyarakat yang berubah
Anak-anak dari keluarga yang bercerai, perceraian dalam keluarga sanggup memperlihatkan dampak yang kompleks terhadap anak. Hal tersebut tergantung faktor-faktor ibarat usia anak, kekuatan dan kelemahan anaksaat perceraian, tipe parenting, status social ekonomi dan pelaksanaan fungsi keluarga sesudah perceraian. Adanya system pendukung ibarat saudara kawan, guru, sanggup membuat korelasi positif yang terus berlanjut anatara ayah dan ibu yang sudah bercerai, kemapuan memenuhi kebutuhan keuangan dan kualitas sekolah sanggup membantu anak dalam mengatasi situasi perceraian yang menekan.Beberapa cara yang dilakukan guru untuk membantu anak yang tertekan tanggapan perceraian:
1) Menghubungi orang tuanya
2) Menyarankan untuk memcari bimbingan professional dalam maksud bimbingan konseling, yaitu dengan mengadakan pertemuan regular anatara anak dan orang renta yang dibimbing oleh professional mental atau guru yang mempunyai keahlian khusus
3) Membantu si anak dengan caramemberi perhatian yang lebih dan member bimbingan kepada mereka semoga sanggup mengatasi situasi dan berkosentrasi dalam pelajaran sekolah
4) Anjurkan mereka membaca buku wacana perceraian.
b. Variasi etnis dalam sosio ekonomi dalam keluarga
keluarga dalam kelompok etnis yang berbeda akan berfariasi dalam besarnya, strukturnya, dan komposisinya. Keterikatan mereka dengan jaringan kerabat dan level pendapatan dan pendidikannya. Keluarga besar lebih lazim dikalangan kelompok minoritas ketimbang didalam populasi pada umumnya. Misalnya 19% dari keluarga Latino punya tiga atau empat anak, sementara kelurga Afrika garis Amerika hanya 14%, dan keluarga kulit putih non garis Latino sebesar 10%. Anak-anak Afrika garis Amerika dan Latino lebih banyak berinteraksi dengan kakek-nenek, bibi, paman, sepupu, dan saudara jauh bila diabndingkan dengan bawah umur kulit putih non Latino.
Keluarga orang renta tunggal lebih umum dikalangan Afrika dan Amerika dan Latino ketimbang dikalangan warga Amerika putih non Latino. Orang tu tunggal seringkali tidak punya banyak waktu, uang, dan energi, ketimbang orang renta lengkap. Orang renta dikalangan etnis minoritas kurang terdidik dan lebih mungkin berpendapatan rendah ketimbang warga Amerika kulit putih (Harwood dkk,2002). Namun, banyak keluarga etnis minoritas miskin berhasil menemukan jalan untuk mendidik anak yang kompoten.
Beberapa aspek dalam kehidupan keluarga bisa membantu melindungi anak etnis minoritas dari ketidakadilan. Komonitas dan keluarga sanggup menyaring pesan rasis yanf destruktif, dan orang renta sanggup memperlihatkan kerangka contoh alternatif untuk menangkap pesan negatif. Keluarga besar juga sanggup berfungsi sebagai penyanggah penting untuk merenghadapi stress.
c. Hubungan keluarga dan sekolah.
Dalam teori Bronfenbenner, korelasi antara keluarga dan sekolah yaitu mesosistem yang penting. Lingkungan sekolah yang otoritatif akan menguntungkan bawah umur dari keluarga yang berbeda.guru berpengalaman tahu pentingnya melibatkan orang renta dalam pendidikan anak. Dalam satu survei, guru menganggap keterlibatan orang renta sebagai prioritas pertama dalam rangka meningkatkan pendidikan namun, sekolah seringkali tidak menetukan tujuan atau mengiplementassikan jadwal yang efektif untuk mewujudkan keterlibatan tersebut.
Pakar pendidikan Joyce Epstein mengatakan, kebanyakan orang renta tidak banyak tahu wacana pendidikan anak mereka sehingga, mereka bahkan tidak bisa mengajukan pertanyaan wacana hal itu. Tingkat keterlibatan yang rendah ini menjadi perhatian para pendidik lantaran berafiliasi dengan prestasi murid yang rendah. Sebaliknya tingkat keterlibatan yang tinggi didefenisikan sebagai partisipasi orang renta dalam rapat sekolah, konferensi guru, pertemuan kelas dan pertemuan sukarela. Tujuan dari keterlibatan dari keluarga ini yaitu dukungan resmi terhadap kiprah kritis yang dimaikan keluarga dalam pendidikan anak.
d. Membentuk korelasi sekolah dan keluarga
Joyce Epstai (1996, 2001: Epstain & Sanders, 2002) mendeskripsikan enam area dimana korelasi keluarga dan sekolah dibentuk:
1) Menyediakan pertolongan untuk keluarga. Sekolah sanggup memperlihatkan informasi kepada orng renta informasi wacana keterampilan bagaimana cara keluarga mendidik anak, menandakan arti penting keluarga , perkembangan anak dan remaja dan konteks konteks rumah yang bisa memperkaya pembelajaran dikelas. Guru yaitu hal yang sangat penting untuk membuat korelasi antara sekolah dan keluarga.
2) Berkomunikasi secara efektif dengan keluarga mengenai jadwal sekolah dan kemajuan anak mereka. Hal ini dilakukan dengan mengajak orang renta untuk mengadakan konferensi guru-orang renta dan fungsi-fungsi sekolah lainnya. Kehadiran orang renta sanggup membuat murid tahu orang renta memperhatikan prestasi mereka di sekolah.
3) Ajak orang renta untuk menjadi relawan. Disekolah orang renta sebagai relawaan dan untuk meningkatkan meningkatkan kehadiran dalam pertemuan sekolah.
4) Libatkan keluarga dengan anak mereka dalam kegiatan mencar ilmu di rumah. Ini memakai anatara lain pekerjaan rumah dan kegiatan lain yang berafiliasi dengan kurkulum pelajarann. Orang renta akan beerminat efektif bila mereka mempelajari taktik tutoring (mengajar) dan mendukung kegiatan sekolah.
5) Libatkan keluarga sebagai partisipan dalam keputusan sekolah. Orang dua bisan di undang untuk menjadi dewan sekolah, komite sekolah, penasehat dan organisasi orang renta lainnya. Organisasi orang tua-guru dengan tujuan untuk melaksanakan diskusi tujuan pendidikan dan sekolah, metode mencar ilmu yang sempurna sesuai dengan usia, disiplin anak, dan kinerja ujian
6) Mengorganisasikan kerjasama komunitas. Membuat korelasi dengan upaya dan sumber daya komunitas bisnis, gen, perguruan tinggi dan universitas untuk memperkuat jadwal sekolah, praktek keluarga, dan pembelajaran murit. Sekolah bisa member keluarga wacana jadwal komunitas dan layanan komunitas yang bermannfaat bagi mereka.
2. Teman sebaya
Selain keluarga dan guru, teman seusia atau sahabat sebaya juga mempermainkan kiprah penting dalam perkembangan anak. Dalam konteks perkembangan anak, sahabat sebaya (seusia) yaitu anak pada usia yang sama. Sebaya yaitu orang dengan tingkat umur dan kedewasaan yang kira–kira sama. Sebaya memegang kiprah yang unik dalam perkembangan anak. Salah satu fungsi terpenting yaitu memperlihatkan informasi dan perbandingan wacana dunia diluar keluarga.
Piaget dan Sullivan memperlihatkan penjelasan wacana kiprah sebaya dalam perkembangan sosioemosional. Mereka menekankan bahwa melalui interaksi sebayalah anak anak dan remaja mencar ilmu sebagaimana berinteraksi dalam korelasi yang simetris dan timbal balik. Dengan sebaya, anak–anak mencar ilmu memformulasikan dan menyatakan pendapat mereka, menghargai sudut pandang sebaya, menegosiasikan solusi atau perselisihan secara kooperatif, dan mengubah standart sikap yang diterima semua.
a. Fungsi sahabat sebaya
1) Teman sebaya ialah bawah umur yang tingkat usia dan kematangannya kurang lebih sama.
2) Salah satu fungsi kelompok sahabat sebaya yang paling penting ialah menyediakan suatusumber informasi dan perbandingan wacana dunia di luar keluarga
3) Relasi yang jelek di antara teman-teman sebaya pada masa bawah umur diasosiasikan dengan suatu kecenderungan untuk putus sekolah dan sikap bandel pada masa remaja
4) Relasi yang serasi di antara teman-teman sebaya pada masa remaja diasosiasikan dengan kesehatan mental yang positif pada tengah baya.
b. Status Teman Sebaya
Para developmentalis telah dengan sempurna memperlihatkan emapat tipe status sahabat sebaya: anak popular, anak diabaikan, anak ditolak, dan anak kontroversial. Anak terkenal (popular Children) sering kali dinominasikan sebagai mitra terbaik dan jarang dibenci sahabat sebayanya. Anak terkenal member dukungan, mau mendengar dengan perhatian, menjaga alur komunikasi dengan kawannya tetap terbuka, cendrung riang, bertindak mandiri, memperlihatkan antusianisme dan perhatian kepada orang lain (Hartup,1983).
Anak diabaikan (neglegted children) jarang dinominasikan sebagai mitra terbaik, tetapi bukan tidak disukai oleh mitra seusianya. Anak ditolak (rejected children) jarang dinominasikan sebagai mitra yang baik dan sering dibenci oleh sahabat seusianya. Anak yang ditolak mengalami masalah penyesuaian diri yang serius ketimbang anak yang diabaikan. Faktor penting dalam memprediksi apakah anak yang ditolak itu melaksanakan tindakan jahat atau keluar dari sekolah menengah yaitu sikap agresinya terhadap sahabat sebayanya pada dikala masih sekolah dasar. Anak controversial (controversial children) sering kali dinominasikan sebagai sahabat baik tetapi juga kerap tidak disukai.
Menurut piaget dan Kohlberg, melalui sahabat sebaya yang diwarnai dengan memberi dan menerima, anak–anak mengembangkan pemahaman sosial dan logika moral mereka. Anak–anak menggali prinsip keadilan dan kebaikan dengan menghadapi perselisihan dengan sebaya. Hubungan sebaya juga bisa berdampak negatif, ditolak atau diabaikan oleh sebaya membuat beberapa anak merasa kesepian dan dimusuhi. Lebih jauh, penolakan dan pengabaian oleh sebaya berafiliasi dangan kesehatan mental individu dan masalah kriminal. Sebaya dapat mengenalkan remaja pada alkohol, obat – obatan, kenakalan dan bentuk sikap lain yang dianggap orang cukup umur sebagai sikap maladaptif.
c. Persahabatan
Persahabatan memperlihatkan bantuan pada status sahabat usia sebaya dan memperlihatkan laba lainnya:
1) Kebersamaan. Persahabatan memperlihatkan anak partner yang akrab, seseorang yang bersedia meluangkan waktu dan melaksanakan kegiatan bersama.
2) Dukungan fisik. Persahabatan memperlihatkan sumberdaya dan pertolongan disaat dibutuhkan
3) Dukungan ego. Persahabatan membantu anak mencicipi bahwa mereka yaitu anak yang bisa melaksanakan sesuatu dan layak dihargai, yang terpenting yaitu penerimaan social dari kawannya.
4) Intimasi/kasih sayang. Persahabatan memberianak suatu korelasi yang hangat, saling percaya dan dekat dengan orang lain. Dalam hal ini bawah umur sering kali merasa nyaman mengungkapkan informasi pribadi mereka.(Santrock, 2007).
d. Perubahan Developmen dalam korelasi sahabat sebaya
Pada masa sekolah dasar, kelompok sahabat seusia anak terdiri dari sahabat seusia dengan jenis kelamin yang sama. Anak laki-laki saling mengajarkan sikap maskulin dan anak perempuan mengajarkan kultur perempuan dan biasanya suka berkelompok dengan teman-temannya. Pada masa remaja awal, partisipasi dalam kelompok sahabat semakin meningkat . Mereka membentuk kelompok kecil yang khusus atau disebut Klik (Clique) dan kesetiaan pada kelompok ini sanggup mempengaruhi hidup mereka. Identitas kelompok dengan klik ini bisa mengaburkan identitas diri. Beberapa klik ini bisa mengaburkan identitas personal individu. Beberapa jenis klik, contohnya kelompok anak yang menyukai olah raga, anak populer, anak pintar, pencandu narkoba dan jagoan. Namun diantara beberapa anak sangat independen dan tak ingin masuk ke kelompok mana pun. Para remaja biasanya lebih tergantung pada mitra ketimbang pada orang renta mereka untuk memuaskan kebutuhan akan rasa kebersamaan, kepastian dan kedekatan.
3. Sekolah
Sekolah merupakan pusat pendidikan formal. Tugas sekolah sangat penting dalam menyiapkan anak dalam kehidupan bermasyarakat. Sekolah bukan semata-mata sebagai konsumen, tapi sekolah juga sebagai produsen dan pemberi jasa yang erat kaitannya dengan pembangunan. Pembangunanan mustahil berhasil tanpa tersedianya sumber daya insan yang berkualitas sebagai produk pendidikan. Sekolah banyak berperan dalam mengembangkan social emosional anak lantaran disekolah mereka mulai bergaul sebagai belahan dari anggota masyarakat.
a. Konteks perkembangan sosial yang terus berkembang di sekolah
konteks sekolah bervariasi semenjak masa kanak-anak awal (taman kanak-kanak), sekolah dasar hingga remaja. Masa kanak-kanak awal yaitu sebuah lingkungan yang terlindung oleh batas-batas dalam ruang kelas. Dalam setting social yang terbatas ini, bawah umur berinteraksi dengan satu atau dua guru yang biasanya perempuan, yang menjadi figure utama dalam kehidupan mereka dikala iitu. Anak-anak berinteraksi dengan sahabat sebayanya dalam kelompok kecil.
Ruang kelas merupakan konteks utama disekolah dasar, kelas lebih mungkin dirasakan sebagai unit social ketimbang kelaspada masa taman kanak-kanak. Pada masa Sekolah Menengah Pertama lapang sosialnya lebih luas bukan hanya ruang kelas saja. Remaja berinteraksi dengan guru dan sahabat seuria mereka dari aneka macam kalangan dengan latar belakang kultur yang berbeda. Pada dikala ini sikap remaja makin mengarah pada interaksi dengan teman, ekstrakulikuler, klub dan komunitas. Murid Sekolah Menengan Atas lebih menyadari sekolah sebagai system social dan mungkin termotivai untuk mengikuti keadaan dengannya atau menentang (Santrock, 2007).
b. Pendidikan masa kanak-kanak awal
Ada banyak variasi cara mendidik anak, namun banyak pakar yang setuju semoga pendidikan diadaptasi dengan perkembangannya.Pendidikan yang sesuai secara development pendidikan jenis ini didasarkan pada pengetahuan perkembangan khas dari bawah umur dalam rentang usia (ketepatan usia) dan keunikan anak (ketepatan individual). Pendidikan yang sesuai dengan perkembangan bertentangan dengan praktek yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan yang mengabaikan metode kongkret dalam mengajar anak. Pengajaran pribadi yang biasa berupa tulis baca, dianggap tidak sesuai dengan perkembangan. Pendidikan yang sempurna yaitu pendidikan secara development.
Berikut ini beberapa tema pendidikan yang sempurna secara developmental (Santrock, 2007):
1) Domain perkembangan anak-fisik, kognitif dan sosioemosional yaitu domain yang berkaitan dan perkembangan dalam satu domain dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh domain lainnya.
2) Perkembangan terjadi dalam urutan yang relative teratur dengan kemampuan, keahlian dan pengetahuan yang terbentuk kemudian akan didasarkan kepada keahlian, kemampuan dan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya.
3) Variasi individual mengkarakterisasi perkembangan anak. Setiap anak yaitu individu yang yang unik dan semua anak punya kekuatan, kebutuhan, dan minat masing-masing. Mengenai variasi individu ini merupakan aspek utama untuk menjadi guru yang kompeten.
4) Perkembangan dipengaruhi oleh konteks social dan kultural yang beragam. Guru harus mengajar kultur dominan anak bila kultur mereka berbeda dengan kulturnya sendiri.
5) Anak-anak yaitu pelajar aktif dan harus didorong untuk mengkontruksi pemahaman duniadisekitar. Anak-anak memberi kontribusiproses mencar ilmu mereka sendiri dikala mereka berusaha member makna atas pengalaman keseharian mereka.
6) Perkembangan akan meningkat bila anak diberi kesempatan untuk mempraktikkan keahlian gres dan bila anak mencicipi tantangan diluar kemampuan mereka dikala itu.
7) Anak-anak akan berkembang dengan amat baik dalam konteks komunitas dimana mereka kondusif dan dihargai, kebutuhan fisik terpenuhi dan mereka merasa kondusif secara psikologis.
c. Transisi ke sekolah dasar
Saat menjalani transisi ke sekolah dasar, mereka berinteraksi dan megembangkan korelasi dengan anak gres sekolah memberi mereka banyak sumber inspirasi untuk membentuk pemahaman wacana diri mereka.
d. Sekolah untuk remaja
Ada perhatian khusus berkenaan dengan sekolah untuk remaja: (1) transisi dari Sekolah Menengah Pertama ke SMA, (2) sekolah yang efektif untuk remaja, (3) peningkatan kualitas sekolah menengah. Pada masa ini murid merasa lebih tidak tergantung pada orang renta dan lebih ingin menghabiskan banyak waktu dengan kawan-kawannya.
Berdasarkan pengamatan dan rekomendasi dari pakar dan pengamat pendidikandiseluruh negeri ada tiga ciri-ciri utama dari sekolah-sekolah terbaik:
1) Sekolah yang bisa menyesuaikan semua kegiatan sekolah dengan variasi individu dalam pengembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional murid-muridnya.
2) Mereka memandang serius apa yg dikenal sebagai perkembangan remaja awal. Beberapa Sekolah Menengah Pertama hanya mempersispkan siswanya untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu contohnya ada sekolah efektif membuat kelompok kecil, dimana murid bekerjasama dengan sekelompok kecil guru yang berbeda-beda, tergantung kepada kebutuhan murid.
3) Sekolah-sekolah yang banyak perhatian pada perkembangan sosioemosional dan kognitif
Menurut Carrnegie untuk meningkatkan kualitas dan mutu sekolah mengah dilakukan hal-hal berikut ini:
1) Pengembangan komunitas atau rumah yang lebih kecil untuk mengurangi sifat impersonal dari sekolah.
2) Melibatkan orang renta dan tokoh masyarakat dalam sekolah.
3) Menyusun kurikulum yang sanggup menghasilkan murid melek huruf, memahami sains, dan punya pemahaman wacana kesehatan, etika, dan kewarganegaraan
4) Membentuk tim guru dan kurikulum yang lebih fleksibel yang mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu, bukan sekedar memberi pelajaran kepada murid dengan jam-jam pelajar selama 50 menit yang terpisah dan tak terkait satu sama lain.
5) Meningkatkan kesehatan dan kebugaran murid melalui jadwal disekolah dan membantu murid yang butuh perawatan kesehatan.
C. Perkembangan Sosioemosional
Sejauh ini kita telah mendiskusikan konteks penting yang mempengaruhi perkembangan sosioemosional pada murid pada keluarga, sahabat seusia, dan sekolah. Pada belahan ini kita akan memfokuskan pada murid itu sendiri yang berkaitan dengan perkembangan diri dan moralitas anak.
1. Diri (Self)
Diri, para psikolog sering menyebut “aku” ini sebagai “diri” (self). Ada dua aspek penting dalam diri ini, yakni harga diri (self-esteem) dan identitas diri.
a. Penghargaan diri (self-esteem)
adalah pandangan keseluruhan dari individu wacana dirinya sendiri. Penghargaan ini juga dinamakan martabat diri (self-worth) atau citra diri (self-image). Misalnya anak yang punya penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya memandang dirinya sebagai seseorang tetapi juga sebagai seseorang yang baik. Rogers (1961) menyampaikan bahwa alasannya yaitu utama seseorang mempunyai penghargaan diri yang rendah (atau rendah diri) yaitu lantaran mereka tidak diberikan dukungan emosional dan penerimaan social yang memadai.
Para peneliti telah menemukan bahwa harga diri murid berubah pada dikala mereka berkembang. Dalam suatu studi baik itu laki-laki atau perempuan mempunyai hatga diri yang tinggi pada dikala bawah umur dan menurun pada masa remaja awal (Robins, dkk). Penghargaan diri anak gadis turun dua kali lebih besar dari anak laki-laki selama masa remaja. Diantara beberapa alasan yang menjadi penyebab menurunnya harga diri ini yaitu tanggapan gejolak selama perubahan fisik (pubertas), meningkatnya tuntutan untuk berprestasi, dan kurangnya dukungan dari sekolah dan orang tua.
Riset menyarankan empat kunci untuk meningkatkan rasa harga diri anak (Bednar, Well & Peterson, 1995, Harter, 1999):
1) Identifikasi penyebab rendah diri dan area kompetensi yang penting bagi diri. Apakah rendah diri lantaran prestasi sekolah? Karena konflik? Kemampuan social rendah? Murid mempunyai harga diri tinggi ketika mereka bisa kompeten dan sukses dalam melaksanakan sesuatu di area yang mereka anggap penting.
2) Berikan dukungan emosional dan penerimaan social. Disetiap kelas punya anak yang banyak nilai buruknya. Mungkin anak ini berasal dari keluarga yang suka menghina dan merendahkan si anak atau mungkin murid ini di kelas yang terlalu banyak memperlihatkan penilaian negative. Dukungan emosional dan penerimaan social anda sanggup amat membantu mereka menghargai diri mereka sendiri.
3) Bantu anak untuk mencapai tujuan atau prestasi. Prestasi bida menaikkan harga diri. Pengajaran atau kursus ketrampilan akademik secara pribadi sanggup menaikan prestasi anak, dan balasannya sanggup menaikkan harga diri anak.
4) Kembangkan ketrampilan mengatasi masalah. Ketika anak mempunyai problem dan bisa mengatasinya, bukan menghindarinya, maka rasa harga dirinya akan naik. Murid yang mau mengatasi masalah kemungkinan akan menghadai problem secara jujur dan realistis, ini menghasilkan pemikiran yang positif wacana diri mereka sendiri yang balasannya bisa meningkatkan harga diri mereka.
b. Perkembangan identitas
Aspek penting lain selain diri yaitu identitas. Menurut Erikson (1968) masalah paling penting dalam diri remaja yaitu perkembangan identitas yang berupa pencarian jawaban atas pertanyaan seperti: Siapa saya? Seperti apakan saya ini? Apa yang akan saya lakukan dalam hidup ini? Pertanyaan-pertanyaan ini jarang muncul pada masa kanak-kanak tetapi sering muncul dimasa remaja dan perguruan tinggi.
Erikson menyimpulkan bahwa yaitu penting untuk membedakan antara eksplorasi dan komitmen. Eksplorasi yaitu pencarian identitas alternative yang bermakna. Komitmen yaitu memperlihatkan penerimaan personal pada satu identitas dan mendapatkan apapun implikasi dari identitas itu. Berdasarkan klasifikasinya berdasarkan komitmen dan eksplorasi terdapat empat tipe identitas.
Empat Status IdentitasMarcia
Apakah orang itu membuat komitmen | |||
Ya | Tidak | ||
Apakah orang itu mengeksplorasi alternative yang bermakna yang berafiliasi dengan masalah identitas | Ya | Identity achievement | Identity moratorium |
Tidak | Identity foreclosure | Identity diffusion | |
1) Identity Achievement, terjadi ketika individu telah mengalami krisis dan telah membuat komitmen.
2) Identity diffusion, terjadi ketika individu belum mengalami krisis (yakni belum mengeksplorasi altrenatif yang bermakna) atau membuat komitmen. Mereka belum menetapkan pilihan pekerjaan dan ideology.
3) Identity Foreclosure, terjadi dikala individu membuat komitmen tetapi belum mengalami krisis.
4) Identity Moratorium, terjadi ketika individu berada ditengah-tengah krisis tetapi komitmen mereka tidak ada atau gres didefinisikan secara samar-samar.
2. Perkembangan Moral
Hanya sedikit orang yang netral terhadap perkembangan moral. Banyak orang renta menghawatirkan kelau anak mereka tumbuh tanpa membawa nilai tradisional mereka. Perkembangan moral berkaitan dengan aturan dan konvensi wacana interaksi yang adil antar orang. Atura ini dikaji dalam tiga domain, yaitu kogbitif, behavioral, dan emosional.
Dalam domain kognitif gosip kuncinya yaitu bagaimana murid menalar atau memikirkan aturan untuk sikap etis. Dalam domain behavioral fokusnya yaitu pada bagaimana murid berperilaku secara actual. Dalam domain emosional penekanannya yaitu pada bagaimana murid mencicipi secara moral. Misalnya apakah perasaan bersalah yang kuat digunakan untuk menahan diri untuk tidak melaksanakan tindakan yang tiak bermoral? Apakah mereka memperlihatkan tenggang rasa kepada orang lain?
a. Teori Piaget.
Piaget menyusun teori wacana tahap perkembangan moral dengan tahap perkembangan.
1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral pertama berdasarkan Piaget. Tahap ini berlangsung kira-kira usia empat sampat tujuh tahun. Pada tahap ini keadilan dan aturan dianggap sebagai belahan dari dunia yang tak bisa diubah, dikontrol oleh orang.
2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral kedua, yang tercapai pada usia 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini anak mulai mengetahui bahwa aturan dan aturan yaitu perbuatan insan dan bahwa dalam menilai suatu perbuatan, niat pelaku dan konsekwensinya harus dipikir. Anak dalam usia tujuh hingga sepuluh tahun yaitu masa transisi, dan karenanya mereka memperlihatkan ciri-ciri dari kedua tahap ini.
b. Teori Kohlberg
Seperti Piaget Kohlberg menandaskan bahwa perkembangan moral terutama melibatkan daypikir (reasoning) moral berlangsung pada tahapan-tahapan.Konsep penting untuk memahami teri Kohlberg yaitu internalisasi, yang berarti perubahan perkembangan dari sikap yang dikontrol secara eksternal ke sikap yang dikontrol secara internal.
1) Preconventional reasoning(penalaran prakonvensional) yaitu level terbawah dari perkembangan moral dalam teori Kohlberg. Pada level ini anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral. Penalaran moral dikontrol oleh sanksi dan ganjaran eksternal.
2) Conventional reasoning (penalaran konvensional) yaitu tahap kedua atau tahap menengah. Pada level ini internalisasi masih setengah-setengah (intermediate). Anak patuh secara internal pada standar tertentu, tetapi standar itu intinya ditetapkan oleh orang lain, ibarat orang renta atau aturan social.
3) Postconventional reasoning (penalaran post konvensional) yaitu level tertinggi dalam teori Kohlberg. Pada level ini moralitas telah sepenuhnya diinternalisasikan dan tidak didasarkan padastandar eksternal.
Kritik terhadap teori Kohlberg. Teori Kohlberg ini mendapatkan penentangan (Turiel, 1998), salah satu kritik yang kuat diarahkan pad aide bahwa pemikiran moral tidak selalu memprediksi sikap moral. Kritik ini menyatakan bahwa teori Kohlberg terlalu banyak menekankan pada pemikiran moral dan tidak memperlihatkan perhatian yang cukup pada sikap moral. Alasan moral terkadang sanggup menjadi dalih untuk sikap yang tak bermoral. Penjahat perbankan dan Presiden AS bisa saja mendukung nilai moral yang luhur, tetapi perilakunya terbukti tidak bermoral.
Kritik lain menyatakan Kohlberg terlalu individualistis. Carol Gilligan (1982, 1998) membedakan antara perspektif keadilan (justice) dan perspektif perhatian (care). Perspektif keadilan yang berfokus pada hak-hak individual, yang berdiri sendiri dan memilih moral sendiri. Perspektif perhatian memandang orang-orang sebagai individu yang saling berafiliasi (connectedness). Penekanannya yaitu pada korelasi dan perhatian pada oraang lain.
c. Pendidikan Moral.
Topik ini menjadi topic yang menarik dalam lingkungan pendidikan. Dewey (1933) mengakui bahwa ketika sekolah tidak memperlihatkan pelajaran khusus untuk pendidikan moral, sekolah memperlihatkan pendidikan moral melalui “kurikulum tersembunyi”. Kurikulum tersembunyi diberikan melalui atmosfir moral yang menjadi belahan dari setiap sekolah. Suasana moral ini diciptakan oleh aturan sekolah dan aturan kelas, orientasi moral dari guru dan administrator, dan teks materi pelajaran. Guru bertindak sebagai model sikap etis dan tidak etis. Melalui aturan sekolah memasukkan system nilai ke sekolah.
1) Pendidikan karakter. Pendidikan karakter yaitu pendekatan pribadi pada pendidikan moral, yakni mengajari murid dengan pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melaksanakan tindakan tak bermoral yang membahayan orang lain, dan dirinya sendiri. Argumennya yaitu bahwa sikap ibarat berbohong, mencuri yaitu keliru dan murid harus diajari hal ini melalui pendidikan mereka. (Nucci, 2001).
2) Klarifikasi nilai-nilai. Pendekatan untuk pendidikan moral yang menekankan pada upaya membantu orang untuk mengklarifikasi untuk apa hidup mereka dan apa yang layak untuk dikerjakan dalam hidup ini. Murid didorong untuk mendefinisikan sendiri nilai-nilai mereka dan memahami nilai diri orang lain.
3) Pendidikan moral kognitif. Pendekatan yang didasarkan pada keyakinan bahwa murid harus mempelajari hal-hal ibarat demokrasi dan keadilan dikala moral mereka sedang berkembang. Teori Kohlberg telah dijadikan sebagai landasan untuk banyak upaya pendidikan moral kognitif.
4) Pembelajaran Pelayanan. Pembelajaran layanan (service learning) yaitu sebentuk pemdidikan yang mempromosikan tanggungjawab social dan pelayanan kepada komunitas. Dalam pembelajaran layanan ini murid mungkin dilibatkan dalam tutoring, membantu orang jompo, magang dirumah sakit, membantu pusat perawatan. Tujuan penting dari pembelajaran layanan ini adal;ah semoga siswa tidak egois dan lebih termotivasi untuk membantu orang lain. (Furco & Billing, 2001; Waterman, 1977).
5) Perilaku Prososial. Perilaku prososial yaitu sisi positif dari perkembangan moral (yang jauh berbeda dengan sikap antisocial ibarat menipu, bohong, dan mencuri). Perilaku prososial yaitu sikap yang dianggap bersifat adil, mengembangkan perhatian, atau empatik (Eisenberg & Fabes, 1988).
PERKEMBANGAN SOSIOEMOSIONAL ANAK
EmoticonEmoticon