Showing posts with label Demografi. Show all posts
Showing posts with label Demografi. Show all posts

Tuesday, June 19, 2018

√ Komposisi Penduduk Dan Demografi Indonesia

Penduduk Indonesia ketika ini terus meningkat dari sisi kuantitas. Sensus 2010 memperlihatkan bahwa populasi Indonesia mencapai 255 juta dan bertengger di posisi keempat terbesar di dunia. Untuk menganalisa lebih jauh perihal fenomena kependudukan di Indonesia maka diperlukan komposisi penduduk. Komposisi penduduk yaitu pengelompokkan penduduk ke dalam kriteria-kriteria tertentu. Empat jenis komposisi penduduk yang umum dipakai biasanya adalah:

1. Komposisi Biologi, yaitu pengelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelamin.
2. Komposisi Ekonomi, yaitu pengelompokkan berdasarkan aspek ekonomi ibarat pendapatan atau konsumsi.
3. Komposisi Sosial, yaitu pengelompokkan berdasarkan aspek sosial ibarat pendidikan, pekerjaan dan kesehatan.
4. Komposisi Geografi, yaitu pengelompokkan berdasarkan faktor geografis ibarat tempat tinggal.

Dengan jumlah populasi sekitar 255 juta individu, Indonesia merupakan negara terbesar keempat berkenaan dengan ukuran populasi. Komposisi etniknya sangat bermacam-macam dari tiap daerah. Namun, lebih dari setengah populasi sanggup diklasifikasikan sebagai milik dua kelompok etnis utama. Dua etnis ini mempunyai efek besar bagi penduduk Indonesia.

Dua kelompok etnis ini yaitu Jawa (41% dari total populasi) dan Sunda (15% dari total populasi). Dua etnis ini berasal berasal dari Pulau Jawa, pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia, hampir 60% dari total populasi negara. Jika Sumatera dimasukan, angka meningkat menjadi sekitar 80% dari total populasi yang mengindikasikan adanya konsentrasi penduduk di bab barat Indonesia. Propinsi terpadat yaitu Jawa Barat dengan >43 juta jiwa sementara Papua Barat mempunyai penduudk paling minim yaitu 761 ribu penduduk.

Indonesia punya prinsip Bhineka Tunggal Ika yang artinya Berbeda Tapi Tetap Satu. Hal ini mencerminkan banyaknya suku bangsa, budaya, bahasa, agama yang tersebar di semua penjuru negeri. Ketika pergi ke Papua maka anda akan melihat banyak budaya animisme disana, ketika kau ke Aceh maka akan menemukan budaya Islam. Perbedaan tersebut bukanlah sebuah alasan perpecahan namun yaitu kesatuan atas dasar NKRI.

Keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan hasil dari proses kolonalisme yang panjang. Dalam rentang waktu 350 tahun bangsa Eropa (Belanda) memperluas kekuasaan politiknya di Indonesia, menaklukan kerajaan-kerajaan sampai batas-batas negara Indonesia. Baca juga: Terbentuknya awan di langit

Di sisi lain, keragaman budaya merupakan anugerah bagi perekonomian Indonesia khususnya di Asia Tenggara. Setiap budaya memperlihatkan suatu hal yang menarik dan mendatangkan jutaan turis abnormal setiap tahunnya. Contohnya, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan budaya kontemporer Bali merupakan daya tarik wisata andalan Indonesia. 

Di sisi lain, mempunyai banyak keyakinan, tradisi, etnis yang berbeda juga menjadi faktor pemicu bentrokan dan kekerasan antar kelompok yang beberapa tahun ini kembali muncul. 

Ada juga faktor ketidakadilan yang memberi sentimen negatif pada sebagian masyarakat Indonesia. Misalnya perbedaan upah, stratifikasi sosial, pembanguan tidak merata menjadi alasan mengapa Indonesia sekarang menentukan sistem otonomi kawasan daripada model sentralistik kurun Soeharto. Baca juga: Patahan Lembang yang berbahaya
Penduduk Indonesia ketika ini terus meningkat dari sisi kuantitas √ Komposisi Penduduk dan Demografi Indonesia
Populasi penduduk per propinsi
Pertumbuhan Penduduk Indonesia

Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia rata-rata dari tahun 2000 sampai 2010 mencapai 1,49% dengan pertumbuhan tertinggi di Papua (5,46%) dan terendah di Jawa Tengah (0,37%). Program Keluarga Berencana dimulai tahun 1968 untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk. Tingkat pertumbuhan penduduk nasional yaitu 1,2% berdasarkan data World Bank tahun 2015.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa penduduk Indonesia diperkirakan melebihi 270 juta jiwa di tahun 2025 dan menyentuh 290 jutan di tahun 2045. Tahun 2050 jumlah penduduk diperkirakan mulai menurun.

PBB juga memprakirakan bahwa pada tahun 2050, dua per tiga penduduk Indonesia akan hidup di perkotaan. Selama 40 tahun terakhir proses urbanisasi sangat cepat yang menyebabkan lebih dari separuh penduduk Indonesia sekarang bermukim di perkotaan. Dalam aspek ekonomi hal ini tentu baik alasannya yaitu akan meningkatkan pendapatan masyarakat kelas menengah.

Kota terbesar di Indonesai berada di Jawa dengan Jakarta sebagai ibukota negara dan rumah dari 10 juta jiwa. Arus mobilitas penduduk ini menyebabkan kepadatan dan kemacetan di jalanan ibukota. 
Penduduk Indonesia ketika ini terus meningkat dari sisi kuantitas √ Komposisi Penduduk dan Demografi Indonesia
Piramida penduduk Indonesia 2010
Komposisi Umur

Salah satu kekuatan utama populasi Indonesia yaitu jumlah penduduk usia muda yang paling banyak. Keadaan ini menyedikan jumlah tenaga kerja potensial. Usia rata-rata total Indonesia yaitu 28,6 tahun. Ini memperlihatkan bahwa separuh dari populasi yang lebih renta dari 28,6 tahun dan separuh lagi lebih muda dari angka ini. Dalam komposisi jenis kelamin, usia rata-rata perempuan satu tahun lebih renta (29,1) dan pria (28,1 tahun).

Di tahun 2010 sekitar 19% penduduk Indonesia berusia di bawah 10 tahun dan 37% berusia di bawah 20 tahun dan sekitar setengah dairi populasi di bawah 30 tahun. Angka tersebut memperlihatkan bahwa dari sisi produktifitas maka ini yaitu potensi besar bagi pengembangan industri kreatif. Baca juga: Awan cirrus, stratus dan cumulus

Namun catatan jelek yaitu ketika ini ada jutaan orang Indonesia yang menganggur dan tidak sanggup diserap pasar tenaga kerja. Invasi tenaga kerja abnormal masih menjadi masalah. Hal tersebut menunjukan kualitas pekerja Indonesia yang masih rendah.

Komposisi Agama
Dalam hal agama Indonesia lebih banyak didominasi yaitu Muslim dengan 87% dari total penduduk, namun Indonesia tidak memberlakukan Hukum Islam kecuali di Aceh. Meski berprinsip demokrasi sekuler, nilai-nilai Islam memang memainkan peranan besar dalam politik, sosial dan ekonomi penduduk. Contoh bila restoran restoran harus belabel halal. 

Selain itu ada 16,5 juta Protestan dan 6,9 juta Kristen dan 4 juta Hindu yang hidup di Indonesia. Selanjutnya ada minoritas Budha dan Kong Hu Cu yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Baca juga: Kondisi Geografi Indonesia

Gambar: social.rollins.edu

Sumber http://www.gurugeografi.id

Thursday, May 31, 2018

√ Apa Saja Faktor-Faktor Pro Mortalitas Dan Anti Mortalitas?

Dinamika penduduk dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu kelahiran, kematian dan migrasi. Kematian atau mortalitas merupakan fenomena yang niscaya akan dialami oleh manusia. Mortalitas intinya akan menciptakan jumlah penduduk suatu tempat menjadi berkurang. Tingkat kematian tiap tempat atau negara berbeda-beda. Ada faktor pro (pendukung) dan anti (penghambat) terjadinya kematian penduduk. Berikut ini beberapa faktor pro dan anti mortalitas:

Faktor Pro Mortalitas
1. Gaya hidup buruk
Gaya hidup sangat memengaruhi terhadap kualitas kesehatan seseorang. Gaya hidup yang jelek atau tidak sehat akan mempercepat seseorang untuk menemui ajalnya. Kurangnya asupan gizi, stress, buruknya sanitasi, jajan sembarangan tentu akan menciptakan seseorang rentan terhadap penyakit. Baca juga: Ciri awan cirrus, stratus dan cumulus
2. Minimnya sarana prasarana kesehatan
Fasilitas kesehatan yang memadai dan berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung kesehatan penduduknya. Kurangnya kemudahan kesehatan dan tenaga andal sering menciptakan angka kematian meningkat. Daerah-daerah terpencil banyak menemui kendala ini sehingga sering dijumpai kasus gizi jelek atau banyaknya angka kematian ibu dan bayi. 
3. Bencana alam
Bencana alam menyerupai gunung meletus, tsunami, longsor dan banjir sering menelan korban jiwa. Bencana tsunami di Aceh tahun 2004 saja menciptakan 500.000 jiwa melayang.
4. Kurangnya kesadaran kebersihan
Coba lihat di lingkungan sekitar anda apakah ada sampah awut-awutan di pinggir jalan, sungai atau tempat lainnya. Sampah tersebut mengakibatkan bau busuk, mengundang lalat dan mahluk penyebar penyakit lain. Ini yaitu kebiasaan masyarakat yang tidak sadar kebersihan yang mengundang mereka untuk lebih cepat mati.
5. Kecelakaan kemudian lintas
Mobilitas menjadi salah satu faktor paling lebih banyak didominasi yang mengakibatkan meningkatnya kematian. Setiap hari niscaya akan dijumpai isu kecelakaan kemudian lintas di televisi. Ini diakibatkan oleh kecepatan berkendara yang tentunya akan berbahaya kalau tidak hati-hati di jalan.
6. Perang
Perang merupakan salah satu sarana pemusnahan penduduk secara massal. Lihat saja di Suriah dan Irak, kota beserta penduduknya musnah dalam sekejap akhir perang.
Perang menghancurkan kehidupan manusia
Faktor Anti Mortalitas
1. Gaya hidup sehat
Hidup sehat, membiasakan makan makanan bergizi dan rajin berolahraga akan menambah panjang hidup anda. Makan sayuran dan buah-buahan akan menciptakan badan lebih sehat.
2. Fasilitas kesehatan memadai
Tersedianya sarana pendukung kesehatan yang memadai sampai tingkat desa akan menciptakan pelayanan kesehatan menjadi prima. Masyarakat sanggup cepat berkonsultasi ke dokter kalau ia sakit sehingga memercepat keinginan sembuh.
3. Lingkungan higienis dan sehat
Lingkungan yang higienis dari sampah dan terhindar dari polusi akan menciptakan hidup kita nyaman. Kebersihan lingkungan menjadi potongan yang sangat penting untuk memperpanjang umur hidup seseorang.
4. Program penyuluhan kesehatan
Pendidikan kesehatan perlu diberikan pada masyarakat semoga mereka memahami wacana tata cara hidup sehat. Dengan demikian mereka mempunyai wawasan ilmu kesehatan yang cukup untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Baca juga: cara menghitung pertumbuhan penduduk alami dan total
Gambar: usnews.com
UPDATE PROMO QUIPPER VIDEO 
Mau nilai pelajaran kau semakin meningkat di sekolah hanya dengan berguru di rumah?. Yuk gabung Quipper, bimbel online yang paling keren di Indonesia ketika ini. Hampir 1 juta siswa Indonesia telah memakai Quipper untuk membantu pengayaan berguru di rumah. Materinya lengkap banget

1. Dapat bahan Sekolah Menengah Pertama + Sekolah Menengan Atas (IPA dan IPS) + UN + SBMPTN
2. Ada ribuan video berguru keren dari tutor terbaik
3. Bank soal dan intensif UN dan SBMPTN
4. Tips dan Trik menjawab soal cepat
5. Dan masih banyak lagi keunggulannya

Yang lebih keren lagi, Quipper masih ada diskon harga lho dengan memakai isyarat diskon dari kawan resmi. Cek di whatsapp kak Agnas (mitra resmi Quipper Indoesia) di bawah untuk dapatkan isyarat diskonnya. Sumber: Youtube Quipper
atau mortalitas merupakan fenomena yang niscaya akan dialami oleh insan √ Apa Saja Faktor-Faktor Pro Mortalitas dan Anti Mortalitas?

Sumber http://www.gurugeografi.id

Friday, May 25, 2018

√ Faktor-Faktor Pro Natalitas Dan Anti Natalitas

Pada postingan sebelumnya, saya sudah memperlihatkan klarifikasi perihal faktor mortalitas. Kali ini saya akan berikan sedikit klarifikasi perihal faktor natalitas. Natalitas atau kelahiran merupakan fenomena alami yang mengakibatkan adanya pertambahan penduduk. Setiap tempat atau negara mempunyai tingkat natalitas yang beda-beda. Indonesia dikala ini mempunyai angka pertumbuhan penduduk yang masih tinggi yaitu di atas 1% tiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk sebuah negara dikatakan seimbang kalau mencapai zero population growth. Ada faktor pro natalitas dan anti natalitas yaitu:

Faktor Pro Natalitas
1. Kawin Usia Muda
Banyaknya penduduk usia muda yang sudah menikah di usia yang masih cukup umur menciptakan angka kelahiran cenderung tinggi. Ini sebab produktifitas pasangan khususnya perempuan yang masih muda masih sangat baik. 
2. Anggapan Banyak Anak Banyak Rezeki
Di beberapa negara termasuk Indonesia, masih banyak anggapan perihal banyak anak banyak rezeki. Memang hal ini ada benarnya namun tentunya kondisi dunia yang semakin cepat berubah menciptakan anggapan ini harus mulai ditinggalkan. Anak juga harus terpenuhi semua kebutuhannya. Jangan hingga banyak anak namun orang renta tidak bisa menafkahi semua kebutuhan mereka sehingga nantinya tidak tumbuh menjadi anak yang sehat dan berkualitas.
3. Rasa Malu
Ada beberapa komunitas mungkin yang masih menganggap malu kalau pada usia tertentu belum punya anak. Hal ini menjadi malu keluarga dan akan dikucilkan. Ini yang mengakibatkan banyaknya pasangan yang cepat mempunyai anak sebelum usia tua.
4. Tingkat Kesehatan dan Ekonomi
Jika seseorang sehat dan mempunyai kondisi keuangan yang stabil tentu mempunyai anak tidak akan menjadi masalah. Mereka tidak akan khawatir kalau punya anak banyak sebab sanggup terjamin kebutuhan hidupnya.
5. s3k Bebas
Perilaku sec bebas di kalangan cukup umur sanggup memicu adanya kelahiran tak terduga atau juga Married By Accident. 
 saya sudah memperlihatkan klarifikasi perihal faktor mortalitas √ Faktor-Faktor Pro Natalitas dan Anti Natalitas
Faktor Natalitas
Faktor Anti Natalitas
1. Keluarga Berencana
Program Keluarga Berencana merupakan agenda pemerintah yang bertujuan menekan angka kelahiran tiap keluarga. Dalam agenda ini maksimal satu keluarga hanya punya dua anak saja. 
2. Anggapan Anak Adalah Beban
Di tengah kondisi dunia yang makin hingar bingar, ada beberapa orang yang menganggap anak ialah beban. Mereka lebih menentukan hidup sendiri dan tidak mau ada tanggungan.
3. Aturan Batasan Usia
Adanya batasan usia menikah menciptakan seseorang tidak sanggup menikah dan mempunyai anak sebelum mencapai batas usia yang ditentukan.
4. Kondisi Kesehatan dan Ekonomi
Ada beberapa pasangan yang memang tidak bisa mempunyai anak sebab kondisi tertentu. Hal ini tentu akan menciptakan angka fertilitas menurun. Sementara tingkat ekonomi yang rendah bisa menciptakan seseorang berfikir beberapa kali sebelum menciptakan anak.
5. Malas Menikah
Tuntutan hidup yang tinggi menciptakan seseorang bisa mempunyai anutan untuk malas menikah. Di Jepang misalnya dikala ini mempunyai angka kelahiran yang negatif sebab rutinitas kerja yang terlalu tinggi.

Itulah beberapa faktor pro dan anti natalitas penduduk. 
Baca juga: Rumus teori titik henti

INFO HOT!
Masih Takut Nilai UN tahun depan jelek?
Ingin ikut bimbel tapi mahal dan gak fleksibel?
Yuk gabung Quipper video, ada arahan promonya. KLIK BANNER DI BAWAH INI!
Mau berguru bareng Maudi Ayunda?
Sumber video : https://www.youtube.com/watch?v=FIwqn7C9sEs&t=6s


Sumber http://www.gurugeografi.id

Friday, April 27, 2018

√ Animasi Fenomena Transisi Demografi

Di kelas XI tentu kau akan berjumpa dengan materi kependudukan bukan?. Salah satu fenomena yang pernah aku ajarkan di kelas yaitu perihal fenomena transisi demografi. Transisi demografi merupakan sebuah fenomena perubahan struktur penduduk dari fertilitas dan mortalitas yang tinggi menuju fertilitas dan mortalitas yang rendah. 
Gambar: disini
Di kelas XI tentu kau akan berjumpa dengan materi kependudukan bukan √ Animasi Fenomena Transisi Demografi

Fenomena ini terjadi di wilayah Eropa dan menjadi salah satu faktor dinamika penduduk di sana. Ada 4 fase transisi demografi dimana tiap fase mempunyai ciri masing-masing. Beberapa faktor memperngaruhi terhadap adanya perubahan laju strukutr penduduk tersebut. Untuk lebih memahaminya coba lihat animasinya di bawah ini. Kalau kau memakai android, usahakan sudah terpasang flashnya alasannya kalau tidak animasi tidak dapat muncul. Kalau di laptop maka animasi sudah niscaya muncul asal adobe flash terinstal. Selamat belajar. Kalau masih galau silahkan tanya di komentar saja ya.
Sumber: disini 
Sumber http://www.gurugeografi.id

Sunday, April 8, 2018

√ Sensus, Pendaftaran Dan Survei Penduduk

Sumber data kependudukan sangat penting untuk memperoleh statistik wacana kondisi penduduk suatu negara. Sumber data kependudukan dalam proses pengumpulannya sanggup digolongkan menjadi 3 yaitu sensus, pendaftaran penduduk, dan survei. Selain itu juga terdapat catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain dari instansi pemerintah. 

Baca juga:
Cara jawab soal prinsip geografi
Soal USBN Geografi 2017

Secara teoritis data pendaftaran penduduk lebih lengkap daripada sumber-sumber data yang lain, lantaran kemungkinan tercecernya pencatatan peristiwa-peristiwa kelahiran, janjkematian dan mobilitas penduduk sangat kecil. Namun demikian di negara-negara berkembang menyerupai juga Indonesia, data-data kependudukan dari hasil pendaftaran masih jauh dari level memuaskan. Hal ini disebabkan lantaran banyak kejadian-kejadian vital (seperti kelahiran dan kematian) yang tidak dicatatkan sebagaimana mestinya lantaran banyak sekali faktor eksternal. Baca juga: Kondisi geografi Indonesia

Sensus Penduduk
Sensus penduduk yakni keseluruhan proses pengumpulan, menghimpun dan menyusun, serta menerbitkan data-data demografi, ekonomi, dan sosial yang menyangkut semua orang pada waktu tertentu di suatu negara atau suatu wilayah tertentu. Secara lebih terperinci keterangan-keterangan apa yang dikumpulkan tergantung pada kebutuhan dan kepentingan negara, keadaan keuangan dan kemampuan teknis pelaksanaanya, serta janji internasional yang bertujuan semoga gampang memperbandingkan hasil sensus antara negara yang satu dengan negara lainnya.

Agar hasil Sensus Penduduk sanggup diperbandingkan antara beberapa negara, maka disepakati untuk melakukan Sensus Penduduk tiap 10 tahun sekali (decennial census) yaitu pada tahun-tahun yang berakhiran dengan angka nol. Pelaksanaan Sensus Penduduk tiap sepuluh tahun sekali dimulai pada tahun 1790. Mulai tahun 1940 ada beberapa negara yang melakukan Sensus Penduduk tiap 5 tahun sekali (quinquennial census) yaitu pada tahun-tahun yang berakhiran dengan angka nol, dan angka lima.
Sumber data kependudukan sangat penting untuk memperoleh statistik wacana kondisi pendudu √ Sensus, Registrasi dan Survei Penduduk
Petugas sensus sedang mendata warga
Registrasi Penduduk
Sistem pendaftaran penduduk merupakan suatu sistem pendaftaran yang dilaksanakan oleh petugas pemerintahan setempat yang mencakup pencatatan kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, perubahan kawasan tinggal (perpindahan/migrasi), dan pengangkatan anak (adopsi). Karena mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berafiliasi dengan kehidupan, maka disebut juga pendaftaran vital dan karenanya disebut statistik vital. Registrasi ini berlangsung terus-menerus mengikuti kejadian atau peristiwa, lantaran itu statistik vital bahwasanya memperlihatkan citra mengenai perubahan yang terus menerus. Kaprikornus berbeda dengan sensus dan survei yang menggambarkan karakteristik penduduk hanya pada suatu ketika tertentu saja. Baca juga: Terbentuknya awan di langit

Karena mencatat majemuk peristiwa, maka pencatatan penduduk ini dilakukan oleh badan-badan yang berbeda-beda. Di Indonesia, kelahiran dicatat oleh kantor pencatatan sipil dan kelurahan. Perkawinan dan perceraian dicatat oleh kantor Kementerian Agama dan pencatatan sipil. Sedang migrasi dicatat oleh Kementerian Kehakiman. Baca juga: Soal SBMPTN Geografi 2015

Survei
Hasil Sensus Penduduk dan Registrasi Penduduk memiliki keterbatasan. Keduanya hanya menyediakan data statistik kependudukan, dan kurang memperlihatkan gosip wacana sifat dan sikap penduduk. Untuk mengatasi keterbatasan ini, perlu dilakukan survei penduduk yang sifatnya lebih terbatas namun gosip yang dikumpulkan lebih luas dan mendalam. Biasanya survei kependudukan ini dilaksanakan dengan sistem sampel.

Biro Pusat Statistik telah mengadakan survei-survei kependudukan, contohnya Survei Ekonomi Nasional, Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS), dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS). Hasil dari survei ini melengkapi gosip yang didapat dari Sensus Penduduk dan Registrasi Penduduk. Survei pendduk juga sering dilakukan oleh pelaku industri untuk melihat sikap konsumen di lapangan. Baca juga: Dampak pencemaran lingkungan

Sumber http://www.gurugeografi.id

Sunday, August 6, 2017

√ Pengertian Dan Efek Overpopulasi Di Dunia

Apakah kau merasa dunia ini semakin padat oleh manusia?. Jika iya maka kita sudah masuk dalam fase overpopulasi alias ledakan penduduk. Overpopulasi artinya yakni situasi dimana sudah terlalu banyak insan tinggal dalam sebuah lokasi sementara kapasitas daya dukung dan daya tampung lahan sudah tidak lagi mendukung. Overpopulasi bukan hanya soal angka namun ada kaitan dengan penduduk dan sumber daya yang tersedia. Dulu mungkin jumlah insan hanya beberapa saja dalam satu wilayah, namun perkembangan peradaban dan teknologi menciptakan insan semakin tumbuh berkembang dari sisi kuantitas maupun kualitas di banyak sekali daerah.

Pengertian Populasi
Sebelum kita bahas wacana overpopulasi sangat penting untuk memahmi dulu wacana konsep populasi. Populasi diartikan sebagai total individu atau spesies yang tinggal dan menghuni suatu wilayah atau lingkungan geografi dalam waktu tertentu. Populasi yakni konsep angka. Populasi tidak hanya dipakai untuk menghitung insan yang tinggal dalam suatu daerah. Populasi juga yakni istilah ilmiah yang sanggup dipakai untuk semua studi wacana spesies mahluk hidup ibarat tumbuhan, binatang bahkan ganggang.
Apakah kau merasa dunia ini semakin padat oleh insan √ Pengertian dan Dampak Overpopulasi di Dunia
Kepadatan penduduk melanda dunia
Populasi dunia berdasarkan data PBB tahun 2016 yakni 7,4 milyar. Penting untuk dicatat bahwa bukan hanya jumlah orang yang tinggal di lokasi tersebut namun juga rasio dan hubungan antara jumlah penduduk dengan sumber daya berkelanjutan di kawasan tersebut. Beberapa orang percaya bahwa overpopulasi yakni hal jelek alasannya sumber daya di bumi terbatas. Ada juga yang percaya bahwa ini tidak jelek alasannya bumi kita punya kapasitas sumber daya luar biasa dan terus beregenerasi. 

Sayangnya insan lebih banyak mengambil sumber daya dengan rakus di bumi dibandingkan menciptakan proyek daur ulang dan mengurangi ketergantungan dengan materi baku dari alam. Pohon dan hutan lebih banyak hilang dibandingkan dengan reboisasi dan inilah yang mengancam masa depan. Data iklim menunjukkan peningkatan suhu bumi yang faktual 100 tahun terakhir. 

Dampak dari overpoulasi di bumi sanggup dirasakan baik secara lokal maupun global. Contoh sederhana yakni berkurangnya kapasitas air tanah, amblesan tanah, kriminalitas, longsor, banjir dan masih banyak lagi. Populasi berlebih menciptakan konsumsi juga semakin naik dan ini menciptakan sumber daya alam semakin menipis waktu ke waktu. Makara overpopulasi sanggup menjadi duduk masalah serius kalau tidak ditanggulangi dan dicari solusinya dari sekarang. Lihatlah Jakarta hari ini, penuh, sesak, macet, sudah cari kerja dll. Apakah hal ini akan semakin memburuk 5, 10, 20, 50 tahun akan datang?. Gambar: disini

Sumber http://www.gurugeografi.id