
Setiap pagi insan bepergian ke segala arah. Semuanya tentu memiliki tujuan. Ada yang ke daerah kerja, ke sekolah, ke pasar, dan sebagainya. Hampir Tak ada yang tak punya tujuan. Idealnya kehidupan pun demikian.
Dalam hidup ini idealnya insan punya tujuan yang jelas. Namun faktanya tidak demikian. Banyak insan yang galau untuk apa dia hidup di dunia ini. Apa yang dia cari dalam hidup ini. Misorientasi, itulah istilahnya berdasarkan saya.
style="display:block; text-align:center;"
data-ad-layout="in-article"
data-ad-format="fluid"
data-ad-client="ca-pub-6307354426047998"
data-ad-slot="8535325794">
Airnya Banyak insan yang mengakibatkan bahan atau harta benda sebagai tujuannya. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Apapun yang terjadi harus didapat. Menghalalkan segala cara.
Alhamdulillah dari remaja dulu saya punya pembimbing atau sanggup dibilang guru. Beliaulah yang selalu membimbing saya sampai ketika ini. Termasuk ketika saya galau memilih arah kehidupan.
Ketika saya galau terhadap suatu hal saya bertanya kepada beliau. Beliau selalu punya solusinya dan solusinya itu selalu bersumber dari agama. Sehingga saya selalu mantap untuk melangkah.
Suatu ketika saya ditawari untuk ikut sertifikasi guru “lewat jalan belakang”. Jujur, sebagai insan saya sempat tergiur dan hampir mendapatkan proposal itu. Namun hasilnya saya teringat pada guru kehidupan saya. Maka saya pun menelpon beliau. Dan dia menasehati bahwa untuk apa sanggup uang banyak kalau dari hasil yang tidak halal. Rezeki yang didapat pun tidak akan berkah. Maka kemudian hati saya mantap untuk menolak proposal itu.
Apakah anda pun demikian? Apakah anda punya guru kehidupan?
Jika belum segera temukan. Boleh jadi guru kehidupan Anda ialah orang-orang terdekat anda. Bisa jadi ia istri atau suami Anda. Bisa jadi orang bau tanah anda. Besok jadi sobat anda. Bisa siapapun.
Syarat untuk jadi guru kehidupan ialah pandangan yang lebih cukup umur dari kita. Lebih damai menghadapi masalah. Dan sanggup memandang suatu duduk kasus dari sudut pandang yang benar dalam hal ini sudut pandang agama.
Maka kalau Anda belum menemukan guru kehidupan, Temukanlah kini π
Sumber gambar: Pixabay
Sumber aciknadzirah.blogspot.com









Pagi tadi, sebelum pelajaran dimulai, menyerupai biasa saya bercerita kepada anak-anak. Kebiasaan ini coba saya rutinkan setiap pagi. Menurut sebuah penelitian, bercerita itu lebih “menghujam” besar lengan berkuasa di memori 22 kali dibandingkan data dan angka. Saya karenanya faham kenapa dalam Al-Qur’an dominan gaya penyampaiannya dengan bercerita.
