Showing posts with label Geomorfologi. Show all posts
Showing posts with label Geomorfologi. Show all posts

Saturday, June 16, 2018

√ Masswasting: Penyebab, Jenis Dan Upaya Pencegahannya

Masswasting merupakan pergerakan massa batuan hasil pelapukan atau sedimentasi yang menuruni lerengan dikarenakan imbas gravitasi. Masswasting sanggup merubah bentang alam kalau terjadi dalam skala yang besar. Longsor merupakan salah satu jenis masswasting yang berbahaya alasannya ialah sanggup merusak pemukiman dalam waktu singkat. Longsor di Ponorogo baru-baru ini merupakan salah satu masswasting terbesar yang melanda Indonesia. Puluhan jiwa terkubur longsor dan ratusan rumah hancur. Baca juga: Bedanya patahan dextral dan sinistral
Masswasting merupakan pergerakan massa batuan hasil pelapukan atau sedimentasi yang menuru √ Masswasting: Penyebab, Jenis dan Upaya Pencegahannya
Masswasting berupa longsoran batu
Fenomena masswasting sanggup terjadi tanggapan kombinasi banyak sekali faktor diantaranya:
1. Kemiringan lereng
Kondisi lereng yang curam akan memperbesar terjadinya masswasting alasannya ialah gaya gesek semakin rendah. Lereng yang miring sebaiknya tidak ditinggali atau masuk zona merah alasannya ialah rawan longsor.

2. Gravitasi
Semakin besar derajat kemiringan lereng maka semakin besar pula gravitasi yang bekerja sehingga material akan cenderung menuruni lereng.

3. Air
Air berfungsi sebagai penambah besarnya gerakan juga penambah beban sehingga sanggup mempermudah gerakan. Keberadaan air diantara butir-butir atuan atau tanah sanggup mengurangi daya kohesi antara material sehingga gampang terurai. 

4. Gempa atau getaran
Gempa bumi atau getaran tanggapan mesin sanggup menciptakan retakan di bukit dan lereng sehingga akan gampang untuk bergerak menuruni lereng.

5. Curah hujan 
Curah hujan yang tinggi akan menciptakan limpasan air di lereng semakin besar dan akan menjadikan erosi. 

6. Perubahan kondisi vegetasi
Kondisi lereng yang gundul akan lebih gampang untuk mengalami masswasting dibandingkan lereng yang ditumbuhi banyak vegetasi dengan akar yang kuat.

Masswasting sanggup diklasifikasikan dalam banyak sekali tipe sebagai berikut:
1. Rayapan tanah (soil creep)
Rayapan tanah merupakan proses gerakan tanah yang sangat lambat. Rayapan tanah sanggup dilihat dari adanya permukaan tanah bergelombang, tiang listrik miring, pagar miring dan dinding bangunan yang retak. Baca juga: Kondisi geografi Indonesia

2. Aliran tanah (earth flow)
Aliran tanah umumnya terjadi pada wilayah lembab dengan lereng curam. Fenomena ini terjadi dalam beberapa jam dan menghasilkan timbunan material berbentuk menyerupai undakan.
Masswasting merupakan pergerakan massa batuan hasil pelapukan atau sedimentasi yang menuru √ Masswasting: Penyebab, Jenis dan Upaya Pencegahannya
Rayapan tanah
3. Aliran lumpur (mud flow)
Aliran lumpur sanggup terjadi menuruni lereng di perbukitan dan pegunungan. Aliran lumpur sanggup terjadi pada perbukitan di gurun pasir ketika hujan deras. Aliran lumpur sanggup terjadi pada gunung api yang gres meletus. Hujan membawa bubuk vulkanik sisa letusan menuruni lereng sampai ke sungai membentuk banjir lahar.

4. Tanah longsor (landslide)
Tanah longsor ialah massa batuan yang meluncur dengan cepat ke bawah lereng. Ada dua bentuk tanah longsor ayitu longsoran gres (rock slide) dan runtuhan tanah (slump). Longsoran gres berupa massa batuan induk yang meluncur turun pada bidang miring yang rata menyerupai patahan. Sementara runtuhan tanah ialah massa batuan yang meluncur turun pada bidang miring yang cekung. Baca juga: Bedanya awan cirrus, stratus dan cumulus

5. Guguran batau (rock fall)
Masswasting paling cepat ialah guguran batu. Fenomena ini berupa massa batuan yang bergerak jatuh bebas dari tebing curam. Ukuran gres yang gugur sanggup bervariasi mulai watu kecil sampai bongkahan sebesar rumah.

Masswasting sanggup dicegah dengan melaksanakan hal berikut:
- menamam pohon kayu berakar berpengaruh di lereng terjal.
- tidak menciptakan sawah di atas lereng terjal.
- tidak menciptakan getaran di atas lereng.
- tidak membangun rumah di bukit yang miring. 

Gambar: www.ndsu.edu

Sumber http://www.gurugeografi.id

Thursday, June 14, 2018

√ Pengikisan Sungai: Bentuk Dan Faktor Debit Airnya

Sungai memainkan peranan penting dalam evolusi bentuk permukaan bumi. Erosi sungai membuat permukaan bumi bervariasi di aneka macam tempat. Aliran fluvial merupakan kombinasi proses fisika dan kimia dalam bentuk run off atau anutan permukaan. Mofologi sungai bervariasi di aneka macam tempat alasannya efek lingkungan sekitarnya. Air permukaan sanggup berwujud sungai maupun air yang mengalir pada punggung bukit (sheet water). Sumber utama air permukaan ialah presipitasi.

Menurut ada tidaknya susukan tetap, sungai dibedakan menjadi stream dan river. Stream ialah anutan air permukaan yang sanggup berpindah-pindah alirannya. River ialah anutan permukaan yang punya susukan tetap.

Besar kecilnya air permukaan atau debit air dipengaruhi oleh aneka macam factor diantaranya:
1. Jumlah curah hujan: kalau curah hujan besar maka air permukaan juga akan semakin banyak begitupun sebaliknya.
2. Kemiringan lereng: kawasan yang berlereng terjal akan mempermudah air untuk mengalir di permukaan alasannya efek gravitasi.
3. Geologi: terkait dengang porositas dan permeabilitas. Wilayah yang punya batuan dengan porositas dan permeabilitas besar maka akan lebih banyak menyerap air sehingga anutan permukaan akan lebih kecil. Contohnya ialah kawasan karst atau kapur. Karena porositas dan permeabilitas tinggi maka air akan masuk ke dalam Tanah sehingga tidak ada anutan permukaan.
4. Cuaca dan Iklim: kawasan beriklim air atau kering akan punya anutan air yang sedikit dibandingkan kawasan yang basah.
Sungai memainkan peranan penting dalam evolusi bentuk permukaan bumi √ Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya
Aliran sungai bersirat atau braided stream
Sementara besar kecilnya volume air yang masuk ke dalam Tanah ditentukan oleh faktor berikut:
1. Porositas dan permeabilitas batuan
Porositas ialah jumlah pori-pori batuan sementara permeabilitas ialah kecepatan lapisan batuan dalam meloloskan air. Semakin berpori batuan maka permeabilitas cenderung tinggi sehingga air akn lebih gampang masuk ke dalam Tanah menyerupai di kawasan karst. Makara mengapa di kawasan karst sulit air? alasannya faktor porositas dan permeabilitas kapur itu sendiri.
2. Vegetasi
Vegetasi atau flora memainkan peranan dalam meloloskan air ke dalam Tanah khususnya lewat akar. Semakin banyak vegetasi maka air akan gampang masuk ke dalam Tanah dan semakin sedikit vegetasi maka run off semakin besar tapi air yang masuk ke dalam semakin sedikit.
3. Struktur dan tekstur Tanah
Tanah yang bertekstur liat akan sulit meloloskan air menyerupai di sawah sementara Tanah yang bertekstur pasir akan lebih cepat meloloskan air.
4. Kegiatan organisme
Akitifitas organisme khususnya yang hidup di bawah Tanah akan membantu terhadap perembesan air. Cacing dan tikus Tanah misalnya akan membangun lorong-lorong di bawah Tanah dan hal tersebut membantu air untuk mengalir ke dalam Tanah.
5. Suhu
Tanah yang lembab atau hangat cenderung akan lebih banyak mempunyai volume air Tanah dibanding Tanah yang cuek menyerupai Tanah permafrost.
Sungai memainkan peranan penting dalam evolusi bentuk permukaan bumi √ Erosi Sungai: Bentuk dan Faktor Debit Airnya
Batuan kapur lebih gampang meloloskan air ke dalam tanah
Proses abrasi sungai mempunyai tiga bentuk yaitu erosi, transportasi dan sedimentasi. Erosi oleh air sungai dilakukan dengan cara berikut:
1. Quarrying atau pendongkelan  terhadap batuan yang dilalui
2. Abrasi yaitu penggerusan terhadap batuan yang dilalui
3. Scourring yaitu penggerusan dasar sungai sehingga kerikil, lempung dan pasir terangkut
4. Korosi yaitu reaksi antara batuan yang dilalui terutama di kawasan kapur

Kecepatan anutan sungai tidak sama di semua bagiannya. Kecepatan paling tinggi ada di tikungan luar atau sedikit di bawah permukaan air. Ketika sungai banjir maka kekuatan alirannya semakin besar sehingga hydrolic action akan melepaskan dan mengangkut material di dasar sungai sampai tebing sungai. Erosi tebing sungai yang berkelanjutan mengakibatkan alur sungai bergeser ke kiri atau ke kanan sehingga akan menjadi berkelok-kelok dan terbentuklah meander. Baca juga: Memahami potensi air tanah

Gambar: nicolasdory.com, limestonebarrens.ca

Sumber http://www.gurugeografi.id

Friday, June 1, 2018

√ Sejarah Terbentuknya Gumuk Pasir Parangkusumo

Gumuk pasir atau sand dunes merupakan salah satu fenomena alam yang terdapat di pesisir pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Fenomena alam gumuk pasir di Parangtritis merupakan satu-satunya di Asia dan sekarang menjadi wisata alam yang ramai dikunjungi wisatawan ketika hari libur tiba. Gumuk pasir merupakan hasil dari abrasi angin (eolian) dan hingga ketika ini terus berlangsung.

Gumuk pasit di Parangtritis bertipe Barchan atau berbentuk bulan sabit. Libur lebaran kemarin aku juga mengunjungi lokasi ini dan sudah ada beberapa akomodasi pendukung lainnya di sana. Kalau mau ke gumuk pasir ini aku sarankan tiba sore hari sebab bila siang panas banget. Bagaimana sanggup di Parangtritis terbentuk gumuk pasir yang begitu banyak?. Saya coba bahas wacana sejarah terbentuknya gumuk pasir Parangtritis.
Gumuk pasir Parangkusumo Bantul
Pada dasarnya gumuk pasir sanggup terbentuk asal syarat berikut terpenuhi:
1. adanya pasokan material pasir yang banyak
2. morfologi pantai landai
3. adanya arus angin yang berpengaruh untuk menerbangkan butiran pasir
4. demam isu kemarau dan hujan sangat tegas berbeda
5. perbedaan pasang anik dan surut cukup besar

1. Awal mula dahulu Gunung Merapi mengalami erupsi besar yang memuntahkan material vulkanik berupa debu, pasir, lahar panas dan dingin, kerikil dan lainnya. Material tersebut terbawa oleh sungai yang berhulu di Merapi. Semua fatwa kemudian menuju sungai Opak yang sanggup anda lihat ketika melintasi jembatan panjang sebelum masuk gerbang Parangtritis. Kaprikornus pasir di Parangtritis itu dati Merapi asalnya. Anda sanggup lihat warna pasir pantainya hitam bukan?. Itu tandanya pasir tersebut berasal dari endapan vulkanik beda dengan pasir pantai lain yang putih, pink atau lainnya. Kaprikornus pasir pantai tidak sama di semua tempat. 
Endapan pasir Merapi terbawa menuju pantai selatan
2. Sesampainya di muara, material endapan tersebut dihadang ombak besar pantai selatan sehingga menjadi butiran pasir halus yang sanggup diterbangkan angin dari laut. Ukuran pasir berkisar hingga 0,02 mikron. 

3. Gelombang bahari kemudian menggerakan pasir ke tepian pantai. Setelah hingga tepi pantai, pasir yang berair kemudian mengering  kehilangan berat sebab panas matahari dan terhempas angin menuju daratan. 

4. Pasir terus-menerus terbawa angin dan mengendap di daratan dan terbentuklah gundukan pasir. Gundukan inilah yang menjadi gumuk pasir. Gumuk pasir di Parangtritis berarah sesuai hembusan angin. Adanya pegunungan karst di timur menciptakan angin dari arah tenggara lebih berpengaruh sehingga contoh gumuk pasir cenderung menghadap ke tenggara.

Erosi angin di Parangtritis sangat berpengaruh dan sanggup menghancurkan bangunan di sekitar pantai. Ekosistem gumuk pasir sangat unik dan menjadi salah satu lokasi ekowisata yang ramai dikunjungi kalangan pelajar. Apalagi disana sekarang dibangun Laboratorium Geospasial yang dibuka untuk umum. Vegetasi yang umum dijumpai di tempat gumuk pasir ini yaitu Cemara Udang. Baca Juga: Tipe-Tipe Gumuk Pasir di Dunia

Sumber http://www.gurugeografi.id

Thursday, May 10, 2018

√ Ekosistem Gua Dan Cirinya

Gua atau cave merupakan sebuah bentukan alam yang terbentuk
di tempat kapur atau gamping. Gua terbentuk alasannya ialah air hujan yang mengandung sedikit asam melarutkan kapur, mengalir melalui celah-celah di bawah tanah dan mengeruk dinding celah yang semakin usang semakin besar sehingga berbentuk terowongan di dalam tanah yang kita sebut dengan gua. Baca juga: disini
Keindahan Gua Gong di Pacitan
Gua sebagai sebuah habitat sangat kurang menerima cahaya matahari sehingga tidak sanggup ditumbuhi vegetasi hijau. Biasanya lumut kerak sanggup djumpai atau sejenis organisme menyerupai kuman atau ganggang biru-hijau.  Fauna yang menghuni gua makanannya sangat tergantung dari luar. Beberapa jenis binatang gua sanggup dibagi menjadi 3 tipe yaitu:

1. Troglobit, merupakan sejenis binatang gua yang tidak sanggup hidup di luar gua.
2. Troglofil, merupakan jenis binatang gua yang sanggup hidup dan berkembang biak di dalam gua namun juga sanggup hidup di luar pada mikro habitat yang lembab dan gelap.
3. Troglozin, merupakan binatang yang mencari kuliner ke luar gua dan berlindung serta berkembang biak di dalam gua.

Baca juga:
Geografi Inggris

Di dalam gua sering mengalir sungai kecil dan adakalanya pedoman air itu bukanlah air permukaan namun limbah dari akuifer dan air tersebut sehat untuk diminum. Di dalam gua juga kadang djimpai stalagmit dan stalaktit. Gambar: disini
Keindahan Gua Gong di Pacitan
Gua sebagai sebuah habitat sangat kurang menerima cahaya matahari sehingga tidak sanggup ditumbuhi vegetasi hijau. Biasanya lumut kerak sanggup djumpai atau sejenis organisme menyerupai kuman atau ganggang biru-hijau.  Fauna yang menghuni gua makanannya sangat tergantung dari luar. Beberapa jenis binatang gua sanggup dibagi menjadi 3 tipe yaitu:

1. Troglobit, merupakan sejenis binatang gua yang tidak sanggup hidup di luar gua.
2. Troglofil, merupakan jenis binatang gua yang sanggup hidup dan berkembang biak di dalam gua namun juga sanggup hidup di luar pada mikro habitat yang lembab dan gelap.
3. Troglozin, merupakan binatang yang mencari kuliner ke luar gua dan berlindung serta berkembang biak di dalam gua.

Baca juga:
Bedanya meteoroid, meteor dan meteorit itu apa?
disini
Keindahan Gua Gong di Pacitan
Gua sebagai sebuah habitat sangat kurang menerima cahaya matahari sehingga tidak sanggup ditumbuhi vegetasi hijau. Biasanya lumut kerak sanggup djumpai atau sejenis organisme menyerupai kuman atau ganggang biru-hijau.  Fauna yang menghuni gua makanannya sangat tergantung dari luar. Beberapa jenis binatang gua sanggup dibagi menjadi 3 tipe yaitu:

1. Troglobit, merupakan sejenis binatang gua yang tidak sanggup hidup di luar gua.
2. Troglofil, merupakan jenis binatang gua yang sanggup hidup dan berkembang biak di dalam gua namun juga sanggup hidup di luar pada mikro habitat yang lembab dan gelap.
3. Troglozin, merupakan binatang yang mencari kuliner ke luar gua dan berlindung serta berkembang biak di dalam gua.

Baca juga:
3 teknik proyeksi peta paling umum

Contoh fauna gua diantaranya kelelawar, cacing, ular dan lipan. Baca juga: disini
Keindahan Gua Gong di Pacitan
Gua sebagai sebuah habitat sangat kurang menerima cahaya matahari sehingga tidak sanggup ditumbuhi vegetasi hijau. Biasanya lumut kerak sanggup djumpai atau sejenis organisme menyerupai kuman atau ganggang biru-hijau.  Fauna yang menghuni gua makanannya sangat tergantung dari luar. Beberapa jenis binatang gua sanggup dibagi menjadi 3 tipe yaitu:

1. Troglobit, merupakan sejenis binatang gua yang tidak sanggup hidup di luar gua.
2. Troglofil, merupakan jenis binatang gua yang sanggup hidup dan berkembang biak di dalam gua namun juga sanggup hidup di luar pada mikro habitat yang lembab dan gelap.
3. Troglozin, merupakan binatang yang mencari kuliner ke luar gua dan berlindung serta berkembang biak di dalam gua.

Baca juga:
jenis lahan berair dan karakteristiknya

Gua-gua yang terdapat di Indonesia mempunyai arti luas alasannya ialah sanggup dipakai untuk kepentingan rekreasi atau iptek. Keindahan gua di Indonesia sudah dikenal semenjak masa pertengahan oleh bangsa Eropa. Salah satu kabupaten yang mempunyai kenampakan gua yang indah antara lain di Pacitan dan Gunung Kidul. Paket-paket pariwisata susur gua atau cave expedition kini banyak bermunculan. Gua merupakan tempat tinggal insan purba dan banyak fosil-fosil ditemukan di gua-gua yang terdapat di Indonesia. Baca juga:disini
Keindahan Gua Gong di Pacitan
Gua sebagai sebuah habitat sangat kurang menerima cahaya matahari sehingga tidak sanggup ditumbuhi vegetasi hijau. Biasanya lumut kerak sanggup djumpai atau sejenis organisme menyerupai kuman atau ganggang biru-hijau.  Fauna yang menghuni gua makanannya sangat tergantung dari luar. Beberapa jenis binatang gua sanggup dibagi menjadi 3 tipe yaitu:

1. Troglobit, merupakan sejenis binatang gua yang tidak sanggup hidup di luar gua.
2. Troglofil, merupakan jenis binatang gua yang sanggup hidup dan berkembang biak di dalam gua namun juga sanggup hidup di luar pada mikro habitat yang lembab dan gelap.
3. Troglozin, merupakan binatang yang mencari kuliner ke luar gua dan berlindung serta berkembang biak di dalam gua.

Baca juga:
sudah coba tahu gejrot khas Cirebon?

Sumber http://www.gurugeografi.id

Monday, April 9, 2018

√ Terbentuknya Stalaktit Dan Stalagmit Di Gua

Terbentuknya Stalaktit dan Stalagmit - Jika kau pergi mengunjungi gua kapur tentu kau akan menjumpai dua ornamen unik disana yaitu stalaktit dan stalagmit. Stalaktit dan Stalagmit yaitu deretan batuan runcing yang banyak ditemukan pada dua kapur atau karst. Orang seringkali lupa membedakan mana yang stalaktit dan mana yang stalagmit. Cara membedakannya yaitu bahwa stalactite punya aksara "c" dari kata ceilling artinya atap dan stalagmite punya aksara "g" dari kata ground yang artinya tanah.

Dengan begitu kau sudah niscaya dapat membedakan keduanya yang sering disebut juga sebagai dripstone. Saat air mengalir turun melalui tanah dan masuk kedalam gua, ia akan melarutkan mineral yang disebut kalsit dan membawanya melaui rekahan di langit-langit gua. Air yang menetes meninggalkan bekas kalsit, yang perlahan terbentuk di langit-langit hingga terbentuk stalaktit menggantung ibarat es. Baca juga: Genesa batuan beku

Sementara itu air dari ujung stalaktit meninggalkan lebih banyak kalsit di tumpukan lantai gua dan tak usang membentuk stalagmit ibarat kerucut. Itulah mengapa stalaktit dan stalagmit biasanya ditemukan berpasangan. Stalaktit dan stalagmit yang bertemu akan menghasilkan pillar atau kolom. Gambar: disini
 Jika kau pergi mengunjungi gua kapur tentu kau akan menjumpai dua ornamen unik disana y √ Terbentuknya Stalaktit dan Stalagmit di Gua
Stalaktit dan stalagmit gua kapur
Gua kapur merupakan lokasi wisata yang terkenal di aneka macam penggalan bumi. Di Indonesia wisata susur gua banyak di temukan di Gunung Kidul, Pacitan dan Sulawesi Selatan. Gua kapur di Indonesia mempunyai kedalaman dan panjang yang bervariasi. Baca juga: Batuan beku intrusif dan ekstrusif

Bentuk-bentuk ornemen gua kapur bervariasi dikarenakan mengembangkan faktor ibarat bagaimana air memasuki gua (menetes, merembes, atau memercik). Selain itu warna ornamen di gua ditentukan oleh kandungan mineralnya. Kalsit murni berwarna putih dan hampir tidak berwarna. Besi dan mineral lain serta asam dari vegetasi permukaan menambah warna merah, oranye, hitam ke stalaktit dan stalagmit. Baca juga: Dampak Perubahan Iklim bagi dunia

Sumber http://www.gurugeografi.id

Sunday, March 18, 2018

√ Perbedaan Mesa, Butte Dan Plateau

Dalam istilah geologi tentu kau akan sering menjumpai banyak sekali macam istilah menyerupai Mesa, Butte dan Plateau. Jika kau pergi ke Amerika Serikat sana dan pergi ke wilayah barat daya maka kau akan banyak menjumpai fitur geomorfologi ini. Ketiga jenis morfologi ini intinya mempunyai permukaan yang datar dengan sisi yang  relatif terjal. 

Dalam istilah awam, butte ialah sebuah bukit kecil yang datar atau runcing. Mesa ialah bukit dengan ukuran sedang yang datar. Plateau ialah sebuah bukit atau pegunungan yang relatif luas. Salah satu sumber menyatakan bahwa mesa mempunyai luas permukaan kurang dari 10 km persegi sedangkan butte mempunyai luas permukaan kurang dari 1.000 meter persegi. Baca juga: Bedanya stalaktit dan stalagmit

Dalam istilah geologi tentu kau akan sering menjumpai banyak sekali macam istilah menyerupai Mesa √ Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau
Mesa dan Butte di Barat daya Amerika
Karakteristik mesa dan butte paling umum ialah puncak yang datar dengan sisi yang terjal atau curam. Hal ini dikarenakan gugusan batuan yang membentuknya. Bentang alam ini paling banyak tersusun atas batuan sedimen, dibangun dari akumulasi dan kompresi sedimen yang mungkin mengandung fragmen batuan, sisa-sisa organisme miskropkopis dan mineral. Batuan sedimen menutupi lebih  dari 75% daratan Bumi. Sebagian besar batuan sedimen terlihat berlapis-lapis disebut strata dan dikala pertamakali terbentuk mempunyai bentuk horizontal. Gaya endogen dan eksogen mengubah struktur awal batuan sedimen menjadi banyak sekali bentuk menyerupai lipatan, patahan atau sesar. Baca juga: Mekanisme arus turbidit

Lapisan atas mesa dan butte ialah lapisan batuan yang keras dan tahan terhadap pengikisan yang secara sedikit demi sedikit menghilang dari permukaan bumi alasannya pengikisan angin dan air. Kadang, lapisan atas ini disebut lapisan epilog dan tersusun bukan dari batuan sedimen tapi lava yang membeku yang menyebar di permukaan bumi melalui retakan kulit bumi. Di bawah lapisan lava beku ini terdapat lapisan batuan sedimen lembut. 
Dalam istilah geologi tentu kau akan sering menjumpai banyak sekali macam istilah menyerupai Mesa √ Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau
Morofologi aeolian
Mesa dan butte banyak ditemukan pada tempat kering atau beriklim gurun. Presipitasi di tempat kering ini sering terjadi sesekali saja namun sangat besar. Karena evaporasi tinggi maka  vegetasi dan jenis tutupan lahan lain sangat jarang ditemui. Sisi lereng mesa dan butte selalu tererosi sepanjang waktu mengerosi lapisan batuan dan menyisakan endapan pasir halus di setiap sisinya. Baca juga: Bedanya wadi dan oasis gurun
Gambar: disini, disini,

Sumber http://www.gurugeografi.id

Thursday, March 1, 2018

√ Geologi Patahan Lembang Bandung

Patahan Lembang atau Sesar Lembang terletak di bab utara Bandung dengan jarak 10 km dari sentra kota. Patahan memanjang dari timur ke barat dengan jarak 22 km. Patahan Lembang melewati Maribaya di timur dan Cisarua di barat. Patahan Lembang ini berbentuk escarpment. Tebing menghadap ke bab utara dengan ketinggian 450 m sementara di bab barat lebih rendah yaitu 40 m. Baca juga: Iklim Indonesia bertipe Af

Patahan ini menghilang di sisi utara Padalarang. Tinggi tebing mencerminkan besarnya pergeseran dari sesar Lembang.  Sesar Lembang terbentuk sekitar 100.000 tahun kemudian di bab timur bersamaan dengan munculnya deretan kaldera melalui letusan cataclismic. Sementara itu di bab baratnya, patahan terbentuk 27.000 tahun lalu. Umur patahan lembang didapat dari deposit piroklastik yang muncul di lokasi patahan. Sesar Lembang sanggup diamati dengan baik dari Gunung Batu yang bertipe andesit. Baca juga: Permafrost, lapisan tanah beku
Patahan Lembang atau Sesar Lembang terletak di bab utara Bandung dengan jarak  √ Geologi Patahan Lembang Bandung
Peta Sesar Lembang
Penelitian terbaru membuktikan bahwa sesar Lembang ini termasuk sesar aktif dimana gempa  Cihideung tahun 1999 ialah salah satu dampaknya. Pergeseran rata-rata sesar Lembang mencapai 3 mm per tahun dan kalau gempa terjadi maka wilayah pemukiman di Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Bandung akan terdampak.

Baca juga:
Teori ruang kota Burgess Konsentrik
Faktor pendorong dan penarik urbanisasi

Secara geologi, Bandung terbagi ke dalam empak zonasi yaitu:
1. Kategori B, batuan keras tersusun atas breksi, watu gunung api, dan lava gunung api Sunda purba.
2. Kategori BC, merupakan batuan beku muda terdiri dari tuf, lava, breksi Malabar dan Tangkuban Perahu.
3. Kategori CD, berupa sedimen Miosen tersusun atas tuf, breksi, watu pasir lava, konglomerat.
4. Kategori D, berupa sedimen Lacustrine.

Jika sesar Bandung ini bergerak maka seluruh Cekungan Bandung akan terkena efek dari getaran tersebut. Sedimen lunak yang menyusun cekungan Bandung akan terkoyak dan menghancurkan kota Bandung. Temuan LIPI menyatakan bahwa ada 290 titik sesar aktif di patahan Lembang yang berpotensi mengancam. Mitigasi tragedi di kawasan sesar Lembang harus diantisipasi. Sesar Lembang mungkin ketika ini terlihat wacana namun kalau suatu ketika mengamuk maka insan yang akan menjadi korbannya. Baca juga: Menghitung proyeksi penduduk
Gambar: disini

Sumber http://www.gurugeografi.id