Showing posts with label Literasi. Show all posts
Showing posts with label Literasi. Show all posts

Friday, February 8, 2019

√ Memahami Pengertian Dan Agenda Gerakan Literasi Sekolah (Gls)

Salah satu upaya menyeluruh yang diprogramkan secara nasional dalam melaksanakan pendidikan di sekolah supaya semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berbagi suatu gerakan yang disebut GerakanLiterasi Sekolah (GLS). Demikian pentingnya, jadwal nasional ini dikukuhkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2015.

Literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Budaya literasi dimaksudkan untuk melaksanakan kebiasaan berfikir yang diawali dengan acara membaca dan menulis hingga tercipta sebuah karya bahkan terjadinya perubahan tingkah laris dan kebijaksanaan pekerti yang baik.

Pengertian Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yaitu sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk mengakibatkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik mulai dari semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah) juga melibatkan Komite Sekolah, orang tua/wali murid penerima didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang sanggup merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.)

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memperkuat gerakan penumbuhan kebijaksanaan pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2015. Salah satu acara di dalam gerakan tersebut yaitu acara 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu mencar ilmu dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca penerima didik serta meningkatkan keterampilan membaca supaya pengetahuan sanggup dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai kebijaksanaan pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan penerima didik.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) diperlukan bisa menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk gotong royong memiliki, melaksanakan, dan mengakibatkan gerakan ini sebagai bab penting dalam kehidupan.

Mengacu pada metode pembelajaran Kurikulum 2013 yang menempatkan penerima didik sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, acara literasi tidak lagi berfokus pada penerima didik semata. Guru, selain sebagai fasilitator, juga menjadi subjek pembelajaran. Akses yang luas pada sumber informasi, baik di dunia positif maupun dunia maya sanggup mengakibatkan penerima didik lebih tahu daripada guru. Oleh alasannya itu, acara penerima dalam berliterasi semestinya tidak lepas dari donasi guru, dan guru sebaiknya berupaya menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru dan pemangku kebijakan sekolah merupakan figur pola literasi di sekolah.

Silahkan Baca Juga;
Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) - [klik di sini]
Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS) - [klik di sini]

Tujuan Umum Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yaitu Menumbuhkembangkan kebijaksanaan pekerti penerima didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah supaya mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Sedangkan Tujuan Khusus Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah:
  1. Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.
  2. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah supaya literat.
  3. Menjadikan sekolah sebagai taman mencar ilmu yang menyenangkan dan ramah anak supaya warga sekolah bisa mengelola pengetahuan.
  4. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan bermacam-macam buku bacaan dan mewadahi banyak sekali taktik membaca.
Tahapan Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yaitu sebagai berikut:
  1. Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran: memakai buku pengayaan dan taktik membaca di semua mata pelajaran
  2. Meningkatkan kemampuan literasi melalui acara menanggapi buku pengayaan
  3. Penumbuhan minat baca melalui acara 15 menit membaca.

Demikian sajian warta mengenai Memahami Pengertian dan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sanggup disajikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

√ Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (Gls)

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memperkuat gerakan penumbuhan kebijaksanaan pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu acara di dalam gerakan tersebut yakni “Kegiatan 15 Menit Membaca Buku Nonpelajaran Sebelum Waktu Belajar Dimulai”.

Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca penerima didik / siswa serta dalam rangka meningkatkan keterampilan membaca biar pengetahuan sanggup dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai kebijaksanaan pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan penerima didik.


Silahkan Baca Juga;
Memahami Pengertian dan Program GLS - [klik di sini]
Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS) - [klik dis sini]

Sebagai pedoman bagi seluruh satuan pendidikan dasar maupun pendidikan menengah, silahkan Download Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk SD (SD), SMP (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Luar Biasa (SLB) selengkapnya, silahkan klik pada link d0wnl0ad di bawah ini:

1.  Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SD - [klikdi sini]
2.  Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMP - [klikdi sini]
3.  Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengan Atas - [klikdi sini]
4.  Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah kejuruan - [klikdi sini]
5.  Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SLB - [klikdi sini]

Demikian sajian info mengenai Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sanggup disajikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Thursday, February 7, 2019

√ Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (Gls)

Praktik pendidikan perlu menyebabkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran semoga semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mendukungnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membuatkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).


Silahkan Baca Juga;

Dalam upaya untuk lebih melancarkan pelaksanan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah GLS), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menerbitkan Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk SD (SD), SMP (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Ditambah lagi, untuk lebih memperlihatkan akomodasi pada siswa dalam melakukan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Untuk mendapat Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS) atau Buku Saku GLS silahkan Download pribadi - [klikdi sini]

Demikian sajian gosip mengenai Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sanggup disajikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Monday, October 1, 2018

√ Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Olimpiade Literasi Siswa Nasional (Olsn) Smp/Mts 2018

Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP/MTs 2018 || Sebagai upaya memperlihatkan ruang untuk menyebarkan kreativitas dan potensi siswa SMP (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di bidang bahasa, seni, sastra, dan budaya melalui acara literasi, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan kegiatan Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP/MTs Tahun 2018 dan telah menerbitkan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) SMP/MTs 2018.

Kegiatan OLSN SMP/MTs ialah suatu kegiatan yang bersifat kompetisi di bidang literasi antar siswa SMP/MTs atau yang sederajat dalam lingkup wilayah atau tingkat lomba tertentu.

Kegiatan OLSN SMP/MTs 2018 tidak hanya berorientasi pada kejuaraan. Esensi kegiatan ini terletak pada nilai pendidikannya, sebagai pengalaman berguru (learning experience), sekaligus sebagai upaya menguatkan pendidikan karakter, ibarat perilaku saling menghargai, saling menghormati, solidaritas dan toleransi. Dengan begitu, OLSN sebagai bab dari Gerakan Literasi Sekolah(GLS) sanggup menjadi bab untuk mempercepat terwujudnya indonesia literat.

Pada tahun 2018, OLSN SMP/MTs 2018 bertema Dunia Tanpa Batas. Tema ini diusung untuk memberi ruang sebesar-besarnya kepada akseptor didik untuk terus berimajinasi.

Cabang yang dilombakan pada OLSN SMP/MTs 2018 terdiri atas 4 (empat) jenis, yaitu:
  1. Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia
  2. Lomba Debat Berbahasa Indonesia
  3. Lomba Kreativitas Cerita Berbahasa Inggris (Story Telling)
  4. Lomba Cipta Puisi
Download; File Lengkap Juklak OLSN SMP/MTs 2018[klik disini]

Sekretariat Penyelenggara OLSN SMP/MTs 2018:
Direktorat Pembinaan SMP
up. Kegiatan Bakat dan Prestasi Subdit Peserta Didik
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jl. Jenderal Sudirman, Gedung E Lantai 17 Senayan, Jakarta Pusat, 10270
Telepon +62 21 5725683 Faks. +62 21 57900459
Sekretariat Lomba +62 87781037040

Demikian sajian info mengenai Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Olimpiade Literasi Siswa Nasional SMP/MTs 2018 yang sanggup disajikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Thursday, September 20, 2018

√ Teladan Agenda Gerakan Literasi Sekolah


Contoh Program Gerakan Literasi Sekolah || Sebagaimana telah diketahui bahwa Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memperkuat gerakan penumbuhan kebijaksanaan pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut yaitu kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu berguru dimulai. Hal ini dilakukan tujuannya tidak lain yaitu untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa mengenai pentingnya membaca. Selain dari itu, beberapa Program Gerakan Literasi Sekolah yang sanggup dilaksanakan sebagai kegiatan pendukung yaitu sebagai berikut.

Jadwal Wajib Kunjung Perpustakaan
Jadwal berkunjung ke perpustakaan yaitu teladan Program Gerakan Literasi Sekolah yang pertama yang sanggup dilaksanakan di sekolah. Program ini sanggup diimplementasikan dengan cara menyusun kegiatan sedemikian rupa sehingga setiap kelas sanggup mengunjungi perpustakaan. Bukan hanya berkunjung saja, tetapi wajibkan pula siswa untuk meminjam buku, menyusun resume dari beberapa lembar buku yang telah dibacanya lalu wajibkan pula siswa untuk mengembalikan buku.

Pemberdayaan Majalah Dinding (Mading) di Setiap Kelas
Pemberdayaan mading di setiap kelas ini sanggup dilakukan dengan cara mewajibkan siswa untuk membaca bebas ataupun mencari acuan apapun di sekitar sekolah setidaknya selama 10 menit. Setelah itu, wajibkan siswa untuk menciptakan laporan, karangan ataupun resum dari apa yang dibacanya ataupun diamatinya, dan karenanya tempelkan pada mading kelas. Sebagai langkah awal, kegiatan ini sanggup dilakukan setiap seminggu sekali.

Membaca Buku NonPelajaran Sebelum Proses Belajar Dimulai
Buku non pelajaran yang dimaksudkan di sini sanggup berupa buku cerita, novel ataupun buku jenis lain yang lebih mengajarkan nilai kebijaksanaan pekerti, kearifan lokal, nasionalisme dan lain-lain yang lebih diadaptasi pada tahap perkembangan siswa.

Posterisasi Sekolah
Membuat poster-poster yang berisi ajakan, motivasi maupun kata mutiara yang ditempel atau digantung di beberapa spot di kelas atau di sekolah.

Membuat Pohon Literasi di Setiap Kelas
Pohon literasi sanggup dibentuk oleh siswa secara mandiri. Nantinya daun-daun yang ada pada pohon literasi sanggup ditulis dengan nama-nama siswa sekelas / keinginan siswa / aksara mulia yang harus dilakukan.

Membuat Sudut Baca di beberapa daerah di sekolah
Sudut baca merupakan suatu daerah khusus di bab kelas/sekolah dimana tersedia kumpulan buku bacaan dan daerah duduk yang nyaman untuk membaca. Tempatnya sanggup di depan kelas, pojok kelas, samping kantin, depan ruang guru, samping mushola sekolah, dll.

Membuat Papan Karya Literasi Siswa di Setiap Kelas
Papan karya literasi yaitu sebuah papan untuk menempelkan hasil karya literasi siswa. Papan karya literasi ini sanggup diprogramkan di setiap kelas.

Membuat Dinding Motivasi di setiap kelas
Dinding motivasi yaitu sebuah hiasan dinding kelas yang berisi kata-kata motivasi untuk menginspirasi siswa.

Mengadakan Lomba Duta Literasi Sekolah
Agenda Lomba Duta Literasi sekolah merupakan salah satu kegiatan alternatif untuk memotivasi anak dalam ber-literasi. Beberapa kriteria untuk menjadi Duta Literasi Sekolah antara lain yaitu siapa peminjam buku perpustakaan terbanyak dalam 1 semester / siapa yang berhasil menuntaskan banyak buku untuk dibaca dalam 1 semester an lain-lain.

Mengadakan Lomba Karya Literasi Antar Kelas
Lomba Karya Literasi antar kelas juga sanggup menjadi salah satu kegiatan gerakan literasi sekolah yang menarik. Lombanya sanggup berupa lomba mading antar kelas, lomba poster antar kelas, lomba menciptakan pohon literasi antar kelas, dan lain-lain.

Demikian sajian gosip mengenai Contoh Program GerakanLiterasi Sekolah yang sanggup disampaikan pada kesempatan ini.

Semoga yang berikut ini bermanfaat ...

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Monday, September 17, 2018

√ Download Panduan Taktik Literasi Dalam Pembelajaran Sd

Download Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SD || Literasi, di awal, dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’. Pada langkah awal, ‘melek baca’ dan ‘tulis’ ditekankan alasannya yakni kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam banyak sekali hal atau disebut “multiliterasi”. Dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS), literasi merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan memakai sesuatu secara cerdas melalui banyak sekali aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/berbicara.

Peta jalan Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud (2017) mendefinisikan literasi sebagai:
  1. suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, dan berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan memakai informasi;
  2. sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks;
  3. sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari; dan
  4. sebagai pemanfaatan teks yang bervariasi berdasarkan subjek, genre,dan tingkat kompleksitas bahasa.
Baca Juga;
    Memahami Pengertian Literasi Digital - [klik di sini]
    Gerakan Literasi Digital di Sekolah - [klik di sini]

Agar bisa bertahan di kurun 21, masyarakat harus menguasai enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi teknologi warta dan komunikasi, literasi keuangan, serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai yakni literasi kesehatan, literasi keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan literasi kriminal (bagi siswa SD disebut “sekolah aman”). Literasi gestur pun perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para disabilitas.

Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun se kolah yang literat. Untuk itu, implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pun merupakan sebuah proses biar siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang akibatnya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut.

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) dilaksanakan melalui tiga tahap, (1) tahap pembiasaan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pembelajaran. Sehubungan dengan Tahap ke-3, Implementasi GLS dalam Pembelajaran, berikut disajikan Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SD.

DOWNLOAD File Lengkap;
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SD - [klik disini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SMP - [klik di sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SMA - [klik di sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SMK - [klik di sini]

Demikian sajian warta mengenai Panduan Strategi Literasidalam Pembelajaran SD yang sanggup disampaikan pada kesempatan ini. Semoga sajian berikut bermanfaat ...

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Sunday, September 16, 2018

√ Download Panduan Taktik Literasi Dalam Pembelajaran Smp

Download Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama || Literasi, di awal, dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’. Pada langkah awal, ‘melek baca’ dan ‘tulis’ ditekankan alasannya yaitu kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam banyak sekali hal atau disebut “multiliterasi”. Dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS), literasi merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan memakai sesuatu secara cerdas melalui banyak sekali aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/berbicara.

Peta jalan Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud (2017) mendefinisikan literasi sebagai:
  1. suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, dan berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan memakai informasi;
  2. sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks;
  3. sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari; dan
  4. sebagai pemanfaatan teks yang bervariasi berdasarkan subjek, genre,dan tingkat kompleksitas bahasa.
Agar bisa bertahan di kala 21, masyarakat harus menguasai enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi teknologi warta dan komunikasi, literasi keuangan, serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai yaitu literasi kesehatan, literasi keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan literasi kriminal . Literasi gestur pun perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para disabilitas.

Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun se kolah yang literat. Untuk itu, implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pun merupakan sebuah proses biar siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang kesudahannya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut.

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) dilaksanakan melalui tiga tahap, (1) tahap pembiasaan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pembelajaran. Sehubungan dengan Tahap ke-3, Implementasi GLS dalam Pembelajaran, berikut disajikan Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMP.

DOWNLOAD File Lengkap;
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMP[klik di sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SMK - [klik di sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SMA - [klik di sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SD - [klik di sini]

Demikian sajian warta mengenai Panduan Strategi Literasidalam Pembelajaran SMP yang sanggup disampaikan pada kesempatan ini. Semoga sajian berikut bermanfaat ...

Sumber http://www.tozsugianto.com/

√ Download Panduan Seni Administrasi Literasi Dalam Pembelajaran Sma

Download Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran Sekolah Menengan Atas || Literasi, di awal, dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’. Pada langkah awal, ‘melek baca’ dan ‘tulis’ ditekankan alasannya yakni kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam banyak sekali hal atau disebut “multiliterasi”. Dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS), literasi merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan memakai sesuatu secara cerdas melalui banyak sekali aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/berbicara.

Peta jalan Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud (2017) mendefinisikan literasi sebagai:
  1. suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, dan berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan memakai informasi;
  2. sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks;
  3. sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari; dan
  4. sebagai pemanfaatan teks yang bervariasi berdasarkan subjek, genre,dan tingkat kompleksitas bahasa.
Agar bisa bertahan di kurun 21, masyarakat harus menguasai enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi teknologi warta dan komunikasi, literasi keuangan, serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai yakni literasi kesehatan, literasi keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan literasi kriminal . Literasi gestur pun perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para disabilitas.

Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun se kolah yang literat. Untuk itu, implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pun merupakan sebuah proses semoga siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang jadinya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut.

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) dilaksanakan melalui tiga tahap, (1) tahap pembiasaan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pembelajaran. Sehubungan dengan Tahap ke-3, Implementasi GLS dalam Pembelajaran, berikut disajikan Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMA .

DOWNLOAD File Lengkap;
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMA - [klikdi sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMK - [klikdi sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMP - [klikdi sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SD - [klikdi sini]

Demikian sajian warta mengenai Panduan Strategi Literasidalam Pembelajaran SMA yang sanggup disampaikan pada kesempatan ini. Semoga sajian berikut bermanfaat ...

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Saturday, September 15, 2018

√ Download Panduan Taktik Literasi Dalam Pembelajaran Smk

Download Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran Sekolah Menengah kejuruan || Literasi, di awal, dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’. Pada langkah awal, ‘melek baca’ dan ‘tulis’ ditekankan sebab kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam aneka macam hal atau disebut “multiliterasi”. Dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS), literasi merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan memakai sesuatu secara cerdas melalui aneka macam aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/berbicara.

Peta jalan Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud (2017) mendefinisikan literasi sebagai:
  1. suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, dan berbicara, kecakapan berhitung, dan kecakapan dalam mengakses dan memakai informasi;
  2. sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks;
  3. sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari; dan
  4. sebagai pemanfaatan teks yang bervariasi berdasarkan subjek, genre,dan tingkat kompleksitas bahasa.
Agar bisa bertahan di kurun 21, masyarakat harus menguasai enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi teknologi info dan komunikasi, literasi keuangan, serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai ialah literasi kesehatan, literasi keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan literasi kriminal . Literasi gestur pun perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para disabilitas.

Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun se kolah yang literat. Untuk itu, implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pun merupakan sebuah proses biar siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang kesannya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut.

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) dilaksanakan melalui tiga tahap, (1) tahap pembiasaan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pembelajaran. Sehubungan dengan Tahap ke-3, Implementasi GLS dalam Pembelajaran, berikut disajikan Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMK.

DOWNLOAD File Lengkap;
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMK - [klikdi sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMA - [klikdi sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pembelajaran SMP - [klikdi sini]
Panduan Strategi Literasi dalam Pemelajaran SD - [klikdi sini]

Demikian sajian info mengenai Panduan Strategi Literasidalam Pembelajaran SMK yang sanggup disampaikan pada kesempatan ini. Semoga sajian berikut bermanfaat ...

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Monday, June 25, 2018

√ Memahami Pengertian Literasi Digital

Memahami Pengertian Literasi Digital || Literasi Digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan memakai informasi dalam banyak sekali bentuk dari banyak sekali sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti computer. Demikian dikemukakan Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997). Pendapat lain yang disampaikan Bawden (2001) menunjukkan pemahaman gres mengenai Literasi Digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi. Literasi komputer berkembang pada dekade 1980-an, saat komputer mikro semakin luas dipergunakan, tidak saja di lingkungan bisnis, tetapi juga di masyarakat. Namun, literasi informasi gres menyebar luas pada dekade 1990-an manakala informasi semakin gampang disusun, diakses, disebarluaskan melalui teknologi informasi berjejaring. Dengan demikian, mengacu pada pendapat Bawden, literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Sementara itu, Ilmuwan terkemuka berjulukan Douglas A.J. Belshaw dalam tesisnya What is ‘Digital Literacy‘? (2011) menyampaikan bahwa ada delapan elemen esensial untuk menyebarkan literasi digital, yaitu sebagai berikut.
  1. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital;
  2. Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten;
  3. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang hebat dan aktual;
  4. Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital;
  5. Kepercayaan diri yang bertanggung jawab;
  6. Kreatif, melaksanakan hal gres dengan cara baru;
  7. Kritis dalam menyikapi konten; dan
  8. Bertanggung jawab secara sosial.
Bacaan Selanjutnya;
   Pentingnya Literasi Digital - [klik di sini]
   Tantangan dan \peluang Literasi Digital - [klik di sini]
   Prinsip Dasar Pengembangan Literasi Digital - [klik di sini]
   Indikator Literasi Digital - [klik di sini]
   Gerakan Literasi Digital di Sekolah - [klik di sini]
   Gerakan Literasi Digital di Keluarga - [klik di sini]
   Gerakan Literasi Digital di Masyarakat - [klik di sini]

Aspek kultural menjadi elemen terpenting alasannya yaitu memahami konteks pengguna akan membantu aspek kognitif dalam menilai konten. Dari beberapa pendapat di atas sanggup disimpulkan bahwa Literasi Digital yaitu pengetahuan dan kecakapan untuk memakai media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, menciptakan informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh aturan dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian hidangan informasi wacana Memahami Pengertian Literasi Digital yang sanggup disampaikan. Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Sunday, June 24, 2018

√ Tantangan Dan Peluang Literasi Digital


Tantangan dan Peluang Literasi Digital || Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama dengan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia, total jumlah pengguna Internet di Indonesia per awal 2015 yaitu 88,1 juta orang. Akan tetapi, sesuai dengan riset yang dilansir oleh wearesocial.sg pada tahun 2017 tercatat ada sebanyak 132 juta pengguna internet di Indonesia dan angka ini tumbuh sebanyak 51 persen dalam kurun waktu satu tahun.

Perkembangan dunia digital sanggup menjadikan dua sisi yang berlawanan dalam kaitannya dengan pengembangan literasi digital. Berkembangnya peralatan digital dan susukan akan informasi dalam bentuk digital mempunyai tantangan sekaligus peluang. Salah satu kehawatiran yang muncul yaitu jumlah generasi muda yang mengakses internet sangat besar, yaitu kurang lebih 70 juta orang. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk berinternet, baik melalui telepon genggam, komputer personal, atau laptop, mendekati 5 jam per harinya. Tingginya penetrasi internet bagi generasi muda tentu meresahkan banyak pihak dan fakta memperlihatkan bahwa data susukan anak Indonesia terhadap konten berbau p0rn*grafi per hari rata-rata mencapai 25 ribu orang (Republika, 2017). Belum lagi sikap berinternet yang tidak sehat, ditunjukkan dengan menyebarnya isu atau informasi hoaks, ujaran kebencian, dan intoleransi di media sosial. Hal-hal tersebut tentu menjadi tantangan besar bagi orang tua, yang mempunyai tanggung jawab dan tugas penting dalam mempersiapkan generasi era ke-21, generasi yang mempunyai kompetensi digital.

Hasil riset yang dilansir oleh Mitchell Kapoor menunjukkan bahwa generasi muda yang mempunyai keahlian untuk mengakses media digital, ketika ini belum mengimbangi kemampuannya menggunakan media digital untuk kepentingan memperoleh informasi pengembangan diri. Hal ini juga tidak didukung dengan bertambahnya materi/informasi yang disajikan di media digital yang sangat bermacam-macam jenis, relevansi, dan validasinya (Hagel, 2012). Di Indonesia ketika ini, perkembangan jumlah media tercatat meningkat pesat, yakni mencapai sekitar 43.400, sedangkan yang terdaftar di Dewan Pers hanya sekitar 243 media. Dengan demikian, masyarakat dengan gampang mendapat informasi dari aneka macam media yang ada, terlepas dari resmi atau tidaknya berita tersebut (Kumparan, 2017). Hal ini terindikasi dari semakin merosotnya budaya baca masyarakat yang memang masih dalam tingkat yang rendah. Kehadiran aneka macam gawai (gadget) yang bisa terhubung dengan jaringan internet mengalihkan perhatian orang dari buku ke gawai yang mereka miliki.

Baca Juga;
Pengertian Literasi Digital - [klik di sini]

Di sisi lain, perkembangan media digital memperlihatkan peluang, seperti meningkatnya peluang bisnis e-commerce, lahirnya lapangan kerja gres berbasis media digital, dan pengembangan kemampuan literasi tanpa menegasikan teks berbasis cetak. Perkembangan pesat dunia digital yang sanggup dimanfaatkan yaitu munculnya ekonomi kreatif dan usaha-usaha gres untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Indonesia merupakan salah satu pengguna internet terbesar di dunia dan pemerintah melihat ini sebagai peluang untuk membuat 1.000 technopreneurs dengan nilai bisnis sebesar USD 10 miliar dengan nilai e-commerce mencapai USD 130 miliar pada tahun 2020. Pemanfaatan e-commerce memperlihatkan kesempatan kepada perusahaan untuk meningkatkan pemasaran barang dan jasa secara global, mengurangi waktu dan biaya promosi dari barang dan jasa yang dipasarkan karena tersedianya informasi secara menyeluruh di internet sepanjang waktu. Selain itu, jenis lapangan pekerjaan yang memanfaatkan dunia digital semakin bertambah, menyerupai ojek atau taksi daring, media umum analisis, dan pemasaran media sosial.

Baca Juga;

Pengertian Literasi Digital - [klik di sini]


Selain itu, peralatan dan jaringan internet yang ada bias dijadikan media yang sanggup membantu mereka untuk mengembangkan kemampuan literasi mereka tanpa menegasikan teks berbasis cetak. Justru digitalisasi bisa dijadikan media mediator untuk menuju praktik literasi yang sanggup menghasilkan teks berbasis cetak. Sebagai contoh, kegiatan menulis di blog eksklusif bisa diarahkan untuk mengumpulkan goresan pena untuk kemudian bisa dicetak menjadi buku yang berisi kumpulan tulisan dengan tema tertentu yang diambil dari blog pribadi. Kalangan muda yang gemar menulis di jejaring sosial bisa diarahkan untuk berlatih menulis dan mengemukakan gagasan ihwal sesuatu yang erat dengan mereka.

Demikian sajian informasi mengenai Tantangan dan Peluang Literasi Digital yang sanggup disajikan. Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

√ Pentingnya Literasi Digital


Pentingnya Literasi Digital || Sejak zaman dahulu, literasi sudah menjadi bab dari kehidupan dan perkembangan manusia, dari zaman prasejarah sampai zaman modern. Pada zaman prasejarah insan hanya membaca tanda-tanda alam untuk berburu dan mempertahankan diri. Mereka menulis simbol-simbol dan gambar buruannya pada dinding gua. Seiring dengan perubahan waktu, berkembanglah taraf kehidupan manusia, dari tidak mengenal goresan pena sampai melahirkan anutan untuk membuat kodekode dengan angka dan aksara sehingga insan dikatakan makhluk yang bisa berpikir. Pemikiran tersebut kesudahannya melahirkan suatu kebudayaan. Proses perkembangan literasi berasal dari mulai dikenalnya tulisan yang pada ketika itu memakai perkamen sebagai media untuk menulis. Perkamen ialah alat tulis pengganti kertas yang dibuat dari kulit hewan (seperti biri-biri, kambing, atau keledai). Perkamen biasanya dipakai untuk halaman buku, codex, atau manuskrip yang digunakan oleh masyarakat dunia pada sekitar 550 sebelum Masehi.

Pada awal 5 Masehi interaksi insan dalam proses literasi sudah mengenal salin tukar informasi melalui pos merpati. Seiring waktu dan perkembangan teknologi, misalnya, ditemukan mesin cetak, kertas, kamera, dan peningkatan ilmu jurnalistik. Koran sudah dikenal dan menjadi salah satu media untuk penyebarluasan informasi. Kebutuhan akan informasi yang cepat membuat transisi teknologi semakin pesat. Pada tahun 1837 ditemukan telegram, akomodasi yang digunakan untuk memberikan informasi jarak jauh dengan cepat, akurat, dan terdokumentasi. Telegram berisi kombinasi arahan (sandi morse) yang ditransmisikan dengan alat yang disebut telegraf. Tahun 1867, Alexander Graham Bell menemukan telepon; telepon berasal dari dua kata, yakni tele ‘jauh‘ dan phone ‘suara‘ sehingga telepon berarti sebuah alat komunikasi berupa bunyi jarak jauh. Kebutuhan akan informasi yang sangat cepat membuat persaingan dan penemuan yang luar biasa di dunia digital. Pada awal tahun 1900-an, radio dan televisi menjadi idola masyarakat dunia, seiring dengan peningkatan dan perkembangan banyak sekali teknologi audio visual. Proses menampilkan informasi ternyata tidak cukup memenuhi kebutuhan masyarakat ketika itu. Kebutuhan alat untuk membuat, mendesain, mengolah, dan menyimpan data dan informasi sangat ditunggu, sehingga pada tahun 1941 ditemukanlah komputer.

Perkembangan teknologi tidak hanya berbentuk computer (perangkat keras), tetapi juga berupa kemajuan yang pesat juga terjadi pada sisi perangkat lunak. Pada awal pemakaian komputer, aplikasi yang dipakai berbasis teks. Sejak ditemukannya sistem operasi windows, yang memiliki aksesibilitas yang ramah pengguna, mulailah bermunculan aplikasi pendukung yang sanggup dimanfaatkan untuk media digital. Laptop yang ketika ini banyak beredar menjawab kebutuhan masyarakat di dunia berupa kemudahan mobillitas. Saat ini pun pemakaian laptop mulai tergantikan oleh penggunaan gawai dalam pemanfaatan media digital yang juga seiring dengan peningkatan jaringan internet yang luar biasa.

Baca Juga;
Pengertian Litarasi Digital - [klik di sini]

Setiap individu perlu memahami bahwa literasi digital merupakan hal penting yang diharapkan untuk sanggup berpartisipasi di dunia modern sekarang ini. Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Generasi yang tumbuh dengan akses yang tidak terbatas dalam teknologi digital memiliki contoh berpikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Setiap orang hendaknya dapat bertanggung jawab terhadap bagaimana memakai teknologi untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Teknologi digital memungkinkan orang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga dan sobat dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, dunia maya saat ini semakin dipenuhi konten berbau isu bohong, ujaran kebencian, dan radikalisme, bahkan praktik-praktik penipuan. Keberadaan konten negatif yang merusak ekosistem digital ketika ini hanya bisa ditangkal dengan membangun kesadaran dari tiap-tiap individu.

Menjadi literat digital berarti sanggup memproses berbagai informasi, sanggup memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam banyak sekali bentuk. Dalam hal ini, bentuk yang dimaksud termasuk menciptakan, mengolaborasi, mengomunikasikan, dan bekerja sesuai dengan hukum etika, dan memahami kapan dan bagaimana teknologi harus dipakai biar efektif untuk mencapai tujuan. Termasuk juga kesadaran dan berpikir kritis terhadap banyak sekali dampak positif dan negatif yang mungkin terjadi akhir penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Memacu individu untuk beralih dari konsumen informasi yang pasif menjadi produsen aktif, baik secara individu maupun sebagai bab dari komunitas. Jika generasi muda kurang menguasai kompetensi digital, hal ini sangat berisiko bagi mereka untuk tersisih dalam persaingan memperoleh pekerjaan, partisipasi demokrasi, dan interaksi sosial.

Literasi digital akan membuat tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif. Mereka tidak akan mudah terpengaruhi oleh isu yang provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital. Dengan demikian, kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan cenderung aman dan kondusif. Membangun budaya literasi digital perlu melibatkan peran aktif masyarakat secara bersama-sama. Keberhasilan membangun literasi digital merupakan salah satu indikator pencapaian dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Demikian sajian informasi mengenai Pentingnya Literasi Digital yang sanggup disajikan. Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

√ Prinsip Dasar Pengembangan Literasi Digital

Prinsip Dasar Pengembangan Literasi Digital || Konsep Literasi Ligital menaungi dan menjadi landasan penting bagi kemampuan memahami perangkat-perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi. Misalnya, dalam Literasi TIK (ICT Literacy) yang merujuk pada kemampuan teknis yang memungkinkan keterlibatan aktif dari komponen masyarakat sejalan dengan perkembangan budaya serta pelayanan publik berbasis digital. Literasi TIK dijelaskan dengan dua sudut pandang. Pertama, Literasi Teknologi (Technological Literacy) - sebelumnya dikenal dengan sebutan Computer Literacy - merujuk pada pemahaman tentang teknologi digital termasuk di dalamnya pengguna dan kemampuan teknis. Kedua, memakai Literasi Informasi Information Literacy). Literasi ini memfokuskan pada satu aspek pengetahuan, menyerupai kemampuan untuk memetakan, mengidentifikasi, mengolah, dan memakai gosip digital secara optimal.

Konsep literasi digital, sejalan dengan terminologi yang dikembangkan oleh UNESCO pada tahun 2011, yaitu merujuk pada serta tidak bias dilepaskan dari acara literasi, menyerupai membaca dan menulis, serta matematika yang berkaitan dengan pendidikan. Oleh alasannya itu, literasi digital merupakan kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan
kemampuan memakai perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan mempunyai sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.

Prinsip dasar pengembangan literasi digital, antara lain, sebagai berikut.
  1. Pemahaman; Prinsip pertama dari literasi digital ialah pemahaman sederhana yang meliputi kemampuan untuk mengekstrak inspirasi secara implisit dan ekspilisit dari media.
  2. Saling Ketergantungan; Prinsip kedua dari literasi digital ialah saling ketergantungan yang dimaknai bagaimana suatu bentuk media berhubungan dengan yang lain secara potensi, metaforis, ideal, dan harfiah. Dahulu jumlah media yang sedikit dibentuk dengan tujuan untuk mengisolasi dan penerbitan menjadi lebih gampang daripada sebelumnya. Sekarang ini dengan begitu banyaknya jumlah media, bentuk-bentuk media diperlukan tidak hanya sekadar berdampingan, tetapi juga saling melengkapi satu sama lain.
  3. Faktor Sosial; Berbagi tidak hanya sekadar sarana untuk mengatakan identitas pribadi atau distribusi informasi, tetapi juga sanggup membuat pesan tersendiri. Siapa yang membagikan informasi, kepada siapa gosip itu diberikan, dan melalui media apa informasi itu berikan tidak hanya sanggup memilih keberhasilan jangka panjang media itu sendiri, tetapi juga sanggup membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi, membuatkan informasi, menyimpan informasi, dan risikonya membentuk ulang media itu sendiri.
  4. Kurasi; Berbicara ihwal penyimpanan informasi, menyerupai penyimpanan konten pada media umum melalui metode “save to read later” merupakan salah satu jenis literasi yang dihubungkan dengan kemampuan untuk memahami nilai dari sebuah gosip dan menyimpannya semoga lebih gampang diakses dan sanggup bermanfaat jangka panjang. Kurasi tingkat lanjut harus berpotensi sebagai kurasi sosial, menyerupai bekerja sama untuk menemukan, mengumpulkan, serta mengorganisasi gosip yang bernilai.
Pendekatan yang sanggup dilakukan pada literasi digital meliputi dua aspek, yaitu pendekatan konseptual dan operasional. Pendekatan konseptual berfokus pada aspek perkembangan koginitif
dan sosial emosional, sedangkan pendekatan operasional berfokus pada kemampuan teknis penggunaan media itu sendiri yang tidak dapat diabaikan.


Prinsip pengembangan literasi digital bersifat berjenjang. Terdapat tiga tingkatan pada literasi digital. Pertama, kompetensi digital yang meliputi keterampilan, konsep, pendekatan, dan perilaku. Kedua, penggunaan digital yang merujuk pada pengaplikasian kompetensi digital yang bekerjasama dengan konteks tertentu. Ketiga, transformasi digital yang membutuhkan kreativitas dan inovasi pada dunia digital.

Demikian sajian gosip mengenai Prinsip Dasar Pengembangan Literasi Digital yang sanggup disajikan. Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Saturday, June 23, 2018

√ Indikator Literasi Digital

Indikator Literasi Digital || Literasi Digital mempunyai indikator dalam beberapa lingkungan, antara lain Lingkungan Sekolah, Lingkungan Keluarga dan Lingkungan Masyarakat.


Indikator Literasi Digital di Sekolah

     Basis Kelas
  • Jumlah training literasi digital yang diikuti oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan;
  • Intensitas penerapan dan pemanfaatan literasi digital dalam acara pembelajaran; dan
  • Tingkat pemahaman kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam memakai media digital dan internet.
     Basis Budaya Sekolah
  • Jumlah dan variasi materi bacaan dan alat peraga berbasis digital;
  • Frekuensi peminjaman buku bertema digital;
  • Jumlah acara di sekolah yang memanfaatkan teknologi dan informasi;
  • Jumlah penyajian info sekolah dengan memakai media digital atau situs laman;
  • Jumlah kebijakan sekolah wacana penggunaan dan pemanfaatan teknologi info dan komunikasi di lingkungan sekolah; dan
  • Tingkat pemanfaatan dan penerapan teknologi info dan komunikasi dan komunikasi dalam hal layanan sekolah (misalnya, rapor-e, pengelolaan keuangan, dapodik, pemanfaatan data siswa, profil sekolah, dsb.)
     Basis Masyarakat
  • Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi digital di sekolah; dan
  • Tingkat keterlibatan orang tua, komunitas, dan forum dalam pengembangan literasi digital.

Indikator Literasi Digital di Keluarga
  1. Meningkatnya jumlah dan variasi materi bacaan literasi digital yang dimiliki keluarga;
  2. Meningkatnya frekuensi membaca materi bacaan literasi digital dalam keluarga setiap harinya;
  3. Meningkatnya jumlah bacaan literasi digital yang dibaca oleh anggota keluarga;
  4. Meningkatnya frekuensi saluran anggota keluarga terhadap penggunaan internet secara bijak;
  5. Meningkatnya intensitas pemanfaatan media digital dalam erbagai acara di keluarga; dan
  6. Jumlah training literasi digital yang aplikatif dan berdampak pada keluarga.

Indikator Literasi Digital di Masyarakat
  1. Meningkatnya jumlah dan variasi materi bacaan literasi digital yang dimiliki setiap kemudahan publik;
  2. Meningkatnya frekuensi membaca materi bacaan literasi digital setiap hari;
  3. Meningkatnya jumlah materi bacaan literasi digital yang dibaca oleh masyarakat setiap hari;
  4. Meningkatnya jumlah partisipasi aktif komunitas, lembaga, atau instansi dalam penyediaan materi bacaan literasi digital;
  5. Meningkatnya jumlah kemudahan publik yang mendukung literasi digital;
  6. Meningkatnya jumlah acara literasi digital yang ada di masyarakat
  7. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam acara literasi digital;
  8. Meningkatnya jumlah training literasi digital yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat;
  9. Meningkatnya pemanfaatan media digital dan internet dalam menunjukkan saluran info dan layanan publik;
  10. Meningkatnya pemahaman masyarakat terkait penggunaan internet dan UU ITE;
  11. Meningkatnya angka ketersediaan saluran dan pengguna (melek) internet di suatu daerah; dan
  12. Meningkatnya jumlah training literasi digital yang aplikatif dan berdampak pada masyarakat.


Demikian menu info mengenai Indikator Literasi Digital yang sanggup disampaikan. Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

√ Gerakan Literasi Digital Di Sekolah

Gerakan Literasi Digital di Sekolah || Berikut disajikan seputar Gerakan Literasi Digita di Sekolah. Konsep ini dimaksudkan sebagai pendoman bagi pihak sekolah dalam menyiapkan diri sebagai sekolah berbasis digital.


Sasaran Gerakan Literasi Digital di Sekolah

     Basis Kelas
  • Meningkatnya jumlah training literasi digital yang diikuti kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan;
  • Meningkatnya intensitas penerapan dan pemanfaatan literasi digital dalam acara pembelajaran; dan
  • Meningkatnya pemahaman kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam memakai media digital dan internet.
     Basis Budaya Sekolah
  • Jumlah dan variasi materi bacaan dan alat peraga berbasis digital;
  • Frekuensi peminjaman buku bertema digital;
  • Jumlah acara di sekolah yang memanfaatkan teknologi dan informasi;
  • Jumlah penyajian gosip sekolah dengan memakai media digital atau situs laman;
  • Jumlah kebijakan sekolah ihwal penggunaan dan pemanfaatan teknologi gosip dan komunikasi dan komunikasi di lingkungan sekolah; dan
  • Tingkat pemanfaatan dan penerapan teknologi gosip dan komunikasi dan komunikasi dalam hal layanan sekolah (misalnya, rapor-e, pengelolaan keuangan, dapodik, pemanfaatan data siswa, profil sekolah, dsb.).
     Basis Masyarakat
  • Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi digital di sekolah; dan
  • Tingkat keterlibatan orang tua, komunitas, dan forum dalam pengembangan literasi digital.

Strategi Gerakan Literasi Digital di Sekolah

Literasi digital sekolah harus dikembangkan sebagai prosedur pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum atau setidaknya terkoneksi dengan sistem mencar ilmu mengajar. Siswa perlu ditingkatkan keterampilannya, guru perlu ditingkatkan pengetahuan dan kreativitasnya dalam proses pengajaran literasi digital, dan kepala sekolah perlu memfasilitasi guru atau tenaga kependidikan dalam menyebarkan budaya literasi digital sekolah.

1) Penguatan Kapasitas Fasilitator
Penguatan pemeran atau fasilitator literasi di lingkungan sekolah ditekankan pada training kepala sekolah, pengawas, guru, dan tenaga kependidikan ihwal literasi digital. Pelatihan-pelatihan tersebut terkait dengan penggunaan atau pemanfaatan teknologi gosip dan komunikasi dalam pengembangan sekolah, misalnya, kepala sekolah dan pengawas diberikan training ihwal penggunaan media digital dalam manajemen sekolah, guru iberikan training ihwal pemanfaatan media digital dalam pembelajaran, serta penerima didik didorong untuk memakai teknologi gosip dan komunikasi secara cerdas dan bijaksana. Pelatihan di sini juga ditekankan pada keteladanan yang diberikan oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan terkait dengan penerapan literasi digital di lingkungan sekolah.

2) Peningkatan Jumlah dan Ragam Sumber Belajar Bermutu
Peningkatan jumlah dan ragam sumber mencar ilmu bermutu di sekolah menjadi kebutuhan yang harus dilaksanakan oleh sekolah. Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu cepat dalam abad digital menuntut pembaharuan dan penambahan pengetahuan gres di lingkungan sekolah. Dalam hal ini, sekolah dituntut sanggup meningkatkan jumlah dan ragam sumber mencar ilmu bermutu bagi warga sekolahnya, terutama untuk penerima didik. Beberapa hal yang sanggup dilakukan oleh sekolah dalam peningkatan jumlah dan ragam sumber mencar ilmu bermutu terkait literasi digital di lingkungan sekolah yaitu sebagai berikut.
  1. Penambahan Bahan Bacaan Literasi Digital di Perpustakaan
  2. Penyediaan Situs-Situs Edukatif sebagai Sumber Belajar Warga
  3. Penggunaan Aplikasi-Aplikasi Edukatif sebagai Sumber Belajar Warga Sekolah Sekolah
  4. Pembuatan Mading Sekolah dan Mading Kelas 
3) Perluasan Akses Sumber Belajar Bermutu dan Cakupan Peserta Belajar
  1. Penyediaan Komputer dan Akses Internet di Sekolah
  2. Penyediaan Informasi Melalui Media Digital
4) Peningkatan Pelibatan Publik
  1. Sharing Session
  2. Pelibatan Para Pemangku Kepentingan
  3. Penguatan Forum Bersama Orang Tua dan Masyarakat
5) Penguatan Tata Kelola
  1. Pengembangan Sistem Adminstrasi secara Elektronik (e-administrasi) 
  2. Pembuatan Kebijakan Sekolah ihwal Literasi Digital
Demikian sajian gosip Gerakan Literasi Digital di Sekolah yang sanggup disajikan. Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/

Friday, June 22, 2018

√ Gerakan Literasi Digital Di Keluarga

Gerakan Literasi Digital di Keluarga || Selain di Sekolah, akan sangat mendunkung jikalau dilakukan gerakan Literasi Digital di Keluarga. Tujuan dari penguatan budaya literasi digital di keluarga terutama bagi bawah umur yakni untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan nyata dalam memakai media digital dalam kehidupan sehari-hari. Orang renta juga diperlukan bisa secara bijak dan sempurna mengarahkan dan mengembangkan budaya literasi digital di keluarga.


Selain itu, penguatan budaya literasi di keluarga juga meningkatkan kemampuan anggota keluarga dalam memakai dan mengelola media digital (teknologi warta dan komunikasi) secara bijak, cerdas, cermat, dan sempurna untuk membina komunikasi dan interaksi antaranggota keluarga dengan lebih serasi serta untuk mendapat warta yang bermanfaat bagi kebutuhan keluarga. Akan tetapi, target literasi digital dalam keluarga yang lebih spesifik yakni sebagai berikut:
  1. Meningkatnya jumlah dan variasi materi bacaan literasi digital yang dimiliki keluarga;
  2. Meningkatnya frekuensi membaca materi bacaan literasi digital dalam keluarga setiap harinya;
  3. Meningkatnya jumlah bacaan literasi digital yang dibaca oleh anggota keluarga;
  4. Meningkatnya frekuensi kanal anggota keluarga terhadap penggunaan internet secara bijak;
  5. Meningkatnya intensitas pemanfaatan media digital dalam aneka macam kegiatan di keluarga; dan
  6. Meningkatnya jumlah pembinaan literasi digital yang aplikatif dan berdampak pada keluarga.
Strategi pengembangan literasi digital keluarga dimulai dari orang renta alasannya yakni orang renta harus menjadi contoh literasi dalam memakai media digital. Orang renta harus membuat lingkungan sosial yang komunikatif dalam keluarga, khususnya dengan anak. Membangun interaksi antara orang renta dan anak dalam pemanfaatan media digital sanggup berupa diskusi, saling menceritakan pemanfaatan media digital yang positif. Langkah selanjutnya dalam seni administrasi pengembangan literasi digital dalam keluarga yakni mengenalkan materi dasar yang diberikan kepada anggota keluarga, yaitu ayah, ibu, dan anak, antara lain, dengan melaksanakan hal-hal berikut.

Penguatan Kapasitas Faslititator
Penyuluhan wacana internet sehat kepada orang tua. Penguatan literasi digital untuk orang renta sanggup dilakukan melalui penyuluhan, seminar, dan pembinaan wacana bagaimana memakai internet sehat. Orang renta diajarkan memakai situs yang kondusif yang bias digunakan oleh anak, diajarkan cara memakai media social dengan bijaksana, cara memaksimalkan internet dalam mencari warta dan pengetahuan, dan sebagainya.

Peningkatan Jumlah dan Ragam Sumber Belajar Bermutu
  1. Penyediaan Bahan Bacaan Terkait Media Digital di Rumah. Peningkatan jumlah dan ragam materi bacaan bertema teknologi warta dan komunikasi dalam bentuk koran, majalah, buku, dan dalam bentuk salinan lunak yang sanggup diakses melalui komputer dan gawai.
  2. Pemilihan Acara Televisi dan Radio yang Edukatif. Pemilihan program televisi dan radio yang edukatif bagi anggota keluarga terutama pada anak sanggup menjadi sumber pengetahuan. Orang renta wajib menyaring acara-acara yang layak ditonton dan didengar oleh anak. Dari program televisi dan radio yang edukatif tersebut anak juga mendapat materi pembelajaran dan kegiatan literasi yang menyenangkan di keluarga.
  3. Pemilihan Situs dan Aplikasi Edukatif sebagai Sumber Belajar Anggota Keluarga. Situs dan aplikasi edukatif sanggup digunakan oleh anggota keluarga. Misalnya, orang renta sanggup memakai situs sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id atau keluargakita.com atau situs yang lain untuk mengembangkan pengetahuan diri terkait dengan keluarga. Anak sanggup membuka situs dan aplikasi untuk menambah pengetahuan dan mengasah kreativitasnya, menyerupai aplikasi anak cerdas, tebak gambar, permainan matematika, atau situs menyerupai kbbi.kemdikbud.go.id, inibudi.com, dan sebagainya.
Perluasan Akses Sumber Belajar Bermutu dan Cakupan Peserta Belajar
  1. Penyediaan Komputer, Laptop, Gawai, dan Akses Internet di Keluarga. Penyediaan komputer dan kanal internet merupakan salah satu upaya penting dalam perkembangan ilmu pengatahuan pada masa digital ini. Sumber berguru yang dibutuhkan sanggup diperoleh dengan memakai kanal internet dengan sangat cepat dan efisien. Kebutuhan keluarga terutama anak dalam mempelajari ilmu teknologi warta dan komunikasi harus ditunjang dengan ketersediaan perangkat komputer dan internet yang ada di rumah. Orang renta dan anak sanggup mengikuti kelas daring wacana bermacam-macam pengetahuan dan keterampilan.
  2. Penyediakan Televisi dan Radio Sebagai Sumber Informasi dan Pengetahuan. Televisi dan radio sanggup digunakan sebagai sumber warta dan pengetahuan bagi anggota keluarga. Saat ini televisi banyak dikembangkan dan disambungkan dengan program televisi dari aneka macam saluran dunia melalui TV kabel. Dengan demikian, anggota keluarga mempunyai banyak pilihan untuk memilih stasiun TV dan program yang sanggup mengembangkan pengetahuan dan keterampilan keluarga.
Peningkatan Pelibatan Publik
Sharing session sanggup dilakukan dengan mengundang pakar, praktisi, dan relawan yang didukung oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia perjuangan dan industri, relawan pendidikan, dan media untuk menyebarkan warta wacana cara mereka mengaplikasikan teknologi digital di dalam profesi dan kehidupan sehari-hari. Pelibatan para pakar, praktisi, dan relawan secara personal atau kelembagaan ini berkaitan dengan penggunaan dan pemanfaatannya teknologi warta dan komunikasi untuk keluarga. Kegiatan sharing session sanggup dilakukan melalui kegiatan yang ada di sekolah dan masyarakat, tetapi fokus pembahasannya diubahsuaikan dengan kebutuhan pengembangan literasi digital pada keluarga.

Penguatan Tata Kelola
  1. Pembuatan Kesepakatan atau Aturan Keluarga. Pembuatan janji atau hukum keluarga terkait dengan pemanfaatan dan penggunaan teknologi dan media digital sanggup mendukung pengembangan diri anggota keluarga terutama anak. Misalnya, mengimbau anak untuk bermain aplikasi permainan edukatif tertentu, memakai kanal gawai, televisi, dan internet pada waktu-waktu tertentu.
  2. Pendampingan. Keluarga ikut mendampingi dalam penggunaan media digital sebagai sarana pengembangan literasi (keselamatan dan keamanan media digital). Pendampingan keluarga terutama orang renta kepada anak dalam memakai alat elektronik dan mengakses internet di rumah menjadi hal yang sangat penting di tengah bebasnya arus informasi. Orang renta harus mendampingi anak dalam hal memakai internet untuk membantu kiprah sekolah, mengawasi fitur yang boleh digunakan dan dilarang dipakai, menjaga kesopanan dalam berkomunikasi di media sosial, memastikan warta yang didapat berasal dari sumber yang tepercaya dan sanggup dipertanggungjawabkan, menjaga supaya anak tidak mengirimkan atau mengunggah pesan, gambar, dan video yang sanggup menyakiti orang lain, dan lain-lain.
Demikian hidangan warta mengenai Gerakan Literasi Digitaldi Keluarga yang sanggup disajikan. Semoga Bermanfaat !!!

Sumber http://www.tozsugianto.com/